Mata Erlend melotot saat meyadari kalau di dalam mulut Laura terdapat dua gigi taring yang makin meruncing tanpa disadari oleh gadis itu. Dia menggeleng cepat, lalu berdiri, dan membuka mulut Laura dengan paksa. “Sial, ternyata benar-benar mirip, hanya tahan matahari saja?”
Laura mendorong tubuh Erlend. Dia marah. “Apa maksudmu! Beraninya kau membuka mulutku! Dasar kau ini!” Dia masih belum sadar kalau semakin haus, gigi taringnya semakin keluar. “Apa? Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu, Erlend? Apa wajahku berubah menjadi Laura lagi?”
“Bukan … kau menjadi vampire.”
“Hah?”
.
.
.
“Vampire!” Laura kaget sampai suaranya menggema di seisi ruangan.
“Shshsh.” Erlend menaruh telunjuk di depan bibir. “Tenanglah, kau terlalu heboh, Sialan. Tenang saja dan dengarkan kalau aku bicara. Shh …”
“Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku tentang ini.” Laura memandangi dirinya di depan cermin meja rias kuno yang ada di samping ranjang. Dia tidak menyangka kalau sensasi janggal di mulut dari tadi adalah akibat dari gigi taringnya yang meruncing. “Ini tidak mungkin.”
“Itulah kenapa aku bilang kalau Jasper tidak akan keluar rumah, iya … karena dia vampire. Aku memilihnya karena kukira kau tidak terpengaruh. Tapi, buku itu tidak mengatakan apapun tentang ini. Menyebalkan sekali.”
“Namanya juga meniru, pasti meniru rasnya juga! Aku tidak percaya kalau vampire itu benar-benar ada sungguhan di dunia nyata.”
“Kau lihat sendiri, aku yang demigod ini saja keberadaannya ada di sampingmu. Tentu saja semua makhluk mitologi seperti mereka ada di dunia. Mereka selalu berada di balik bayang-bayang.”
“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku haus.”
“Tahan saja, jasper itu darah murni, mungkin takkan ada masalah walaupun tidak minum darah.”
“Kurasa kau yang harus tanggung jawab, Erlend.”
“Apa maumu?”
“Biarkan aku menghisap darahmu.”
“Enteng sekali kau bilang begitu.”
“Entah mengapa baumu enak sekali sekarang.” Laura berniat mengerjai Erlend dengan mengendus udara di sekitar pemuda tersebut. “Bagaimana?”
“Jangan mengendus, Sialan, aku merasa jijik Jasper mengendusku.” Erlend menuding wajah Laura dengan agak kesal. “Daripada kau menghisap darahku, lebih baik aku merantaimu saja disini selama aku mencari informasi.”
“Aku hanya bercanda, tapi aku sungguh haus, rasanya mengantuk terus dari tadi.”
“Oh, tak heran keu seperti bocah saat baru masuk ke ruangan ini.”
“Iya begitulah. Jadi bagaimana ini?”
“Sebentar, aku akan bertanya pada Tuan Flowers apakah mereka memiliki ayam atau semacamnya.”
“Hei, kau berniat memberiku darah ayam?”
“Lalu?”
“Tidak usah kalau begitu,” kata Laura merasa jijik juga jika membayangkan dirinya meminum darah ayam. “Kau benar, kalau dipikir-pikir aku mual jika harus meminum darah. Ya sudahlah, selama aku tidak terallu lemah, aku bisa menahannya. Mungkin aku akan tidur sebentar agar memulihkan tenaga.”
“Iya, kau tidur saja, aku akan memeriksa beberapa tempat disini, dan menunggu agar kue untuk pria pemilik toko kue di samping jadi.”
“Oh iya, kudengar kau mengobrolkan banyak hal dengan pria tadi tentang sesuatu di hutan?”
“Iya, pria itu bilang kalau orang yang memiliki toko kue yang ada di samping bangunan ini melihat ada beruang mati, dan tubuh beruang itu mendadak mati saat sherrif datang untuk memeriksa.”
“Dan kenapa kau menganggap kalau itu aneh?”
“Laura, dari kejadian itu saja sudah aneh, bagaimana bisa ada tubuh yang mendadak hilang, dan beruang itu bukan makhluk yang mati begitu saja, apalagi kata Tuan flowers saat ditemukan, dia hanya berjarak dekat dengan toko kelontong Mines. Aku belum tahu dimana toko kelontong ini, tapi sepertinya dekat dari sini, Tuan Flowers bilang kalau istrinya sedang berbelanja kesana. Jadi, aku simpulkan saja kalau tempat itu dekat.”
“Tapi, beruang kelaparan biasanya memang turun ke rumah-rumah warga, dan mungkin saja tubuhnya sudah dibawa pergi pemburu atau binatang liar.”
“Aku tidak tahu, tapi itu sudah menjadi tugas kita untuk mencari tahu. Aku tidak peduli apapun, intinya kita harus mencari tahu tentang ini dari pria pemilik toko permen ini dahulu.”
“Hei, Erlend, aku mendadak aneh semenjak memasuki daerah ini, rasanya seperti ada hawa tidak menyenangkan, pemilik penginapan ini ramah dan sopan, tapi entah mengapa rasanya tempat ini berada di dimensi yang berbeda.”
“Maksudmu seperti ada selaput yang membatasi tempat ini dengan tempat lain ‘kan?”
“Kau merasakannya juga?”
“Iya, sejak mobil kita masuk ke perbatasan, rasanya seperti ada yang janggal. Aku tidak tahu apa yang kurasakan, tapi aku yakin ada yang tidak beres. Karena itulah tadi aku bertanya pada Tuan Flowers. Kita beruntung langsung mendapatkan informasi walaupun hanay sekedar kemungkinan itu adalah ulah penyihir atau minotaur.”
“Jadi kau menganggap kematian beruang yang menghilang ini ulah mereka?”
“Entah, bisa saja itu ulah penyihir, denagn sihir kejadian misterius ini bisa dilakukan.”
“Jadi langkah kita setelah ini?”
“Mengunjungi toko sebelah, bertamu maksudku.” Erlend mengangguk yakin. “Sebelum itu, kau tidur saja, aku akan berkeliling rumah sampai memperhatikan sekitar. Tapi, ingat …”
“Iya, aku ingat untuk tidak terpengaruh, lagipula tenang saja, aku sudah mengenakan pusaka milik ayahmu kan?” Laura mengeluarkan kalung berliontin batu permata merah dari dalam kemeja yang dia pakai. Kemudian, dia menunjukkannya kepada laki-laki tersebut. “Selama aku memakai ini, maka sihir apapun takkan bisa menyentuhku.”
“Apapun yang terjadi …”
“Aku takkan melepaskannya.”
“Iya, aku tidak bisa kehilangan dirimu lagi.”
Laura tertegun memandangi Erlend. Pipinya kembali memerah, sangat tidak cocok untuk sosok pria tangguh yang sedang dia tiru. Dia benar-benar membuat sosok vampire gagah bernama Jasper Spring ini menjadi sangat gemulai dan lembut.
“Jangan melihatku dengan sorot mata berkelipan begitu, mengerikan, kenapa kau begitu?” Erlend sebenarnya sadar kalau perkataannya cukup manis, hanya saja enggan untuk mengakui kalau itu adalah bukti cinta.
Laura hanya tersenyum smebari memalingkan wajah. “Tidak apa- apa, aku akan tidur, Kau juga berhati-hatilah.”
“Tak perlu cemas, aku masih di rumah ini. Kau tidur saja, aku bersumpah akan selalu melindungimu, Tidak akan kubiarkan orang-orang asing dan gila itu menculikmu lagi. Tidurlah dan pulihkan tenaga mu, jangan sampai kau menginginkan darah.”
“Iya.”
***
Cinta memang rumit.
Erlend tersenyum sendiri semenjak keluar dari ruang penginapan. Pipinya sampai panas karena terus menyunggingkan senyuman. Saat ini, dia sedang berdiri di teras penginapan dengan mata yang memandangi hujan. Hujan sekarang deras sekali. Udara sangat dingin, tapi hati demigod satu ini masih hangat karena cinta.
Dia terus berdiri hampir setengah jam. Dia berusaha menghalau cinta yang sedang menyerang isi kepalanya. Saat ini dia harus fokus mencari sesuatu yang berhubungan dengan alasan mereka kemari: penyihir dan minotaur. Beberapa kali dia melihat ada burung gagak yang melintas di tengah hujan deras ini. Dia tahu mereka adalah para reaper. Kalau mereka datang artinya akan ada yang meninggal dunia. Tapi, yang mengejutkan adalah ada sekitar lima reaper yang berdatangan, kemungkinan ada kematian masal yang terjadi. Hal semacam ini lumrah terjadi apabila terjadi kecelakaan. Karena itulah Erlend tidak terlalu curiga.
Akan tetapi, perhatiannya mengarah ke samping bangunan, tepatnya di toko permen yang kini sudah tutup. Kaca jendela sudah tertutup, akan tetapi Erlend bisa melihat ada yang mengintip di balik kelambut putih itu. Anehnya, orang yang mengintip tersebut memandangi langit dimana para burung gagak sedang berkeliaran.
Selain mencurigakan, Erlend merasa kalau orang itu bisa megetahui kalau kawanan burung gagak itu bukanlah binatang biasa, melainkan agen kematian yang dikirim oleh dunia bawah. Tapi, dai bisa yakin kalau tidak ada aura kematian yang sedang menghinggapinya.
Itu artinya orang tersebut tidak akan mati dalam waktu dekat. Hanya orang yang akan mati, penyihir dan makhluk supernatural lain yang bisa melihat keberadaan makhluk non-manusia di dunia ini. Dahulu, dia juga kebingungan dengan jati diri Laura. Sekarang, ternyata ada orang yang sama misteriusnya dengan gadis tersebut.
Namun, aura pemilik toko permen itu tidak sekuat yang dimiliki Laura. Erlend bisa memastikan kalau kemungkinan orang itu hanyalah seorang keturunan penyihir tapi tidak memiliki bakat melakukan sihir. Dalam dunia sihir, hal semacam ini juga lumrah. Keturunan penyihir yang sudah membaur dengan darah manusia biasa akan sulit melakukan sihir, bahkan tidak bisa, tapi mereka masih memiliki kelebihan yaitu bisa merasakan jika ada makhluk non-manusia yang hadir.
Pemilik toko permen itu akhirnya sadar kalau sedang diperhatian Erlend. Dia buru-buru menutup kelambu, dan berpura-pura tidak melihat apapun.
“Mencurigakan, aneh sekali,” gumam Erlend.
***