Perhatian Erlend mengarah ke samping bangunan, tepatnya di toko permen yang kini sudah tutup. Kaca jendela sudah tertutup, akan tetapi Erlend bisa melihat ada yang mengintip di balik kelambut putih itu. Anehnya, orang yang mengintip tersebut memandangi langit dimana para burung gagak sedang berkeliaran.
Erlend merasa kalau orang itu bisa megetahui kalau kawanan burung gagak itu bukanlah binatang biasa, melainkan agen kematian yang dikirim oleh dunia bawah. Tapi, dia bisa yakin kalau tidak ada aura kematian yang sedang menghinggapinya.
Itu artinya orang tersebut tidak akan mati dalam waktu dekat. Hanya orang yang akan mati, penyihir dan makhluk supernatural lain yang bisa melihat keberadaan makhluk non-manusia di dunia ini. Dahulu, dia juga kebingungan dengan jati diri Laura. Sekarang, ternyata ada orang yang sama misteriusnya dengan gadis tersebut.
Pemilik toko permen itu akhirnya sadar kalau sedang diperhatian Erlend. Dia buru-buru menutup kelambu, dan berpura-pura tidak melihat apapun.
“Mencurigakan, aneh sekali,” gumam Erlend.
.
.
.
Sudah berjam-jam berlalu.
Erlend akhirnya memasuki rumah kembali dan memeriksa Laura di kamar. Setelah memastikan kalau dia masih terlelap, dia segera berpindah ke arah dapur. Di sana dia disambut oleh seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk yang merupakan Nyoya Flowers, istri dari Tuan Flowers. Wanita itu dengan cekatan membuat kue-kue yang akan diserahkan kepada pemilik toko permen agar diperbolehkan masuk dan bertanya-tanya.
Erlend agak terpaku saat berada di tempat ini. Arsitekturnya juga kuno, bahkan peralatan dapur dan taplak meja saja memiliki khas jaman dahulu. Dia semakin yakin kalau memang ada yang tidalk beres dengan daerah ini. Akan tetapi, untuk sementara, diam hanya ingin menyelidiki tentang penyihir dan Minotaur.
“Hallo, Tuan Hadeson, selamat datang, kurang sebentar lagi semuanya akan siap,” sambut wanita itu mengeluarkan kue-kuenya dari dalma oven listrik yang sudah lama.
Erlend duduk di salah satu kursi yang mengintari meja makan bertaplak kuno itu. Dia mengatakan, “Nyonya, tolong panggil saja Erlend, nama belakangku agak tidak enak kalau disebut.”
Nyonya Flowers tertawa. “Iya, tapi menurutku itu cukup lucu. Aku baru kali ini mendengar ada nama belakang Hadeson. Kau putra dari dewa Hades ‘kah?”
Erlend tertawa mendengar candaan itu, lalu menjawab, “benar. Aku putra satu-satunya.”
“Itu sangat lucu.” Nyonya Flowers jelas tidak akan menganggap kalau Erlend memanglah putra dari dewa Hades. “Ngomong-ngomong, Erlend, bagaimana dengan temanmu? Kenapa dia tidak kelihatan sama sekali?”
“La—Jasper sedang tidur, dia Lelah perjalanan jauh.”
“Oh begitu, bicara tentang perjalanan jauh, mobil kalian sangat bagus, menarik perhatian hampir smeua warga di sekitar sini. Penginapan jadi terkenal karena kehadiran kalian.”
Erlend mengangguk. “Aku suka mengoleksi mobil-mobil seperti itu.”
“Wah, kelihatannya ayahmu punya selera yang bagus.”
“Iya.” Erlend sama sekali tidak suka jika ayahnya dipuji di depan dirinya. Sebenarnya perasaannya pada sang ayah amatlah datar. Dia tetap menyukai Thanatos ketimbang Hades. “Iya … semacam itu.”
“Oh iya, kata suamiku kau ingin mengobrol dengan Tuan Thorns.”
“Benar, Nyonya, aku ingin menanyakan tentang kejadian yang ada di hutan belakang toko kelontong Mines. Sepertinya itu akan menjadi berita yang menarik untuk ditulis.”
“Pencari berita memang akan selalu mencari berita.”
“Iya.”
“Tapi, apa suamiku sudah bilang kalau kau harus berhati-hati dengan pria itu, dia agak sensitif, jangankan pada orang asing, pada kami yang sudah bertetangga bertahun-tahun saja masih tidak ramah. Banyak sekali tamu yang tidak nyaman saat bertatapan mata dengan pria itu.”
“Iya, suami nyonya sudah bilang tadi, tapi asalkan kami sopan, maka tak ada masalah.”
“Benar.” Nyonya Flowers menaruh semua kue ke dalam keranjang anyaman, lalu menutupnya dengan selembar kain layaknya itu untuk piknik. Dia lantas menaruhnya di atas meja. Setelah itu, dia duduk di kursi yang tersisa disana.
“Terima kasih untuk semua yang Nyonya bantu. Nanti tolong ditambahkan ke tagihannya saja.”
“Iya, kau jangan khawatir, aku hanya berpesan, kalau orang itu mulai marah, sebaiknya kau kembali kemari saja. Tidak usah menekannya. Semua orang disini tahu kalau pria itu hanya menyukai anak-anak, dan membenci orang dewasa. Sebagian orangtua merasa tidak nyaman tentang hal itu, karena itulah akhir-akhir ini tokonya sepi. Semua mengira kalau Tuan Thorns mengidap kejiwaan dan p*******a. Padahal aku tahu kalau orang itu sebenarnya merindukan anaknya saja.”
Erlend mulai memahami kondisi hati dari pria bernama Henry Thorns ini. Dia mengangguk, lalu mengatakan, “tidak ada masalah, Nyonya, aku akan pergi bersama Jasper untuk menemuinya, kami akan berusaha sesopan mungkin. Terima kasih untuk informasinya.”
“Sama-sama. Tapi, sekarang masih hujan, kau yakin mau pergi sekarang?”
“Iya, jaraknya hanya beberapa langkah, jadi itu bukanlah masalah untukku dan temanku.”
“Kalian bawa saja paying yang ada di samping rumah. Tidak baik berhujan-hujanan di malam hari.”
“Terima kasih.” Erlend berdiri, lalu membawa keranjang berisi kue tersebut kembali ke dalam ruangannya. Dia masih melihat Laura masih tidur.
.
.
.
Laura menguap beberapa kali.
Dia masih mengantuk, tapi setidaknya akibat tidur beberapa jam membuat tenaganya pulih sehingga tidak ada keinginan untuk menghisap darah seseorang. Karena itulah gigi taringnya kembali menyusut.
Karena hanya ada satu payung, Erlend dan Laura berbagi payung tersebut ketika berjalan ke gang dan berhenti di depan sebuah pintu yang ada di samping bangunan toko permen.
Erlend merasa resah saat berdekatan dengan Laura. Iya itu karena saat ini Laura adalah laki-laki kekar yang setinggi dirinya. Dia merasa seperti ternodai saja. Sembari mengetuk pintu, dia memerintahkan Laura, “Bisakah kau menjauh dariku sebentar.”
Laura malah membuat ulah dengan meniup cuping telinga Erlend seraya merayu dengan suara jantannya, “Aku ingin dekat denganmu, Sayang.”
Erlend yang kesal langsung menginjak kaki Laura.
“Ah!” Laura kaget dan spontan menyingkir dari payung sehingga tubuhnya langsung terguyur hujan. “Kau! Berani sekali kau menginjakku!”
Erlend meliriknya sembari mengusap telinganya yang dia yakini telah berdosa akibat godaan laki-laki. “Jangan kira aku tidak akan kasar padamu, kau sekarang laki-laki, sekali lagi kau mendekatiku dengan cara yang aneh, aku akan membuatmu menyesal.”
“Coba saja sini!” Laura membalas dendam dengan cara menginjak balik kaki Erlend.
Akan tetapi, sepatu yang dikenakan Erlend sangat tebal sehingga tdiak terlalu terasa. Malahan, dia membalas ulah Laura pula. Hingga pada akhirnya, mereka malah saling adu kekuatan menginjak kaki. Kekanak-kanakan, tapi Erlend malah tertawa gembira.
“Berhenti mengincar kakiku! Kenapa kau curang sekali!” Laura kesal karena gagal terus menginjak kaki Erlend. Dia bahkan tidak peduli walaupun saat ini rambutnya sudah basah kuyup karena kehujanan.
Erlend mengejeknya, “padahal sekarang kau ini adalah vampire, kau tidak bisa memanfaatkan kekuatan Jasper? Payah sekali.”
“Awas kau ya!” Laura langsung menjewer salah satu telinga Erlend. “Kau benar-benar menyebalkan, Erlend.”
“Sebentar, sebentar, sesame laki-laki kalau bertarung itu bukan menjewer!” Erlend menepis tangan Laura sampai terlepas. “Kau membuatku malu saja! Sudah kubilang, bersikaplah seperti laki-laki tulen! Kau tidak mau dengan badan kekar tapi lemah gemulai!”
“Aku tidak tahu caranya jadi laki-laki, kalau aku tahu sejak awal, aku akan berlatih dahulu sebelum meminum ramuannya. Ini karena kau curang, kau tidak memberitahuku langsung!”
“Well, aku penasaran saja.”
“Apa yang harus kulakukan kalau aku marah padamu?”
“Laki-laki itu bertarung dengan kepalan tangan.” Erlend menunjukkan tangan kanannya yang mengepal siap untuk meninju seseorang. “Kau bisa meninjuku kalau mau, itupun jika bisa.”
“Aku tak mau melakukannya.”
“Kenapa?”
“Kau terlalu tampan, maksudku … aku tak mau melukai wajahmu.”
Erlend menjadi diam.
Laura melotot, baru sadar kalau barusan dia nyerocos tak berpikir sama sekali. Dia langsung menutup mulutnya.
Erlend tidak tahu harus berkata apa.
Dalam sekejab hanya suara hujan yang mengiringi mereka saling memandang.
Kalau saja Laura dalam tubuh Laura, Erlend akan merasa sangat bahagia. Tapi, berhubung Laura mengatakan itu dengan tubuh Jasper, entah mengapa isi perutnya ingin keluar.
“Rasanya aku ingin muntah,” ucap Erlend melihatke pintu lagi, dan fokus mengetuk. “Seorang laki-laki memujiku tampan.”
Dengan muka masih memerah, Laura juga mengalihkan pandangan, lalu mengatakan, “mari kita pura-pura barusan itu tidak ada apa-apa.”
“Setuju.” Erlend cepat sekali bereaksi.
Pintu akhirnya dibuka oleh seorang pria paruh baya berambut hitam dengan banyak uban pada bagian poninya. Pria ini langsung mengenali sosok Erlend, dan hendak menutup pintu.
Akan tetapi pintu dihalangi oleh kaki Erlend. Dia menunjukkan keranjang berisi kue seraya berkata, “Tolong kami tidak ada niatan buruk. Ini adalah kue buatan Nyonya Flowers, kami ini sedang menginap disana. Kami ingin menanyakan tentang beruang yang anda lihat di hutan waktu itu. Hanya itu.”
Pria itu masih terdiam memandangi wajah Erlend.
Laura mendehem, lalu ikut merayu, “benar, Tuan, kami juga berniat membeli permenmu.”
Ucapan Laura sangat konyol dan dipaksakan.
Berhubung Erlend membawa nama Nyonya Flowers, pria itu mulai membukakan pintu. Dia mempersilakan masuk dengan berkata, “masuklah, taruh payung kalian di belakang pintu, ayo ikut aku.”
Erlend dan Laura pun masuk ke dalam.
***