34

1963 Words
Pintu akhirnya dibuka oleh seorang pria paruh baya berambut hitam dengan banyak uban pada bagian poninya. Pria ini langsung mengenali sosok Erlend, dan hendak menutup pintu. Akan tetapi pintu dihalangi oleh kaki Erlend. Dia menunjukkan keranjang berisi kue seraya berkata, “Tolong kami tidak ada niatan buruk. Ini adalah kue buatan Nyonya Flowers, kami ini sedang menginap disana. Kami ingin menanyakan tentang beruang yang anda lihat di hutan waktu itu. Hanya itu.” Pria itu masih terdiam memandangi wajah Erlend. Laura mendehem, lalu ikut merayu, “benar, Tuan, kami juga berniat membeli permenmu.” Ucapan Laura sangat konyol dan dipaksakan. Berhubung Erlend membawa nama Nyonya Flowers, pria itu mulai membukakan pintu. Dia mempersilakan masuk dengan berkata, “masuklah, taruh payung kalian di belakang pintu, ayo ikut aku.” Erlend dan Laura pun masuk ke dalam. . . . Tuan Thorns mempersilakan Laura dan Erlend untuk duduk di sofa panjang ruang tengah. Sekarang hari sudah malam, karena itulah lampu-lampu tampak dinyalakan. Akan tetapi pencahayaannya sangat redup akibat usia lampu yang terlalu tua. Perabotannya juga cukup tua, tak ada bedanya dengan penginapan milik keluarga Flowers.  Semua yang ada disini tua, kuno dan sepertinya semau orang tampak biasa saja. Bahkan, tidak ada tanda-tanda keberadaan telepon rumah, ponsel, televisi modern, atau yang lainnya. Erlend dan Laura sama-sama keheranan, sebenarnya ada apa di daerah ini? Tuan Thorns berpamitan untuk pergi ke dalam membuatkan minuman hangat untuk mereka berdua. Ketika itulah, Erlend dan laura saling pandang. Keduanya sama-sama berpikir tentang keanehan semua yang ada disini. “Kira-kira, apa kita salah jaman?” bisik Laura dengan pandangan masih menyeluruh ke seluruh ruangan sempit ini. Disini juga berbau manis, tapi dia tak heran karena memang tempat berjualan permen. Erlend mengangguk mengerti maksud darinya. “Aku tahu, aku juga curiga, tapi sudahlah. Sebenarnya ada hal lain yang lebih mengusikku dari tadi sore.” “Ada apa?” “Entah mengapa aku merasa yakin kalau pria ini sepertinya bisa melihat keberadaan Reaper.” “Benarkah?” “Iya. Dia tadi melihat ke langit dimana banyak gagak yang …” Erlend berhenti bicara saat melihat Laura memegangi tenggorokan lagi. Dia mengerutkan dahi sembari bertanya, “ada apa? Jangan bilang kau haus kembali? Kau sudah cukup tidur ‘kan?” “Tidak, aku merasa tenggorokanku panas, dan menyebar ke seluruh tubuh … rasanya mirip ketika aku baru berubah menjadi wujud ini.” “Ah, sial.” Erlend baru sadar kalau saat ini sudah malam, artinya sudah waktunya untuk meminum lagi ramuan memualkan sebelumnya. Dia selalu mempersiapkannya di botol bening yang selalu ada di dalam saku jaket. Dia mengambil botol tersebut, kemudian menyerahkannya kepada Laura. “Minum ini. Kau akan berubah menjadi laura kalau tidak segera meminumnya.” “Apa?” Laura kaget melihat botol kecil berisi cairan yang mirip dengan cairan menjijikan yang dia minum tadi pagi. “Kenapa ini masih ada?” “Bukankah sudah kubilang, memang untuk mempertahankan wujud laki-laki mu ini, kau harus segera meminumnya atau tubuhmu akan kembali jadi laura, auramu akan diketahui dan mungkin saja para pemburu sialan itu akan mengejarmu hingga kemari.” “Baiklah.” “Jangan baiklah saja, cepat minum … cepat sebelum pria itu datang lagi.” Laura segera membuka tutup botol, kemudian langsung meneguk minuman yang ada di dalamya. Dia kembali mual begitu seluruh cairannya masuk ke dalam perut. Dia ingin muntah di atas karpet yang ada di bawah kakinya. Tapi, Erlend menepuk ringan punggungnya dan mengucapkan beberapa kata penyemangat. “Hentikan.” Laura menepis tangan tersebut. Erlend menatapnya. “Sudah baikan? Setidaknya ini akan bertahan sampai esok hari.” “Sebentar.” Laura melihatnya. “Sebenarnya berapa banyak botol yang kau miliki dan sampai kapan aku harus meminum cairan menjijikan yang mirip muntahan kucing itu?” “Jangan menghinanya muntahan kucing, memangnya kau pernah melihatnya.” “Tentu saja aku pernah.” “Intinya kau harus meminumnya sehari satu kali, dan untuk berapa lamanya ya … sampai kita selesai menyelidiki semua ini. Makanya, ini adalah pilihanmu ‘kan, jadi nikmati saja muntahan kucingnya, Tuan Spring.” Erlend menahan tawa saat memandangi Laura dengan wujud lelaki ini. Dia yakin akan tertawa terbahak-bahak jika bertemu Jasper yang asli kalau sudah seperti ini. Iya, tingkah gemulai dan gegabah Laura dengan tubuh laki-laki sangatlah konyol. “Kau benar-benar menikmati ini ‘kan?” cibir Laura meliriknya tajam. Dia mengepalkan tangannya. Tapi, sekalipun dia adalah seorang vampire, nyatanya dia tidak merasakan adanya tenaga super. Dia tetaplah laura, gadis biasa yang kebetulan adalah reinkarnasi penyihir hebat di masa lalu. Erlend masih menahan tawa. “Diamlah.” Laura tidak menajwab karena pria tadi sudah datang dengan membawakan nampan berisi minuman milkshake. Pria ini menaruh kedua gelas minuman tersebut ke atas meja. Seperti biasa, muka dari pria itu terlihat sangat muram, tidak bersemangat dan sangat tidak meyakinkan dia menyukai anak-anak seperti yang dikatakan oleh nyonya Flowers. “Ini, silakan di minum, terima kasih untuk kuenya.” Tuan Thorns tampak duduk di kursi yang ada di seberang meja dari sofa panjang yang tengah diduduki oleh Erlend dan Laura. “Jadi, langsung saja.” “Namaku Erlend, dan ini temanku … Jasper.” Erlend menuding Laura denga ucapan yang sopan. Tuan Thorns mengangguk. “aku Henry Thorns. Aku pemilik toko permen ini dan tinggal sendiri. Kalian tamu dari penginapan Flowers?” “Iya. Kami ini adalah wartawan koran yang sedang meyelidiki tentang hal-hal yang misterius. Kebetulan disini ada kejadian misterius yang dikatakan oleh Tuan Flowers, dan Tuan Thorns melihatnya. Benar begitu?” “Jika maksudmu adalah beruang yang mati waktu itu, iya aku melihatnya---tapi semua orang mengira aku sedang mabuk dan salah melihat.” “Tolong jelaskan pada kami tentang hal itu. Mungkin bagaimana wujudnya? Apakah memang berbentuk beruang atau fisiknya ada keanehan?” “Keanehan? Tidak, aku yakin itu beruang, warna bulunya coklat agak kehitaman, tapi entahlah, saat aku datang lagi dengan sherrif, taka da apapun, mustahil itu terjadi, bukan?” Laura dan Erlend saling memandang. Bagi mereka, di dunia ini tidak ada yang mustahil. Di dunia bawah, segalanya bisa terjadi dengan bantuan kekuatan sihir dan para dewa. Kalau hanya sekedar menghilangkan mayat saja itu mudah dilakukan. Namun, sebenarnya apa tujuannya? “Apa itu benar-benar beruang? Maaf aku benar-benar harus memastikan,” kata Erlend malah curiga itu bukanlah beruang melainkan makhluk ciptaan penyihir. “Apa benar-benar beruang?” “Kau pikir aku ini tidka bisa membedakan binatang ya? Tuan Thorns terlihat tidak suka dengan pengulangan pertanyaan yang dilakukan oleh Erlend. Dia kemudian menegaskan, “itu beruang, tidak salah lagi, walaupun bulunya terlalu gelap, tapi aku yakin itu memang beruang. Lagipula di hutan sekitar wilayah sini, keberadaan beruang merupakan hal yang lumrah, memang jarang sekali yang turun ke pemukiman, tapi bukan tidak mungkin juga.” “Begitu ya …” “Yang membuatnya aneh hanya satu yaitu dia tiba-tiba menghilang. Hnaya itu yang bisa kukatakan pada kalian, aku tidak tahu kemana perginya, atau mungkin dia masih hidup aku juga tidak tahu.” “Lantas apa yang membuat Tuan yakin kalau itu sudah mati?” “Karena wujudnya yang sudah membusuk sebagian, ada luka-luka sayatan di wajahnya dan tengkoraknya pun kelihatan. Sepertinya dia sudah mati hampir sebulan, tapi anehnya baunya tidak sampai ke toko kelontong Mines.” “Mayat hidup.” Erlend bisa memastikan kalau kemungkinan memang ada penyihir yang bsia membangkitkan mayat di skeitar sini. Tuan Thorns bingung. “Maaf? Kau bilang apa? Mayat hidup?” Erlend langsung menggeleng. “Tidak ada apa-apa, aku hanya membayangkan, seorang wartawan harus berimajinasi, bukan?” Laura mendehem. Erlend menjadi diam. Tuan Thorns memandangi mereka satu per satu. Dia kemudian mengangguk saja. “Iya, hanya itu yang bisa kukatakan pada kalian, maaf. Pihak sherrif juga tidak mau mencari tahu karena mengira aku sedang mabuk. Kalian jangan kaget jika banyak orang di luar sana yang mengatakan kalau aku ingin orang aneh dan gila, makanya tidak ada yang mempercayai ucapanku, padahal saat itu aku tidak mabuk dan serius melihatnya.” Mendadak Laura memikirkan lambang-lambang aneh yang ada di bangunan depan penginapan Flowers. Ia hingga sekarang masih yakin kalau semua itu menunjukkan arti keabadian atau terlahir kembali. Hanya saja, dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi ,dan siapa yang menulis semua itu? “Terima kasih untuk informasinya, Tuan, kami akan memeriksanya langsung ke tempat kejadian itu besok pagi. Kata tuan Flowers tempatnya di sekitar lima ratus meter di belakang toko kelontong Mines, benarkah?” tanya Erlend. Tuan Thorns mengangguk. “Benar, sekitar lima ratus meteran.” “Terima kasih.” “Tapi aku ragu kalian akan menemukan sesuatu, disana memang tidak ada apapun.” “Kami akan melihatnya terlebih dahulu esok hari.” “Semoga beruntung.” “Iya.” “Apakah ada pertanyaan lainnya?” “Tidak untuk sekarang, terima kasih untuk waktunya, Tuan.” Erlend tersenyum sopan. Dia lega karena pria ini tidak menunjukkan sisi tidak ramah yang seperti dikatakan oleh Tuan dan Nyonya Flowers. Tapi, dia tetap waspada dan curiga dengan pria ini. Apa yang dilihatnya tadi sore, mana mungkin terlupakan begitu saja. “Minumlah s**u itu dahulu,” pinta Tuan Thorns mempersilakan. Erlend dan Laura meminumnya tanpa ragu. Mereka tidak merasakan adanya sihir pada minuman itu sehingga tak terlalu khawatir sata meneguknya. Setelah itu, keduanya tampak menyunggingkan senyuman ramah. “Sekali lagi terima kasih atas keramahan Tuan Thorns, kami akan pamit sekarang.” Erlend berdiri sembari menoleh pada Laura. “Ayo kita pergi ke penginapan lagi. Sudah malam.” Laura mengangguk. “Tentu, Sobat. Mari kita kembali ke penginapan.” Akting yang dilakukan Laura membuat Erlend ingin tertawa. Mereka kemudian berpamitan kepada sang tuan rumah, lalu bergegas menuju ke pintu belakang kembali. Erlend lebih dahulu keluar sembari membentangkan payung kembali. Sedangkan Laura berada di belakangnya. Saat hendak melewati pintu belakang, tiba-tiba Tuan Thorns menggumam di belakang. Benar, pria itu ada di belakangnya dan bergumam, “Laura.” Sontak saja Laura menoleh, dan melototi pria itu.  Dia panik, mengira kalau pria ini mungkin mengenalinya. Mungkinkah pria itu dari anggota pemburu penyihir? Ataukah orang misterius yang juga mengincarnya? Kenapa bisa mengetahui kalau dia adalah laura? “Maaf?” Laura memastikan. Tuan Thorns tersenyum, dan menjelaskan, “maaf, aku menyebut Laura itu karena rambutmu basah. Itu nama mendiang istriku. Dahulu dia sering sekali berhujan-hujan sampai basah kuyup. Harusnya aku memberikanmu handuk, aku minta maaf, Tuan Spring.” Laura menjadi lega. Ia keluar sembari menyunggingkan senyuman. “Kami turut berduka, Tuan Thorns. “Iya, sampai jumpa lagi, datanglah kalau ada perlu.” “Iya.” Laura lantas berdesakan dengan Erlend di bawah payung. Tuan Thorns menutup pintunya kembali. Laura dan Erlend terdiam hingga mereka sampai di teras penginapan. Memang, hanya sekitar sepuluh langkah saja mereka sampai. Saat hendak masuk, tak lupa mereka melepaskan sandal yang telah kotor dan berganti dengan sandal baru yang telah disiapkan oleh Tuan Flowers. Keduanya langsung masuk ke dalam ruangan mereka kembali. Laura menghempaskan diri di atas ranjang, menikmati melodi hujan yang masih terjadi, dan mencoba mengingat percakapan dengan pria pemilik toko permen sebelah itu. Menurutnya, informasi tadi tidak terlalu membantu. Erlend melepaskan jaket yang dia kenakan hingga menyisakan kaos hitam saja. Dia membuka lemari kayu kecil yang ada di samping meja, kemudian mengambil handuk, lalu melemparkannya ke wajah Laura. “Nyonya Flowers mengatakan untuk memakai benda apapun disini, jadi manfaatkan untuk mengeringkan rambutmu itu, Pemalas.” “Ini ‘kan salahmu aku jadi basah kuyup.” Laura menggerutu sembari menyingkirkan handuk dari wajahnya. Sebelum ia meneruskan omelannya, mendadak dia terinat sesuatu. Pundaknya gemetaran karena takut. Entah kenapa dia baru sadar akan hal ini. Bukankah tadi pria itu memanggilnya Tuan Spring? Tapi, Erlend jelas memperkenalkan dirinya sebagai Jasper saja? Lantas bagaimana orang itu bisa tahu nama belakangnya? Dia langsung bangkit dengan pandangan horror kepada Erlend. “Erlend, pria itu tadi memannggilku Tuan Spring,” katanya lirih. Erlend menoleh. “Memangnya kenapa? Itu kan nama sementaramu.” “Tapi ,.. tapi kau tadi ‘kan hanya memperkenalkan diriku sebagai Jasper.” Keheningan terjadi di antara mereka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD