Perpustakaan yang dimaksud oleh Erlend berada di dalam kediaman Hades tersebut. Perpustakaan ini mulai diperbaiki dan ditambahi dengan banyak sekali buku bertuah sejak Erlend datang ke rumah.Pada dasarnya pengetahuannya tentang dunia bawah dan sihir memang terbatas. Sekalipun dia sudah mendapatkan pembelajaran dari Thanatos, tapi tetap saja masih banyak hal yang tak dia ketahui.
Demigod atau setengah dewa selalu memiliki kelemahan. Mereka bukan pemilik darah dewa yang murni. Karena itulah, para setengah dewa ini harus berjuang lebih keras agar bisa me.gimbanginpara dewa lainnya apabila nanti dibutuhkan bantuannya. Seperti saat ini, Erlend terpaksa menjadi dewa pengganti akibat ayahnya yang menghilang entah kemana, dan di saat bersamaan kekacauan juga terjadi di dunia bawah. Belum lagi masalah tentang helm Hades yang dicuri orang tak dikenal— entah sudah sejauh apa pencuri itu melakukan sesuatu dengan helm tersebut.
Perpustakaan ini memiliki luas yang tidak main-main, cukup lebar dengan puluhan rak yang berjajar rapi layaknya perpustakaan pada umumnya. Hanya saja, seluruh rak tersebut memiliki tinggi yang berkali-kali lipat dari tinggi Erlend sendiri. Tingginya hampir menyentuh langit-langit ruangan.
Seluruh buku tampak tertata rapi, sebagian besar sudah berdebu karena tidak lagi disentuh. Biasanya para pelayan dewa akan membersihkannya. Tapi, semenjak mendapatkan tugas dari Erlend untuk mengawasi kota-kota dari serangan Minotaur, sekarang semuanya jadi sepi tak terjamah.
Ketika baru masuk ke perpustakaan, kesan pertama yang dirasakan oleh Laura adalah takjub. Dia sangat mengagumi keindahan buku-buku dan rak-rak yang tertata rapi ini. Dia juga kagum dengan arsitektur modern yang ada, semua itu dipadu dengan jendela kaca berpotongan tinggi dengan atas yang membentuk setengah lingkaran.Semua tampak begitu indah.
“Wah,” ucapnya maju selangkah demi selangkah dengan pandangan mengedar ke sembarang arah.“Indah sekali tempat ini. Aku tidak menyangka perpustakaan bisa menjadi semewah ini kelihatannya.”
Erlend beranjak ke salah satu rak, lalu memeriksa beberapa buku yang dia rasa ada hubungannya dengan kejadian yang terjadi kemarin. Dia ingin tahu apa ada mantera sihir atau sesuatu yang bisa membuat keberadaannya menghilang.
Merasa diacuhkan, Laura berjalan mendekati jendela, kemudian memandangi luar yang sangat hijau nan asri. Pagi hari yang cerah. Dia berharap bisa membuka jendela tersebut sehingga angin sejuk menerpanya.
Udara di dalam perpustakaan ini sebenarnya sudah cukup dingin, walau sedikit berbau seperti kertas tua.
Erlend tidak melihatnya, tapi bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. “Kenapa kau tidak membantuku saja? Kau harusnya tidak memandangi jendela seperti itu, di luar masih berbahaya sekalipun hujan sudah reda dan matahari kembali terlihat.”
“Iya, sebenarnya kau benar, rasaya sangat aneh— kemarin hujan deras, berkabut dan ada sosok misterius— sekarang semuanya kembali damai, hijau, dan matahari bersinar cerah.” Laura mendongak ke langit biru yang cerah.
“Aku masih yakin kalau yang membunuh reaper itu adalah penyihir. Hanya saja, bagaimana dia bisa lolos dariku? Aneh sekali, padahal aku yakin sudah menghujaninya dengan puluhan tombak, seharusnya ... Penyihir manapun mana bisa mengelak dari serangan itu.”
“Kalau dia penyihir 'kan . Bagaimana jika dia adalah bos dari reaper?”
“Bos?”
“Iya, maksudku Thanatos, kau bilang sosok dewa ini adalah perwujudan Death alias kematian. Dia yang membawahi reaper dalam menuntun arwah yang sudah keluar dari raga manusia. Bukankah begitu?”
“Thanatos itu dewa, berapa kali aku bilang, tidak mungkin dewa melakukan hal konyol seperti meneror begini. Lagipula, Thanatos itu sudah seperti paman bagiku, dia tidak akan melakukan hal seperti ini.”
Laura pun tertegun.
"Kenapa? kenapa kau jadi diam?" tanya Erlend memicingkan mata kepada gadis itu.
"Kalau kau bilang begitu, ya sudah, aku percaya perkataan mu."
Terjadi keheningan di antara mereka berdua. Keduanya saling melihat untuk beberapa saat, tapi langsung membuang muka bersama.
"Aku tak percaya tinggal di tengah hutan dengan seorang laki-laki, orang-orang benar, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi besok, mendadak aku disini dengan mu," kata Laura menghembuskan napas panjang. Dia lagi-lagi mengingat sebelum berada disini, dia hanyalah gadis pianis biasa yang tinggal sendiri dan sedang memulihkan diri akibat cedera tangan.
"Iya, mana kutahu juga kalau tiba-tiba terjebak dengan gadis aneh sepertimu," sindir Erlend meliriknya. Dia mengira kalau barusan Laura menyindirnya, jadi dia balik menyindir.
Laura menatapnya. "Aneh katamu? Aku ini hanya manusia normal, gadis normal yang juga seorang pianis. Dibandingkan dengan dirimu, sepertinya aku punya kehidupan yang lebih baik sebelum ini."
"Pianis? kehidupan yang lebih baik?" ulang Erlend teringat akan potret-potret yang ada di rumah Laura sebelumnya. Dia melihat banyak sekali potret kalau Laura memang seorang pianis. "Oh, iya aku melihat potret mu di rumahmu saat itu, kau bisa bermain musik?"
"Tentu saja, aku bisa main piano, bagiku permainan musik itu bisa menyembuhkan diri, menenangkan jiwa dan semacamnya."
"Kami punya piano disini."
"Benarkah?"
"Iya, benda semacam itu disukai oleh ayahku yang memang suka mengoleksi barang-barang mewah."
"Boleh aku memainkannya? setidaknya aku ingin menenangkan diriku yang sudah tertekan karena terus berada di sini dan mendapat teror dari orang yang tidak diketahui."
"Well, boleh saja, tapi tidak sekarang. Sekarang, kau diam saja, aku masih sibuk mencari sesuatu disini. Kita sedang di perpustakaan, jadi jangan banyak bicara ..."
"Boleh aku bertanya satu hal?"
"Itu kan sudah pertanyaan, jadi jangan tanya lagi."
"Kau benar-benar menyebalkan."
"Baiklah, mau tanya apa? kau mendapat perhatianku, jadi sekarang, katakan kau ingin tahu apa?"
"Masih mengenai musik, apakah kau menyukai musik?"
"Iya, lumayan, tapi terkadang aku tidak punya waktu untuk mendengarnya, jika yang kau maksud adalah musik pop atau sejenisnya. Aku dibesarkan di Manor Thanatos, oleh dewa, jadi jarang mengetahui tentang budaya ataupun kesenian dari manusia biasa. Musik yang kudengarkan biasanya dari harpa, atau musik-musik yang mengintari acara dansa dan pertemuan dewa."
"Kau sering bertemu dewa lain?"
"Tentu saja."
"Semacam Dewi Athena?"
"Iya, hampir semua dewa. Kenapa kau bertanya tentang Dewi Athena?"
"Tidak, penasaran saja karena dia adalah Dewi yang terkenal."
"Iya aku tahu."
"Bagaimana rupanya?"
"Seperti wanita."
"Kau suka sekali bercanda, ya?"
"Aku harus menjawab apa? Dia Dewi, sebagaimana Dewi, dia wanita, cantik dan semacamnya, aku tidak bisa mendeskripsikannya, kapan-kapan lihat saja sendiri."
"Kapan-kapan? Aku akan bertemu dengannya?"
"Mungkin saja 'kan? Kalau kau terjebak denganku terus, lama kelamaan banyak dewa yang akan kau ketahui nanti."
"Lalu bagaimana dengan Medusa? Apa dia benar-benar nyata?"
"Tentu saja nyata, dia memang ada, dia cukup berbahaya, jadi tidak perlu membahasnya. Kenapa kau malah bertanya banyak hal seperti itu?"
Laura mendadak penasaran untuk mengetahui tentang dewa lebih banyak lagi. Namun, dia sekarang diam agar Erlend fokus membaca buku-buku yang dia ambil dari rak-rak.
"Maaf, aku sungguh penasaran dengan hal-hal seperti dewa, selama ini semua itu dianggap hanyalah mitos. Aku selalu percaya hidup berdampingan dengan makhluk lain, tapi aku tidak pernah menyangka kalau legenda dan kepercayaan di masa lalu itu sungguh memang ada," katanya kemudian.
"Well, memang ada, dan kau sedang bicara dengan salah satu anak dewa itu," kata Erlend yang tampaknya biasa saja.
Laura hanya meneguk ludah.
***