Terjebak di kediaman Hades dengan kondisi luar yang hujan deras berkabut tebal. Tidak pernah terbayangkan oleh Laura akan berada di situasi ini. Jam meja yang berjenis analog tampak menunjukkan pukul dua belas malam. Ini sudah tengah malam, tapi hujan deras masih melanda.
Laura masih terlelap dalam tidurnya, tapi entah mengapa dia menjadi tidak tenang. Sementara itu, Erlend sengaja meninggalkannya untuk memeriksa keadaan. Dia keluar dari rumah dengan hanya mengenakan jas hujan coklat gelap. Setelah itu, dia menyusuri hutan ini dengan tujuan mencari tahu sesuatu. Tanah di sekitar hutan pepohonan maple terlihat sudah mulai banjir, tapi Erlend sama sekalit tidak kesulitan untuk berlari. Dia terus menyusuri hutan ini dengan harapan mendapatkan sebuah penjelasan.
Ketika dia hampir sampai di perbatasan, nyatanya hujan semakin hilang dan kemudian reda dengan sendirinya. Ini semakin membuat kepala Erlend pusing bukan main.
Dia mendongak, dan memandangi langit malam yang masih mendung. Pemikiran seriusnya mendadak berubah menjadi kacau kala mengingat kelakuannya saat mencium bibir Laura. Dari semua ingatan, kejadian itu yang muncul tiba-tiba.
“Sial.” Dia mengumpat ingin memukuli diri sendiri. Rasanya sangat aneh dan semakin aneh. Baru kali ini dia merasakan perasaan aneh seperti ini. Padahal, dia sudah sering bertemu dengan penyihir wanita—dan semuanya tidak pernah membuatnya smapai kepikiran begini.
Dia terus menggerutu, “sial, ada apa denganku? Kenapa aku yakin sekali dia adalah penyihir? Tapi … aku tidak punya bukti apapun, lalu maksudnya apa yang barusan itu? Apa yang kupikirkan? Kenapa aku terus saja mengingat kejadian tadi? Kenapa dadaku berdebar-debar?”
Berbicara sendiri, memaki diri sendiri dan terus menerus berusaha melupakan apa yang sebelumnya terjadi. Niatnya hanya untuk mengetahui lebih banyak tentang Laura, tapi semakin dia mendekati gadis itu, perasaannya semakin tidak karuhan. Entah mengapa semua ini terasa sangat membingungkan untuknya.
Tidak berselang lama, dia mendengar suara kepakan burung. Yakin kalau ada sesuatu, dia langsung mengejar ke sumber suara dengan langkah yangluar biasa cepat. Matanya tampak tajam, tersirat kalau dia benar-benar ingin meluapkan amarahnya terhadap seseorang. Semakin dia mendekati sumber suara, semakin dia bisa merasakan keberadaan seorang reaper.
“Sudah kuduga …” gumamnya saat yakin di balik semak belukar di depannya pasti ada seorang reaper.
Dan, benar saja, saat dia menyibakkan semak belukar yang hampir setinggi dua meter itu, terlihatlah seorang reaper yang terkapar di atas tanah berlumpur. Seluruh pakaian hitam dan Sebagian kult wajahnya telah kotor akibat lumpur. Dia seperti kejang di atas tanah tersebut sembari memegangi leher, seperti ada sesuatu yang menjeratnya. Matanya melotot, dan saat melihat Erlend, dia ingin sekali mengatakan sesuatu—sayangnya suaranya tak mau keluar.
“Hei, ada apa?” Erlend langsung panik. Dia berjongkok di samping pria reaper itu, lalu memeriksa keadaannya. Dia tidak melihat ada sesuatu yang janggal. Tap, anehnya reaper ini seperti kehabisan tenaga dan sebentar lagi hilang. “Katakan sesuatu, siapa yang membuatmu seperti ini? Kenapa kau mengawasiku? Apa yang terjadi padamu?”
Erlend panik.
Reaper itu masih memegangi lehernya. Keadaannya sangat parah, dan tak bisa bertahan lagi. Dia sepertinya sudah tahu akan menghilang, sehingga memaksakan diri untuk mengucapkan satu kata, “Tita …”
“Hah?” Erlend tidak tahu itu sebuah kata, nama atau mantera. “Apa itu?”
Tapi, belum sempat kata lain terucap, sang reaper berteriak kencang dan tubuhnya hancur menjadi kumpulan kabut hitam yang menghilang bersama angin. Sontak saja Erlend semakin bingung. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, tba-tiba saja ada reaper yang menghilang. Dia tahu reaper itu sebenarnya tidka menua dan mati, tapi mereka bisa dibunuh dengan mantera jahat. Biasanya para penyihir, iblis atau makhluk non manusia lain bisa melakukan ini.
Mata coklat Erlend berkilatan penuh amarah. Dia bisa merasakan adanya kekuatan lain yang sedang mengintai. Tanpa menunggu lagi, dia mengangkat tangannya dan memunculkan sebuah tombak berukuran sedang dari dalam tanah. Tombak tersebut merupakan benda logam yang dia bentuk kembali menjadi sebuah tombak.
Setelah itu dia menoleh ke belakang, dan melemparkan tombak itu ke sumber kekuatan aneh itu. Mata tombak yang runcing itu melesat jauh menembus semak-semak belukar lain dan menghilang masuk kabut.
Erlend berdiri dan berlari mendekat. “Siapa kau!”
Dengan kekuatan ferrokinesis atau pengendalian logam yang dia miliki, dia dengan mudah menaikkan seluruh besi karatan dari dalam tanah, lalu dibentuk ulang menjadi puluhan tombak. Tanpa menyentuh mereka, dia bisa membuat semuanya meluncur menebus kabut ke satu arah.
“Keluar kau!” bentak Erlend lagi.
Akan tetapi, ketika dia sudah menebus kabut, nyatanya sosok itu sudah menghilang. Seluruh tombak buatan Erlend menancap di satu batang pohon yang sama. Tampaknya orang misterius tadi memang berdiri disitu. Iya, terlihat dari jejak kaki yang terlihat di atas tanah berlumpur—yang kini sudah mulai pudar akibat hujan lagi.
Erlend mendongak kembali, merasakan rintik hujan yang jatuh menimpa kulit wajahnya.
.
.
.
.
Laura terbangun dari tidurnya.
Dia langsung bangkit dari atas ranang dengan kondisi berkeringat. Dia bermimpi buruk, dan merasa tidak mau untuk tertidur lagi jika sudah begini. Dadanya berdebar-debar kencang. Saat melihat Erlend tidak ada di sofa, dia semakin khawatir. Apalagi, hujan deras kembali melanda.
Jam meja menunjukkan pukul dua pagi.
Tidak bisa tidur lagi, gadis ini turun dari ranjang, dan keluar dari kamar untuk mencari minuman sekaligus Erlend. Tidak adanya pemuda itu membuat keselamatannya menurun. Entah mengapa dia merasa sangat tidak ingin sendirian saat ini.
“Kemana dia?” gumamnya saat berjalan di lorong rumah yang gelap sekali.
Ketika malam hari, pencahayaan rumah ini seluruhnya hanya berasal dari lampu dinding, sedangkan lampu utama di atap plafon mati seluruhnya. Lampu dinding bercahaya redup sehingga tidak memuaskan mata dalam melihat segala hal. Bahkan, sleuruh lukisan aneh yang ada di dinding malah terlihat makin mengerikan di tempt redup begini.
Iya, berulang kali Laura harus berhenti dan mengelus d**a karena merasa ada yang mengawasinya, tapi nyatanya itu hanyalah lukisan bunga mawar yang aneh.
“Kenapa tempat ini luas sekali dan horror? Aku tidak menyangka kalau Erlend tinggal disini sendirian …” Dia menggumam lagi sambil mengamati sekitar. Dia terus berjalan di lorong lurus yang menuju langsung ke ruang makan dan dapur. Dia membayangkan kalau Erlend tinggal disini selama ini sendirian. “Demigod, ya? Aku tidak menyangka juga kalau ternyata dewa Hades itu benar-benar nyata, dan dia memiliki seorang putra dari manusia.”
Dia menghela napas panjang.
Setelah sampai, dia membuka pintu dan mendapati ruang dapur ini sangat gelap, hanya ada satu pencahayaan dari satu lampu dinding, itupun tak bisa menjangkau seluruh ruangan.
Begitu dia masuk, dia bisa melihat kilat dan petir menyambar-nyambar sehingga cahayanya sekilas menerangi ruanagn itu. Kebetulan, saat itu jendela sedang terbuka dan angin tampak mengibarkan kelambu putihnya. Dari cahaya yang menyambar itu, terlihatlah sekilas ada sosok mengerikan yang sedang berdiri di samping meja makan.
“Ah!” Laura berteriak histeris.
Sosok misterius itu mendekati dinding, lalu menyalakan lampu utama sehingga pencahayaan jauh lebih baik. Dia ternyata adalah Erlend yang baru saja melepaskan jas hujannya, tapi masih terlihat basah, belum lagi kaki telanjangnya yang tampak begitu kotor, sehingga telapak kakinya meninggalkan jejak di atas lantai.
“Tenanglah, ini aku,” katanya sembari mengibaskan rambutnya yang basah.
Laura melototinya. “Kenapa kau tiba-tba muncul di dapur dengan kondisi seperti itu?” Dia melihat kea rah jendela yang terbuka dan asal dari jejak kaki. “Kau masuk lewat jendela?”
“Iya, kenapa?”
“Eh …” Laura memperhatikan pakaian Erlend yang kotor. “Kau baik-baik saja? Di tengah malam begini, kenapa kau malah seperti baru saja hujan-hujanan di luar? Ada apa? Apakah ada masalah?”
“Tidak ada apa-apa,” sahut Erlend kemudian duduk di salah satu kursi. “Aku hanya barusan bertemu reaper.”
“Seorang reaper? Ada makhluk pengantar jiwa itu disini?”
“Iya.”
Laura takut melihat kelambu yang terus saja berkibar karena angin dari luar. Dia pun berjalan mendekati jendela, kemudian dia menutup daun jendelanya. Dia kemudian duduk pula di salah satu kursi dekat dari Erlend.
“Hei, kurasa dugaan kita memang benar, ada yang mengawasi kita,” kata Erlend memandangi Laura dengan pandangan serius. “Dan satu hal lagi, reaper itu mati karena ulah seseorang.”
“Mati? Karena seseorang?”
“Aku tidak tahu siapa yang melakukan ini, tapi semua makhluk yang punya kekuatan bisa memusnahkan reaper. Aku yakin ini bukan ulah dewa lain, ini pasti iblis, penyihir atau semacamnya.”
“Kenapa kau bisa yakin kalau ini bukan ulah dewa?”
“Sekalipun dewa jahat, dia tidak akan melakukan hal rumit seperti ini. Jika dia tujuannya ingin menghancurkanku, menghancurkan rumah ini atau menculikmu, pasti dia akan melakukannya secara langsung, tapi orang ini .. kelihatan sekali kalau hati-hati. Dia masih menyelidiki tentang rumah Hades ini. Aku memang belum memberitahumu segalanya tentang tempat ini. Tapi percayalah, manusia, penyihir atau iblis takkan bisa masuk semudah itu tanpa ijin dari sang tuan rumah, yaitu aku.”
“Begitu, ya?”
“Iya. Kecuali kalau dia dewa, memasuki rumah dewa lain lebih mudah bagi mereka.”
“Jadi karena itu kau mengganggap ini bukan ulah dewa?”
“Iya, itu kemungkinan saja, aku pun tidak tahu.”
“Lalu apa ada hal lain yang kau ketahui?”
“Reaper itu sempat menyebutkan sesuatu yang tidak kupahami. Entah itu sebuah kata, sebuah nama, atau sebuah mantera.”
“Apa yang dia sebutkan?”
“Tita.”
Laura tertegun, dia merasa kenal dengan kata tersebut. Saat kata itu disebut pun rasanya ada sengatan aneh dalam benaknya. “Rasanya tidak asing.”
“Kedengarannya seperti nama benda atau orang. Mungkin ini adalah nama penyihir wanita yang sedang meneror kita.” Erlend curiga dengan hal tersebut. Di dalam pikirannya, Tita memang seperti nama perempuan.
“Entahlah, mungkin kita bisa mencari tahu di buku-buku tua para penyihir? Jika kau mengira itu penyhir mungkin saja ada nama Tita di dalamnya, kita akan bisa tahu itu mantera atau nama sesuatu.”
“Iya. Itu yang akan kulakukan besok. Kau mau ikut denganku?”
“Kemana?’
“Perpustakaan pribadiku.”
Laura tidak menjawab, tapi dia penasaran dengan bentuknya. Dia hanya mengangguk.
***