Erlend dan Laura kembali terjebak di dalam kediaman Hades.
Rintik gerimis yang melanda kota ini kembali deras, bahkan terdapat badai ketika menjelang sore hari. Badai yang jarang sekali terjadi di lokasi tersebut. Hal ini membuat Erlend semakin yakin kalau ada sesuatu yang tengah mengincar mereka. Jika memang sesuatu itu masih bersembunyi di balik kabut, artinya mereka menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan diri.
Laura sudah tak mempedulikan apapun. Dia menata baju-bajunya di lemari. Sekarang dia tidak punya pilihan selain berada di kamar ini, menunggu perintah Erlend dan lainnya. Berulang kali dia menengok ke pergelangan tangan yang terdapat gelang ajaib. Setelah itu, dia juga menengok keluar jendela yang berkabut dan hujan deras.
Kalau keadaannya seperti ini, walaupun tidak memakai gelang pun dia juga enggan melarikan diri. Dia mendadak teringat akan kejadian di rumah sewaannya. Dia yakin ada seseorang yang mengawasi— tapi dia tidak bisa menebak siapakah sosok itu?
Pemikirannya kemudian beralih ke hal lain, yaitu tingkah laku Erlend yang terlalu dekat dengannya. Dia masih bisa merasakan hangatnya napas setengah dewa itu ketika menyembur di permukaan kulit wajahnya. Suaranya yang berat saat berbicara, serta tatapan matanya yang misterius. Segala hal tentang Erlend tiba-tiba menjadi amat menggelisahkan hati Laura.
Mengingat kejadian itu saja, d**a Laura kembali berdebar-debar tidak karuhan. Dia merasa malu, tapi juga kesal sendiri. Mengapa dia harus terpengaruh oleh pemuda ini? Dia sangat kasar dan dingin, begitulah yang dia katakan dalam hati.
Dia duduk di pinggiran ranjang, lalu menghela napas panjang. Dia berharap kalau hari ini segera terlewati dan dia bisa melupakan kejadian tadi. Wajah mereka terlalu dekat, tangan Erlend juga terus saja menyentuh kulitnya.
Karena tidak juga bisa melupakan hal tersebut, dia kemudian menghempaskan diri ke atas ranjang dalam posisi tengkurap. Dia menyembunyikan wajahnya di bantal, lalu memukul-mukul apapun yang dekat dengan tangan. Dalam hati, dia benci dengan perasaan yang tiba-tiba mendera ini. Dia tidak mau menyukai Erlend dalam waktu sesingkat ini. Namun, pesona Erlend saat berkata lembut sulit sekali untuk ditolak. Apalagi, semakin dipandang sebenarnya Erlend memang memiliki paras yang begitu mempesona dibandingkan pemuda lain.
Iya, bagaimana pun Erlend Hadeson adalah seorang Demigod atau setengah dewa. Dia adalah putra dari dewa Hades, dewa dunia bawah. Ketampanannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Saat dia memberikan tatapan tajam, jantung wanita malah akan berdebar, dan ketika dia tersenyum— seseorang bisa tertegun hanya untuk memandangi keindahan wajahnya.
Tanpa mengetuk pintu, Erlend menggunakan kekuatan pengendali batuan Bumi untuk membuat pintu kamar ini terbuka sendiri. Setelah itu, dia masuk dan seenaknya duduk di sofa panjang samping ranjang. Sofa tersebut berada di tepi jendela pula, tempat favoritnya.
Laura bangun, dan melihat sosok Erlend yang datang. Dia mengamati pemuda itu dalam balutan baju hangat. “Kau ... Kemari?”
Erlend langsung merebahkan diri di Atas sofa kembali, lalu menjawab, “situasi masih belum stabil, aku akan menjagamu dengan berada di dekatmu.”
“Oh.”
“Kenapa memangnya?”
“Tidak—” Laura mendehem, lalu berkata lagi, “tapi setidaknya tolonglah untuk mengetuk pintu sebelum membukanya.”
“Kau pikir kau itu siapa? Tamu? Kenapa aku harus mengetuk pintu di rumahku sendiri. Semu ruangan disini adalah milikku, kau yang menumpang disini.”
Astaga, kau menyekap ku, ucap Laura dalam hati. Dia kemudian menghela napas panjang , paham kalau percuma saja bicara dengan orang seperti Erlend.
“Sekarang apa rencananya?” tanya Laura kemudian.
Erlend menoleh ke luar jendela yang kelambunya tak pernah dibuka. Mimik wajahnya berubah menjadi serius. Dia tidak memiliki rencana apapun, tapi setidaknya sudah bisa mempercayai sedikit ucapan Laura.
“Kabut, hujan— dan Sebentar lagi badai. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.” Erlend memikirkan sesuatu yang tampaknya begitu serius. Dia lalu berdiri lagi, dan mendekati ranjang. “Saat di rumahmu, aku memikirkan banyak hal— tentang apa yang terjadi sejauh ini.”
“Oke.” Laura mendadak panik saat pemuda ini ikut naik ke atas ranjang, berusaha agar lebih dekat dengannya. “Apa maksudmu?”
“Ada sesuatu dalam dirimu—” Erlend merangkak mendekati Laura. Sorot mata tajamnya memaksa tubuh Laura diam membatu di tempat.“Aku merasa sangat aneh, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi sejak aku melihatmu, rasanya sangat aneh— aku menjadi tidak tenang. Lalu—”
“Lalu?” Laura mundur, dan hendak turun, tapi raganya ditahan oleh tangan Erlend. Kini dia berada cukup dekat lagi dengan pemuda ini.
Pencahayaan kamar ini juga meredup, seiring waktu berjalan sehingga cahaya dari luar menipis. Hari makin gelap. Lampu utama kamar juga belum menyala.Situasi ini sebenarnya amat romantis.
“Eh ...” Laura panik saat mata Erlend terus memandanginya. Dia sangat bingung dengan cara berpikir pria ini, sangat aneh.
Erlend mencengkram dagu gadis itu, lalu mendekatkannya kepada dirinya sendiri. Dia masih menunjukkan mimik muka serius. Dengan suara lirih, dia berkata, “Nona ... Kau membuatku amat penasaran, siapakah dirimu sebenarnya? Tunjukkan padaku siapa kau ini sebenarnya.”
“Menjauhlah dariku, kau ini sangat aneh—” wajah Laura memerah. Dia tidak pernah sekalipun diperlakukan seperti ini oleh laki-laki manapun, kecuali sekarang.
Alih-alih menjawab, Erlend malah melingkarkan tangan di punggung Laura, kemudian mendekatkan Wajahnya dengan gadis itu— dan dalam hitungan detik, dia mendaratkan Sebuah ciuman tak terduga di bibir manis Laura.
“!!” Laura kaget bukan main.
Setelah menyatukan bibir setidaknya lima detik, Erlend menarik dirinya lagi, dan menyentuh dadanya kembali. Debaran jantungnya menjadi tak karuan. Dia heran karena hal tersebut.
Sedangkan Laura langsung membuang muka sambil menutupi bibirnya. Mata melotot, d**a berdetak cepat. Walau usianya sudah cukup matang, tapi dalam hal percintaan, dia bagaikan anak remaja.
“Kau ... Kau mengambil ... Ciuman pertamaku!” Dia menjadi murka terhadap pria yang barusan menciumnya tersebut.
Erlend menatapnya, kemudian berkata, “ciuman adalah Sarana untuk membaca pikiran paling cepat. Aku hanya ingin tahu siapa dirimu, tapi sepertinya— aku tidak tahu, malahan... Saat aku mencium mu, dunia serasa berhenti dan otakku pun tak bekerja.”
“Hah?” Laura tidak mengerti.
Erlend masih menyentuh bibirnya, lalu beranjak turun dari atas ranjang. Setelah itu, kembali tiduran di atas sofa panjang. Dia masih memikirkan sensasi apa yang barusan dia rasakan itu?
"Apa yang sebenarnya kau lakukan barusan!" Laura kebingungan. "Kau-Kau kurang ajar sekali! tidakkah kau malu dengan perbuatanmu barusan?"
"Aku tidak tahu, kenapa kau malah marah begitu? aku barusan ingin mengetahui tentangmu, dan berciuman adalah cara yang termudah. Seharusnya aku bisa mengenalimu, tapi entahlah ... aku tidak tahu apa yang kurasakan." Mendadak Erlend merasa tidak nyaman memandangi wajah Laura. Dia merasa malu, tapi enggan mengakui hal itu.
"Kau memang aneh, ini bukan cara mengetahui itu, itu cara pemuda m***m mencari cara agar bisa melecehkan seorang gadis." Laura mengomel sendiri. Dia masih malu memandangi Erlend juga, alhasil dia memalingkan wajah, lalu melihat ke luar jendela yang lain.
"Sepertinya kau tidur saja dahulu, aku tak mau berdebat. Aku bingung dengan keadaan ini."
"Aku pun tak mau berdebat denganmu lagi.",
Mereka sempat saling memandang, tapi kemudian kembali terdiam, dan tak mau berkomunikasi lagi.
***