10

1228 Words
Burung gagak itu mengamati rumah Laura. Dia mengamati di atas dahan pohon Aras, pohon peneduh jalan yang tumbuh di seberang jalan. Burung tersebut baru terbang setelah Erlend dan Laura masuk ke dalam rumah. . . . . . Erlend mengamati rumah ini. Perabotannya dan segala hal. Dia tidak merasakan adanya hal yang misterius. Padahal seharusnya disini pernah dilalui oleh pencuri helm Hades. Namun dia tidak mendapatkan informasi apapun. Walaupun, dia sudah menyentuh beberapa meja, kursi ataupun tembok. Tak lupa, dia sebenarnya melihat-lihat potret yang ada di atas meja ataupun terpajang di tembok. Semua potret itu menunjukkan bahwa Laura adalah seorang pemain piano. Erlend tertegun sejenak, merasa kalau Laura memang berkata jujur. Kemungkinan besar gadis itu memnag gadis biasa yang bisa melihat keanehan. Dalam benaknya, Erlend juga memikirkan kemungkinan lain yaitu Laura sendiri tidak tahu tentang dirinya sendiri. Entah yang mana yang benar, tapi dia yakin ada sesuatu di dalam hidup Laura. . . . . . . Laura sendiri masih berada di kamarnya yang ada di lantai atas. Dia mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Selain pakaian, dia juga mengemas beberapa perlengkapan mandi dan riasan. Dia tidak tahu sampai kapan —akan berada di dalam rumah Erlend. Dia jujur ingin melarikan diri, dia ingin pulang ke rumah, lalu bertemu keluarganya. Akan tetapi sekarang keadaannya benar-benar berbeda. Tidak boleh bertemu keluarganya, tidak ada kebebasan ataupun lainnya. Saat dia selesai dengan lemari, dia buru-buru menutupnya, tapi seekor kecoa muncul dari bawah lemar dan mengagetkannya. Dia langsung berteriak, “ahhh!” Erlend datang dalam hitungan detik dan mendorong pintu sampai terbanting. Dia masuk dengan mimik wajah cemas. “Ada apa?” “Ada kecoa—” Laura menunjuk kecoa yang sudah pergi menuju ke kolong ranjang. Dia menunjukkan sikap yang jijik. “Hanya kecoa dan kau heboh.” “Dengar, kecoa itu menjijikan.” “Dasar berlebihan.” “Aku tak percaya kamarku ditinggal beberapa hari saja sudah dimasuki kecoa.” Mimik wajah Erlend berubah menjadi jengkel. Dia benci dengan hal yang semacam ini. Padahal dia sudah sangat cemas barusan, ternyata gadis ini malah terkesan mengerjainya. Dia sempat melihat ke seluruh benda yang terpajang di kamar sederhana dari Laura ini. Dia merasa aneh saat berada di tempat ini. Sensasi yang dia rasakan berbeda dari pertama dahulu. Dia mendekati ke tembok yang berlubang karena dwisula miliknya. Kemudian, dia menyentuh permukaan yang berlubang itu. Ada hal yang membuatnya penasaran, ia sangat ingin tahu siapa itu Laura. Laura mendekatinya. “Ada apa? Kau baru sadar kalau sangat jahat kepadaku?” “Sangat jahat?” ulang Erlend menoleh ke arahnya. “Apa maksudmu berkata bahwa aku ini sangat jahat?” “Kau mengacungkan dwisula, ingat? Membuatku pingsan, menggertakku sampai ketakutan setengah mati.” Erlend menyambar lengan Laura, kemudian menyeretnya dan memaksanya untuk berdiri di depan tembok gang terdapat bekas tombak dwisulanya. Sekarang situasi mereka benar-benar mirip dengan kejadian malam ini. Laura tak bisa mundur lagi karena punggungnya berpapasan dengan tembok. Sedangkan, dia juga tidak bisa maju karena terhadang oleh Erlend. Mendadak, dia menjadi gugup, jantung berdebar-debar, dan perasaan menjadi aneh. Dia memandangi Erlend dengan seksama. Sekarang, pemuda ini memang kelihatan sangat berbeda dari malam itu. Kulitnya jauh lebih bersih, tatapan matanya jauh lebih tenang, dan yang paling penting rambutnya juga terlihat agak basah sehingga mengandung kesan seksi. “Kau sungguh berpikir aku ini jahat, hah?” bisik Erlend sembari menyentuh dagu dari Laura. Dia menyeringai saat menyadari kalau wajah gadis itu terlihat tegang sekali. “Kau Memang tidak berbudi.” “Ngomong-ngomong, Nona, aku lihat kau ini bisa bermain piano—” Erlend mengalihkan perhatiannya ke rambut Laura. Dengan jari telunjuk dan jempol, dia memainkan sejumput rambut depannya. Laura semakin tegang. Dia mengangguk seraya mengatakan, “iya, aku seorang pianis. Memangnya kenapa? Kau masih ingin menuduhku kalau aku ini seorang penyihir?” “Tidak. Aku merasa yakin kau ini sesuatu— tapi aku masih tak bisa melihatnya.” Erlend masih memandangi wajah Laura. Sebagai seorang laki-laki, dia tahu kalau gadis ini cukup cantik dan menarik perhatian. Namun, karena terlalu sering bergaul dengan dunia kematian saja, dia jadi tidak mengerti kalau apa yang dia rasakan saat ini adalah perasaan suka. Melihat Erlend yang diam saja, Laura makin tegang. Kulitnya semerah kulit udang rebus. Dia juga tidak merasa sedang jatuh hati. “Eh ... Kau kenapa?” “Tidak, aku hanya berpikir, siapa kau ini sebenarnya—” Erlend menyeringai lagi, lalu menepuk pipi Laura dengan lembut beberapa kali. Dia tidak tahu alasan melakukan itu, padahal sesungguhnya dia sedang gemas. Laura diam saja karena takut sekaligus bingung. Seringai Erlend berubah menjadi senyuman manis. Baru kali ini dia menunjukkan senyuman semacam ini kepada Laura. Dia tersenyum karena merasa bahwa gadis ini sangat lucu. Jantung Laura kembali berdebar-debar. Kali Ini, dia baru sadar kalau dia kemungkinan menyukai Erlend. Jarak mereka pun terlalu dekat, wajah terlalu dekat. Tidak mungkin, ucapnya pada diri sendiri Kenapa kau melihatku seperti itu? Wajahmu juga merah seperti kelopak bunga mawar yang hendak mekar. Manisnya.” Erlend menahan tawa. Laki-laki ini tampaknya memang belum sadar kalau juga menyukai Laura sejak awal. Benih-benih cinta dalam dirinya sudah tumbuh, sayangnya dia tidak pernah menggunakan hati dalam melakukan atau memikirkan apapun. Laura mendorong d**a Erlend agar menjauhinya. “Menjauhlah dariku. Kau terlalu dekat.” “Aku masih heran denganmu.” Mendadak Erlend menjadi serius. Dia enggan menuruti perintah Laura yang berusaha keras menjauhkan diri. “Kau serius tidak mengetahui siapa dirimu? Apakah itu bukan kebohongan? Aku lihat kau ... Bisa bermain piano.” “Lalu?” “Entahlah, aku mendadak makin penasaran dengan dirimu. Kau misterius sekali, dan setiap kali aku memandang matamu, ada sesuatu yang bergerak di tengkukku— aku tidak mengerti mengapa aku seperti ... Merasakan sesuatu saat bersamamu.” Laura meneguk ludah. Dia heran dengan kepribadian aneh yang ditunjukkan oleh pemuda ini. Dadanya masih berdebar-debar. Dia menjelaskan panjang lebar: “Aku sungguh tidak bohong padamu. Sejak awal— sejak kau masuk ke kamarku ini dengan cara yang tidak sopan, aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur. Kau yang terus menuduhku kalau aku ini berpura-pura tidak tahu apapun.... ”Tapi, percaya atau tidak, aku memang tidak tahu apapun. Aku hanya bisa merasakan kehadiran makhluk tertentu, tapi tak mampu memahami mengapa aku begini— orangtuaku pun, ibuku ... “Dia tak pernah mau membahas ini. Seluruh keluargaku seolah tutup mata dan berusaha keras untuk membuatku melupakan ini. Mereka lah yang menyarankan ku agar tidak mempedulikan kemampuan ini ... ”Di dunia manusia yang modern begini, memiliki kemampuan semacam ini sulit dipercaya dan akan dianggap gila. Aku tak mau menghancurkan karirku, karena itulah aku sering mengabaikan fenomena yang kulihat.” Erlend mendengarkan dengan serius. Dia tidak merasakan kebohongan dari perkataan Laura. Setelah itu, dia pun mundur dan memalingkan pandangan. Dia mendadak merasa kalau tubuhnya terbakar— ada yang aneh dengan dirinya saat berdekatan dengan Laura terlalu lama. Dadanya juga berdebar. Dia sampai heran saat menyentuh dadanya itu. “Kau mendengarkan ku 'kan?” tanya Laura kemudian. Erlend malah berlalu pergi keluar ruangan sembari berkata dingin, “kalau sudah selesai, cepat bawa koper mu dan kita kembali ke rumah, sampai situasi membaik, kita akan berada di sana.” Laura tertegun. Keningnya mengerut, heran dengan pemuda itu— tadinya mengejeknya, lalu menggodanya, lalu serius menanyakan tentangnya, tapi kini kembali dingin. “Orang aneh,” gumamnya sembari menurunkan koper dari atas ranjang. Kemudian, dia menggeret ya keluar kamar. Bersama Erlend, gadis ini kembali pulang ke kediaman Hades yang ada di hutan maple. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD