Laura melamun, memikirkan apa yang terjadi pagi ini. Dia kebingungan dengan peristiwa yang melanda.
Di teras tadi, di, tak bisa melihat Erlend pergi kemana. Dia punya kesempatan melarikan diri sebenarnya.
Akan tetapi mana mungkin dia berani untuk meninggalkan tempat ini sendirian. Iya, apalagi begitu banyaknya kabut yang mengintari rumah ini. jarak pandang amat pendek hingg dia tidak bisa melihat rumput di halaman depan.
"Ada apa ini?". dia penasaran dengan apa yang terjadi. Kaitan antara kejadian kemarin dengan sekarang sangat mencolok. Pasti terjadi sesuatu.
Dia mendongak, dan melihat langit, sayangnya dia benar-benar tidak bisa melihat apapun. Kabut sudah terlalu tebal, cahaya matahari saja tidak bisa bersinar terang. udara masih amat dingin. rintik hujan masih berjatuhan.
Lalu di tengah kabut itu, di kesunyian pagi itu, seekor burung gagak terbang ke arah Laura. Gadis ini spontan berteriak, tapi si gagak berhasil menakutinya hanya dengan terbang di atas kepalanya lalu hilang lagi di dalam kabut.
Teriakan Laura sampai di telinga Erlend. Dia kembali berlari ke arah rumah, kemudian naik ke teras. rambut dan sebagian mantel yang dia kenakan tampak basah karena gerimis.
“Ada apa?" Tanyanya.
"Tidak apa-apa." Laura mengangguk pelan. Dia mengelus d**a, lalu menarik napas dalam-dalam. "Hanya burung. Hanya burung.”
"Burung?"
"Iya, burung, ada burung gagak melintas di kepalaku."
"Burung gagak?" Burung gagak melintas di kepalamu?“
"Iya."
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Barusan pergi ke dalam kabut, entahlah sekarang ada dimana. apa menurutmu itu ...."
"Reaper. Tidak mungkin." Erlend berpikir keras. kalau itu reaper, maka dia bisa merasakan kehadirannya, tapi dia tidak merasakan apapun. dia menenangkan diri, kemudian berkata lagi, "mungkin burung biasa, tapi juga mungkin ..."
"Apa mungkin dia reaper yang kemarin? sudah kubilang, rasanya kita seperti diawasi."
Lamunan Laura terhenti saat mendengar Omelan Erlend. Pemuda ini terus mengomel di meja makan karena merasa ada yang sedang mengerjainya. Dia berjanji akan menyelesaikan semuanya.
”Jadi kita akan tetap disini?“ tanya Laura kemudian.
Erlend mengangguk. ”Iya, tentu saja. Kita akan tetap disini sampai keadaan membaik. Kau tidak lihat situasi di luar rumah?“
Dia menengok ke luar jendela yang ada di ruangan tersebut. Suasananya masih berkabut tebal, dengan kekuatan dewanya saja, dia masih kesulitan untuk melihat lebih jauh. Iya, karena itulah dia semakin yakin kalau ada musuh di balik kabut
”Menurutmu, apa keadaan semacam ini bisa berkeliaran? Aku bisa merasakan bahaya. Tapi, entah mengapa aku tidak bisa mendeteksinya,“ katanya lagi.
Laura meneguk ludah. ”Apa menurutmu kita akan benar-benar aman? Setelah melihat reaper di pinggir danau itu dan burung gagak lagi, entah mengapa aku jadi takut sekarang. Situasi ini lebih mengerikan ketimbang kau mengacungkan dwisula milikmu.“
”Hah?“ Erlend meliriknya tajam.
”Intonya sekarang kita terjebak?“ Laura mengalihkan pembicaraan sembari menelan ludah lagi. Dia tak berani memandang balik mata pemuda itu. ”Tak bisa keluar?“
”Lebih baik memang tak keluar. Aku bisa membuatku makanan.“
”Bukan itu yang ingin kukatakan—“ Laura, dengan wajah agak kemerahan, kemudian mengingatkan, ”kau lupa aku butuh pakaian?“
”Pakai saja pakaianku.“
”Pakaian dalam, aku butuh pakaian dalam! Aku tak mau terjebak di rumah ini—“ Laura menunjuk dirinya yang masih mengenakan kemeja milik Erlend. ”Aku juga tak mau terus menerus memakai bajumu, rasanya tidak nyaman. Aku sampai tidak bisa tidur karena ...“
”Karena?“
”Baumu ...“ Laura tidak mau mengatakannya. Dia pun meralat, ”maksudku ini baju pria, aku wanita! Aku tak mau memakainya.“
”Kau butuh pakaian dalam ...“
”Iya, tidak perlu membelinya, aku hanya perlu ke rumah dan mengambil pakaianku. Aku tak tahu ini dimana, apakah jauh?“
”Rumahmu? Kau ingin pergi ke rumahmu?“
”Aku bersumpah tidak akan berbuat konyol atau melarikan diri atau meminta bantuan. Aku akan menolong mu menangkap orang yang mencuri helm ayahmu, toh ... Rasanya aku juga merasa sedang diawasi. Jadi aku akan tetap denganmu, tapi tolonglah, biarkan aku mengambil pakaian dalamku dan perlengkapan lainnya. Setelah ini, aku akan tinggal dimana pun yang kau inginkan dan akan menuruti perintah mu.“
Mendengar perkataan yang sungguh-sungguh tersebut, Erlend langsung mengangguk. ”Baiklah, baiklah kalau begitu. Ayo kita keluar —“
Dia kembali memperhatikan kondisi yang ada di luar jendela. Perasaannya menjadi tidak enak kembali. Walaupun begitu, dia tetap ingin agar Laura berada di tangannya. Dia juga yakin kalau ada orang lain yang menginginkan Laura dengan sebab lain.
”Tapi, kita harus waspada. Aku akan menggendong mu sampai ke rumah mu. Tempatnya terlalu jauh dari sini, tapi tak masalah,“ katanya.
”Menggendongku?
“Tentu saja, kau tak lihat suasana masih berkabut, juga gerimis, aku merasa sangat sebal sekali. Tapi, sudahlah ayo kita bersiap. Pakai mantel yang kuberikan padamu. Aku juga akan bersiap.”
“Oke.”
“Dan, kuharap setelah ini, kau tidak rewel lagi, Nona. Kau beruntung aku masih mau meladenimu. Jika kau meminta apapun lagi, aku benar-benar akan mengurungmu di kandang kuda."
Laura kesal, tapi tak mau membalas ucapan jahat tersebut. Dia hanya terdiam dan berlalu menuju ke kamar untuk mengambil mantel.
.
.
.
.
.
.
Setelah bersiap, Laura dan Erlend menuju ke teras. Merek berdua telah memakai mantel yang sama persis, dengan warna coklat gelap. Mantel itu cukup tebal dan hangat.
Suasana di luar masih gerimis, tapi tidak lagi terdengar ada petir yang menyambar. Jam sudah menunjukkan hampir tengah hari, tapi memang cuaca begitu buruk, matahari pun masih tak kelihatan.
Semuanya putih bersih bagaikan cuaca di musim dingin. Malahan, lebih parah. Kabut ini jauh lebih menutupi ketimbang hujan salju.
Seperti yang sudah dia katakan, Erlend menggendong Laura, lalu membawanya menuju ke tempat yang diminta. Rumah sewaan Laura. Jaraknya memang jauh, tapi tak masalah bagi Erlend yang bisa berlari secepat kilat.
Hanya dalam hitungan menit saja, dia bisa menyusuri hutan, jalanan, hingga masuk ke perumahan tujuan. Dia juga heran karena ternyata kondisi kabut memang terjadi di seisi kota, hanya saja intensitasnya tidak sepekat area kediaman Hades.
Laura berusaha tak berteriak sepanjang jalan, tapi dia ketakutan setengah mati. Dia hanya memeluk leher Erlend, lalu menyembunyikan wajahnya di d**a pemuda itu.
”Bisakah kau agak sedikit pelan?“ pintanya takut.
Erlend berhenti setelah mereka sudah sampai di halaman depan rumah sewaan Laura. Dia tidak menyangka akan kembali ke rumah ini lagi setelah apa yang terjadi malam itu. Kalau saja dia tida kemari, maka sudah pasti dia tidak akan berhubungan dengan gadis ini.
”kita sudah sampai, sekarang cepat kemasi pakaianmu, aku akan terus menjagamu.“ Dia mengatakan itu sembari menurunkan Laura.
Setelah itu, dia menengok ke berbagai arah, bertanya-tanya kondisi perumahan ini amatlah sepi, jarang terlihat ada kendaraan yang lewat di jalan depan. Suasana juga masih gerimis dan berkabut, tapi tidak terlalu banyak— dia masih bisa melihat beberapa tetangga yang keluar dan mengamatinya.
Lutut Laura masih lemas. Dia memaksakan diri untuk pergi masuk ke dalam rumahnya. Napasnya pun masih terengah-engah, padahal dia sedari tadi hanya digendong oleh Erlend.
”Oke, aku akan ambil bajuku dahulu,“ katanya memasuki rumah.
”Aku ikut.“ Erlend mengekor di belakang. Dia tidak akan meninggalkan Laura jika situasi seperti sekarang. Dugaannya semakin yakin kalau Laura memang mencurigakan.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, dia sempat menengok ke pepohonan Aras, pohon-pohon peneduh yang ada di seberang jalan. Dia merasa ada sesuatu di atas dahan-dahan itu. Namun, walau dengan kekuatan dewa— dia tidak bisa melihat apapun. Semua selalu berdasarkan firasat saja. Dia tidak tahu apakah ada hal lain disana atau tidak.
Saat dia masuk, barulah sesuatu itu terlihat. Benar, seekor burung gagak terlihat sedang bertengger di salah satu dahan pohon dengan pandangan lurus ke rumah sewaan Laura.
Rasanya, burung itu memang dari kemarin mengikuti mereka. Setelah puas melihat, dia langsung terbang kembali dan menghilang di balik kabut.
.
.
.
.
.