22

1176 Words
Menghilangkan Laura menimbulkan kepanikan luar biasa dalam diri Erlend. Dia berushaa tenang tapi tetap juga tidak bisa. Dia saat ini berada di perpustakaan bersama Cody, sedang membaca ebberapa buku tentang kelompok pemburu penyihir yang dimaksud. Sudah berjam-jam mereka melakukannya dan hampir menemukan sesuatu. Cahaya Mentari sudah masuk melalui jendela-jendela besar perpustakaan ini. Pagi sudah datang, dan kekhawatiran Erlend makin menjadi. Dia memegangi dadanya yang berdebar-debar tidak karuhan. Dia heran sendiri mengapa sangat mengkhawatirkan gadis itu. Belum lagi, kenangan sejak makan berdua di kedai burger itu mulai muncul—dan berakhir ketika mereka berciuman. “Apa yang sebenarnya kupikirkan?” Dia geram sendiri sampai menutup buku. Kemudian mendongak hingga memandangi lampu gantung di langit-langit. Dia sempat berdiri sesaat untuk meregangkan otot bahunya,  kemudian kembali duduk setelah pikirannya kembali normal. “Kau tidak apa-apa?” tanya Cody sembari melihatnya. Erlend tampak meliriknya. “Menurutmu apa aku baik-baik saja? Kita sudah mencari tahu tentang kelompok penyihir ini selama berjam-jam, tidak ada hasil, kita tidak bisa berdiam diri saja—sebaiknya aku mencari tahu dengan meminta bantuan reaper.” “Sebentar, kita harus berhati-hati soal ini.” “Aku tidak bisa tenang lagi, Bodoh, bisa saja mereka membunuh Laura sekarang.” “Itu tidak mungkin, sudah kubilang—kalau Laura atau Tita terbunuh saat ini, pasti aku bisa merasakan energi sihir yang besar sedang bertempur. Para Saudari pasti sudah mengetahui kalau Laura ditangkap, mereka pasti bergerak, hanya saja kita juga harus mencari tahu tentang mereka dahulu.” “Padahal aku sudah menculik Laura, tapi kenapa para saudari ini tidak mencariku kemari?” “Mungkin karena Laura mengenakan gelang pemberianmu, tapi sekarang gelangnya sudah terlepas dari tangannya, bukan?” “Berarti kita tidak perlu membaca apapun tentang kelompok penyihir ini lagi, intinya kita cari saja rumah ibu dari Laura, dia pasti orang yang dimaksud saudari ini ‘kan? Jujur saja, aku tidak tahu rumahnya, sbeelumnya aku berniat untuk pergi ke rumah ibunya setelah Laura sembuh, tapi sekarang semau rencana menjadi berantakan.” “Aku tidak yakin para Saudari ini akan emnerima kita, mereka tidak suka penyihir asing sepertiku dan Demigod sepertimu.” “Itu masa bodoh, aku tidak peduli. Semakin cepat semakin baik, kita tidak boleh kehilangan waktu lagi. Lagipula, jika mereka tahu tujuan kita itu sama, mana mungkin mereka tidak menyukai kita. Aku tidak bisa kehilangan Laura.” “Karena kau akan sulit menemukan pencuri helm Hades?” “Karena aku tidak mau dia jauh dariku.” “Hah? Tidak mau dia jauh darimu?” “Kau tidak perlu menanyaiku banyak hal. Bahkan jujur, aku malah kembali mencurigaimu, Sobat,” kata Erlend melirik tajam Cody. Dia mulai curiga kalau ada kemungkinan ini adalah ulah dari Cody itu sendiri. Padahal hari-hari sebelumnya masih baik-baik saja, tapi kenapa saat Cody datang, malah Laura diculik? “Kenapa kau melihatku seperti itu? Mencurigaiku bagaimana?” tanya Cody mengerutkan dahi. Dia menunjukkan sebuah buku dengan sampul hitam yang bertuliskan : pemburu penyihir. “Aku sedang mencari tahu tentang kelompok ini untuk kebaikanmu dan Laura.” “Kau kemari dan bertepatan dengan itu pula Laura pergi meninggalkan rumah ini alias diculik. Tidak diragukan lagi, kau pasti …” “Anggota mereka?” potong Cody menggelengkan kepala. “Jangan mengatakan hal yang berbua omong kosong. Demigod. Aku seorang penyihir, untuk apa aku malah menumbalkan Laura yang merupakan Tita pada mereka? Kau tidak tahu ya, di dunia sihir, para penyihir hebat seperti Tita itu sangat luar biasa pengaruhnya. Ramalannya jelas akan menguntungkan kaum penyihir, apa untungnya bagiku jika dia mati, tidak ada. Aku malah harus menyelamatkannya, aku tidak mau kaumu hancur karena dia dimanfaatkan oleh kelompok pemburu penyihir.” “Oh, begitu?” Erlend masih mencurigainya. Cody menjelaskan kembali. “obat yang kuberikan pada Laura semalam itu menetralkan guna-guna yang ada dalam tubuhnya, mungkin mereka tidak menyangka kalau aku akan kemari dan berusaha menyembuhkannya sehingga tidak ada pilihan lain, mereka lantas meminta Laura untuk menemui mereka walaupun kinerja guna-gunanya belum seutuhnya sempurna.” “Guna-guna belum seutuhnya sempurna?” “Untuk melakukan guna-guna pada penyihir hebat dibutuhkan waktu dan kekuatan yang hebat pula. Kemungkinan kabut yang ada di sini dan terror-teror yang terjadi dimaksudkan agar kalian tetap di rumah sampai guna-gunanya sempurna. Dalam dunia sihir, banyak sekali fungsi dari guna-guna, tapi yang terikat pada Laura kemungkinan adalah untuk mengendalikannya. Kalau saja aku tidak datang kemari, beberapa hari lagi, Laura pasti sudah tidak ingat tentang dirimu atau dirinya, dia akan menjadi b***k orang yang sudah melakukan guna-guna. Jadi, kesimpulannya, jika orang ini mengendalikan laura atau Tita, artinya dia tidak bermaksud membunuhnya … untuk sementara, itu teoriku.” “Oke.” Erlend merasa itu juga masuk akal. Sebenarnya dia juga memiliki pemikiran seperti itu. Tapi, dia bukanlah penyihir, jadi hal tentang sihir bukanlah keahliannya. “Aku tidak percaya mereka ingin mengendalikan Laura, masuk akal memang, aku hanya heran—apakah mereka berencana untuk membuat Laura kembali ingat akan dirinya sebelum reinkarnasi.” “Tentu saja, dengan begitu, dia akan ingat kalau memiliki kemampuan meramal luar biasa.” “Ini sangat mengejutkan sebenarnya, aku selalu tahu kalau Laura itu istimewa, bahkan aku merinding saat pertama bertemu dengannya—tapi aku tidak megerti kenapa. Dia tidak memiliki aura sihir sama sekali.” “Berarti memang para saudari sangat hebat dalam menyembunyikannya.” “Apakah jika Laura ingat kalau dirinya Tita, apakah dia akan melupakan jati dirinya sebagai Laura?” “Kenapa aku bertanya begitu? Tentu saja tidak, semua penyihir yang sadar akan reinkarnasi mereka, tetap teringat pada diri mereka sendiri. Tidka seperti para dewa yang abadi, mungkin ini agak sulit dimengerti.” Erlend menggeleng. “Aku tidak abadi, aku bisa mati, aku bukan dewa seutuhnya, masiha da darah manusia yang mengalir di tubuhku.” “Iya, aku tahu, tapi setidaknya kau sangat kuat, bukan? Jelas sekali—bahkan sebenarnya para demigod itu terkadang membawa takdir yang jauh hebat dari ayah atau ibu dewa mereka.” “Aku tidak mengerti maksudmu apa, kau ini sedang bicara apa?” Cody sebenarnya sedang membicarakan ramalan Tita di masa lalu, jelas tanpa sengaja terucap dari mulutnya. Dia pun mengangguk saja. “Maaf, hanya melantur. Kau lupakan saja apa yang kukatakan barusan.”   “Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Merasa kalau Erlend mulai mempercayainya lagi, Cody menutup buku yang dibacanya. Kemudian, dia berdiri serta berkata, “kita coba saja saranmu tadi, ayo kita mencari para saudari ini, kalaupun nanti terjadi perseteruan di antara kita, kita mengalah saja dan mengikuti mereka dalam mencari Laura.” “Baiklah. Tapi, bagaimana caranya ktia tahu rumah dari para Saudari?” “Aku akan meminta bantuan Shaman, mereka ahli menemukan lokasi penyihir, semoga saja berhasil, yang pasti aku tahu rumahnya ada di kota ini, jadi tak membutuhkan banyak waktu untuk melacaknya.” “Apa kau mempunyai kenalan Shaman?” “Ada seorang, dan dia juga tetangga dari Laura.” “Baiklah, ayo kita kesana.” “Iya.” Erlend menyambar jubah hitam yang tersampir di punggung kursi, kemudian berjalan dengan gagah keluar dari ruang perpustakaan ini. Matanya masih berkilatan penuh amarah, dia tidak akan mengampuni siapapun yang merebut Laura dari kediamannya. “Akan kubantai mereka semua,” ucapnya lirih. ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD