23

1383 Words
“Akan kubantai mereka semua,” ucap Erlend saat keluar dari perpustakaan. Dia sudah bersiap untuk pergi ke tempat penyihir lain untuk menemui para Saundari yang mungkin mengetahui dimana Laura dibawa. . . . Erlend dan Cody keluar dari kediaman Hades, lalu beranjak menuju ke tempat seorang penyihir tua yang tinggal tak jauh dari rumah sewaan Laura. Penyihir tua ini adalah seorang pria yang tinggal seorang diri di rumah yang memang sangat sederhana. Orang lain takkan menyangka dia adalah penyihir karena memang kelihatannya seperti pria biasa. Sosok penyihir tua ini bernama Karl. Dia sudah menanti kehadiran Erlend maupun Cody karena sudah diberitahu sebelumnya oleh Cody. Dia juga telah mempersiapkan aneka hidangan di atas meja ruang tamu, lengkap dengan minuman jeruk. Sudah lama dia tidak memiliki tamu, karena itulah dia menjadi sedikit berlebihan. Sekalipun dia sebenarnya tahu tujuan Erlend dan Cody adalah mencari keberadaan para penyihir yang dekat dengan Tita atau kerap disebut dengan julukan para Saudari. Begitu Erlend dan Cody datang, mereka berdua langsung duduk di atas sofa, dan Karl memulai mencari keberadaan Para Saudari dengan mengandalkan sihir bantuan dari Cody. Selama menunggu, Erlend sempat menikmati hidangan. Walaupun selalu kelihatan tidak peduli, sebenarnya Erlend memiliki simpati pada orang— terkadang. Dia tahu kalau pria tua ini kesepian, jadi dia berusaha untuk tetap sopan dan tenang, serta memakan camilan. Hingga akhirnya diketahui bahwa Para Saudari berada di pinggiran kota ini. Erlend dan Cody pun langsung pergi meninggalkan tempat itu dan menuju ke tempat tersebut. Mereka sempat berpamitan dan berkata akan berkunjung kembali suatu hari nanti. “Berhati-hatilah, dan semoga beruntung,” pesan dari Karl pada mereka berdua. . . . Di pinggiran kota, tepatnya di rumah dari ibu yang mengasuh Laura, telah berkumpul setidaknya lima wanita muda hingga tua, termasuk si ibu. Mereka berlima merupakan Para Saudari yang disebutkan oleh Cody. Begitu tahu kalau putri mereka sedang ditawan oleh pihak musuh, mereka mulai merencanakan sesuatu. “Aku tidak percaya ini terjadi, kita benar-benar kecolongan, ini hal yang nyaris tidak mungkin, mustahil,” kata salah satu dari mereka. “Kau benar, aku juga tidak paham mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal, aku selalu memantau terus keberadaan Laura, tapi sekarang dia malah berada di tangan mereka.” “Apa yang harus kita lakukan pada mereka?” “Apa kalian benar-benar yakin kalau mereka ini adalah para pemburu penyihir? Para pembasmi bayangan?” “Iya, sudah bisa kupastikan kalau Laura memang berada di tangan mereka. Aku sama sekaki tidak bisa melacaknya, tapi aku tahu dimana markas para pemburu penyihir ini yang terbaru.” “Kita harus berterima kasih pada para penyihir Shaman yang ikut membantu mencari keberadaan Laura.” “Hanya saja yang jadi masalah adalah, apa rencana kita? Melawan para pemburu penyihir sama saja misi bunuh diri. Tapi, kita juga tidak bisa membiarkan Laura berada di tangan mereka. Setelah memanfaatkan kekuatan ramalan Laura, mereka pasti membunuhnya.” “Kau benar. Tapi, memangnya apakah kau ada rencana? Rencana ku masih masih yaitu langsung ke markas mereka, dan merebut Laura.” “Sudah kubilang, kalau hanya berlima ini misi bunuh diri, kita akan pergi ke markas itu setelah mendengar jawaban dari para penyihir lain. Aku yakin semua penyihir juga menyayangi Laura atau Tita bukan?” “Tentu saja, Tita adalah penyihir yang bisa meramalkan suatu kejadian dengan tingkat kebenaran seratus persen. Dia mengetahui apa yang harus dilakukan dan sering memanipulasi kematian karena mengetahui kematian itu sendiri.” “Tapi takdir memang sangat lucu bagi kita para penyihir, Tita sendiri tidak bisa menghindari kematiannya sendiri yang selalu sama sekalipun mencoba menggagalkannya.” “Kita jangan membahas masa lalu, sebaiknya kita cepat pergi dan mencari bala bantuan.” “Kau benar—” "Tapi, ada hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu, kau tahu itu kan, harus dilakukan." "Tetapi, kita tetap harus mencari bala bantuan terlebih dahulu. Kita benar-benar harus melakukan sesuatu atau Tita ..." "Iya, aku paham." Tiba-tiba Erlend dan Cody sudah berdiri di ambang pintu ruang pertemuan mereka. Erlend mengatakan, “Tidak perlu kemanapun, langsung saja berangkat, kami akan membantu." Para Saudari kaget karena mendadak ada orang lain di sekitar mereka. Tidak ada yang merasakan keberadaan mereka. Erlend mengerti kekagetan ini. dia segera menjelaskan, "Oke, dengar, aku seorang setengah dewa. Namaku Erlend Hadeson, aku putra dewa Hades. Apakah ini akan membuat kalian agak lebih tenang?" Tidak ada yang menjawab hal tersebut karena memang ini adalah hal yang sangat mengejutkan. Tiba - tiba mereka berdua datang, dan ternyata Erlend adalah putra Dewa Hades, sebuah hal yang sangat jarang terjadi. seorang Demigod memang biasanya jarang muncul di depan penyihir. mereka enggan bertemu karena selalu merasa penyihir hanya akan membuat mereka terluka atau akan melukai mereka demi mendapatkan pusaka keluarga. Iya, sebenarnya Erlend sendiri juga tidak terlalu senang jika bertemu dengan penyihir. menurut pengalamannya, dia jauh lebih bahagia kalau tidak usah bertemu makhluk bernama penyihir. sejauh yang dia rasakan, setidap kali berurusan dengan penyihir, pasti dia akan ditikam dari belakang atau dikhianati. dari situlah, dia selalu yakin kalau penyihir memang musuh alami para dewa, atau mungkin sebagian dewa. banyak dari mereka yang masih menyembah dewa, tetapi lebih banyak yang menyembah iblis. Namun, untuk saat ini semua hal tersebut harus disingkirkan dari benak Elend karena bekerja sama dengan penyihir adalah langkah paling tepat demi menyelamatkan Laura. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. segalanya terlihat begitu kacau ketika Laura menghilang. dia sedih, perasaannya tidak karuhan. Dia hanya ingin Laura segera ditemukan, sekalipun caranya adalah dengan meminta bantuan para penyihir. Toh, para penyihir ini juga memiliki musuh alami, orang-orang yang menculik Laura. mereka kini hanya bertarung bersama karena punya tujuan sama, menyelamatkan Laura alias Tita. . . . Sementara itu, penyihir tua Karl terlihat masuk ke dalam rumahnya. Dia kembali duduk di kursi goyang sembari melihat pemandangan di luar jendela. Tamu-tamunya sudah pergi. Untuk sesaat dia memikirkan tentang sosok yang bernama Tita ini. Dibandingkan dengan penyihir lain, keluarga penyihir Karl mengetahui sejarah tentang ini. Biasanya hanya penyihir keturunan murni yang mengetahuinya. Tapi, itu tidak selalu, karena memang rahasia Tita terkubur dalam-dalam saat dia sudah berubah menjadi abu akibat dibakar oleh warga. Sebenarnya meskipun Karl mengetahui Tita itu penyihir yang hebat dan ramalannya selalu tepat sasaran, tapi dia sendiri juga tidak terlalu mengetahui kekuatan asli darinya. Dia pun baru tahu ternyata sosok penyihir berbahaya itu sudah terlahir kembali menjadi sosok yang bersembunyi di balik tubuh manusia bernama Laura. Sebagai penyihir, Karl jujur merasa tidak aman dengan keberadaan Tita. Akan tetapi, dia juga menghormatinya. Bagaimana pun, sesama penyihir jarang sekali berbuat keributan, kecuali jika dia penyihir yang sudah hilang akal dan terlalu mendambakan keabadian sejati. Saat memikirkan sebuah keabadian, pikiran Karl kemudian melayang kembali. Tidak hanya Tita yang menurutnya berbahaya, tapi ada penyihir hebat lain di jaman dahulu yang kemungkinan abadi. Jika mereka berdua bertemu dan bekerjasama, entah apa yang terjadi. “Arlan.” Karl tanpa sengaja menyebutkan nama penyihir pria yang begitu mengerikan di masa lalu. Sebelum kelahiran Tita, ada penyihir lain yang lebih dahulu terkenal yaitu Arlan. Arlan, penyihir hebat yang bahkan sampai sekarang tidak diketahui apakah masih hidup atau tidak. Tidak ada yang tahu bagaimana dia lahir bagaimana dia hidup, dan bagaimana wujudnya. Dikatakan kalau orang lain melihatnya, maka dia akan tewas. Banyak penyihir yang meragukan asal usulnya yang misterius. Mereka semua menganggap bahwa Arlan tidak pernah ada karena terlalu aneh dan mencurigakan. Akan tetapi kengerian karena keberadaannya terus saja terjadi. Dimanapun dia berada selalu menebarkan wabah kematian. Karl percaya kalau Arlan memang ada. Bukan karena dia membaca buku-buku penelitian dengannya, melainkan karena memang keberadaan Arlan memang terbukti. Saat kecil, dia pernah bertemu dengan seorang penyihir berjubah hitam yang menutupi hingga kepala dan wajah. Tapi, sosok itu membiarkannya, tak membunuhnya, dan tak lama setelah itu terjadi kehebohan di kota dan wabah kematian yang disebabkan oleh virus mencurigakan menyebar. Hampir seluruh populasi di kotanya dahulu meninggal dunia, didominasi manusia biasa. Karena itulah, dia memiliki keyakinan bahwa orang mencurigakan dalam jubah hitam waktu itu adalah Arlan. Dari ciri fisik yang terlihat memang jelas dia adalah seorang pria bertubuh tinggi dengan lengan agak berotot. Karl bertanya-tanya dalam hati, apa mungkin dia akan bertemu dengan sosok itu lagi? Setidaknya sebelum mati, dia ingin membuktikan bahwa apa yang dilihatnya saat itu memang benar. Dia memang melihat sosok Arlan. Sosok penyihir hebat nan misterius yang masih hidup hingga kini. “Tita ... Arlan.” Karl kembali larut dalam lamunan. Dia melamunkan hal yang sama berulang ulang kali. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD