17

1101 Words
Di dalam kamar, Laura masih tertidur pulas sebelum akhirnya dia dibangunkan oleh tingkah burung merpati yang terus saja mematuk keningnya. Meskipun paruhnya kecil, tapi rasanya tetap saja sakit. Gadis itu pun terbangun, dan mengibaskan apapun yang ada di sekitar wajahnya. Dia nyaris tidak percaya melihat merpati yang kemarin masih patah sayapnya kini sudah bisa terbang kesana-kemari. “Apa-apaan kau ini!” Dia kesal melihat burung merpati itu yang bertengger di pinggiran ranjang sembari melihatnya dengan tatapan serius, jelas bukan tatapan burung biasa. “Kurasa kau bukan burung biasa,” katanya lagi curiga, “kenapa kau menatapku begitu? Dan bagaimana bisa sayapmu sembuh hanya dalam satu malam?” Burung merpati itu kelihatan memiringkan kepala, dia terlihat sedang keheranan dengan sosok Laura. "Kau jelas mencurigakan." Laura mendehem, agak takut dengan si burung. Dia ingin turun dari ranjang, akan tetapi rasa sakit di kepalanya tidak dapat ditoleransi. Padahal dia sudah cukup tidur semalaman, tapi rasa sakit di kepala masih saja terjadi. Dia yakin kalau ini bukanlah penyakit biasa. “Aduh, kepalaku, kenapa kepalaku sakit sekali? Padahal aki sudah istirahat.” Dia memijat kepalanya yang makin sakit tidak karuhan. Dia lantas memejamkan mata, dan merebahkan kepala di atas bantal kembali. Suhu tubuhnya meningkat dan kepalanya sakit bukan main. "Kuda? Apa benar itu suara kuda? Tapi ... masa iya? apa hanya khayalan saja karena kepalaku sakit?" Dia bisa mendengar ada suara ringkikan kuda, tapi tak mempedulikannya karena rasa sakit di kepala yang makin menjadi-jadi. Dia menghela napas panjang, mengingat dirinya sebelum ditawan oleh Erlend. Dia bisa mengingat masa lalunya tentang sang nenek yang meninggal dunia dan dijemput oleh reaper, kemudian masa remajanya yang dipenuhi pembelajaran piano sampai dia berhasil menjadi seorang pianis. Meskipun tidak terkenal dibandingkan dengan para seniornya, setidaknya karirnya sudah mulai baik. Akan tetapi mengingat keadaannya sekarang, dia tidak yakin kalau karirnya akan membaik dan berkembang setelah ini. Dia tidak tahu sampai kapan akan terkurung di rumah dewa hades ini. Dia tidak mengerti apa yang sedang dicari oleh Erlend. Sebenarnya, dia juga tidak tahu bagaimana caranya menangkap sang pencuri helm Hades. Lantas, siapa juga orang yang sedang meneror mereka ini? Dalam sekejab, situasi menjadi buruk seperti sekarang. Padahal, dia hanya ingin beristirahat setelah mengalami cedera tangan. Dia membuka mata, kemudian memperhatikan tangan yang disembuhkan oleh Erlend. Sangat aneh dan misterius, tapi juga ajaib. Dia tidak tahu pendapatnya tentang pemuda itu. Namun, yang pasti saat memikirkannya, kejadian itu kembali teringat. Mereka berciuman sesaat, perasaan aneh langsung mengguyur hatinya. Dadanya pun berdebar tidak karuhan. Ini adalah momen yang sulit untuk dilupakan. Laura sendiri tidak menyangka akan mendapatkan ciuman pertama seperti ini—bahkan oleh orang yang tak mencintainya. Orang bilang ciuman pertama sulit dilupakan, sekarang dia mengerti maksudnya. Dia merasa ciuman yang seperti ini malah lebih sulit terlupakan karena dilaukan oleh laki-laki yang tidak mencintainya. Alsan mereka berciuman juga sangat konyol—Erlend hanya ingin mencari tahu tentang dirinya lewat sentuhan bibir. Dia tidak mengerti semua itu. “Menyebalkan, dia memang menyebalkan, main cium seenaknya, ” gumamnya saat mengingat tentang Erlend. Dengan spontan, dia menyentuh permukaan bibirnya. "Padahal itu adalah ciuman pertamaku." Ringkikan kuda semakin dekat. Tak lama kemudian, Erlend membuka pintu dengan wajah berseri-seri. Jelas saja dia bahagia, akhirnya dia bertemu dengan kereta kudanya. Dengan begini, dia bisa bepergian ke tempat para dewa lain. Setelah semua yang terjadi, dia akan bisa mendapatkan bantuan dari Thanatos. “Hei, aku punya informasi untukmu, kereta kudanya sudah pulang, akhirnya kita bisa pergi ke tempat lain, aku sudah muak diteror begini,” kata Erlend mendekati ranjang, lalu duduk di pinggirannya. Dia heran dengan Laura yang makin pucat dan tidak ingin bangkit dari ranjang. Laura tampak biasa saja. "Oh, kereta kudamu datang? pantas saja aku mendengar suara ringkik kuda. Memangnya dari mana saja mereka?" Erlend memandangi Laura dengan serius. “Kenapa kau? Muram sekali.” Amarah yang tadi membara kini sudah lenyap. Dia memilih untuk tidak mengusut alasan mengapa Laura merobek kertas dari merpati. Dia ingin tahu apa yang sedang direncanakan oleh Laura. Dengan begini, dia akan berpura-pura kalau tidak tahu bahwa gadis ini adalah Tita. Toh, dia juga tidak paham, memangnya Tita itu siapa? Laura juga menatapnya dengan serius. “Aku masih pusing, entahlah, aku tidak enak badan. Padahal aku sudah istirahat, rasanya seperti sesuatu sedang menggerogoti ku, dan kepalaku terus sakit. Aneh sekali memang. Aku lelah istirahat, tapi rada sakit ini terus menyerang." Mendengar suara parau Laura, hati Erlend melembut. Dia menyentuh kening gadis itu dengan punggung tangan, memeriksa keadaannya. Betapa kagetnya dia saat menyadari bahwa suhu tubuh gadis ini terlalu panas. “Kau panas sekali. Kau jelas tidak baik - baik saja. Aku akan mulai serius sekarang.” “Iya, itulah kenapa aku bilang aku tidak enak badan, alias sakit. Aku tidak tahu—rasanya seperti sakit semua badanku. . kepalaku pusing, sendi-sendiku juga terasa nyeri. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku jadi semakin tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi padaku." “Aku tidak pernah merasakan sakit sebelumnya, tapi aku tahu rasanya jelas tidak enak." "Kau tak pernah sakit?" "Tidak." "Astaga, enak sekali demigod. aku mendadak ingin menjadi anak dewa sepertimu." "Tapi kalau sakit akibat dipukul, nyeri, atau semacam itu aku tahu rasanya. Kalau demam, aku tidak tahu. Kau demam sekali." "Iya, ini namanya tidak enak badan." "Oke, aku harus apa?” Erlend mengerutkan dahi, tidak tahu apapun tentang sakit. Dia tampak gelisah dan tidak bisa berpikir jernih, apalagi melihat Laura yang makin pucat. "Entahlah, aku hanya perlu tidur." “Apa kau benar-benar sakit?” “Menurutmu?” Laura kesal. "Menurutmu apa ini pura-pura sakit?" “Oke, aku akan buatkan sarapan saja untukmu.” "Kau mau membuatnya untukku?" "Memangnya aku punya pilihan? Tunggu saja disini, aku akan ke dapur dan membuat sarapan. Kau boleh istirahat, kalau tertidur nanti kubangunkan saat aku datang dengan membawa sarapanmu." "Iya." Erlend kemudian berdiri dengan sikap yang kaku. Dia sendiri juga tidak memahami diri sendiri, mengapa mendadak sangat gelisah dan khawatir kalau Laura sakit? Apakah karena gadis ini penting? Apakah karena gadis ini adalah tawanannya? Dia berjalan keluar dengan pikiran runyam. Banyak sekali yang terpikirkan olehnya. Sebagian mengutuk diri sendiri karena mendadak terlalu perhatian, tapi Sebagian lagi kebingungan. Seorang gadis sedang sakit, apa yang harus dilakukan? “Erlend?” panggil Laura pelan. Erlend menoleh. "Iya?" Laura meminta, “tolong buatkan sup hangat saja, terserah apapun isiannya. Itu cukup mudah, tidak merepotkan. Kau bisa melakukannya?" “Oke.” Erlend mengangguk. Dia kemudian keluar sembari mengatai jawabannya sendiri. Bagaimana bisa dia menjawab ‘oke’, padahal dia sendiri tidak pernah memakan sup? Dia menghela napas panjang, kemudian pergi sebentar ke dalam perpustakaan. Di sini terdapat beberapa buku tentang resep masakan dunia manusia, dia mengambil salah satunya. "Sial," umpatnya pelan. *** . . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD