Setelah membuat sup hangat untuk Laura yang sedang sakit, Erlend menulis surat kecil untuk Thanatos, kemudian dia selipkan di kaki merpati pintar itu, dan memberikannya sebuah kalung permata hitam di leher merpati tersebut.
Dia mengatakan kalau kalung tersebut memiliki kekuatan magis yang akan mampu membuat sang burung terbang dengan aman dari serangan reaper atau semacamnya sampai ke tujuan. Selepas itu, dia membiarkan burung itu terbang keluar rumah.
Kini sudah masalah sudah setengah selesai. Dia hanya perlu menunggu hingga Laura sehat kembali, setelah itu mereka akan meninggalkan tempat ini untuk bertemu Thanatos.
Perasaan Erlend masih sangat gelisah. Apalagi, saat dia masuk ke kamar dengan membawa semangkuk sup dan melihat kalau Laura masih terbaring di atas ranjang dengan mata terpejam.
Sakit adalah hal yang memang tidak mustahil di alami oleh seorang Demigod. Iya, banyak demigod yang bisa sakit layaknya manusia biasa. Hanya saja untuk kasus Erlend, karena dia dibesarkan oleh seorang dewa, dia mendapatkan imunitas yang luar biasa dari berbagai penyakit duniawi.
Dia mendekati ranjang, lalu duduk kembali di pinggirannya. Dia mengatakan, “Ini sup yang kau minta. Bagaimana keadaanmu?” Dia memeriksa kening Laura. “Kau tidur?”
Laura bergerak, lalu membuka matanya perlahan. Dia terlihat masih pucat. Namun, untungnya rasa sakit di kepala sudah mulai hilang.
“Kau sungguh membuatkan ku sup?” tanyanya bangkit dan duduk dengan bersandar pada tumpukan bantal. Dia agak terharu karena Erlend membuatkannya sup. Senyuman manis dia tunjukkan pada lelaki itu. Dalam hati, dia mengatakan bahwa mungkin Erlend tidak seburuk kelakuannya.
“Menurutmu ini apa kalau bukan sup? Makanan kuda?” Erlend menunjukkan mangkuk berisi sup buatannya yang terlalu banyak diberikan daun bawang. “Kau harus bersyukur aku mau membuatkan ini untukmu.”
Laura menerima sup tersebut. “Terima kasih.”
“Sekarang makanlah.”
“Iya.”
“Kau punya masalah—” Erlend tidak jadi mengatakannya karena melihat Laura kesulitan memegangi sendok. Sebenarnya dia sadar kalau persendian tangan gadis ini mungkin mengalami kaku dan sakit. “Kenapa tanganmu?”
“Entahlah, rasanya kaku dan juga tidak bertenaga,aku memang merasakan keanehan, tapi aku sendiri tidak mengerti ada apa denganku.”
“Kau jadi aneh sejak keluar dari perpustakaan.”
“Iya, makanya aku tidak paham. Mendadak sakit kepala, lalu hilang, lalu sakit kembali. Ini sangat mengerikan. Aku tidak mengerti.”
“Mungkinkah ...” Erlend kembali tidak jadi mengatakannya.
Dia kembali bimbang, sebenarnya gadis ini mengetahui dirinya Tita atau bukan. Tapi, dirinya sendiri juga tidak mengerti sebenarnya Tita ini siapa? Kenapa reaper itu mengatakan tentang Tita? Apakah ada hubungannya dengan teror orang aneh yang tempo hari mendatangi rumah ini?
“Ada apa? Apakah kau tahu sesuatu?”
“Tidak apa-apa. Kau makan saja dahulu. Kita bahas nanti, aku juga masih penasaran akan sesuatu.”
“Aku makan dahulu kalau begitu—” Laura kembali memakan sup itu dengan amat lambat dan hati-hati.
Erlend merasa kalau gadis ini sudah amat kepayahan. Dia menghela napas panjang, kemudian merebut sendok dari tangannya. “Biar aku suapi, kau tidak keberatan, bukan?”
Laura menggeleng. “Tidak sama sekali.”
Erlend menyuapinya dengan lembut dan penuh perhatian. Hatinya masih saja gelisah dan khawatir. Semakin dia memikirkan ini, semakin dia menyadari bahwa sumber dari kekhawatiran yang dia rasakan adalah karena gadis ini.
“Kau suka sup buatan ku?” Ia bertanya dmbegitu saja, agak penasaran dengan pendapat orang tentang masakan buatannya.
Laura berkomentar jujur, “rasanya hambar, tapi aku suka karena hangat. Oh, kentangnya juga kurang matang.”
“Aku menyesal tanya.”
“Aku kan sudah bilang, tapi aku suka, tidak perlu terbawa perasaan begitu.” Laura tersenyum, tanpa menyadari sebenarnya dirinya baru saja menggoda seorang laki-laki. “Aku hanya mengatakan pendapatku, menurutku ini sudah cukup enak. Jarang sekali aku melihat ada laki-laki yang bisa memasak. Ini hal yang baru untukku.”
“Oh benarkah?”
“Iya, dan kukira kau tidak sejahat kelihatannya. Kau sebenarnya baik— mungkin sih.”
“Aku tidak tahu sebenarnya kau ini berniat memuji atau menghinaku.”
“Maafkan aku, maksudku aku sungguh merasa kau ini sebenarnya baik.”
“Aku memang baik.”
“Jangan besar kepala, kau juga sangat menjengkelkan. Aku tak percaya kau menculik ku.”
“Well, ini memang penculikan, tapi kan sudah kubilang dari awal, jika kau berhasil membantuku menangkap pencuri helm Hades, aku akan memberimu hadiah banyak sekali logam mulia.”
“Iya, terserah kau saja. Aku juga takkan bisa melarikan diri sampai membantumu, walaupun aku tidak tahu bahagianya caranya.”
“Nanti kita pikir sama-sama, sekarang fokus saja makan.” Erlend menyodorkan sendok penuh sup ke mulut Laura. “Cepat sedikit kalau makan.”
“Makan itu dinikmati.”
“Bukankah kau sendiri bilang makanan ini hambar, jadi lebih cepat dihabiskan maka lebih baik.”
Laura tersenyum kepada Erlend. Dia memandangi wajah pemuda ini dalam-dalam, wajahnya berubah merah lagi karena teringat bibir mereka pernah bersentuhan. Setelah itu, dia memalingkan wajah.
Erlend memicingkan pandangan. Dia bingung dengan sikap aneh Laura barusan. “Ada apa denganmu? Kau tiba-tiba tersenyum padaku, lalu membuang muka— kulitmu memerah sekali, apa kau alergi daun bawang?”
“Tidak.” Laura menggeleng, lalu mendehem. “Tidak apa-apa.”
Erlend menyodorkan kembali sendok berisi supnya. “Ini suapan terakhir, buka mulut mu.”
Laura langsung melahapnya tanpa melihat wajah Erlend. Dadanya berdebar-debar tidak karuhan. Dia tidak menyangka kalau ciuman itu membekas sangat dalam di hatinya.
“Oke. Selesai.” Erlend menaruh mangkuk kosong itu di atas meja samping ranjang. Dia menghela napa panjang, dan mulai serius. Dari tadi dia sudah menantikan akan membahas ini dengan Laura. Demi mencari tahu tentang jati diri gadis ini, dia harus mengetahui silsilah keluarganya.
“Kita harus mencari tahu tentangmu,” katanya kemudian.
“Tentangku? Maksudnya?”
Erlend melihat keluar jendela yang masih penuh kabut. “Setelah kau sembuh, kita harus mencari tahu tentang mu. Kau harus membawaku ke rumah keluarga mu, siapapun anggota keluargamu, kalau bisa yang menjagamu dari kecil. Aku ingin menyelidiki tentang mu.”
Laura menjadi tegang. Dia takut kalau Erlend sudah mengetahui tentang surat kecil yang dia sobek waktu itu. Dia juga tidak paham kenapa dia dipanggil Tita, tapi dia tidak mau terjebak masalah lain.
“Kenapa kau malah diam saja? Kau mau 'kan mengantarkan ku ke rumah sanak keluargamu atau ke rumah masa kecilmu, aku ingin menyelidiki tentangmu.”
“Iya, aku takkan banyak tanya, terserah kau saja, aku akan mengantarkan mu,” kata Laura menurut. Dia sudah lelah berdebat, apalagi dengan kondisi skait. Kepalanya baru saja sembuh, dia tidak mau mendebat seorang Erlend Hadeson untuk saat ini.
Erlend berdiri dengan perasaan puas. “Bagus. kalau begitu kau tidur saja dahulu. Aku akan membaca tentang penyakit yang sedang kau alami di perpustakaan.”
Laura mengangguk, lalu merebahkan kepalanya kembali. Saat ini, yang paling penting baginya memang hanya beristirahat.
Selepas itu, Erlend meninggalkan ruangan tersebut, dan menuju ke perpustakaan yang dia maksud.
***