02

1084 Words
Di kegelapan malam begini, samar-samar terlihat Minotaur sedang bertarung dengan seorang pemuda. Monster bertubuh manusia berkepala banteng itu berulang kali mengayunkan kapak yang dia pegang. Beruntung, si pemuda berhasil menepisnya dengan dwisula, sebuah tombak panjang berujung dua. Saat bilah kapak bertemu badan tombak besi suara keras terdengar, angin pun berhembus di sekitar mereka. Hingga kemudian pemuda tersebut berhasil menghunuskan mata dwisulanya ke tubuh Minotaur.  Ada seorang wanita yang melintas di trotoar dekat lokasi kejadian. Anehnya, dia tetap berjalan dan melihat apapun. Begitu pula dengan beberapa pengendara mobil. Hanya satu orang yang bisa melihat dan mendengar kejadian itu.  Laura.  Ya, gadis ini sedari tadi sudah mengintipnya melalui jendela kamar. Kejadiannya sendiri tepat berada di halaman samping rumah sewaannya. "Tidak mungkin," gumamnya lirih. pemuda itu memalingkan wajah ke arahnya, spontan Laura berbalik badan, lalu menutup kelambu putih jendela. Dia mundur setapak demi setapak, pelan dan tenang. Dadanya berdebar-debar melihat kelambu itu melambai-lambai diterpa angin. "Tidak ... Tidak mungkin, ini mimpi," ucapnya menggelengkan kepala. Selama ini dia tidak pernah melihat keberadaan monster. "Bagaimana mungkin ada Minotaur di kota?" Sekelebat bayangan hitam tercetak di luar kelambu, lalu tiba-tiba pemuda tadi sudah berjongkok di atas kusen jendela. Dia menyingkap kelambu sampai robek, dan membuangnya ke lantai. Pencahayaan kamar ini agak redup, hanya diterangi lampu dinding, tapi Laura bisa melihat jelas sosoknya. Mata coklat berkilatan, secoklat rambutnya yang agak acak-acakan. Pemuda dua puluh tahunan ini seolah sudah tidak mempedulikan potongan rambutnya selama bertahun-tahun. Laura tertahan. "Siapa kau? Jangan kemari!" Acuh, pemuda itu melompat turun ke dalam, kemudian berjalan maju. Tubuhnya tinggi nan besar, tampak mengintimidasi, belum lagi otot tangan yang terbentuk bagus, jelas terlihat dibalik balutan ketat kaos hitam. Sepatu yang dia pakai meninggalkan bekas lumpur setiap kali dia menapak di lantai kayu ini. Dia menuding Laura dengan dwisula, dia menghardik keras, "harusnya aku yang tanya, siapa kau? Kenapa kau bisa melihatku!" Suara bentakan itu menggelegar di seisi ruangan bagaikan sambaran petir di tengah hari. Sontak saja Laura gemetaran. Ia terpaku di tempat. Keringat banjir membasahi tubuh. Ada pria asing masuk ke kamarnya, dan ucapan pertamanya adalah bentakan kasar. Ini lebih buruk dari kehadiran perampok. "A-aku tidak melihat ... apapun." Dia berdusta dengan nada bicara terbata-bata. Kakinya terus melangkah mundur hingga terhenti karena punggungnya telah menyentuh tembok samping lemari. "Aku tidak tanya itu, Nona Muda." Pemuda itu mempertahankan tatapan tajam. Langkahnya semakin dekat, dan berhenti ketika hanya berjarak selangkah dari Laura. Ia menunduk, lalu memiringkan wajah demi bisa melihat wajah gadis itu lebih leluasa. Dia mengangkat dwisula, lalu menghunuskannya di tembok samping wajah Laura. Mata tombak itu mampu menghancurkan permukaan tombak sampai tertancap dalam. "Aku tanya, siapa kau! Kenapa kau bisa melihatku!" suaranya menjadi keras lagi. Situasi menegang seketika. Ketakutan, Laura menutup mata. Bulir keringat di dahinya bercucuran. Dia bisa mencium aroma darah dan tanah dari pakaian pemuda ini. Kepalanya pun langsung pening. Bibirnya bergetar saat mengatakan, "a-aku tak tahu." Detak jantungnya lebih keras ketimbang suaranya sendiri. Tarikan napasnya menjadi berat.  Pemuda itu menggunakan tangan kanannya untuk mencengkram dagu Laura. Sentuhannya amat kasar dan tidak kenal ampun, menunjukkan sosoknya yang amat keras. "Apa kau penyihir?" Ia bertanya sembari memperhatikan ciri fisik Laura. "Buka matamu dan jawab aku, Nona!" Laura membuka matanya. Ia menelan ludah, lidah kelu, pikiran kosong. Seumur hidup baru sekarang dia berada amat dekat dengan seorang pemuda, dan ini akan menjadi hal yang sangat traumatik.  Tatapan pemuda ini terlalu tajam sampai mampu membuatnya sesak napas. Belum lagi poni yang jatuh di sekitar keningnya menambah kesan ngeri. "Aku tak mencium kekuatan apapun darimu, tapi tengkukku bisa merasakan, kau berbahaya," kata pemuda itu dengan suara agak serak. Sorot matanya makin mematikan, makin curiga dan makin ingin tahu siapa gadis yang bisa melihatnya ini? Tungkai Laura lemas, tinggal menunggu waktu dia pingsan karena dipojokkan. Dia sama sekali tidak berani bergerak karena jarak mereka semakin dekat. Helaan napas pun mengembus di kulit keningnya. Ya, tinggi Laura hanya sebatas dagu pemuda itu, tak heran dia terlihat seperti tikus yang terperangkap di kandang kucing. "Aku sungguh tak melihat apapun, aku bukan siapa-siapa, sungguh, aku hanya orang biasa," terang Laura menyembunyikan rasa takutnya. "Lalu kenapa kau bisa melihatku?" "Aku ... aku tidak tahu, aku selalu melihat hal-hal misterius sepanjang hidupku, jadi ini mungkin semacam pemberian." "Pemberian, kau bilang? Tak ada orang biasa satupun pun yang bisa melihatku. Kau tidak tahu siapa aku." "Aku bersungguh-sungguh, aku orang biasa, sejak kecil aku bisa melihat hal-hal semacam ini." "Oh iya, Nona? Kau tak menyembunyikan sesuatu dariku? Aku masih merasa ada sesuatu dalam dirimu- yang entah kenapa membuat bulu tengkukku meremang. Tak pernah ada yang bisa menakutiku selama ini. Siapa kau ini?" Pemuda ini memperhatikan warna merah pekat dari rambut Laura, mengingatkannya pada penyihir terkuat yang dia kenal. Akan tetapi dia ragu karena tidak merasakan aura sihir dari tubuh gadis ini. "Kau terlihat seperti penyihir berbahaya yang kukenal." "Benar, sungguh, aku bukan penyihir, jadi tolong menjauhlah dariku. Kau membuatku sesak napas." Pandangan mata pemuda itu turun hingga ke kaki Laura. Dia menyentuh tangan kanan gadis itu yang masih berbalut perban. "Kau terluka?" Entah mengapa dia malah mendadak peduli, dan mengangkat telapak tangan itu. "Kau tidak mungkin penyihir jika terluka begini."  Laura membiarkan tangannya dipegang. Tubuhnya sekaku pohon, terlalu tegang dan ketakutan. Ia terbelalak saat melihat ulah si pemuda yang perlahan mengecup perban di tangannya. "A-apa ... apa yang kau lakukan? Lepaskan ... lepaskan tanganku," pintanya tersendat-sendat. Pemuda itu membuka perbannya dengan lembut, dan memperlihatkan hasil kecupan barusan. Bekas luka robek di punggung tangan Laura menghilang.  Laura menarik tangannya, lalu menggerakkannya dengan leluasa. Karena terlalu takut, dia baru sadar kalau tak lagi terasa nyeri. Dengan kening mengerut, dia pun melontarkan banyak pertanyaan, "ini ... mustahil, siapa kau ini? Kenapa di kota ini ada Minotaur, kukira itu hanya legenda? Dan kenapa kau membunuhnya?" Pemuda menjentikkan jari di depan Laura. Dan, gadis itu seolah melihat ada percikan putih yang langsung membuatnya tak sadarkan diri sampai ambruk di atas lantai. Setelah itu, dia mencabut dwisulanya lagi, lalu berjongkok di samping badan Laura. Dia mengelus rambut merah gadis itu seraya bergumam, "namaku adalah Erlend Hadeson, putra setengah dewa dari dewa Hades, sang dewa dunia bawah, siapapun seharusnya tidak bisa melihatku saat aku sedang berburu. Anggap saja ini hari sialmu. Apa yang akan terjadi padamu, kita lihat saja nanti, Nona." Kemudian, dia menggendong Laura seraya bersiul dua kali. Beberapa detik kemudian, suara ringkikan kuda terdengar. Kereta kuda yang terhias oleh batu berlian hitam telah tiba di samping rumah. Kendaraan dunia bawah itu berkilauan saat terkena pantulan dari cahaya rembulan. Penariknya adalah dua kuda kembar berbulu hitam. Mereka takkan bisa dilihat oleh mata manusia biasa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD