Erlend berpakaian serba hitam, dari mantel, kemeja, celana, sarung tangan, hingga sepatu yang dikenakannya, sedang berjalan tenang di lorong panjang menuju ruangan khusus. Dia sudah membersihkan diri sehingga penampakannya jauh baik. Kulitnya lebih cerah, wajah lebih segar, warna rambut coklatnya juga jauh lebih menyala.
Dia tiba di ruangan berpintu ganda dimana seluruhnya dilapisi oleh logam hitam dengan pinggiran adalah berlian putih berkilauan. Gagangnya juga juga terlapisi oleh berbagai jenis permata lain, beraneka warna, seolah-olah semua permata itu memang tumbuh disitu.
Dengan kasar, ia mendorong pintunya dengan dua tangan, lalu terbentanglah pemandnagan yang jauh lebih menakjubkan ketimbang berlian di pintu.
Ya, sebuah kamar luas dengan banyak jendela tinggi berkelambu putih, seluruh perabotan yang ada di dalamnya terlapisi oleh logam mulia berwarna keperakan, Rhodium dipadu dengan emas di pinggirannya. Secara keseluruhan, kamar ini seolah pantas disebut kamar perak.
Bukan ruangan megah ini yang menjadi pusat perhatian Erlend, melainkan seorang gadis yang terbaring di atas ranjang. Laura.
Erlend mendekat, lalu menyentuh kening gadis itu dengan jempol tangan kanan. "Bangun."
Dalam sekejab, Laura bangkit terduduk sembari menghirup udara sebanyak mungkin. Matanya tampak terbuka lebar, dadanya kembang-kempis terlalu cepat, seolah-olah dia baru saja tenggelam di dalam air.
“Oh, selamat pagi, Nona,” sapa Erlend tersenyum aneh. Hanya senyuman itu saja— manusia biasa bisa bermimpi buruk.
Laura tersentak kaget pada kehadiran Erlend di sebelahnya. Meskipun secara penampilan, pemuda yang menculiknya ini jauh lebih rapi, berbeda dari semalaman, tetap saja dia ketakutan.
“Siapa kau sebenarnya? Kenapa aku disini? Dimana ini?” Tak ingin jawaban, Laura buru-buru turun dari ranjang, lalu kebingungan dengan kamar megah serba perak ini. Tatapan matanya mengedar kemana-mana, bahkan ke atap plafon yang juga terhias oleh lampu gantung berlian.
Ketika Laura hendak berlari keluar pintu yang terbuka, Erlend mengibas udara, memerintahkan pintu ganda tersebut menutup dan terkunci sendiri.
Laura mundur selangkah, lagi-lagi terjebak bagai tikus di . Dia menatap mereka dengan tatapan takut. Belum ada lima menit dia bangun, keningnya sudah mulai basah lagi oleh bulir keringat. “Kenapa kau menculikku? Aku tak melihat apapun, sungguh, jadi tolong lepaskan aku.”
“Melepaskan mangsa bukan keahlianku,” sahut Erlend santai dengan nada yang meremehkan.
Laura menoleh ke arah jendela-jendela kaca ini. Cahaya matahari yang hangat sudah menerobos masuk. Ingin rasanya melarikan diri lewat situ, tapi kacanya amat tebal sehingga ada lemparan batu saja belum tentu menghancurkannya.
“Alasan mengapa aku tak bisa melepaskanmu, pertama, kau bisa melihatku semalam, padahal aku sudah berada dalam mode tak terlihat. Aku tak melihat ada keanehan padamu, tapi entah kenapa aku takut padamu. Manusia hebat manapun takkan bisa melihatku. Hanya penyihir kuat, roh dan orang yang akan mati yang bisa melihatku, Nona.” Erlend mendekati gadis itu dengan langkah pelan.
Laura mundur terus sampai punggungnya menyentuh permukaan pintu keluar. “Jangan mendekatiku, aku tak mengenalmu, dan dimana ini? Jangan mendekat!”
Dia tak habis pikir ada ruangan semewah ini. Sekalipun dirinya yang sering mendapatkan pelayanan kamar megah setiap menjalankan konser musik, tak pernah sekalipun ditempatkan di ruangan seperti ini. Di benaknya, ruangan ini terlalu luas, tinggi, dengan arsitektur kuno layaknya jaman abad pertengahan.
Alih-alih menjawab, Erlend menyambar lengannya dengan kasar. Dia seperti memperlakukannya seperti jiwa yang tersesat. “Alasan kedua, kau ternyata juga kebal mantera menghilangkan ingatan. Kau membuatku seperti penyihir, aku sampai membaca mantera demi membuatmu hilang ingatan, tapi apa? Kau masih mengenaliku.”
“Tapi aku ...”
“Sebelum ada Dewa-Dewi yang tahu tentangmu, apa yang harus kulakukan? Dunia kematian tidak boleh diketahui oleh manusia biasa yang belum akan mati.” Dia melototi Laura dengan sorot mata yang sadis. Tubuh yang terlalu lelah membuat jalan pikirannya memendek. “Aku tergoda untuk membunuhmu sekarang.”
Laura tersentak kaget. Dia menarik lengannya dari cengkraman tangan Erlend, tapi tak sanggup melepaskan diri. “Berhentilah mengintimidasiku, lepaskan aku!”
Erlend kian meremasnya sambil menegaskan, “tapi kalau saja membunuhmu bisa membuat masalah selesai, dari malam tadi kau sudah kulenyapkan.” Suaranya parau sekaligus dingin, sampai mengantarkan aura kengerian di tengkuk Laura. “Mungkin kemarin memang hari terburuk kita.”
Geram, Laura menginjakkan kakinya ke atas sepatu Erlend. Tapi sikap berani tersebut harus dibayar instan dengan jambakan di rambutnya. Dia sampai menengadah karena cengkraman tangan Erlend sangat kasar. “Ini pebuatan kriminal, lepaskan aku.”
“Kau pikir sedang apa, Nona?” bisik Erlend tepat di telinganya. “Mencoba menyakitiku? Tangan mungilmu tak mungkin bisa menyakitiku.”
“Argh.” Laura menangkap pergelangan tangan Erlend. Dia tidak pernah berhadapan dengan pemuda sekasar ini seumur hidup. Tidak sopan, kejam, sadis. “Apa kau sudah gila? Kau memperlakukan wanita seperti ini?”
“Aku sudah berulang kali berhadapan dengan gadis sepertimu ... setiap kali aku lengah, mereka berusaha menusukku dari belakang. Aku memang setengah dewa dan bisa mati, tapi bukan berarti kalian bebas menikamku.”
“Aku tak mengerti maksudmu, aku bukan penyihir ataupun semacamnya.”
“Benar, mereka penyihir dan kau ... aku tak tahu kau ini 'apa'.”
“Sudah cukup! Lepaskan rambutku!” sentak Laura tak tahan. Kulit kepalanya terasa terkelupas dari kepala.
“Aku harus tahu alasan kau bisa melihatku, padahal orang lain tak bisa, bahkan Thanatos saja tak bisa melihatku, dia dewa kematian, tak bisa melihatku, tapi kau? Kau malah bisa melihatku? Kau ... gadis biasa yang bahkan bukan penyihir?”
“Kau menyakitiku!” jerit Laura makin kesakitan sampai melupakan rasa takut. Dia melototi Erlend dengan kebencian luar biasa.
Erlend melepaskannya, lalu mundur selangkah. “Apa yang kau lihat kemarin malam adalah rahasia dunia bawah, dunia kematian.”
Dia memandangi Laura dengan tatapan serius. Bulu tengkuknya berdiri karena sesuatu yang tak dia pahami. Selama ini, tak satupun makhluk dunia bawah yang berhasil membuatnya bergidik— tapi mengapa berada dekat dengan Laura terasa aneh?
“Siapa kau ini?” tanya Laura berusaha bernapas teratur. Kepalanya kini berdenyut-denyut akibat jambakan barusan.
“Aku hanya penyeimbang dunia orang hidup dan orang mati.” Erlend mundur terus hingga ke meja kursi dekat ranjang.
Dia menggeret kursi kayu itu, lalu diputar, dan diduduki tepat menghadap ke Laura. Kepala dimiringkan, sosot mata ditajamkan. Tak satupun aura aneh yang dipancarkam Laura. Di penglihatannya gadis ini hanya— gadis biasa, hanya manusia biasa.
“Siapa kau ini?” tanyanya.
“Namaku Laura.” Kening Laura mengerut. Dia sendiri punya banyak pertanyaan yang mengaitkan diri pemuda ini dengan hal-hal dunia lain. “Harusnya aku yang tanya, siapa kau?” Matanya memperhatikan setelan hitam yang dikenakan Erlend. “Apa kau reaper?”
“Reaper? Aku? Tak ada reaper yang bisa membunuh makhluk dunia bawah, Nona. ” Pemuda itu tergelak pelan. Tawa yang sanggup menciutkan nyali Laura.
Melihat wajah Laura yang memucat karena waspada, Erlend menghela napas panjang, lalu tersenyum aneh— berusaha mencairkan suasana, tapi malah terjadi kecanggungan berat. Senyum memang tak cocok dengan wajah garang Erlend, malah itu membuat rasa Laura memuncak hingga ke ubun-ubun.
“Well,” Erlend menjelaskan, “namaku Erlend, aku setengah dewa, ayahku adalah Hades, penguasa alam kematian. Karena suatu sebab, aku yang sekarang menjadi dewa pengganti.”
“Dewa?” Laura melongo, percaya tak percaya. Ia memandangi pemuda yang duduk dengan posisi angkuh di depannya ini. “Kau ... dewa?”
“Iya, setengah dewa, Demigod, kau pikir aku akan terlihat seperti apa? Punya sayap putih? Atau wajah berkilauan seperti berlian?”
“Hades ... dewa alam kematian? Kau penggantinya?”
“Secara tidak langsung, ya, Dewa Hades sedang menghilang karena sesuatu, dan aku adalah satu-satunya putra yang tersisa di dunia ini. Mau tidak mau, karena aku punya kekuatan dewa, maka aku harus menyeimbangkan alam kematian dan alam orang hidup. Kalau tidak ada yang memimpin, jiwa-jiwa sesat dan monster bisa berkeliaran.”
Laura meneguk ludah.
“Dan makhluk yang kau lihat malam kemarin adalah salah satu makhluk dari alam kematian yang berhasil keluar lewat retakan,” lanjut Erlend masih bersikap angkuh di hadapan Laura. Dia melakukan ini agar tidak kelihatan takut akan kehadiran gadis itu.
“Retakan?”
“Iya, dan itu tak perlu kau tahu, Nona, karena yang terpenting. Di dalam ruangan ini hanya ada kita— dan kau takkan bisa kemanapun sampai aku tahu siapa kau ini.”
“Sudah kubilang, namaku adalah Laura. Kau tak perlu melakukan ini, sungguh, aku takkan membicarakan apapun tentang ini, tolong bebaskan aku.”
“Alasan terakhir aku tak bisa melepaskanmu, kau ada di tempat kejadian.” Erlend berdiri kembali, lalu mendekati Laura setapak demi setapak. “Tempatmu adalah lokasi terakhir dimana pencuri penutup kepala alias Helm milik ayahku. Kau pikir kenapa aku berada di samping rumahmu saat itu?”
“Helm Hades?”
“Jika kau memakainya, kau takkan terlihat oleh entitas apapun di galaksi ini, dewa terkuat sekalipun takkan bisa melihatmu.”
Tidak bisa melihat?, ulang Laura dalam hati, teringat akan kejadian di rumahnya. Ia tertunduk karena memikirkan itu.
Erlend lantas menaikkan dagu Laura. Jemarinya punya kulit lembut, tapi perlakuannya kasar saat menyentuh gadis itu. “Hai Nona, kau tidak boleh memalingkan wajah saat bicara denganku.”
Kulit sekitar dagu Laura kemerahan. Dia jengkel setengah mati dengan Erlend. Rasa takut, marah, sekaligus bingung, semuanya bercampur menjadi satu.
“Aku merasakan sesuatu di rumahku beberapa hari belakangan,” kata Laura jujur, berharap jika begini, maka nyawanya akan diampuni. “Rasanya seperti orang di rumahku, aku punya bukti potretnya— hanya saja sebatas bayangan hitam. Aku bersumpah, auranya hilang, bukan roh, reaper, iblis atau yang lainnya. Tidak ada, tapi aku yakin sesuatu disana.”
“Apa katamu?”
“Mungkin dia yang kau cari, aku tak bisa melihatnya, tapi aku bisa merasakannya. Aku bisa mendengarnya. Sungguh.”
Erlend melepaskan dagu Laura. Pandangan matanya perlahan melembut, tapi bukan berarti kewaspadaannya turun. Dia masih curiga pada gadis ini. “Kau bisa mendengarnya? Bualan macam apa itu? jika orang memakainya, dia benar-benar menghilang.”
“Terserah kau percaya padaku atau tidak, intinya mungkin orang yang kau cari masih berkeliaran di rumahku. Sekarang aku sudah mengatakan informasi itu padamu, jadi tolong lepaskan aku.”
Erlend menyambar lengan Laura, lalu menariknya agar jauh-jauh dari pintu. Setelah itu, dia mengangkat tangan kanannya, yang secara langsung membuat kunci pintu ganda ruangan ini terbuka, lalu bergetar dan perlahan membuka sendiri.
Selain menguasai alam kematian, Dewa Hades juga menguasai semua hal yang ada di dalam tanah, termasuk segala macam logam mulia. Dia dikenal sebagai dewa yang paling kaya raya.
Dan sebagai keturunan dari seorang dewa tersebut, Erlend bisa melakukan Ferrokinesis, kemampuan untuk memanggil, mengontrol, dan memanipulasi semua logam dan permata mulia.
Hampir seluruh benda di rumah ini terlapisi logam Rhodium agar dapat dikendalikan sesuka hati.
Setelah pintu terbuka sempurna, Erlend menyeret Laura sembari berkata, “aku akan melepasmu jika aku menemukan pencurinya kalau begitu, untuk sekarang kau adalah tahananku. Ikut aku ke Thanatos.”
Langkah Erlend terlalu cepat sampai Laura hampir terjungkal. “Berhentilah menyeretku!”
Erlend lupa terakhir kali dia menuruti permintaan seseorang. Dia tak sadar sekalipun perlakuannya sangat kasar pada seorang wanita.
***