04

2227 Words
Erlend menyeret Laura hingga keluar dari salah satu kediaman Hades ini. Laura agak takjub dengan perabotan bertabur berlian yang ada di dalam tempat ini. Semuanya terasa bagaikan istana raja di masa lampau. Iya, dekorasinya mengadaptasi Eropa kuno. Selama diseret keluar, mata wanita ini terus dibuat kagum dengan kerlipan berlian yang ada di setiap dinding, maupun perabotan. Tidak ada satu pun dari barang disini yang tidak mewah. Sekarang dia paham mengapa dewa dunia bawah sering disebut sebagai dewa yang amat kaya raya. Semua kekayaan Bumi bisa dikuasai. “Kemana kau akan membawaku? Berhentilah menyeretku.” Laura mulai memberontak lagi begitu mereka sudah berada di halaman rumah. Sejenak, dia mengamati sekitar. Kediaman ini berdiri di tempat yang sama sekali tak dia kenali. Sisi kanan dan kirinya adalah pepohonan maple yang mulai berubah warna karena ini adalah musim gugur. Sementara itu, di depan pekarangan rumah ini tidak ada jalanan sama sekali alias dipenuhi pepohonan pula. Sekilas, rumah megah berlantai du aitu kelihatan seperti di bangun di tengah hutan. Namun, sbeenarnya tempat ini berdiri di tengah lahan pribadi yang dimiliki oleh Dewa Hades dengan nama samaran. Lahan ini memiliki luas sekitar sepuluh hektar, dan hampir setengah dari pepohonan yang ditanam adalah maple dan lainnya adalah Aras. Tak heran, ketika musim gugur seperti sekarang—tempat ini indah sekali karena banyak guguran daun saat angin berhembus. Erlend melepakan wanita itu, lalu bersiul. Tiga detik kemudian, dia mulai heran karena tidak ada tanda-tanda dari kereta kudanya yang datang. Mana bisa dia pergi ke kediaman dewa tanpa kendaraan dewa. Dia mulai merasa aneh saat lebih dari satu menit tidak melihat keretanya ataupun mendengar ringkikan kuda. “Aneh sekali,” gumamnya melihat ke berbagai arah. Dia hanya bisa merasakan kalau angin berhembus lebih kencang beberapa hari belakangan di sini. Tapi, tidak ada keanehan ataupun tanda-tanda ada kekuatan sihir. Laura masih membelai pergelangan tangannya yang sakit karena cengkraman dari pemuda ini. Dia ingin sekali berlari, tapi kabur bukanlah pilihan sekarang. Dia tidak mau dibuat pingsan kembali karena melawan. Apalagi, dia Sudha melihat kekuatan demigod yang satu ini. Mau tidak mau, dia dipaksa untuk mempercayai kalau mitologi tentang para dewa ini memang benar adanya. Erlend kembali bersiul, tapi yang bereaksi malah angin berhembus ke arahnya. Lagi-lagi tidak ada keberadaan kereta kuda mendekat. Malahan, dia semakin yakin kalau terjadi sesuatu dengan kereta kudanya. Dia pun menghela napas panjang. Mendadak, dia malas melakukan apapun—dan ingin tidur saja. Sementara itu, Laura masih mengamati raut wajah kecewa Erlend. Dia mengerutkan dahi, ingin bertanya, tapi ragu-ragu. Udara pagi masih cukup dingin, tapi tubuhnya malah berkeringat. Dia takut dengan Erlend. Tahu sedang diperhatikan, Erlend meliriknya. “Apa?” “Kita … kenapa … eh, kita kenapa diam disini?” “Aku tidak bisa memanggil kereta kudaku. Mana bisa kita melintasi wilayah kediaman dewa tanpa kendaraan dewa. Percuma saja. Entah kemana kereta kuda ini, aku tak terlalu paham dengan kuda-kuda langit ini.” “Eh … kau tidak tahu mereka kemana?” “Tidak. Mereka bukan kuda biasa, jadi aku tak mungkin memasukkan mereka ke kendang. Mereka biasanya bisa menembus dimensi, lalu muncul ketika aku memanggilnya. Sudah kubilang, aku tak terlalu tahu tentang mereka.” “Kau ‘kan putra Hades.” “Apa aku harus tahu segalanya hanya karena aku putra Hades? Kau tidak tahu apapun tentangku, aku pun tidak ada minat untuk mengakrabkan diri denganmu. Jadi, sampai kuda-kuda ini datang, lebih baik kau masuk lagi ke ruanganmu, dan aku ingin tidur.” “Putra Hades … aku …” “Kau lebih baik memanggil namaku, namaku Erlend, oke, jangan pernah memanggilku dengan embel-embel Erlend.” “Erlend, aku  …” “Apa?” “Aku lapar.” “Oh.” Terjadi keheningan di antara mereka. Keduanya saing memandang, berusaha saling memahami. Laura meneguk ludah, takut kalau menjadi sasaran amukan, lalu diseret dan dikurung di ruangan lagi. Sedangkan Erlend tampak baru sadar kalau manusia seperti Laura membutuhkan makanan lebih sering ketimbang dirinya. Iya, dia memang butuh makan, tapi dia cenderung lupa untuk makan karena memang tidak berpengaruh padanya—dia adalah setengah dewa. “Oh?” Laura agak jengkel karena Erlend tetap diam setelah mendengarnya mengatakan lapar. “Jangan oh saja, aku butuh makan!” Erlend baru sadar kalau di kediamannya tidak ada bahan makanan sedikitpun. Dia pun juga tidak meminta pada setiap pelayan dewa untuk membawakan makanan, lagipula semua pelayan juga masih sibuk dengan perintahnya yang mencari informasi tentang kemunculan Minotaur di negara ini.  Dia kemudian mengangguk. “Ayo kita cari makanan di luar.” “Di luar?” Tanpa menjawab, Erlend menggendong tubuh Laura dengan posisi layaknya pengantin baru. Dia sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dia lakukan. “Ayo kita cari makanan.” Setelah diseret dengan kasar, sekarang malah digendong. Hal ini membuat Laura menjadi panik sekaligus takut. Mukanya makin merah, merasa amat sangat malu. “Apa yang kau lakukan?”     “Menurutmu aku sedang apa?” “Turunkan aku!” “Luas tempat ini berhektar-hektar sebelum keluar ke jalan raya, kau mau jalan kaki?” “Tapi—” “Ah, sudahlah.” Erlend masih sangat dingin dan tak mempedulikan pendapat dari wanita itu. Dia kemudian berlari kencang menembus pepohonan. Kecepatan kakinya luar biasa, jelas bukan kecepatan manusia biasa. Bahkan kecepatan maksimal mobil sport saja kalah oleh larinya. Iya, saking cepatnya dia bagaika kilat yang menyambar. Laura pun tak bisa melihat sekeliling dengan jelas akibat ini. Saat dia mencoba melihat, segalanya tampak kabur. Karena melihat semua itu membuatnya pusing, dia pun menutup mata. Setelah tanpa snegaja menyembunyikan wajah di d**a Erlend. Tak sampai satu menit mereka akhirnya sampai di gerbang dari tempat ini. Berhubung gembok gerbangnya masih terkunci dan Erlend sendiri tidak tahu dimana kuncinya, jadi dia selalu melompat melintasi tembok, kemudian sampailah dia di atas trotoar pinggiran jalan raya yang tidak terlalu ramai. Iya, jalanan ini hanya dilalui beberapa kendaraan, tidak terlalu ramai pejalan kaki. Bangunan yang berdiri di jalan ini kebanyakan adalah pertokoan yang menjual barang-barang bekas atau Gudang penyimpanan, karena itulah jarang ada yang kemari. Erlend menurunkan Laura. “Di seberang jalan, melewati salah satu gang, kita akan sampai di kedai burger. Rasanya lumayan.” Laura agak terkejut mendengar perkataan biasa dari Erlend. Menurutnya kali ini sikap Erlend mulai terlihat seperti pemuda biasa. Tapi, dia masih merasa kalau Erlend masih sangat dingin dan penuh ancaman. “Oke.” “Kuperingatkan padamu,” kata Erlend melirik wanita itu dengan tajam, “jika kau berniat kabur dariku, aku akan membuatmu menyesal. Takkan kubiarkan kau keluar lagi seperti sekarang. Kau paham?” Laura meneguk ludah kembali. “Sampai kapan kau akan menahanku?” “Sampai kudaku kembali dan kita ke Thanatos, setidaknya dengan bantuannya aku bisa mencari helm milik ayahku yang sedang dicuri. Dengar, Nona, kau benar-benar tidak boleh pergi dariku.” “Aku—” “Jika kau berpikir aku baik sekarang karena mengajakmu keluar, dan kau bisa melarikan diri dariku, salah besar,” bisik Erlend sembari mengeluarkan gelang berwarna putih dari dalam saku mantel hitamnya. Gelang sederhana dan tipis itu seperti berbahan perak dengan campuran logam mulia lain. Dia meyambar tangan kanan Laura, kemudian memasangkan gelang itu dengan paksa. Sembar menyeringai, dia kembali berkata, “benda ini adalah benda yang takkan bisa kau lepaskan sampai aku selesai berurusan denganmu. Kemanapun kau pergi, aku akan bisa menemukanmu, kecuali kau memotong tanganmu dan melepaskan benda ini dengan paksa.” “Kau mengerikan.” Laura menarik tangannya, lalu berusaha melepaskan gelang tipis itu. Namun, apa yang dikatakan oleh Erlend benar, dia sama sekali tidak bisa melepaskannya padahal lubang gelang tersebut sebenarnya longgar, tapi seolah ada kekuatan yang tak membiarkannya melepaskan benda itu dari tangannya. “Ayo kita beli makanan untukmu, Nona.” “Namaku Laura.” “Iya.” *** “Kau yakin hanya makan itu?” Erlend tampak heran dengan tawanannya ini yang hanya memesan satu piring berisi sandwich dan segelas jus jeruk. “Kau seperti anak-anak. Apa kau sedang diet? Kudengar para gadis menyukainya.” Perkataan Erlend memang sangat aneh, dia memang tak pernah bergaul dengan gadis manapun. Semenjak lahir sebagai setengah dewa, dia sudah diasuh oleh Thanatos dan jarang sekali bergaul dengan manusia lain. Bahkan, dai tak pernah bermain dengan mereka. Tapi, meskipun begitu, dia tetap tahu apapun tentang manusia, kebiasaan, dan segala macamnya. Laura masih melongo memandangi meja bundar yang sudah dipenuhi oleh hidangan banyak burger, kentang goreng, olahan telur orak-arik, bacon, daging panggang dan makanan berat lainnya. Setidaknya ini adalah porsi untuk makan satu keluarga. Namun, nyatanya itu adlaah porsi makan Erlend. “Kenapa kau diam saja seperti patung?” tanya Erlend. “Ini porsi makanmu? Tanya balik Laura yang tidak menyangka kalau melihat ada orang yang punya selera makan serakus ini. “Kau serius memakan ini?” Erlend menganngguk. Dia mengerutkan dahi, bingung—mengapa banyak orang yang selalu heran dengan porsi makannya? “Kenapa orang-orang selalu melihatku dengan tatapan aneh setiap kali tahu aku akan makan?” herannya. “Ini tidak wajar.” “Bagiku wajar saja, aku suka makanan disini, lezat—wajar bukan jika aku memakan banyak.” “Iya, tapi, kau benar-benar akan menghabiskan ini?” “Tentu.” “Bagaimana dengan makan siangmu? Malam?” “Aku tak makan teratur, aku hanya makan saat lapar saja. Maksudku, aku terkadang lupa karena terlalu sibuk dengan urusan dunia bawah. Tapi, kau menginginkan makan, jadi aku baru ingat kalau belum makan.” Laura meneguk ludah, makin kaget. “Kapan terakhir kau makan?” “Entahlah. Memangnya apa urusanmu? Kau makan saja bagianmu, jika kau ingin lagi, pesanlah lagi, kebetulan sekarang sedang sepi—jadi kita bebas makan, bukan?” “Oh.” Laura sampai terbatuk karena mendengar perkataan yang serba datar dari pemuda ini. Dia menghela napas panjang untuk meredakan sesak yang melanda karena melihat olahan daging yang terlalu banyak di atas. Tak ikut makan, tapi merasa mual, itulah yang dia rasakan. Di kedai kecil ini, kebetulan pengunjungnya hanya mereka berdua. Ini menguntungkan karena Erlend bisa memesan lebih banyak makanan tanpa harus mendapatkan tatapan aneh seperti sebelumnya. Karena sering sekali dipandang aneh karena porsi makannya, dia jadi jarang kemari ketika sedang ramai. Seorang pelayan wanita memakai celemek datang dengan nampan berisi dua gelas jumbo berisi minuman favorit Erlend. Dia meminggirkan beberapa piring, membuat ruang sedikit, lalu menaruh dua gelas jumbo berisi milkshake khusus itu. “Favoritmu, Erlend,” kata wanita tiga puluh tahunan ini yang tampaknya sangat akrab dengan Erlend, “seperti biasa, porsi makanmu sangat gila, ya?” “Terima kasih, Fiona,” sahut Erlend senang semua pesanannya sudah ada di atas meja. “Bagaimana keadaanmu dan Tuan Black?” “Kami baik-baik saja, suamiku sedang mengurus pasokan makanan di belakang, dia akan menyambutmu nanti. Dan, sebenarnya kami yang mengkhawatirkanmu. Kemana saja kau? Kau jarang kemari akhir-akhir ini, kami merindukanmu.” “Banyak urusan, tapi semua baik-baik saja sekarang. Mungkin aku akan lebih sering kemari untuk membeli makanan buatanmu. Burger dan telur buatanmu enak.” “Wah terima kasih.” Fiona tertawa. Pandangannya kemudian mengarah ke Laura yang duduk di depan dari Erlend yang masih memasang wajah pucat karena melihat makanan di atas meja. “Oh, kau sedang bersama siapa, Erlend? Teman kencan? Rasanya kau kurang jago, seharusnya kau tak boleh memesan makanan sampai seperti ini . .. lihat teman kencanmu sampai syok. Kau tidak apa-apa, Nona?” “Eh … “ Laura bingung sendiri. Erlend kemudian mendehem, lalu meralat, “bukan teman kencan, dia adalah Laura, saudara jauhku. Dia tinggal di Florida sebelumnya, tapi akan tinggal denganku di kota ini untuk beberapa saat.” “Oh, saudara jauh?” Fiona menahan tawa, tak percaya sama sekali. Erlend merasa jengkel karena pandangan itu. Dia kembali mendehem. Fiona mengangguk paham. “Baiklah. Semoga beruntung. Kalau kau menginginkan sesuatu lagi, panggil saja aku—selama kedai sepi, kau bisa memesan sampai smeua meja di tempat ini penuh.” Dia tertawa sembari berjalan menuju ke ruangan belakang meja pesan yang pintunya bertuliskan : dapur. Laura masih merasa tidak nyaman karena sebutan teman kencan oleh Fiona. Dia menjadi gugup, takut, gelisah dan segala macam perasaan bercampur menjadi satu. Mendadak dia rindu akan ibunya. Tapi, apa daya, mana bisa dia melarikan diri—sementara ada gelang aneh yang tak bisa lepas dari tangannya? “Kenapa?” tanya Erlend heran. Tiba-tiba Laura merasakan adanya sensasi aneh di tengkuknya. Dia pun menoleh ke luar jendela yang berada di samping kirinya. Iya, meja kursi yang dia tempati bersama Erlend ini berada di samping jendela kaca yang langsung mengara ke halaman depan kedai yang merupakan jalanan ramai. Banyak orang berjalan disana, tapi kondisi tempat parkir depan kedai ini sepi, tak ada kendaraan maupun seseorang yang sekedar jalan melewatinya. Namun, dia merasa ada seseorang yang mengawasi dari situ. Keberadaannya lah yang membuat tengkuknya berdiri—sensasinya sama persis ketika dia merasa di rumah sewaannya ada seseorang. Apakah ada orang yang mengawasi mereka? Apakah itu adalah pencuri yang sedang dicari Erlend?, banyak sekali pertanyaan yang ada dalam benaknya dalam sekejap. “Hei!” sergah Erlend yang kesal dihiraukan. “Lihat apa kau? Kalau aku bicara, jawab!” Laura pun menggelengkan kepala, dan kembali menatap Erlend. “Maaf.” “Apa kau sedang berencana kabur dariku? Dengan berlari ke luar kedai ini dan berbaur dengan orang lain?” Erlend sempat memperhatikan kondisi jalanan yang ramai. “Ide itu kedengarannya brilian.” “Mana bisa aku kabur, tidak setelah kau mengancamku,” gerutu Laura yang membuang muka. “Dengan gelang aneh yang tak bisa kubuka. Tidak mungkin.” “Baguslah kalau kau tahu diri. Sekarang makanlah.” Laura tidak menjawab. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD