05

1394 Words
“Akhirnya.” Begitu selesai makan, Erlend merasa lega. Padahal sedari awal yang kelaparan adalah Laura. Tak heran kalau gadis ini terus menerus menatap pemuda itu dengan keheranan. Dia sampai menggelengkan kepala, tak percaya ada orang yang bisa menghabiskan semua porsi itu sendirian hanya dalam waktu satu jam. Dia masih mengira kalau ini tidak mungkin, perut Erlend sudah seperti sumur tak berdasar. Mereka sudah berada di halaman depan dari kedai burger ini, terdiam tepat di hadapan jalanan yang lenggang ini. Banyak bangunan pertokoan di seberang jalan, kebanyakan adalah minimarket dan toko loak. Tak banyak orang yang berjalan di trotoar atauun mengunjungi pertokoan itu. Ini hari Senin yang sepi. “Hmm …” Erlend curiga dengan kondisi jalanan yang tak ramai seperti biasa ini. Laura masih mengamatinya, pandangannya turun hingga ke perut. Dia heran kemana perginya makanan banyak tadi? Kenapa perut Erlend masih datar? Ini tidak mungkin. Karena gadis ini terus menggelengkan kepala, Erlend meliriknya. “Apa?” “Tidak.” Laura buru-buru berpaling. “Apa?” Erlend mengulang lagi dengan nada keras. “Perutmu masih datar.” Laura spontan mengatakan itu, dan langsung berkeringat dingin saat menyadarinya. “Maksudku—” Erlend tidak paham dengan sindiran Laura. Akibat tak pernah bicara dengan gadis ataupun manusia lain, dia mengira itu semacam ucapan basa – basi. “Tentu saja perutku datar.” Melihat Erlend tak marah membuat Laura agak lega tapi juga merasa aneh. Dia mendadak canggung sekali berada di samping setengah dewa ini. Iya, bahkan dia hampir saja lupa kalau Erlend benar-benar seorang setengah dewa. “Astaga.” “Apalagi?” “Aku masih tak percaya baru saja sarapan bersama seorang demigod.” “Kurasa kau jangan membahas itu di tempat umum.” “Wah …” “Apalagi?” “Kau lebih baik ketimbang tadi.” “Apa maksudmu?” “Kau tadi seperti berandalan yang menculikku, maksudku kau kasar sekali, tapi sekarang mendadak tenang.” “Aku masih menculikmu sekarang, maaf membuatmu kecewa. Ingat, tidak ada yang bisa lepas dariku.” “Oh, apa karena kau kelaparan, orang kelaparan biasanya sangat pemarah …” Laura benar-benar tidak sengaja lagi melontarkan sindiran. Ia terbiasa menyindir teman-temannya jika berbuat hal yang menjengkelkan. Erlend, lagi-lagi tidak memahami makna sindiran itu. Pemikirannya selalu lurus, dan itu menyebabkan dia seolah tidak tahu apapun tentang komunikasi bersama manusia lainnya. “Hmm …” Dia mengira kalau ucapan Laura taka da artinya. “Manusia memang seperti itu, saat kurang makan, maka otak tak bisa bekerja lebih baik, jadinya mudah emosi.” “Eh.” Laura meneguk ludah. “Oke.” “Ya.” “Dan ngomong-ngomong, aku menyerah untuk berdebat, kita akan kemana sekarang?” Belum sempat menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba rintik hujan mengenai kepala Erlend. Dia mendadak kaget kembali, dan spontan mendongak. Dia kemudian menyadari kalau awan mendung hendak memenuhi tempat. Satu jam yang lalu semua tampak biasa saja, tapi mendadak segalanya menjadi gelap, wajar saja dia menjadi curiga. Sebenarnya ada apa? Tapi, berhubung saat ini adalah musim gugur, maka dia tidak mau memikirkannya lebih banyak. Hanya saja, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Awan gelap selalu menjadi pertanda buruk. “Mendung … “ gumamnya lirih. Laura mendadak menoleh ke samping, tepatnya ke samping dari bangunan kedai ini. Dia kembali merasakan ada seseorang yang mengintai mereka. Secara spontan saja, dia berjalan mendekati tempat dimana dia merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia berharap kalau ini adalah orang yang dicari oleh Erlend. Kalau pencuri ini tertangkap, otomatis dia akan dibebaskan oleh pemuda setengah dewa tersebut. “Siapa …” Dia menyelidiki bagian samping dari kedai ini. Sebenarnya tidak ada siapapun. Tidak ada bangunan lain sebenarnya karena dipenuhi oleh pepohonan peneduh jalan. Itulah mengapa kedai burger ini sangat cocok jika dijadikan tempat untuk berdiam diri, apalagi terdapat sebuah danau kecil tak jauh di sana. Sebuah danau berair bersih yang terlihat sangat tenang. Memang, tempat yang cocok untuk bersantai sejenak setelah makan. Tapi, anehnya—Laura tidak merasakan kehadiran siapapun disana. “Laura!” panggil Erlend segera menghampiri gadis itu, lalu mencengkram lengan gadis itu, dibalikkanlah tubuhnya agar bisa melihatnya. “Apa yang kau lakukan? Jangan pergi dariku lebih dari tiga meter!” Laura agak bergidik mendenagr suara keras Erlend lagi. Namun dia menuding ke arah danau, dia merasa kalau di sana ada sesuatu yang mengusik ketenangannya. Biasanya dia merasakan ini jika menemukan makhluk non manusia. Tapi, sejauh mata memandang taka da makhluk aneh disini. “Aku merasakan sesuatu bergerak kesana,” katanya kemudian. Erlend ragu-ragu. Dia memang merasakan sesuatu, tapi itu bukannya sesuatu yang buruk, melainkan hanyalah roh penghuni sekitar. Roh ini jarang sekali menampakkan diri di pagi hari begini. Selain itu, dia juga merasakan adanya reaper di sekitar pepohonan dekat danau. “Tidak ada apa-apa yang mencurigakan,” sahutnya yakin. “Tapi …” Erlend bersiul sehingga membuat seorang pria berpakaian hitam muncul dari balik salah satu pohon dekat danau. Pria tersebut seperti masih berusia dua puluh tahunan dan langsung memberikan hormat berupa anggukan kepala kepada Erlend, sebelum akhirnya menghilang di balik pohon lagi. “Maksudmu itu?” tanya Erlend. Seeekor burung gagak terlihat terbang dari baik pohon dimana reaper tadi menghilang. Laura tertegun. Dia yakin bukan reaper yang dia rasakan. Memang, dia masih tidak memahami akan kekuatannya snediri. Namun, sejauh apa yang dia pahami, dia bisa merasakan bedanya saat bertemu dengan semua makhluk non manusia ini. Untuk reaper dan sebagainya, rasanya tidak seperti ini. Saat ini, dia meraska seperti ada yang mengawasi. Sensasi ini tidak dirasakan saat bertemu iblis ataupun reaper. Iya, ini sensasi yang sama ketika berada di rumah dan ada seseorang yang mengawasinya. Akan tetapi, dia tidak mau diintrogasi lebih lanjut oleh Erlend. Dia masih bisa mempercayai setengah dewa ini, bagaimana pun dia sedang dalam kondisi yang tidak baik. Statusnya sekarang adalah tawanan. Gelang aneh di tangannya membuktikan bahwa dia tak punya kebebasan sekarang. Jadi, mengatakan hal yang aneh hanya akan mengantarkannya ke dalam kesengsaraan lain. Dia pun menghela napas, lalu menepis semua keraguannya. “Ya, reaper itu yang kumaksud. Tak biasanya dia hadir di tempat dimana tak ada orang yang mati, bukan? Kenapa dia mendadak ada di situ? Lalu dia pergi setelah kau panggil?” tanyanya. Erlend juga heran. “Mungkin ada yang mati di sekitar sini.” “Ngomong -ngomong, Tuan Demigod, kau pengganti dewa dunia bawah bukan? Lantas mengapa kau tidak megetahui tentang ini?” Erlend meliriknya tajam, lalu menyundul kening gadis itu dengan ujung telunjuknya. “Aku pengganti dewa Hades, bukan berarti aku tahu segalanya tentang kematian. Bahkan ayahku juga tidak mengetahui itu. Semua kematian itu tertulis di buku takdir, dan kau kira kau membaca buku semacam itu? Itu adalah wilayah kerja Thanatos sebagai dewa kematian.” “Oh.” “Dan …” Erlend spontan melepaskan mantelnya ketika guyuran hujan mulai terjadi. Dia menggunakan mantel itu untuk menutupi kepala Laura. Sikapnya ini spontan dilakukan sehingga dia sendiri tidak tahu kalau ini adalah perbuatan yang sangat baik. “Sebaiknya kita kembali ke kediamanku lagi, aku curiga ada sesuatu. Sejak pagi rasanya aku seperti dihalangi bertemu Thanator, aku pun tak bisa mengubunginya.” Laura masih tertegun karena berada di bawah ketiak seorang laki-laki. Dadanya berdebar, ini adalah hal yang pertama kalinya terjadi dalam dirinya. Untuk sejenak, dia merasa seperti melihat sisi lain dari demigod yang suka marah dan membentak ini. “Ayo pergi,” ajak Erlend mennuntun mereka untuk berlari menyebrang jalan, lalu melintasi gang dan kembali ke jalanan sepi. Demigod ini menggendong Laura lagi untuk melompati pagar tinggi, dan berlari secepat kilat menuju ke rumah. Dia terpaksa melakukan itu untuk menghindari air hujan yang semakin menggila. Demi melindugi Laura, dia bahkan menyelimuti gadis itu dengan mantelnya, sedangkan dirinya basah oleh air hujan. . . . Erlend menjentikkan jarinya saat sudah berada di depan pintu rumah. Pintu rumah pun terbuka secara misterius karena kekuatannya. Laura diturunkan begitu sudah sampai di dalam. “Kau …” Laura melihat Erlend yang basah kuyup, dari rambut sampai sepatu yang dia pakai. Dia meneguk ludah saat melihat d**a pemuda ini yang terlihat jelas bentuknya karena kemeja putihnya basah sehingga melekat. Erlend mengibaskan rambutnya layaknya anjing basah. “Kau basah .. sebaiknya keringkan dirimu.” “Well … harusnya aku yang bilang begitu.” Laura melihat dirinya sendiri, Sebagian bajunya memang basah, tapi tak sebasah pemuda itu. “Sebaiknya kita ganti pakaian. Kau … punya pakaian untukku kan? Aku wanita …” “Tidak, kau bisa pakai bajuku.” “Apa kau bilang!” Erlend memasang wajah datar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD