Awal Mula Mimpi Buruk Kaira
Mata bening itu terus meneteskan air mata. Air mata yang begitu menyakitkan dari sebuah tragedi menjijikan yang mulai hari ini akan menjadi mimpi buruk dari setiap malamnya.
Menangis dan terus menangis.
Berulang kali pemilik mata indah itu menyeka air matanya, tapi air matanya itu terus saja mengalir. Seperti tidak ada habisnya.
"Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padaku? Aku tidak mau menerimanya! Aku tidak terima mendapatkan perlakuan seperti ini! Kenapa harus aku? Kenapa semua ini harus aku alami?”
Kaira Adelia Putri Sasongko itulah nama lengkapnya. Wanita cantik yang saat ini sedang melontarkan pertanyaan-pertanyaan putus asa atas nasib yang tengah dialaminya.
Kaira mengernyitkan matanya ketika merasakan sinar matahari mulai masuk lewat celah jendela. Silau. Rasanya menyilaukan mata.
Hari sudah pagi, ia beranjak dari tempat tidur yang terasa sangat asing untuknya ini. Tubuhnya yang terasa remuk, begitu perih untuknya bergerak. Iapun berjalan tertatih menuju jendela dan membukanya.
"Sinar mentari ini terasa di permukaan kulitku. Aku memejamkan mata untuk menikmatinya... Namun, saat aku mencoba membuka mataku, ini terasa terasa pedih di mata. Mungkin karena silaunya sinar mentari, atau mungkin karena hari ini aku terlalu banyak menangis?"
Kaira menggigit bibir bawahnya karena sudah tahu jawaban pasti tentang pertanyaannya itu.
Namun, ia segera menghapus air matanya. Kemudian, ia memutuskan untuk mandi, dengan harapan agar semua noda-noda yang melekat tubuhnya akan hilang. Namun, itu sia-sia.
Semua noda itu masih ada dan bahkan banyaknya bekas cumbuan merah kebiruan itu akan selalu mengingatkannya akan betapa kotornya dirinya saat ini.
"Kesucian ku sudah diambil. Ini lebih menjijikan dari yang aku kira... Tch, kenapa aku menangis lagi? Dasar Bodoh! Bodoh! Bodoh!”
***
FLASHBACK
'Maaf karena tidak bisa menjadi ayah yang baik.'
Itu adalah pesan terakhir dari ayahnya Kaira yang ditulis di dalam selembar kertas. Memo itu ditemukan di meja kerja sang ayah beberapa waktu setelah sang ayah ditemukan meninggal karena melompat dari lantai 8 kantor kerjanya.
Ya, Adi Sasongko yang merupakan ayah kandungnya Kaira meninggal karena bunuh diri. Alasannya karena perusahaan yang dirinya pimpin mengalami kebangkrutan dan memiliki hutang yang tidak sanggup dibayar meskipun sudah menjual semua aset yang dimilikinya.
Lalu, entah bagaimana, tiba-tiba saja ibunya Kaira menghilang bak ditelan bumi. Meninggalkan Kaira sendirian sisa-sisa hutang keluarga yang belum dilunasi.
Tidak sampai 1 bulan, anak malang ini sudah kehilangan semuanya. Kehilangan orang tua, bisnis milik keluarga, dan bahkan rumah hangat peninggalan Ayah dan Ibunya.
"Saya mohon Tuan, tolong biarkan saya tetap meninggali di rumah ini. Rumah ini adalah satu-satunya peninggalan kedua orang tua saya." Kaira memohon sambil menangis kepada petugas bank yang ingin menyita rumahnya.
"Maafkan saya, Nona... Tapi rumah ini sudah disita karena hutang-hutang ayah anda yang belum lunas."
"Saya yang akan melunasinya. Tapi tolong janan ambil rumah ini."
"Nona, Anda tidak mengerti, ya? Hutang-hutang ayah Anda jumlahnya sangat besar. Bahkan, rumah ini saja belum cukup untuk melunasinya."
"Tapi ayah saya baru meninggal..."
"Saya turut berduka cita akan meninggalnya ayah Anda. Namun, hutang tetaplah hutang dan Anda adalah ahli warisnya. Semua hutang dilimpahkan kepada Anda."
"Saya pasti akan membayar dan mencicil hutang ayah saya sampai lunas. Tapi tolong jangan ambil rumah ini. Kalau rumah ini diambil, saya mau tinggal dimana. Lagian, ini satu-satunya kenangan dari ayah saya."
Kaira menangis lagi. Hal ini membuat petugas bank merasa iba karenanya.
"Begini saja, Nona... Saya akan memberikan Anda kesempatan untuk kembali mengambil rumah ini, dengan catatan, dalam waktu setengah tahun, Anda bisa melunasi 50% sisa hutang ayah Anda. Jika dalam waktu itu Anda tidak bisa melunasi, dengan terpaksa, saya dan pihak bank akan melelang rumah ini."
50% dari sisa hutang sang ayah itu tetap masih banyak. Masih ada sekitar 4 Milyar lebih. Bagi dirinya yang sekarang tidak memiliki apa-apa, jumlah itu tentulah menjadi nilai yang sangat besar. Bekerja seumur hidup sesuai UMR kotanya saja pasti juga tidak akan membuat hutang itu lunas. Belum lagi bunganya.
Namun, kalau ia tidak setuju, rumah ini bisa benar-benar hilang dari hidupnya. Rumah ini bisa dibeli dan dimiliki oleh orang lain.
Ya, 50% dari jumlah hutang ayahnya itu setara seharga rumah ini.
"Jadi bagaimana, Nona? Apa Anda setuju?"
"Apakah bisa sepertempatnya, Tuan? Tolong lah, saya masih kuliah."
"Maaf Nona, itu tidak bisa ditawar lagi. Padahal Anda sudah tahu jika saya dan pihak kami ini sudah berusaha baik pada Anda. Tolong jangan persulit kami juga karena ini sudah membutuhkan tanggung jawab besar pada atasan."
"Tuan, atasan Anda dan pemilik A Bank adalah paman saya. Beliau pasti akan mempertimbangkan keinginan saya. Tolong coba tanyakan dulu pada beliau."
Petugas bank itu kemudian menelpon pada atasannya yang salah satunya merupakan paman kandungnya Kaira. Setelah bebicara ini dan itu, akhirnya sang paman mengabulkan permintaannya Kaira.
"Selamat Nona, Anda hanya harus melunasi seperempatnya saja untuk kembali menempati rumah ini. 2 Milyar dalam waktu setengah tahun."
Kaira langsung tersenyum dan mengucapkan banyak terima kasih pada petugas bank dan tentu saja paman kandungnya. Meski ia tahu, pamannya itu sebenarnya sudah sangat berubah ketika tahu jika bisnis keluarga milik sang ayah mengalami kebangkrutan.
Sudahlah, kalau lagi miskin dan di bawah, semua kan memang akan menjauh, termasuk anggota keluarga. Miris dan menyedihkan sekali sih, tapi syukurlah, meski begitu, setidaknya sang paman masih lumayan peduli pada dirinya.
2 Milyar dalam setengah tahun, ya?
Meski sudah turun, tapi tetap saja, kan? Ini tetap nominal yang sangat besar bagi dirinya.
Hingga pada akhirnya, Kaira pun bisa lebih tegar ketika melihat rumah yang selama 21 tahun ia tempati ini diberi tanda disita bank.
"Ayah, Ibu, tenang saja, aku pasti akan menyelamatkan rumah kita!"
Kaira kemudian melangkahkan kaki sambil menenteng satu koper dan satu tas ransel miliknya. Ia harus segera mencari tempat tinggal baru dan mulai cari kerja untuk melunasi 2 Milyar utang untuk kembali memiliki rumah ini.
Hingga akhirnya, ia tiba-tiba saja bertemu dengan seorang laki-laki usia lima puluhan tahun di depan gerbang rumahnya yang disita. Laki-laki tua itu ternyata teman lama ayahnya yang hilang kontak. Baru tahu tempat tinggal ayahnya ketika berita tentang bunuh diri ayahnya yang ramai di media berita.
Kemudian, laki-laki tua itu memintanya untuk ikut dengannya. Laki-laki tua itu merasa iba melihat keadaan dirinya yang terlihat menyedihkan. Laki-laki tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Paman Sam.
Rupanya, Paman Sam ini sedang mencari asisten rumah tangga tambahan. Kaira yang memang sangat membutuhkan tempat tinggal dan pekerjaan, tanpa pikir panjang langsung menerima tawaran itu, tanpa curiga, tanpa khawatir akan apapun yang akan menyimpannya di masa depan.
"Tuan Muda, saya membawa Nona Kaira untuk menjadi personel tambahan asisten rumah tangga di mansion ini. Saya sudah menceritakan sebelumnya tentang Nona Kaitan ini. Saya harap, Anda akan menerima dirinya tinggal dan bekerja di sini. Saya yakin dia adalah anak yang baik, saya sendiri yang akan memastikannya. Saya pun siap tanggung jawab kalau dia membuat masalah." Kata Paman Sam ketika berhasil membawa Kaira ke mansion mewah milik sang Tuan Muda.
"Hn. Terserah paman saja." Jawab singkat sang Tuan Muda yang diketahui bernama Raizel Mahendra Pamungkas.
Tuan Ray, begitu orang sering menyapa dirinya.
Kaira tidak benar-benar berani memandangi Tuan Mudanya ini, tetapi ia tahu, orang ini sangat dingin. Namun tidak masalah, yang penting orang ini baik karena menerima kehadirannya untuk tinggal dan bekerja di mansion super, super, super mewah ini.
Kira-kira, kalau ditafsir, harga mansion ini berapa, ya?
Kaira yakin, pasti lebih dari 50 Milyar!
Sisa banyak kalau dijual untuk melunasi semua sisa hutang ayahnya yang totalnya mencapai 8 Milyar itu.
***
Tuan Ray adalah orang yang sangat sibuk. Jarang Kaira melihatnya. Hanya saja, lebih dari itu, ia tahu, Tuan Mudanya itu adalah pria yang sangat tampan! Masih muda lagi.
"Katanya usianya Tuan Ray masih 25 tahun, tetapi kenapa di usia semuda itu dia sudah menjadi pebisnis yang sangat sukses? Old money memang beda, ya? Hmm, apakah suatu saat aku bisa izin pinjam uang 2 Milyar pada Tuan Ray, ya? Ah, tidak-tidak, belum genap sebulan kerja di sini, sudah mimpi yang tidak masuk akal! Sadarlah, wahai diriku! Kau bisa diterima kerja di sini dan makan enak secara gratis saja itu sudah sangat luar biasa! Jangan ngelunjak! Tuan Ray sudah sangat baik padamu, jangan mengecewakan dirinya dengan niat hutangmu!"
Kaira kemudian hendak kembali ke kamarnya setelah selesai membersihkan dapur, mencuci piring kotor. Ia lelah, ia sangat mengantuk karena hari sudah malam. Namun, tiba-tiba saja, ia melihat Tuan Mudanya pulang dalam keadaan mabuk!
Lalu... mimpi buruknya pun dimulai.
Ray yang sangat ia hormati itu memperkosanya.
FLASHBACK END