46

1115 Words

Pagi itu, matahari baru naik malu-malu di langit perumahan mereka. Hembusan angin lembut menerpa tirai putih di ruang tamu. Ayu duduk di kursi kayu, memandangi secangkir teh yang sudah mulai dingin. Di wajahnya tampak tenang, tapi matanya berkilat penuh tekad. Setelah apa yang terjadi kemarin, ia tahu satu hal — **tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh keluarganya**, terutama wanita bernama Rita. Kiano berlari-lari kecil dari kamar sambil membawa mainannya. “Mama, Kiano boleh main di halaman ya?” Ayu menoleh, tersenyum lembut. “Boleh, Nak. Tapi jangan jauh-jauh. Mama mau bicara sama Papa dulu.” Anak itu mengangguk, menenteng mobil-mobilan kecilnya ke luar rumah. Begitu Kiano menghilang di halaman, Ayu berdiri dan menatap Hendro yang duduk di meja makan. Hendro sedang menunduk, memb

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD