47

799 Words

Rita berdiri di depan kaca kamarnya malam itu, menatap pantulan dirinya sendiri yang terlihat kelelahan namun dibakar rasa iri dan marah. Ponselnya digenggam erat sampai buku jarinya memutih. Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan amarahnya, tetapi justru makin menyala. "Aku tidak terima… tidak mungkin Hendro milih gadis kampung itu daripada aku," gumamnya lirih dengan mata berkaca-kaca namun dipenuhi kebencian. Ia duduk di pinggir ranjang, tangannya bergetar. "Aku sudah ada di sisi dia dari dulu… tapi dia malah nyangkut sama Ayu? Gadis polos begitu? Gila…" Rita bangkit lagi, berjalan mondar-mandir di kamar. "Kalau Hendro mau main bersih, aku yang main kotor." Senyum miring muncul di wajahnya. Senyum yang tidak pernah terlihat sebelumnya, senyum penuh niat buruk. Ia mengam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD