Tidak Menyangka

1286 Words
Langkahnya terhenti, ketika tatapan papanya menghujam. Wajah Dinda pucat dan ketakutan. Dia tahu, papanya menunggu penjelasan. "Papa...," desis Dinda pelan. "Ini jam berapa?" tanya papa dengan suara keras, memecah keheningan malam. Dinda menelan ludah, mencari jawaban yang tepat. "Maaf, Papa. Aku ... aku baru pulang." Dinda menunduk dalam-dalam, dia tidak berani menatap mata papanya. "Pulang dari mana?" tanya papanya lagi, dengan suara meninggi. "Dari rumah teman, Papa. Dia merayakan ulang tahunnya," jawab Dinda gemetar. Papa menatapnya tajam. "Kenapa nggak memberi tahu Papa atau mama sebelumnya? Mama dan Papa khawatir, Dinda. Kamu sudah melewati batas," teriak papa. Saat itulah, langkah lembut terdengar dari atas tangga. Mama yang terbangun dari tidurnya, langkahnya mendekati Dinda. Dia meraih putrinya dalam pelukan hangat. Air matanya sudah mengalir, menandakan betapa khawatirnya mama. "Dinda, oh sayangku," bisik mama sambil memeluk erat tubuh putrinya. "Kamu bikin Mama dan Papa khawatir. Kok nggak jawab panggilan kami? Kenapa ponselmu dimatikan?" Mama membombardir dengan pertanyaan. "Maafkan aku, Mama. Aku nggak bermaksud membuat mama khawatir. Ponselku mati karena baterainya habis, dan aku lupa mengisi daya. Aku sangat menyesal." Air mata mengalir di pipi Dinda, terlihat penyesalan yang dalam di matanya. "Kamu tahu, Mama bagaimana? Kamu membuatnya stress, hingga Papa harus memberikan obat penenang padanya," ucap papa menghampiri dengan wajah cemas. "Maaf, Papa. Maaf, Mama. Aku nggak bermaksud membuat kalian khawatir. Aku sangat menyesal. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi,” ucapnya lirih, Dinda merasa bersalah membuat orang tuanya khawatir. "Kami nggak marah, Sayang. Kami hanya khawatir. Kita pernah kehilangan Bima, dan itu menyakitkan bagi kita semua. Kamu tahu, bagaimana Mama depresi setelah kepergiannya, ‘kan?" Papa menajamkan tatapannya. Dinda mengangguk pelan, hatinya teriris saat mengingat betapa sulitnya masa-masa itu. "Kamu tahu, kami khawatir bukan karena nggak percaya padamu. Kami hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." Mama menatap Dinda dengan penuh kasih sayang. Air mata Dinda mengalir deras merasa bersalah. "Aku mengerti, Mama. Maafkan aku," ucapnya di sela isak tangis. Papa mengusap lembut punggung Dinda. "Yang penting kamu baik-baik saja, Sayang. Sekarang istirahatlah." Dinda menatap Mama yang menganggukan kepala memberi isyarat agar Dinda istirahat. Dinda melangkah meninggalkan ruang tamu, menuju kamarnya. Dia melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai. Kesedihan terpancar jelas di wajahnya. Di sudut kamar, meja belajar kecilnya dipenuhi dengan buku-buku dan foto-foto. Matanya tertuju pada satu foto yang di bingkai kayu diletakan di antara tumpukan buku-buku tebal. Dinda mengambil foto itu perlahan, terpampang senyum cerahnya bersama sosok kakaknya, Bima. Dia menggenggam erat foto itu sambil duduk di tepi tempat tidurnya. Air mata mulai membasahi pipinya, pikirannya melayang mengingat kenangan manis dengan Bima. "Aku merindukanmu, kak Bima. Aku merindukan saat-saat bersama, cerita tentang masa kecil kita." Dinda menangis lebih keras, membiarkan rasa kehilangan dan rindunya terlukis jelas di wajahnya. Dinda menatap kembali foto bersama Bima, sambil menyeka air matanya. "Aku akan mencoba lebih baik lagi, kak. Aku janji." Dinda meletakkan foto itu kembali di tempatnya semula. *** Pagi itu, dengan ceria seakan tidak terjadi apa-apa, Dinda bersiap untuk melakukan aktivitasnya untuk kuliah, dia melangkah tanpa beban menuju meja makan. “Selamat pagi, Ma, Pa,” sapanya dengan senyuman lebar. Mama dan papa pun seperti sudah melupakan kejadian malam tadi. “Pagi, Sayang. Kamu kuliah pagi?” balas mama menatap putri kesayangannya. Dinda mengangguk pelan. “Oh iya, Papa semalam lupa tanya. Kamu di antar siapa? Ngga mungkin supir taksi, karena Papa lihat kamu melambaikan tangan saat mobilnya pergi,” ujar papa menuntut jawaban. Dinda yang sedang mengunyah sarapannya langsung mendongak menatap papanya. “Jadi, Papa ngintip ya?” sindir Dinda mengerucutkan bibirnya. Mata papa mendelik kaget. “Eh, Papa bukan ngintip! Papa memperhatikan. Ini, sebagai tanggung jawab sebagai seorang Papa. Mengerti?!” ucap papa tegas. “Iya, aku ngerti kok, Pa. Semalam, aku diantar Kak Arkhan, teman kuliah almarhum Kak Bima. Itu lho, Pah yang dulu sering main ke sini,” sahut Dinda santai. “Oh, yang dulu takut sama kamu, ya? Akhirnya nggak berani main lagi. Yang itu, bukan?” tanya papa dengan senyuman mengejek. Arkhan Prasetyo adalah laki-laki yang pernah menghilang karena ketakutan oleh pernyataan cinta Dinda yang terlalu berani. Saat itu Arkhan kuliah di kampus dan jurusan sama dengan Bima, kakaknya. Dan Dinda masih duduk di bangku SMP. “Waduh, Papa masih ingat. Aku jadi malu.” Dinda menunduk dengan senyuman tersipu. “Eh, Mama ada surat untuk Arkhan dari Bima. Mama bingung mau ngasih ke siapa, jadi Mama simpan. Sebentar, Mama ambil dulu.” Mama tersenyum lebar lalu melangkah menuju kamarnya untuk mengambil surat tersebut. Dinda dan Papa saling menatap heran, melihat mama tampak bahagia. “Pa, apa Mama baik-baik aja? Tadi aku sebut nama kak Bima. Bahkan, Mama sendiri sebut nama kak Bima. Sepertinya dia udah mulai bisa nerima kenyataan, kalau kak Bima udah meninggal,” ujar Dinda. Hembusan nafas keluar dari mulut papa. “Dinda, kamu tahu di mana Arkhan? Kamu punya nomor ponselnya, ‘kan?” tanya Mama yang datang membawa amplop putih kecil dengan mata berbinar. Dinda mengangguk pelan. “Semalam, kak Arkhan kasih nomor ponselnya. Aku kirim ke Mama ya, nomor ponselnya.” Dinda langsung mengirim nomor ponsel Arkhan kepada mama. “Dinda, kamu suka ‘kan sama Arkhan?” tanya mama. Mata Dinda terbelalak mendengar pertanyaan mama, dia langsung meneguk air putih di dalam gelasnya. “Iya, pasti suka, Mah. Mana ada wanita yang nggak menyukainya. Dia itu laki-laki tampan dan taat agama,” sahut Dinda. “Kalau begitu, telepon dia sekarang. Katakan untuk datang ke rumah, Mama ingin bertemu!” titah mama. Papa mengernyitkan keningnya, saling berpandangan dengan Dinda. “Mama, mau apa bertemu Arkhan?” tanya papa cemas. Papa khawatir, kondisi mental mama terganggu. Papa takut mama mengalami kondisi seperti dulu. Saat almarhum Bima mengalami kecelakaan dan meninggal. Papa khawatir, kedatangan Arkhan membuat ingatan mama kembali pada Bima, saat dia belum pergi. “Mama hanya mau bicara dengannya, karena dia mendapat pesan dari Bima. Mama senang, karena Dinda bertemu Arkhan. Sekarang, Mama sudah nggak merasa terbebani lagi, karena surat dari Bima bisa di sampaikan kepada Arkhan.” Mama menjawab santai. Dinda menatap mama penuh keheranan. Sedangkan Papa menarik nafas lega. "Ternyata itu alasan mama," gumam papa dalam hati. “Ayo, Dinda. Kenapa diam? Telepon Arkhan!” titah mama tegas. Dinda tersentak. “Iya, Mah.” Dinda langsung menghubungi Arkhan. “Halo,” jawab Arkhan dari seberang. “Kak, ini Dinda. Mama ingin bertemu dengan Kakak. Ada surat dari kak Bima untuk Kak Arkhan.” Hembusan napas keluar dari mulut Arkhan, Dinda bisa merasakan kesedihan Arkhan. Apalagi saat Bima berpulang, Arkhan tidak dapat menghadiri pemakaman, karena saat itu, dia sedang berada di Kanada. “Baiklah, nanti sepulang kerja, aku akan mampir ke rumahmu. Tolong sampaikan salam untuk mamamu,” jawab Arkhan pelan. “Oke, Kak. Nanti, akan aku sampaikan.” Dinda menutup sambungan teleponnya lalu mengatakan pada mama, kalau Arkhan bisa datang sore hari. Mata mama berbinar dengan wajah yang berseri saat mendengar Arkhan bisa datang ke rumah. Setelah sarapan, Dinda langsung memesan ojek online. Dia bergegas berpamitan saat ojeknya datang. *** Riana dan Dina berkumpul di kantin kampus menunggu kedatangan Dinda dengan sabar, sambil menyeruput minuman es jeruk kesukaan mereka. “Sorry ya, gue telat,” sesal Dinda menyapa kedua sahabatnya lalu duduk di sebelah Dina. “Lo, udah sarapan, ‘kan? Yuk kita ke gedung serba guna, acara seminar udah mau mulai!”ajak Riana. Tanpa pikir panjang, Dinda dan kedua sahabatnya melangkah menuju gedung serba guna kampus. Di sana sedang diadakan seminar dengan judul ‘Penerapan Teknologi Komputer Di Dunia Kerja.’ Dinda langsung mencari tempat duduk nyaman bersama kedua sahabatnya. Saat pembawa acara memanggil nara sumber. Dinda benar-benar terkejut melihat seorang laki-laki berperawakan tinggi, atletis dan berwajah tampan memasuki ruangan dan duduk di podium. Tepuk tangan meriah terdengar dari para mahasiswa dan mahasiswi yang hadir dengan tatapan kagum. “Kak Arkhan!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD