Apa Kita Jodoh?

1157 Words
“Lo, kenal Kak Arkhan Prasetyo?” tanya Dina ketika dengan spontan Dinda menyebut nama Arkhan seolah dia mengenalnya. "Dia itu teman baik almarhum kak Bima," ucap Dinda antusias. "Dinda, serius? Dia keren," puji Dina sambil memperhatikan dengan seksama. "Dia punya karisma yang luar biasa," tambah Riana, matanya tak lepas dari penampilan Arkhan yang karismatik. “Din, lo bisa kenalin kita ‘kan?” Riana menatap Dinda mengintimidasi. “Iya, Din. Kenalin, ya!” Dina memohon. Mata Dinda mendelik mendengar permintaan kedua temannya. “Kalian mau apa? Kak Arkhan itu cinta pertama gue.” Dinda berkata sedih. “What?” desis kedua temannya bersamaan dengan mata membesar. “Apa? Jangan bercanda, Dinda!” kata Dina ketus. “Gue nggak bercanda, dan itu adalah cerita satu-satunya dalam hidup gue. Ditolak cowok!” Dinda mengerucutkan bibirnya. Dina dan Riana saling berpandangan, lalu tertawa kecil mendengarnya. “Sudah, nggak usah sedih. Itu masa lalu. Yang penting, kalau lo masih cinta, lo kejar!” Dina berkata penuh semangat. Dinda memutar kepala, menoleh ke arah Dina. “Kak Arkhan udah nikah. Sold out! Nggak ada harapan buat ngejar cintanya. Masa, gue jadi pelakor.” Dinda menunduk sedih. “Yah, kalau gitu udah nggak ada harapan. Jangan sampai kita pakai cara nggak bener, dosa!” pekik Riana. Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya sedih. “Udah, terima Andri aja, Din!” saran Dina. Dinda mengerucutkan bibirnya sembari menggerutu. Andri memang laki-laki yang mengejar Dinda dari pertama masuk kuliah, dia sudah beberapa kali menyatakan cintanya dengan gigih dan penolakan selalu didapatkannya. Dinda menolaknya bukan karena Andri tidak tampan, tapi Dinda memang tidak ingin berpacaran seperti pesan Bima padanya. Dinda ingin langsung menikah dengan orang yang dicintainya. Acara seminar selesai, Dinda bersama dengan kedua temannya menghampiri Arkhan. “Kak Arkhan!” panggil Dinda. Arkhan langsung menoleh ketika mendengar suara Dinda. “Kamu, hadir? Aku pikir, cewek seperti kamu malas ikut-ikut seminar,” tuduh Arkhan dengan senyum manisnya. “Ih, jangan remehin aku loh. Lihat aja nanti, aku pasti bisa lebih sukses dari Kakak!”protes Dinda percaya diri. Arkhan tertawa kecil, wajahnya semakin terlihat tampan saat tawa itu menghiasi wajahnya. Dina dan Riana sampai terpesona melihatnya. Namun, mereka cepat-cepat menguasai diri, mengingat laki-laki tampan di hadapan mereka itu sudah ada pemiliknya. “Kalian temannya, Dinda?” tanya Arkhan ramah menatap Dina dan Riana bergantian. Spontan keduanya mengangguk cepat. “Belajar yang rajin ya, adik-adik. Semoga kalian bisa berhasil,” ucapnya ramah. “Kak, boleh tanya nggak?” celetuk Dina. Arkhan mengangguk. “Tentu aja, boleh,” balasnya. “Kakak, punya saudara atau keponakan yang gantengnya sama seperti, Kakak nggak?” tanya Dina dengan suara manja dan senyuman tanpa malu. Mulut Arkhan menganga, terkejut dengan pertanyaan yang tak terduga itu. Wajahnya berubah salah tingkah. “Maaf, aku harus kembali ke kantor,” ujarnya menghindar sembari melangkah pergi. “Kak!” panggil Dinda mengejar Arkhan. Arkhan menghentikan langkah cepatnya dan membalikkan tubuhnya. “Iya, ada apa, Din?” tanyanya dengan wajah cemas. “Dih, kenapa wajah Kakak seperti lihat hantu sih! Kakak takut aku nyatain perasaan seperti dulu lagi?” bisik Dinda menggoda. Arkhan tersentak mendengarnya. “Hehehe, nggak usah takut, Kak. Aku juga bisa menempatkan diri kok. Aku cuma mau ingetin, nanti sore jangan lupa ke rumah. Mama menunggu!” teriak Dinda mengingatkan. Ekspresi wajah cemas Arkhan langsung berubah, dia tersenyum dan mengangguk, lalu pergi meninggalkan Dinda yang masih menatapnya. Dinda merasakan getaran yang sama saat menatap wajah Arkhan. Wajah itu membawa memori indah dari masa kecilnya. Kenangan saat kakaknya, Bima dan Arkhan selalu berbagi tawa. Meskipun Bima telah pergi, kehadiran Arkhan membuatnya merasakan kehangatan yang hilang. Dinda merasa seolah-olah Bima ada di sana bersamanya melalui kehadiran Arkhan. “Eh, jangan diliatin terus. Bukannya, lo nggak mau jadi pelakor? Ingat, Kak Arkhan udah nikah!” Dina berkata sembari menyenggol bahu Dinda mengingatkan, melihat tatapan Dinda pada Arkhan yang penuh kekaguman. Dinda cemberut kesal. “Iya, gue ngerti. Yuk kita ke kelas!” ajak Dinda, melangkah meninggalkan kedua temannya. Sore itu, Dinda melangkah melewati teras rumah yang tenang, matahari terbenam memberikan sentuhan emas pada langit senja. "Dinda, kamu sudah pulang! Bagaimana hari ini, Sayang?" tanya mama dengan senyum hangat. Dinda mengangguk lembut, melepaskan tasnya. "Hari ini baik, Ma. Capek sedikit, tapi sekarang bisa istirahat di rumah." "Mama senang kamu pulang. Coba hubungi Arkhan. Ingatkan untuk datang ke sini setelah pulang kerja," titah mama sambil mengamati putrinya dengan penuh perhatian. Dinda terkejut karena mamanya tampak semangat, lalu tersenyum sambil menolak. "Ma, sebenarnya tadi pagi aku sudah mengingatkan Kak Arkhan. Dia memberi materi seminar di kampusku. Dia pasti akan datang setelah selesai kerjanya." "Tapi, Sayang, Mama hanya ingin memastikan dia nggak lupa. Kamu bisa coba menghubunginya sebentar?" pinta mama dengan lembut. Dinda menggelengkan kepalanya. "Tenang saja, Ma. Kak Arkhan nggak akan lupa. Dia selalu ingat apa yang dijanjikannya," ucap Dinda meyakinkan. Saat deru mesin mobil berhenti di depan rumah, mama segera melangkah mendekati jendela dan mengintip keluar. Matanya bersinar cerah ketika ia melihat sosok yang ia nantikan. Arkhan turun dari mobil dengan langkah mantap. Tidak sabar menunggu, mama membuka pintu sebelum Arkhan sempat menekan bel rumah. "Arkhan!" sapa mama dengan wajah berseri-seri, senyumnya merekah penuh kegembiraan. Arkhan tersenyum ramah. "Assalamu alaikum, Tante. Apa kabar?" sapa Arkhan sopan. “Wa alaikum salam, Tante baik-baik saja. Ayo masuk!” ajak mama dengan mata berbinar. Sementara itu, Dinda yang berada di ruang tengah terdiam sejenak, terpaku heran menyaksikan antusiasme luar biasa yang ditunjukkan mama menyambut kedatangan Arkhan. Dia melangkah masuk ke ruang tamu dengan senyum hangat. "Hai, Dinda," sapa Arkhan dengan senyum khasnya yang mempesona. Dinda tersenyum tipis. "Hai, Kak,” balas Dinda sembari mempersilahkan Arkhan duduk. Mama meminta tolong kepada bibi untuk membuatkan minuman. Setelah bibi datang menyuguhkan minuman, mama memberikan amplop putih yang berisi surat dari almarhum Bima kepada Arkhan. Mata Arkhan berkaca-kaca membuka isi suratnya. Tangan Arkhan gemetar membaca isi surat itu, matanya terbelalak. Dinda yang selalu ingin tahu tentu mendesak Arkhan memberitahu isi surat tersebut. “Kenapa, Kakak terlihat terkejut. Apa isinya?” tanya Dinda. Arkhan melipat kembali surat tersebut dan memasukkan ke dalam amplop tanpa menjawab pertanyaan Dinda yang menatapnya menuntut jawaban. “Mama udah baca isi surat itu. Karena saat memberikannya pada Mama, Bima nggak memasukkannya ke dalam amplop. Mama yang memasukkan ke dalam amplop itu,” ucap mama membuat Arkhan terlihat salah tingkah. “Ja-jadi, Tante udah tahu isinya?” Arkhan bertanya memastikan. Mama mengangguk pelan. Dinda menatap keduanya penuh selidik. Arkhan tampak membisu. Hembusan nafas keluar dari mulut mama “Maukah kamu menjaga Dinda seperti keinginan Bima?” tanya mama dengan tatapan mengintimidasi. “Aku dan Dinda berbeda jauh umur Tante. Kami juga bukan saudara kandung, kami laki-laki dan perempuan. Aku nggak bisa terlalu dekat dengannya,” sahut Arkhan terlihat menyesal. “Bagaimana kalau kamu menikah dengan Dinda. Jadi, kamu bisa menjaganya!” saran mama. Mata Dinda melotot mendengarnya. “Eh, apa yang Mama bicarakan? Kak Arkhan sudah menikah, dia sudah punya istri, Ma!” sela Dinda, sebelum mamanya mendesak dan menginginkan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD