Arkhan menatap Dinda, lalu manik matanya kembali pada surat yang dipegangnya.
“Baik, Tante. Aku akan menjaga Dinda, seperti pesan Bima. Aku akan menikahi Dinda, agar hubungan kami tidak salah. Aku akan mencintainya sebagai istriku!” ucapnya lantang penuh keyakinan. Mata Dinda terbelalak mendengarnya. Dia langsung menolak keras dengan suara lantang
“Eh, tunggu-tunggu! Aku, nggak mau jadi istri kedua. Kakak nggak bisa memutuskan begitu aja. Kakak belum tanya istri Kakak dulu!” protes Dinda.
Meskipun hatinya berdegup kencang untuk Arkhan, Dinda sadar bahwa kebahagiaan yang dia inginkan, tidak boleh dibangun di atas luka orang lain. Khususnya, jika melibatkan istri Arkhan sendiri. Baginya, prinsip itu bukanlah sekadar kata-kata kosong, melainkan pedoman hidupnya.
Cinta sejati bukanlah tentang meraih kebahagiaan sendiri dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain, Dinda memilih untuk meneguhkan prinsipnya. Meskipun sulit, dia bertekad untuk menghormati batas-batas yang tidak boleh dilanggar, tidak peduli seberapa besar cinta yang dia miliki.
“Insya Allah, istriku setuju,” balas Arkhan yakin.
“Nggak bisa gitu. Aku yang nggak setuju, karena seakan, Kak Arkhan memaksakan keinginan. Aku yakin sebagai wanita, di dalam hatinya pasti sakit saat suami meminta ijin menikahi wanita lain!” tegas Dinda dengan sorot mata tajam.
Laki-laki yang sangat di hormati dan dikaguminya itu menjadi menyebalkan untuknya saat itu. Arkhan menundukkan pandangannya dengan tatapan sendu dan menarik nafas dalam-dalam.
Mama kesal mendengar ucapan Dinda yang tidak terima dengan keputusan mama dan Arkhan.
“Bukankah kamu juga menyukai Arkhan? Kenapa malah menolaknya? Dia laki-laki yang baik. Mama akan tenang jika kamu mendapat pengawasan dari laki-laki baik seperti Arkhan!” bisik mama dengan tatapan mengintimidasi. “Tapi, Mah ....“ ucapan Dinda terjeda.
“Dengar, Sayang. Terus terang Mama khawatir dengan pergaulan anak-anak sekarang. Dulu, ada Bima yang bisa mengawasimu. Mama benar-benar khawatir,” ucap mama pelan dengan tatapan cemas.
“Mah, aku yakin. Nggak ada yang nggak menyukai Kak Arkhan. Hanya masalahnya dia sudah menikah dan aku nggak bisa berbagi suami. Lebih baik, aku mengalah dan mundur mencari laki-laki lain, daripada harus mengejar orang yang sudah menikah. Aku yakin istrinya juga pasti tidak akan suka dengan keputusan ini, Mah.” Dinda beralasan.
“Aku memang sudah menikah, tapi istriku sudah pergi. Aku selalu berdoa dia ada di surga. Aku yakin dia merestui keputusanku.” Arkhan menyela pembicaraan. Mata Dinda terbelalak mendengarnya.
“Ja-jadi, istri Kak Arkhan sudah meninggal?” tanya Dinda tak percaya. Arkhan mengangguk sambil tersenyum getir.
“Maaf, aku nggak tahu,” sesal Dinda.
“Nggak apa-apa,” sahut Arkhan.
“Jadi, bagaimana? Kamu mau ‘kan menikah dengan Arkhan?” desak mama dengan tatapan mengintimidasi.
“Apakah, Mama udah bicara dengan papa? Memangnya papa setuju dengan keputusan ini? Aku masih kuliah lho!”
“Mama udah bicara dengan papa, dan papa setuju kalau kamu juga menyetujuinya.” Mama berkata dengan penuh keyakinan.
“Maaf, kalau aku menyela pembicaraan. Karena ini adalah keputusan yang sangat besar, aku nggak mau Dinda merasa menyesal mengambil keputusan dengan terburu-buru. Terus terang, aku menyayangi Dinda seperti adikku. Saat membaca pesan Bima, dalam hatiku aku memutuskan untuk menunaikan pesan itu.”
“Boleh aku tanya sesuatu?” Dinda menatap Arkhan dengan ekspresi serius. Arkhan mengangguk pelan. Hembusan nafas keluar dari mulutnya.
“Apakah, Kak Arkhan juga menyukaiku? Aku nggak mau menikah dengan laki-laki, hanya karena terpaksa.”Dinda menatap Arkhan.
Seperti biasanya, Arkhan menunduk dalam-dalam tanpa berani menatap Dinda. Dulu Dinda pernah dengan lancang bertanya dan menegur Arkhan karena selalu menunduk jika bicara dengan Dinda. Dia masih ingat dengan jelas jawaban Arkhan. “Karena laki-laki harus menundukkan pandangan.” Katanya saat itu.
“Iya, aku menyukaimu sebagai seorang laki-laki. Aku merasa hatiku yang membeku bisa kembali cair saat mengingatmu. Aku belum bisa mengatakan itu perasaan cinta, hanya saja aku harap itu bisa menjadi dasar untuk mencintaimu,” sahut Arkhan.
“Mama bangga padamu Arkhan, di depan Mama kamu berani mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Mama jadi semakin yakin untuk menjadikanmu suami Dinda.” Mama menatap Arkhan penuh kekaguman. Arkhan salah tingkah dibuatnya. Dinda masih terdiam. Arkhan tahu Dinda perlu waktu untuk berpikir.
“Tante, saya pamit pulang dulu. Mungkin Dinda ingin berpikir dulu untuk memutuskan yang terbaik.” Arkhan tersenyum sopan. Mama yang melihat kegalauan putrinya, mengangguk saat Arkhan mohon pamit.
Arkhan mencium punggung tangan mama dan melempar senyuman kepada Dinda. Senyumannya memang menggetarkan hati, tapi Dinda bingung apakah dia siap untuk menikah dengan laki-laki taat seperti Arkhan? Pikirnya dalam hati.
Mama mengantar Arkhan yang pamit pulang sampai di teras rumah. Namun, Dinda yang masih terkejut dengan perjodohan tiba-tiba, masih membeku di ruang tamu. Hingga kemudian, dia melangkah masuk ke kamarnya dengan penuh kebingungan. Mama tersenyum.
"Arkhan, terima kasih telah datang dan memahami keadaan. Tante tahu, ini bukan keputusan yang mudah bagimu." Arkhan menunduk hormat
"Iya Tante, aku juga mengerti perasaan dan keputusan Dinda sangat penting. Aku ingin, Dinda memutuskan sendiri dengan hati yang tenang."
"Kamu benar Arkhan. Tante tahu, kamu adalah pria yang baik. Kamu lelaki yang bijaksana. Semoga Dinda bisa melihat kelebihanmu itu dan segala sesuatunya menjadi lebih baik bagi kalian berdua."
“Terima kasih Tante atas kepercayaannya. Aku pamit.” Arkhan melempar senyum sembari mengangguk sopan, lalu melangkah menuju mobil yang terparkir di depan rumah Dinda.
Di tengah cahaya senja yang semakin memudar, Arkhan melambaikan tangan, sementara Mama memandanginya dengan harapan bahwa segalanya akan berjalan dengan baik. Mama masuk ke dalam rumah dan melangkah menuju kamar Dinda. Dia mengetuk pintu kamar Dinda pelan.
"Dinda, bolehkah Mama masuk sebentar?" Dinda menjawab dengan suara yang sedikit gemetar.
"Oh, iya, Ma. Silakan masuk." Mama melangkah masuk ke dalam kamar Dinda. Dia duduk di sebelah Dinda di ranjang.
"Sayang, Mama bisa melihat dari ekspresimu bahwa ada sesuatu yang mengganggumu. Benar, ‘kan?" tanya mama. Dinda memandang mama lekat-lekat.
"Ma, tadi ... tadi kenapa, Mama setuju begitu saja dengan perjodohan itu? Ini bukan zaman di mana kita diatur begitu saja!" Mama menggenggam tangan Dinda lembut.
"Mama mengerti, Sayang. Maafkan Mama, jika keputusan itu membuatmu terkejut. Sebenarnya, Mama nggak ingin memaksamu. Tapi, ada hal-hal yang belum Mama sampaikan padamu."
"Apa itu, Ma?” tanya Dinda. Mama menatap ke segala arah dengan tatapan sendu.
“Saat Bima di rawat, dia meminta agar kamu dan Arkhan menikah. Tentu saja saat itu, Mama menolak. Mama pikir Arkhan sudah menikah. Namun, Bima mengatakan kalau istrinya meninggal dalam kecelakaan.”
“Jadi, Mama udah tahu kalau kak Arkhan duda?” tanya Dinda lagi. Mama mengangguk pelan.
“Pikirkan baik-baik. Bima menjodohkanmu dengan Arkhan, pasti karena dia tahu sahabatnya itu sangat baik,” ucap mama lembut. “Aku bingung. Kak Arkhan itu orang yang baik, tapi ... tapi bagaimana dengan cinta, Ma? Bagaimana dengan perasaannya?"
"Cinta itu hadir dari banyak bentuk. Dan bagaimana cinta itu tumbuh, terkadang kita tak pernah tahu. Cinta yang tumbuh dari pengertian dan waktu, juga berharga." Mama berkata sembari membelai rambut Dinda. "Tapi, bagaimana jika kak Arkhan nggak bisa mencintaiku, Ma?"
“Yang penting, berikan kesempatan pada waktu. Kalian berdua memiliki kesempatan untuk saling mengenal, siapa tahu di sana kalian menemukan sesuatu yang bisa menjadi landasan untuk cinta yang tumbuh." Dinda terdiam sejenak, merenungi kata-kata Mama.