Benarkah Papa Selingkuh?

1100 Words
Dinda masih termenung tak percaya. Arkhan adalah sosok laki-laki idamannya. Dia masih ingat, saat tahu kalau Arkhan sudah menikah, dia menangis semalaman seakan dunia runtuh. Bima, sebagai kakaknya menghiburnya. Dinda masih ingat, kakaknya saat itu berkata “Kalau sudah takdir pasti akan dipertemukan lagi.” Saat Bima berkata seperti itu, Dinda tahu ucapannya hanya ingin menghiburnya. Namun, kini saat laki-laki idamannya itu bersedia menikahinya, Dinda bingung. Dia merasa belum siap karena tentu akan banyak perubahan yang akan terjadi. Dinda menyadari kalau dia mengagumi kegagahan, kesolehan akhlak Arkhan. Namun, dia juga tahu kalau dirinya harus berubah untuk menyeimbangkan diri dengan Arkhan. “Aduh, gimana ini. Kak Arkhan pasti nyuruh aku pakai hijab. Jangan-jangan, aku di suruh hapalin Al-Quran juga. Mati aku!” gumam Dinda dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya. Dinda mengambil ponselnya mencari nomor kontak sahabatnya untuk meminta pendapat soal masalahnya. “Halo.” Terdengar suara Riana dari seberang. “Gue, mau curhat,” ucap Dinda dengan nafas memburu. “Aduh, Din. Sorry ya, gue disuruh mama untuk ke rumah bu RT bayar arisan. Nanti aja ya curhatnya besok di kampus atau nanti malam, gue telepon lu, ya. Bye, Din!” Sambungan telepon terputus, hembusan nafas keluar dari mulut Dinda. Wajahnya tampak kecewa. “Dih, nyebelin banget. Aku cuma mau curhat,” gerutunya dengan bibir mengerucut. “Oh iya, aku telepon Dina aja.” Dengan senyuman tipis Dinda kembali mengangkat ponsel menghubungi Dina sahabatnya. “Halo,” jawab Dina dari seberang. “Halo, Din. Lagi sibuk nggak? Gue mau curhat,” ucap Dinda bersemangat. “Aduh, sorry ya, Dinda. Saudara jauh gue lagi datang. Lu, tahu ‘kan? David, yang pernah gue ceritain. Dia lagi main ke rumah. Nanti, gue telepon lagi!” Sambungan telepon pun terputus. Dinda kesal dan melempar ponselnya ke atas tempat tidur sambil mengumpat. “Nyebelin banget! Padahal masalahku lebih besar, tapi mereka nggak mau denger!” umpatnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dinda melihat pesan yang masuk. Matanya terbelalak karena yang mengirim pesan adalah Arkhan. Dinda membaca pesannya dengan seksama. Arkhan : “Kalau kamu belum yakin akan pilihanmu, serahkan urusanmu pada Allah. Cobalah sholat agar pikiranmu jernih hingga bisa memutuskan yang terbaik untuk hidupmu.” “Degg!” Dinda merasa tertampar membaca pesan Arkhan. Dia merasa malu karena sibuk mencari teman curhat bukannya mengadu pada Allah. Dia langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan salat. Entah kenapa, setelah memanjatkan doa. Dinda merasa hatinya mantap untuk menikah dengan Arkhan. Baru saja Dinda hendak membaringkan tubuhnya di tempat tidur, tiba-tiba dia mendengar suara papa dan mama seperti sedang bertengkar karena suara mereka cukup keras. Setelah sekian lama, Dinda tidak pernah mendengar pertengkaran. Namun, malam itu sepertinya pertengkaran hebat terjadi antara papa dan mama. “Apa yang sedang mereka ributkan? Kenapa mama dan papa sampai bertengkar? Aduh, apa aku menguping aja biar aku tahu apa yang menjadi masalah mereka?” Dinda bangun dari posisi duduknya hendak melangkah keluar kamar. Namun, langahnya terhenti. “Ah, masa nguping sih. Itu nggak etis, aku harus sudah belajar merubah sikapku kalau mauu menikah dengan Kak Arkhan,” gumamnya dalam hati. Dinda ragu, berjalan mondar-mandir di kamarnya. Namun, karena rasa penasaran akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar dan menguping di balik pintu kamar orang tuanya. Dinda melangkah mengendap-endap berharap bisa mendengar ucapan papa dan mama dengan jelas. “Pokoknya, aku nggak setuju Dinda menikah sekarang! Dia harus lulus kuliah dulu, Mah. Baru dia boleh menikah!” bentak papa. Dinda menarik nafas dalam-dalam. “Mama gimana sih. Padahal aku udah tanya soal ini. Mama bilang kalau papa udah tahu soal pernikahanku. Buktinya, papa malah nggak setuju dan marah-marah. Memang nggak masuk akal sih pikiran mama, menikahkanku di usia seperti sekarang ini. Seperti nggak ada laki-laki lain saja. Meskipun Kak Arkhan sangat baik dan aku mencintainya tetap saja orang akan menyangka yang tidak-tidak,” gumam Dinda dalam hati. “Papa juga heran, kenapa mama sangat ingin menikahkan Dinda!” teriak papa. “Arkhan laki-laki yang baik, Pah. Dia akan menjaga Dinda dengan baik. Kalau nggak cepat-cepat dinikahkan, nanti Arkhan akan menikah dengan wanita lain,” sahut mama enteng. “Apa-apaan ini, Mah. Memangnya menikah itu main-main? Lagipula masih banyak laki-laki lain yang baik selain Arkhan. Seperti sudah nggak ada stok laki-laki saja!” bentak papa lagi. Berkali-kali hembusan nafas keluar dari mulut Dinda yang sedang menguping pertengkaran kedua orang tuanya di balik pintu kamar. Dinda juga tidak menyangka kalau mamanya sekeras itu, menginginkan Arkhan menjadi menantunya. “Apakah mama berpikir karena Kak Arkhan adalah sahabatnya almarhum kak Bima, makanya mama ingin aku menikah dengan Kak Arkhan? Apakah, mama ingin menganggap Kak Bima masih ada dalam diri Kak Arkhan?” pikir Dinda dalam hati. Masih segar di ingatan Dinda, saat mamanya mengalami depresi berat akan kehilangan Bima. sampai-sampai harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menemui psikolog. Saat itu, kondisi mama mungkin bisa dikatakan hampir tidak waras. Untung saja pelan-pelan mama bisa sembuh karena kesabaran Dinda yang selalu menemaninya juga papa yang dengan sabar merawat penuh cinta. “Sudahlah, Mah. Jangan buat semua jadi runyam. Papa mohon, Dinda itu masih kecil. Masih banyak laki-laki baik di luaran sana. Mama nggak perlu khawatir,” ucap papa dengan nada suara lemah. Mungkin papa ingin agar mama tidak terlalu memaksakan keinginannya. “Mama tahu itu! Papa juga laki-laki baik, tapi sayangnya papa bisa mengkhianati mama saat ama depresi. Papa tahu kenapa? Itu karena ilmu agama apa yang kurang, sedangkan Arkhan, dia sangat taat. Mama ingin Dinda bahagia seumur hidupnya tanpa merasakan sakit harus berbagi suami. Papa mengerti?!” “Degg!” Jantung Dinda serasa berhenti berdetak mendengar ucapan mamanya. “Apa? Ini aku nggak salah denger?” gumamnya dalam hati dengan kedua telapak tangan menutup ke mulutnya. “Cukup, Mah. Papa mohon, jangan selalu mengungkit itu. Papa salah, papa minta maaf dan papa sudah berjanji akan menceraikannya. Papa hanya memerlukan sedikit waktu untuk membereskan masalah ini. Mama jangan sangkutkan apa yang Papa lakukan dengan Dinda. Tolonglah, Mah,” pinta papa dengan nada memohon. Hening sejenak. Dinda tidak mendengar suara papa maupun mama. Mungkin keduanya sama-sama merenung. Tinggal Dinda yang membeku tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Rasa kekecewaan menusuk dalam-dalam, menyatu dengan rasa terkejut yang menghantam seperti badai tak terduga. Seolah tanpa aba-aba, dunia yang kokoh tiba-tiba runtuh. Papa, sosok yang selama ini dipandang Dinda sebagai pahlawan tanpa cela, ternyata tak seperti yang dibayangkannya. Betapa pahitnya menyadari orang yang dikagumi dan dicintai tidak bertindak sesuai dengan harapan kita. Sulit untuk menerima kenyataan bahwa kepercayaannya seakan-akan dihancurkan seketika. Dinda melangkah menjauh menuju kamarnya dengan gontai. Dia tidak mau lagi melanjutkan, mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya. Dinda sangat menyesal telah berusaha mendengar pertengkaran yang menyebabkan dirinya tahu rahasia papa yang menjadi kebanggaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD