Bertemu Arkhan

1380 Words
Dinda duduk termenung di tepi tempat tidur, matanya masih terbelalak menangkap gambaran pahit yang baru saja terungkap. Dia tak bisa melupakan nada kesal mamanya saat mengungkapkan kebenaran tentang papanya. Hembusan nafas keluar dari mulutnya berkali-kali. Ruang kamarnya terasa begitu sesak. Mata Dinda berkaca-kaca saat dia teringat betapa harmonisnya hubungan orang tuanya di hadapannya. "Bagaimana mungkin ini terjadi?" gumamnya pelan, meremas ujung bajunya dengan gemetar. "Mama ... apa yang sebenarnya terjadi?" Tanpa terasa air matanya mengalir di pipi mulusnya. "Aku ... aku nggak pernah menyangka, Mama. Aku yakin, mama pasti sangat terluka, ‘kan?" Dinda menangis memeluk bantal guling. “Maafin, aku yang terlalu cuek dan nggak peka. Apakah ini, alasan mama memaksakan aku menikah, meski aku masih kuliah?” Dinda, masih terpaku mendekap bantal guling, hingga tiba-tiba layar ponselnya menyala dengan nama Dina tertera di layar ponsel. Tangannya gemetar saat ia menatap layar, berdebat dalam hati apakah akan menjawab atau tidak. Dinda menatap layar ponselnya. "Aku... Aku nggak yakin, apakah perlu bercerita pada Dina, tapi aku ragu. Apa yang sebaiknya kulakukan?" gumamnya lirih. Hingga akhirnya karena keraguannya, dering ponselnya yang terlalu lama berbunyi, berhenti. Sebuah pesan singkat dari Dina terpampang di layar. Dina : "Hey, tadi katanya ada yang mau, lo ceritakan?" Dinda menarik nafas dalam-dalam, berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk membalasnya. Dengan tangan gemetar, Dinda mulai mengetik pesan balasan. Dinda : "Hai, besok aja deh. Sekarang gue ngantuk!" jawabnya. Tak butuh waktu lama, balasan dari Dina datang. Dina : "Oke.” Dinda duduk di tepi ranjangnya, matanya terpejam rapat. Namun, bayangan-bayangan tentang apa yang terjadi di antara orang tuanya terus menghantuinya. Hatinya terasa sesak. Dia ingin melupakan perdebatan sengit yang terjadi antara mama dan papanya, tapi sulit bagi Dinda untuk meredakan gelisah yang menggerogoti pikirannya. “Kenapa begini rasanya? Semoga semua ini hanya mimpi buruk,” batinnya. Dia membiarkan dirinya berbaring dalam keheningan, mencoba menenangkan diri sambil menghirup napas dalam-dalam. Hingga akhirnya Dinda terlelap juga. Pagi itu, setelah membersihkan diri dan bersiap ke kampus, Dinda melangkah menuju meja makan untuk sarapan. Dinda menarik nafas panjang, saat hendak menuju ruang makan. "Selamat pagi, Sayang. Sudah siap berangkat kuliah?" sapa papa ramah. "Iya, Papa. Sudah." Dinda berusaha pura-pura tenang, menyembunyikan kekecewaan pada papa yang sangat dibanggakannya. Dinda mencoba tersenyum, meski hatinya sesak. Dia tidak ingin menunjukkan bahwa dia tahu tentang pertengkaran mama dan papanya semalam. Tapi setiap pandangan papanya, membuat hatinya semakin berat. "Dinda, Papa ingin bertanya sesuatu padamu." Papa menajamkan tatapannya dengan wajah serius. “Iya, Pa, silahkan.” Dinda berusaha menjawab tenang. "Apakah kamu yakin dengan keputusanmu untuk menikah dengan Arkhan?" tanya papa dengan wajah cemas. Dinda menarik nafas dalam-dalam. "Iya, Papa. Aku yakin," sahut Dinda cepat. Hembusan nafas keluar dari mulut papa. "Papa selalu mendukungmu. Asalkan ini karena kamu memang merasa bahagia. Jangan mengambil keputusan penting dalam hidupmu karna orang lain," ujar papa, seakan ingin mengatakan jangan mengatakan setuju karena mama. Dinda tersenyum pahit. "Tentu aku mengerti itu, Papa." Obrolan itu meninggalkan rasa pahit dalam hati Dinda. Dia tahu Papa mencoba untuk berbicara padanya, tapi bagaimana dia melupakan pikirannya tentang apa yang terjadi semalam? Dinda, mencoba menyantap sarapannya. Mamanya sudah ada di sana, sibuk dengan ponselnya dan tampak perang dingin dengan papa. Dinda mencoba untuk menenangkan diri sambil menatap piring kosongnya. "Ma, aku sudah memutuskan untuk menikah dengan, kak Arkhan." Dinda menatap mama tajam. Mama yang tadinya asyik dengan ponsel langsung mendongak menatap manik mata Dinda. "Benarkah? Mama senang dengan keputusanmu. Bicaralah pada Arkhan, katakan keputusanmu padanya." Mata mama berbinar senang dengan senyuman bahagia. "Baik, Ma. Aku akan menghubunginya dan bertemu dengannya," sahut Dinda mantap. Dinda mengambil ponsel untuk mengirimkan pesan, meminta bertemu dengan Arkhan sambil berdoa dalam hati. "Ya Allah, berilah aku kekuatan. Berilah aku kepastian bahwa aku membuat keputusan yang benar. Tolong, bimbinglah aku, melalui semua ini." Setelah berdoa, perasaan Dinda merasa sedikit lebih tenang. Dia merasa bahwa keyakinannya akan pernikahannya dengan Arkhan semakin menguat. Dia menghela napas panjang, mengangkat kepala dan tersenyum mantap, siap menghadapi apa pun yang akan datang. Dengan penuh keyakinan mengetik pesan meminta bertemu dengan Arkhan. "Ma, Pa, ojek online yang aku pesen udah datang. Mau izin pergi sekarang, ya?" pamit Dinda. "Baiklah, apakah kamu mau langsung bertemu Arkhan, di luar atau di rumah?" tanya mama menatap penuh kelembutan. “Aku janjian saat kak Arkhan istirahat kantor, Ma. Katanya dia ada pekerjaan di luar kantor dan kebetulan tempatnya dekat dengan kampusku,” sahut Dinda tersenyum tipis. “Hati-hati ya, Dinda. Katakan pada Arkhan, Papa ingin bertemu dengannya!” Papa berkata tegas, terlihat jelas dari wajahnya kalau dia berat menyetujui keputusan pernikahan itu. "Iya, Pa, nanti akan kusampaikan." Dinda mengembangkan senyum menenangkan hati papanya. "Hmm, oke. Pergilah! Ojekmu sudah menunggu." Papa membalas senyum, sepertinya papa mulai percaya kalau Dinda memang sudah pantas menikah. "Iya, Pa, Ma. Aku pergi ya.” Dinda cepat-cepat berdiri, berlari ke luar rumah, dan melihat ojek online yang sudah menunggunya di depan pagar. Dia melambaikan tangan ke arah pengemudi ojek tersebut. Dinda naik ke ojek tersebut, setelah mengucapkan terima kasih kepada pengemudi dan segera memakai helmnya. Dinda melupakan sejenak kekecewaan terhadap papanya. Satu hal yang dipikirkannya adalah membuat hati mamanya tenang. Dinda tidak mau mama depresi lagi. Dia ingin membuat mamanya selalu tersenyum dan bahagia. Sesampainya di kampus, Dinda langsung melangkah menuju kelas. Dina dan Riana mengejarnya. “Din!” teriak Dina memanggilnya. Dinda menghentikan langkahnya dan menoleh seraya melempar senyum. “Din, sorry ya. Semalam habis dari rumah bu RT, gue capek. Jadi, malah ketiduran nggak telpon, lo. Eh, lo mau cerita apa?” tanya Riana. Dinda terdiam, tampak ragu menceritakan tentang masalah kedua orang tuanya. Dia pun ragu bercerita soal pernikahannya dengan Arkhan. Entah kenapa, Dinda merasa belum waktunya memberitahu kedua sahabatnya itu. Dia ingin berbicara dulu dengan Arkhan soal pernikahan mereka. “Kok diem? Lu, marah ya?” tanya Riana dan Dina bersamaan. “Ah, nggak kok. Cuma nggak terlalu penting aja. Kemarin gue lagi galau aja,” sahut Dinda beralasan. Kedua sahabatnya malah menggodanya. “Wah, galau mikirin kak Arkhan? Jangan dia, Din. Lo harus sadar kalau dia itu udah nikah. Jangan sampai, lo salah jalan.” Riana memberi nasehat dengan wajah serius. Dinda mengulum senyum melihat kekhawatiran kedua temannya itu. “Istrinya udah meninggal,” ucap Dinda pelan. Mata Riana dan Dina membola sempurna mendengarnya. “A-apa? Valid nggak beritanya? Baru meninggal?” tanya Riana dengan ekspresi wajah terkejut. “Almarhumah meninggal setelah nikah dua bulan dengan Kak Arkhan karena kecelakaan. Gue juga baru tahu kemarin,” ujar Dinda menjelaskan. “Tunggu deh! Jadi, lo galau karena berita ini? Apa jangan-jangan, lo berniat ngejar dia lagi?” Riana menajamkan tatapannya menuntut jawaban. “Nanti aja, gue cerita sama kalian. Sekarang masuk kelas dulu yuk! Kuliahnya udah mau dimulai. Gue mau cepet-cepet lulus,” ujar Dinda sembari melangkah meninggalkan kedua sahabatnya yang masih terpaku tak percaya. “Eh, the power of Arkhan nih! Tumben pikiran lu, bener. Padahal ‘kan yang sering ngajak kita bolos, lo. Hebat banget baru ketemu cinta pertama langsung berubah 180 derajat,” ledek Riana sembari tertawa kecil. Dinda tersipu malu mendengarnya. “Eh, wajah lo kok merah gitu?” imbuh Dina meledek Dinda. “Baru kita yang godain udah malu-malu. Apalagi kalau Kak Arkhan yang godain,” ledek Dina disambut tawa renyah Riana dan Dinda. Dinda, Riana dan Dina masuk ke dalam kelas dan duduk berdekatan. Saat dosen memasuki kelas, suasana kelas yang tadinya riuh langsung hening. Mereka memperhatikan dosen menjelaskan materi. Dinda terlihat gelisah, bolak-balik melihat arloji yang melingkar di tangannya. “Eh, kenapa sih dari tadi ngeliatin jam?” bisik Riana. “Gue pengen cepet-cepet jam 12.00,” sahut Dinda pelan. “Sudah laper banget? Tadi pagi nggak sarapan?” tanya Dina setengah berbisik. Hembusan nafas keluar dari mulut Dinda tidak menjawab pertanyaan sahabatnya. Hingga akhirnya jam kuliah usai, Dinda berpamitan pada kedua sahabatnya. “Eh, gue duluan ya,” pamitnya. Mata kedua sahabtnya mendelik kaget. “Gue kirain, lo lapar mau ke kantin,” ujar Dina. “Bukan lapar, gue ada janji sama Kak Arkhan. Gue pergi dulu ya!” “Ya Allah, Din. Gercep banget sih, lu. Udah tahu duda, cepet banget beraksi!” goda Riana menggelengkan kepalanya. Dinda tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya sambil melambaikan tangan dan melangkah cepat keluar kampus menuju halte. Dia menunggu angkutan umum ke tempat pertemuan dengan Arkhan. “Aduh, aku deg-degan,” gumamnya dalam hati dengan senyuman tipis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD