Bab 15

1017 Words
Sebuah suara ketukan sepatu membuat seisi rumah mengarahkan pandangan ke arah sumber suara. Setelah ini ia harus mengutarakan isi keinginannya untuk menikahi Chica pada keluarganya. "Kakak baru pulang?" Quin mengernyitkan keningnya, menatap dengan curiga. Sementara tangannya sedang sibuk memijit kaki James yang sedang merasa lelah akibat acara di kantor siang tadi. Usianya yang sudah senja membuatnya cepat lelah. "Mampir ke mana dulu, Ta?" selidik Gamma. Tangannya sedang sibuk memegang mainan, di depannya ada si kembar tiga dan Melodi. "Ke rumah calon mertuanya dong," kata Delta bangga. Ia menghempaskan tubuhnya di sebelah Riri, sang Mama. "Memangnya udah dapat Restu? Pede sekali bilang calon mertua?" Riri terkekeh. Wajahnya yang sudah mengeriput masih saja terlihat cantik. Satu tangannya mengusap kepala suaminya yang tengah berbaring di sofa sebelah. Mereka masih saja romantis meski sudah menua. Delta meletakkan kepalanya di pangkuan Riri."Ma, Delta nikah, ya, Ma." "Sudah ada calonnya?" tanya James. "Sudah, Pa. Orangtuanya juga udah setuju kok," jawab Delta. Riri mengusap kepala Delta."Ya udah, kalau kamu sudah cocok dan yakin dengan pilihan kamu, tentukan tanggalnya biar kita datang ke rumah calon kamu itu." "Orangtuanya, sih setuju, Ma. Tapi, Chica masih ragu." Delta memanyunkan bibirnya. "Loh kenapa?" tanya Alfa. "Ya karena kita baru kenal aja, sih. Tapi, aku akan membuatnya jadi mau," kata Delta. Tingkat kepercayaan dirinya sudah tinggi mengalahkan langit."Oh, ya... Kak. Chica itu ternyata anaknya Om Yudis loh." "Om Yudis?" Alfa terkekeh."Udah berubah panggilannya. Dulu Bapak. Terus...kenapa kok Chica malah kerja di kantor kita bukan di kantornya aja." "Om Yudis sekarang ngojek. Semua hartanya udah dijual buat Chica, dia abis koma enam bulan," jelas Delta. Semua terdiam, memikirkan ucapan Delta. Ada rasa nyeri di ulu hati mereka mendengar berita itu. "Jadi, sebenarnya tanggapan Chica bagaimana, Delta? Dia udah mau sama kamu apa belum?" tanya James memastikan. "Mau, sih, Pa. Tapi, ragu-ragu. Delta enggak mau lama-lama deh ,Pa. Kalau bisa besok aja." Delta memasang tampang ngebet mau kawin. "Ya udah, kita hubungi Pak Yudis, ya, Pa. Menanyakan hal ini. Lebih baik ... Delta memang harus menikah. Kasihan udah kebelet banget," kata Alfa dengan tatapan mengejek. Delta mengangguk setuju."Iya. Kasihanilah aku yang enggak tau rasanya seperti apa.” Seisi rumah tertawa geli. Ekspresi Delta memang menggelikan sekaligus menyedihkan. Di usia yang sudah sangat cukup untuk menikah itu, ia masih saja sendiri dan tidak pernah pacaran. "Papa sama Mama setuju enggak aku nikah sama Chica?" tanya Delta. Sekarang ia sudah duduk kembali. "Mama enggak tau, sih, Chica yang mana. Tapi, kamu kan sudah dewasa. Pasti tau mana yang terbaik buat kamu, kan? Mama selalu percaya dengan pilihan anak-anak Mama." Delta mengusap lengan Delta. Delta memberikan kecupan di pipi Riri."Makasih, Ma. Kalau Papa?” James berdehem pelan, ia masih berbaring di sofa panjang. Kakinya masih dipijit oleh anak perempuan satu-satunya."Kamu cinta sama Chica?" "Iya, Pa," jawab Delta yakin. "Bisa bertanggung jawab serta membahagiakan Chica?" "Bisa, Pa." "Ya sudah. Kita lamar Chica." Ucapan James membuat semua yang ada di sana bertepuk tangan. Termasuk kembar tiga, Kenzo, Kenola, dan Keanu, mengikuti gerakan orang-orang di sekitar mereka. "Kita hubungi Pak Yudis, ya." Alfa mengambil ponselnya. Mencari kontak Yudis, dan menghubunginya. “Yakin udah siap, Kak?”tanya Quin dengan nada mengejek. “Yakinlah!” “kurangi main gamenya, ya, Ta.” Gamma terkekeh. Delta hanua bisa cengengesan mendenga ucapan Gamma. Lalu pendengaran dan penglihatannya fokus pada Alfa dan james yang tengah bicara serius di telepon. Jantung Delta berdegup kencang saat lamaran mereka diterima. Kemungkinan besok adalah acara lamaran Chica secara resmi. Jika tidak ada kendala, lusa atau besoknya lagi ia dan Chica akan menikah. Ia ingin semuanya segera terlaksana. Ia tak percaya bahwa saat ini sedang jatuh cinta. Bertahun-tahun lamanya terjebak dalam tanda tanya besar, kapan ia jatuh Cinta? Sekarang, Pertanyaannya itu terjawab sudah. Jatuh cinta itu sulit diungkapkan bagaimana rasanya dan tidak akan ditemukan alasannya. Oleh karena itu jatuh cinta itu sering dikatakan orang berjuta rasa. Jatuh cinta yang paling indah adalah saat sedang berpacaran. Karena di sana, kita sedang berbunga-bunga dan sedang sayang-sayangnya. Tapi sayangnya Delta tak ingin berpacaran dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa menyentuh, memeluk, mencium dan tidur bersama. Akhirnya, ia harus melakukan satu cara. Yaitu; Menikah.   **   Kantor mulai ramai. Semua orang berlalu lalang sesuai dengan kesibukannya masing-masing. Begitu juga dengan Chica dan Anita. Anita kembali memberikan materi-materi pekerjaan, agar nantinya Chica lebih mudah saat ia tak ada. "Hai, Barbie." Tiba-tiba Delta muncul di depan meja mereka. Anita langsung berdiri, diikuti oleh Chica yang gerakannya melambat. Pria yang kemarin berciuman dengannya, ada di hadapannya. Memberi tatapan begitu hangat. "Selamat pagi,Pak," sapa Anita. "Pagi. Pagi, Chica...." Delta menatap Chica dengan lembut dan mesra. Anita jadi salah tingkah sendiri melihat keduanya seperti itu. "Iya, Pak. Selamat pagi." Chica berusaha menormalkan suaranya. "Ada kegiatan hari ini ,Pak?" tanya Anita. Delta menggeleng."Enggak. Cuma sedikit urusan keluarga dan hati aja." Mendengar hal itu, Chica langsung tertunduk malu. Wajahnya merona. Kemudian, ia teringat dengan pembicaraannya dengan Mama dan Papa mengenai lamaran Delta. Ia harus move on, lagi pula kalau pun ia dan Dewa berjodoh, pernikahannya dengan Delta pasti tak akan terjadi. Apabila ia dan Delta memang berjodoh, maka suka atau tidak, itu pasti akan tetap terjadi juga. Maka dari itu, Chica hanya bisa mengikuti alur kehidupannya saja. Tuhan pasti sudah menentukan garis hidupnya. Ia harus kuat, dan melupakan masa lalu tentunya. "Oh begitu, Pak. Ada yang bisa saya bantu, Pak? Mau dipesankan makan siang mungkin?" kata Anita menawarkan. Ini memang ia sering lakukan kepada petinggi-petinggi di kantor. "Tidak perlu. Saya makan siang di luar. Ya sudah, saya masuk dulu. Hmm...Chica, nanti kita makan siang bareng, ya." Delta mengerlingkan matanya sebelum ia berlalu. Chica hanya bisa mengangguk dengan malu-malu. Bahkan saat Delta sudah benar-benar pergi, telinganya masih terasa panas. Anita menyenggol lengan Chica."Kamu ada apa sama Pak Delta?" Chica tersenyum."Enggak ada apa-apa, Kak." "Enggak mungkin, Pak Delta itu ramah, sih. Tapi, kalau sama Cewek biasanya dia datar-datar aja. Tadi itu, ekspresi wajahnya ...." Anita menopang dagunya dengan satu tangan,"kayaknya dia suka sama kamu." "Jangan mengada-ngada, ah. Mungkin perasaan kamu aja deh. Karena aku pingsan aja kemarin. Ya udah enggak usah dipikirin." Chica tertawa kecil, padahal di dalam hati ia juga membenarkan perkataan Anita tentang perasaan Delta padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD