Bab 16

1014 Words
Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan. Sekitar dua jam kemudian, telpon berbunyi. Anita melirik telpon dan keningnya berkerut."Kok ada telpon dari kantor direktur." Dengan cepat ia mengangkatnya. "Halo, selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" "...." "Iya, Pak. Baik nanti saya sampaikan. Ada yang lain, Pak?" "...." "Baik, Pak." Setelah sambungan terputus, Anita menoleh ke arah Chica dengan serius."Kamu enggak buat kesalahan kan, Cha?" "Kesalahan? kenapa?" tanya Chica bingung. "Kamu di suruh ke ruangan Pak Direktur sekarang," kata Anita bergidik ngeri. Jantung Chica berdegup kencang."Pak Direktur? Yang nelpon barusan Pak Delta?" Anita menggeleng."Pak Alfa,ada juga Pak Jonathan." "Jonathan? Siapa lagi itu?" Perasaan Chica mulai tak enak. "Pak Jonathan itu kakaknya Pak Alfa dan Pak Delta. Ya udah, kamu pergi sekarang. Nanti mereka nungguin." Anita mendorong Chica supaya lekas pergi ke sana sesuai perintah. Chica mengangguk cepat. Lantas ia menuju ruangan Direktur utama. Dengan cepat, ia merapikan penampilannya sekilas sebelum mengetuk pintu. Suara dari dalam mempersilahkan masuk, Chica melangkah ke dalam. Di sana ada empat orang pria tampan dan rupawan. Chica jadi salah tingkah. Jonathan berdiri, memperhatikan penampilan Chica dari atas sampai bawah."Kamu Chica?” Chica meremas jarinya sendiri."Iya, Pak." "Sini, duduk," katanya sambil menunjuk sofa kosong di sebelah Delta. Chica melangkah dengan gemetar. Ia menatap Delta sekilas dan menarik napas panjang. Ketiga pria di hadapannya itu menatap mereka berdua secara bergantian. "Chica, malam ini keluarga kami akan resmi melamar kamu. Itu benar?" tanyaJonathan. Chica mengangguk."I...Iya, Pak." "Kamu sudah yakin kau menerima Delta, kan? Karena kami tidak mau kamu merasa terpaksa. Kasihan kamu nanti. Apalagi adik kami ini tidak pernah pacaran. Takutnya...Kamu kebingungan menghadapi dia," kata Jonathan. "Iya, Pak. Saya tidak terpaksa. Kemarin saya belum yakin saja sekaligus kaget karena tiba-tiba Pak Delta melamar saya. Padahal kita baru kenal." Chica tertunduk. Jonathan tersenyum."Delta serius kok mau lamar kamu. Saya juga langsung melamar isteri saya dulu, padahal baru pertama ketemu. Sekarang kami sudah mau punya anak dua. Kami bahagia. Saya sebagai anak tertua di keluarga merasa bertanggung jawab atas hubungan kalian." "Iya, Kak," kata Delta. "Chica, Delta ini kadang menyebalkan, suka bicara yang aneh-aneh dan enggak masuk akal, tapi dia masih waras kok, Ca," kata Alfa menambahkan. Chica menahan tawanya. "Ya ini sekedar informasi aja, Ca. Kamu masih bisa berubah pikiran kalau kamu ngerasa enggak cocok dengan watak dia," tambah Gamma. "Delta ini tidak pernah pacaran, dekat dengan cewek juga tidak pernah. Jadi, jangan takut nanti kamu terganggu masa lalu dia. Kalau pun nanti dia berubah posesif, harap maklum aja, ya. Delta...Kamu bahagiakan Chica ya. Karena kamu memintanya baik-baik secara langsung dengan orangtuanya." Jonathan kembali menambahkan segala karakter dan kebiasaan Delta. Mungkin saja itu diperlukan oleh Chica. "Iya, Pak. Pak Delta dan keluarga mau menerima saya apa adanya saja, saya sudah bersyukur. Terima kasih,”ucap Chica. "Dan satu lagi, Ca. Mulai saat ini kamu sudah boleh panggil kami kakak. Karena kamu akan menjadi bagian dari keluarga," kata Jonathan sambil berdiri. Chica hanya tersenyum, tidak tau harus berkata apa. "Ya udah, yuk makan siang," kata Gamma. "Kalau gitu saya permisi dulu,Pak." Chica ikut bangkit. "Loh, kamu ikut kita,Ca. Makan siang. Sebagai perkenalan keluarga." Gamma mengusap puncak kepala Chica. "Ta...Tapi, Pak. Saya enggak enak sama yang lain. Saya makan siang sama teman-teman yang lain aja," kata Chica gugup. "Hmmm..., Kamu enggak mau makan siang sama calon suami kamu?" tatap Delta penuh harap. "Tapi, saya enggak enak sama Kakak-kakak Bapak. Ini, kan bos-bos saya. Jangan, Pak,"bisik Chica. "Kan nanti juga kamu bakalan ketemu mereka tiap hari, sayang," kata Delta. Chica mengerjapkan mata berkali-kali."Sa...Sayang?" "Kalian mau pacaran dulu? Nanti aja, deh, Ta. Kami ke sini untuk kenalan sama calon adik ipar kami. Jangan sia-siakan jadwal kami yang padat, ya!" omel Gamma. "Iya, Gamma. Tapi, Chica enggak mau," balas Delta. Jonathan mendekati Chica, kemudian memeluk pundaknya dan mengajak pergi."Ayo. Udah mau, Kan?” Delta, Alfa, dan Gamma bertukar pandang. Lalu mereka menyusul dari belakang. Mobil berhenti di depan sebuah foto studio. Chica menoleh ke arah gedung itu dengan heran. Tapi, ia tak berani bertanya ketika semuanya turun. Mungkin saja mereka ada keperluan sebentar, begitu pikirnya. Jonathan, Alfa, dan Gamma berjalan duluan. Delta dan Chica mengikuti di belakang. "Kita mau ngapain di sini, Pak?" bisiknya pada Delta. "Nanti juga kamu tahu,"kata Delta dengan senyuman penuh arti. "Bukan pra wedding, kan?" kata Chica dengan deg-degan. Delta tertawa."Kamu mau pra wedding? Nanti aja after wedding. Biar lebih enak. Nanti kamu juga tahu kita mau ngapain." Chica mengangguk. Ia tak ingin bertanya lagi. Mereka disambut oleh sang fotographer langsung dan dibawa ke lantai paling atas. "Ca, kamu, kan mau nikah sama Delta. Jadi, kalian foto buat buku nikah nanti ya,"kata Jonathan. "Kalau buat nikah, sih, aku punya di rumah, Pak. Enggak perlu foto di studio foto yang mahal begini." Chica menganga tak percaya. Hanya untuk pas Foto, keluarga Morinho harus ke studio foto terkenal. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu, kan istimewa. Jadi, jangan sungkan. Jam makan siang kan masih lama. Kita memang sengaja karena mau bawa kamu ke sini. Kamu make up dulu sama ganti baju." Gamma mendorong Chica pelan ke arah wanita yang sedang tersenyum ke arahnya. "Mari, Mbak." Chica hanya bisa pasrah. Tak ada jalan untuk menolak. Sementara itu Delta pergi ke ruangan lain untuk ganti baju juga. Jonathan, Alfa, dan Gamma tampak bicara dengan sang photografer. Mereka punya rencana untuk foto keluarga. Sekitar dua puluh menit, Chica keluar dengan stelan kebaya dan make up natural. Delta sampai menganga, melihat wanita yang ia sebut 'barbie' itu kini seperti bidadari. Jonathan tersenyum melihat calon adik iparnya itu. Lantas ia mendekat, membawa sesuatu di tangannya. Tidak jelas bentuknya apa. Jonathan meletakkannya di atas kepala. "A...apa ini, Pak?" Chica hendak meraih benda mirip topi di atas kepalanya. Tapi, Jonathan menahannya. Ia memberi kode kepada sang perias tadi untuk memasangnya dengan benar. "Jangan gerak dulu ya, Ca," kata Alfa. Chica melirik Delta yang sudah berganti pakaian. Mengenakan stelan jas yang sangat pas di tubuhnya. Sepertinya sekarang ia yakin mereka akan pra wedding. Setelah selesai, Jonathan membalikkan badan Chica ke arah cermin. Chica menutup mulutnya tak percaya, air matanya mengalir. Sebuah toga tersemat di kepalanya. "Loh, sudah cantik jangan nangis," kata Gamma menenangkan. "Ini apa, Pak?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD