Delta mendekat, memegang kedua pundak Chica. "Kemarin,kan kamu enggak ikut wisuda. Kamu enggak menikmati momen itu. Jadi, sekarang kita foto studio ya, Om..., Tante."
Vanessa dan Yudis muncul dari sebuah ruangan. Mereka membawakan jubah yang harusnya digunakan saat wisuda Chica. Chica semakin terharu. Air matanya mengalir.
"Kita foto ya, sayang. Ayo pakai perlengkapan kamu. Mbak, tolong make upnya dibenerin," kata Delta.
Chica kini sudah berpenampilan selayaknya orang yang sedang menghadiri acara wisuda. Berekspresi di depan kamera sebagai bentuk kenangan bahwa ia adalah seorang sarjana. Setelah berfoto sendiri, bersama kedua orangtuanya, sekarang saatnya berfoto dengan Delta. Mereka seperti pasangan baru. Begitu mesra. Lalu setelah itu mereka berfoto bersama, termasuk Alfa, Jonathan, dan Gamma.
Chica tak tau harus harus bagaimana. Saat ini ia benar-benar terjadi atas apa yang dilakukan keluarga Morinho padanya.
"Ca, gimana? Udah enggak sedih, kan?" Alfa tertawa geli melihat ekspresi Chica.
"Terima kasih, ya, Pak. Saya enggak nyangka bakalan diberi kejutan begini. Saya juga udah enggak mikirin masalah kenangan saya semasa kuliah. Yang penting saya bisa kerja. Bantu Mama sama Papa."
"Sekarang kamu jangan sedih-sedih lagi ya,Ca. Banyak yang pengen bahagiakan kamu." Vanessa memeluk Chica dengan haru.
"Nah, kalau sekarang...waktunya makan siang." Gamma terkekeh.
"Aku ganti baju dulu." Chica hendak pergi ke ruang ganti tapi Delta menahannya."Enggak usah. Kita langsung makan aja. Bajunya buat kamu. Kamu cantik." Delta mengerlingkan matanya membuat Chica tergoda.
Mereka semua pergi makan bersama. Usai makan siang, di sanalah mereka pergi dengan urusan masing-masing. Gamma dan Jonathan pergi dengan satu mobil. Sementara Alfa juga pergi dengan mobil yang baru saja diantar oleh supir kantor. Sementara Delta mengantarkan Vanessa dan Yudis ke rumah mengenakan mobil yang ia tinggal di studio foto sebelumnya.
Sekarang, Chica dan Delta berada di mobil. Rencananya mereka hendak kembali ke kantor. Tapi, Delta mengurungkan niatnya. Ia justru membawa Chica ke sebuah komplek perumahan. Ia berniat menunjukkan rumah yang akan mereka tempati setelah menikah nanti.
"Ca, ini rumah yang sekitar dua tahun lalu aku beli. Ya enggak sebagus rumah Papa, sih. Tapi, ya...Nanti aku usahakan beli yang lebih bagus," jelas Delta saat mereka sudah berdiri di depan rumah type seratus bernuansa minimalis.
"Pak, ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih." Air mata Chica kembali menetes.
Delta tersenyum, memeluk pundak Chica dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Kamu lihat bagian dalamnya. Kalau enggak suka kita ke rumah yang satunya lagi."
Mereka berdua keliling di dalam rumah, melihat sisi bagian dalam. Barang-barang di sana tertutup oleh kain putih.
"Enggak Bapak tempatin?" tanya Chica.
"Dulu disewakan. Tapi, udah enam bulan ini kosong. Kalau kamu suka biar aku suruh orang buat bersihkan. Tapi, kemarin udah sempet dibersihin, sih. Kamarnya aja." Delta menuju sebuah pintu yang sudah dipastikan itu adalah kamar utama.
"Memangnya kapan kita menikah, Pak?" tanya Chica tiba-tiba.
Gerakan Delta terhenti."Malam ini lamaran. Lusa menikah. Karena masih ada yang harus diurus. Kenapa, Ca?"
Chica menggeleng.Ia mendahului Delta masuk ke kamar. Kamar yang cukup besar dan nyaman. Tentunya Tempat tidur yang begitu empuk. Ia merebahkan badannya. Begitu nyaman.
Delta meneguk salivanya, dalam hati ia mengumpat kenapa harus terjadi momen seperti ini. Ia harus tahan. Dua hari lagi, pikirnya."Kamu suka rumah ini, kan?"
"Iya suka. Apalagi tempat tidur ini." Chica memejamkan matanya dengan begitu nyaman.
"Ya udah, ayo kita pergi dari sini," kata Delta.
Chica membuka mata, berusaha bangkit tapi begitu sulit akibat kain yang ia pakai begitu sempit. Bergerak ke samping juga begitu sulit."Pak...tolongin saya.”
Delta tertawa melihat Chica tak bisa bergerak."Kamu lucu banget,sih."
Delta membungkuk sedikit, lalu mengulurkan tangannya. Chica memegang kedua tangan Delta, saat hendak menarik timbul ide nakalnya. Ia langsung menarik Delta ke dalam pelukannya dan mereka tertawa bersamaan.
**
Hotel mewah itu sudah didesain sedemikian rupa. Keluarga besar Morinho mengenakan pakaian bewarna senada. Ada sesuatu yang tak diketahui Chica, bahwa malam ini bukan hanya malam lamaran. Tetapi, sekaligus malam pernikahan mereka. Delta memaksa agar segala urusan pernikahannya cepat selesai. Tak peduli kalau ia harus bayar mahal. Nikah saja dulu, resepsi belakangan, begitu pikir Delta. Chica sudah di make up dengan begitu cantik. Mengenakan kebaya bewarna putih dengan bawahan batik khas sebuah daerah di Indonesia. Fika dan Quin mendampingi Chica di dalam kamar.
"Kok aku dimake up begini bagusnya. Kayak mau ijab kabul," kata Chica takjub.
Quin menenangkan Chica."Kakak jangan banyak gerak. Kan kakak memang mau menikah."
"Iya, tapi, kan masih besok. Tapi, aku seneng. Ini bagus banget." Chica memandang wajahnya di cermin dengan begitu takjub.
"Ca , aku enggak nyangka kamu sudah mau menikah. Secepat ini kamu melepas masa lajang." Fika memeluk Chica dengan haru.
“Terima kasih, Fika. Kamu cepeta cari pasangan ya?!”
Quin terkekeh."Kak Fika sabar ye, siapa tau nanti Cello juga lamar kakak.”
Fika memanyunkan bibir saat mengingat Bosnya yang kaku dan payah itu.
"Hei, ayo pada keluar. Acara udah mau dimulai," panggil Melodi.
Ketiga gadis itu mengangguk. Quin dan Fika mengapit Chica berjalan menuju tempat yang sudah ditentukan. Saat sudah hampir sampai, raut wajah Chica berubah. Di sana ia melihat sebuah meja kecil yang sudah di kelilingi orangtuanya dan keluarga Morinho. Delta, ia duduk di depan meja itu, di seberangnya ada Yudis, Papanya.
"I...ini apa," bisik Chica pada Quin.
"Kakak nikah sekarang. Kak Delta udah enggak sabar mau belah duren. Makanya, dia ngotot banget." Quin terkekeh.
"Oh, My God!"
Quin di persilahkan duduk di sebelah Delta. Ia benar-benar syok, semua ini terjadi begitu cepat. Bahkan ia sudah tak sadar kalau Delta sudah menyelesaikan ijab Kabulnya. Semua orang bersuka cita. Chica mengedarkan pandangannya, beberapa orang penting ada di sini. Nicholas Zegger, yang merupakan pemilik dari hotel ini beserta isteri dan kedua anaknya. Serta jajaran pengusaha lainnya yang Chica tau, seperti Adrey Mayer, Sammy Adiatama, Javier Rathan, Rhayendra Fatih dan masih banyak lagi.
Chica tak tau berbuat apa semua orang tampak sibuk dengan kebahagiaan mereka masing-masing karena bertemu di sini. Di saat itu juga, Chica menangkap sosok yang ia kenal. Orang itu ada di pintu masuk. Dengan cepat Chica menuju ke sana, tapi orang itu pergi dan menghilang dengan cepat.
"Sayang, kamu ngapain ke sini?" tanya Delta yang tadi langsung mengejar saat Chica berjalan keluar.
"Aku...kayak ngeliat orang di sini," katanya dengan bingung.
"Di sini banyak orang, sayang. Siapa aja bisa datang ke sini. Ayo kita kembali. Kamu belum makan, kan." Delta menarik Chica kembali ke dalam kerumunan.