Bab 12

1015 Words
Hati Delta berbunga-bunga karena mampu membuat gadis iti tersenyum lagi. Dari raut wajahnya jelas sekali terlihat, Chica sedang menyimpan banyak masalah dan beban di hatinya. Melihat wajah Chica, Delta merasa selalu ingin ada di dekatnya, memeluk, dan mengatakan bahwa kita tidak hidup sendiri. Entah kenapa Delta bisa begitu merasakan apa yang Chica rasakan. "Pak, ini rumah saya," tunjuknya ke sebelah kiri. Rumah bewarna biru yang sudah pudar. Delta menghentikan mobilnya, beruntung rumah ini memiliki halaman sehingga ia bisa menyimpan mobilnya di sana. Bukan di tepi jalan sempit ini."Kamu bisa bukain pagarnya enggak?" Chica melongo heran, tapi kemudian ia turun dan membuka pagar lebar-lebar. Mobil Delta masuk ke halaman dan Chica menutup pagarnya kembali. Vanessa yang mendengar suara mobil masuk, langsung keluar. "Loh, Chica...Kamu kok udah pulang?" Delta yang baru keluar dari mobil langsung mencium tangan Vanessa."Siang, Tante." "I...Iya, siang." Vanessa kebingungan. "Saya Delta, Tante. Saya mengantarkan Chica pulang karena Chica tadi pingsan di kantor," kata Delta dengan sopan. "Loh, kamu kenapa,Ca?” “Enggak apa-apa, Ma, Cuma kecapean aja,” balas Chica. “Oh gitu, ayo masuk...masuk." Vanessa mempersilahkan Delta masuk. "Ma, Pak Delta ini wakil direktur di kantor," kata Chica. Vanessa menatap Delta tak percaya. Lelaki yang masih muda ini adalah orang penting di kantor anaknya."Ca, kamu bikin minum ya." "Iya, Ma," kata Chica yang kemudian pergi ke belakang. "Pak, maafkan anak saya ya. Pasti merepotkan waktu pingsan tadi." Vanessa terlihat khawatir. Delta tersenyum."Enggak apa-apa, Tante. Tadi juga, Direktur utama yang menyuruh Chica pulang agar istirahat. Kami tidak akan mempermasalahkan ini." "Iya, Pak. Chica memang belum sembuh betul, tapi...dia ngotot mau kerja buat bantu perekonomian keluarga." Vanessa tersenyum malu-malu karena harus menceritakan kondisi sebenarnya. Tapi, ia harus mengatakan itu agar Delta dapat memaklumi dan tidak memecat Chica. "Chica sakit apa, Tante?" tanya Delta. Raut wajah Vanessa berubah menjadi sedih. Delta terkejut kemudian menyadari ada yang salah dari ucapannya."Maaf kalau terlalu ikut campur. Tapi, kalau memang Chica punya suatu penyakit ...sebaiknya kami harus tau. Agar nantinya kami bisa menyesuaikan kembali posisi Chica dengan penyakitnya." "Chica enggak sakit apa-apa, Pak. Cuma...Chica baru sadar dari koma setelah enam bulan lamanya. Ya mungkin sekitar seminggu yang lalu. Mungkin masih ada gangguan di pikirannya, belum bisa menyesuaikan dengan lingkungan karena tidur panjangnya," jelas Vanessa membuat Delta tertegun. "Kenapa Chica bisa koma, Tante?" tanya Delta mulai penasaran. Ia suka dengan Chica, ia harus tau semua tentang wanita itu. Mumpung sedang bertemu dengan narasumber yang terpercaya "Kecelakaan. Ya ceritanya panjang, tidak bisa diceritakan begitu detail." Vanessa tersenyum kecut. Mana mungkin ia menceritakan masalah Dewa dan Chica pada Delta. Itu adalah rahasia keluarga, dan tentunya akan kembali membuka luka bagi anaknya. Delta mengangguk-angguk mengerti. Kemudian, ia menarik napas panjang."Tante, apa Chica punya pacar?” Vanessa tertegun, raut wajahnya kembali berubah. Lantas ia berusaha tersenyum meski matanya berkaca-kaca."Maaf, tapi kenapa, ya, Pak? Kok bertanya demikian?" "Saya menyukai Chica. Kalau memang Chica masih sendiri, saya mau kenal lebih dekat dengannya. Kalau pun diizinkan, setelah itu saya ingin melamarnya." Penjelasan Delta membuat Vanessa syok. Ia memegangi dadanya karena tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Pembicaraan terhenti saat Chica datang membawakan secangkir teh hangat."Maaf, Pak. Silahkan diminum." "Terima kasih. Kamu istirahat aja, Ca," kata Delta yang kemudian meraih cangkir teh dan menyeruputnya. "Tapi, Bapak masih di sini. Enggak mungkin saya tinggal,” balas Chica. "Ca, kamu istirahat aja. Biar Mama yang nemenin Pak Delta, ya." Vanessa menyetujui perkataan Delta. Karena pembicaraan mereka masih gantung. Chica menatap keduanya dengan heran. Tapi, kepalanya memang sedikit pusing dan ia ingin berbaring."Ya sudah, Pak, saya tinggal dulu. Nanti kalau Bapak mau pulang, Mama panggil Chica, ya." Vanessa mengangguk. Ia kembali memegangi dadanya. Ucapan Delta membuatnya bahagia sekaligus terluka. Ia harus bersikap bagaimana, ia bingung. "Tante?" panggil Delta. Vanessa tersentak."Eh...Iya, Maaf, Pak. Ehm...sebentar, ya. Kalau untuk membicarakan masalah ini ada baiknya juga ada Papanya Chica. Karena ini tidaklah mudah bagi saya untuk membuat keputusan." Delta mengangguk."Papanya Chica ada dimana, Tante?" "Sebentar lagi pulang. Ya sudah diminum dulu, Tante ke belakang ambil kue. Chica enggak tau ada makanan di belakang, makanya enggak disajikan." Vanessa terkekeh, kemudian ia kearah dapur mengambil kue yang ia buat pagi tadi. Sembari bertanya-tanya dalam hati, apakah maksud dari semua ini. Sepeda motor Yudis memasuki halaman rumah. Ia cukup terkejut dengan kehadiran sebuah mobil mewah di rumahnya. Pikiran buruk mulai menghantui pikirannya. Ia takut kalau Tania atau Dewa datang menemui mereka. Dengan cepat, ia menstandarkan sepeda motornya lalu masuk ke dalam rumah. Ia menghela napas dengan lega karena bukan Dewa atau Tania yang ada di sana. Melainkan Delta. Ia memang mengenal Delta, karena mereka pernah beberapa kali bertemu di kantor. "Loh, Pak Yudis?" Delta berdiri dan mereka berjabat tangan. "Pak Delta, apa kabar. Kejutan sekali Bapak ada di rumah saja." Yudis menjabat tangan Delta dengan erat. "Ini rumah Bapak? Bukannya waktu itu ada di komplek sebelah rumah saya?" Delta menatap Yudis heran. "Ceritanya panjang. Duduk aja, Pak. Eh, tapi kenapa Pak Delta bisa tau rumah saya di sini?" Mereka bertukar pandang sampai Vanessa datang membawa cemilan. "Lo, Papa udah pulang." "Kok enggak telpon aku, kalau Pak Delta ada di sini," kata Yudis pelan. Vanessa menoleh dengan heran."Papa kenal sama Pak Delta?” Delta terkekeh."Hmm...jadi, gini, Tante. Saya dan Pak Yudis dulu sering ketemu di kantor. Perusahaan kita saling kerja sama. Tapi, saya enggak nyangka dan baru tau sekarang kalau Pak Yudis ini ayahnya Chica.” "Oh gitu...kok bisa kebetulan, ya." Vanessa terkekeh. "Mungkin memang jodoh," kata Delta dengan malu-malu. Yudis menatap isterinya dan Delta dengan bingung."Ini sebenarnya ada apa, Pak. Kok tiba-tiba Bapak ada di sini dan ngomong masalah Chica. Chica memang kerja di ALTA, baru beberapa hari. Apa dia bikin masalah, Pak?” Delta menggeleng."Enggak, Pak. Dia baik-baik aja. Tadi, dia pingsan. Saya antar saja pulang ke rumah, sudah dapat izin dari Kak Alfa kok. Jangan khawatir." "Oh gitu. Iya...Iya, Makasih, Pak sudah dianterin." "Jangan panggil saya Bapak lagi, Pak Yudis. Ini, kan lagi di rumah.Saya juga masih muda," kata Delta kikuk. Yudis tertawa."kebiasaan di kantor." Vanessa pergi lagi ke dapur untuk membuatkan minum untuk suaminya. Sepertinya mereka akan bicara panjang. Ia juga penasaran, apakah Delta akan mengutarakan hal yang sama pada suaminya atau tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD