"Masih pusing," jawab Chica pelan. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Delta yang sedikit menjauh.
Quin menoleh ke belakangnya."Maafin kakak aku, ya, Kak. Abaikan aja omongannya. Dia memang suka gitu. Aneh."
"Aku serius ngelamar kamu, Chica. Bukan becanda,"sambung Delta.
Alfa dan Melodi sudah selesai bicara dengan dokter. Mereka menghampiri Chica.
"Hai, Chica...Maaf atas kejadian ini ya. Maafkan kelakuan adik saya yang membuat kamu tidak nyaman," kata Alfa ramah.
"Pak, enggak perlu minta maaf. Saya enggak apa-apa. Cuma kaget aja. Sekarang udah enggak apa-apa." Chica merasa tak enak mendapatkan permintaan maaf dari direkturnya langsung.
Melodi tersenyum, mengusap lengan Chica."Jadi, kamu enggak perlu takut sama Delta ya. Dia adalah adik kami. Dia juga termasuk salah satu pemimpin di perusahaan ini. Sejauh ini ia tidak pernah berbuat kriminal kok. Jadi jangan takut."
"Kak Mel...kok gitu, sih ngomongnya." Delta mengigit ponselnya sendiri sambil memamerkan wajah sedih.
"Delta, minta maaf sama Chica. Jangan buat dia takut. Kalau pun kamu memang suka sama dia, sampaikan dengan cara yang baik." Melodi menarik tangan Delta agar mendekat."Chica, jangan takut lagi, ya."
Chica mengangguk dengan kikuk. Ia malu, berhadapan dengan petinggi-petinggi di kantor ini.
"Chica, Maafin Sikap saya tadi, ya. Saya udah buat kamu takut," ucap Delta tulus.
"Iya, Pak. Saya juga minta maaf karena sudah membuat semuanya repot," balas Chica dengan wajah yang merona.
"Chica...Kamu masih takut sama saya?" tanya Delta.
Chica terdiam sejenak, sementara itu Alfa, Melodi, dan Quin menjadi pendengar budiman. Mereka ingin tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebenarnya adalah kabar baik jika memang Delta jatuh cinta. Delta memang sudah seharusnya menikah. Tapi, setidaknya sebagai kakak, Alfa harus memastikan wanita yang disukai Delta bukanlah isteri orang lain.
"Iya, Pak. Saya udah enggak apa-apa," jawab Chica.
Delta bernapas lega."Syukurlah. Oh, ya...Kamu sudah menikah?"
"Belum, Pak."
Delta berteriak dalam hati. Sebab kalau berteriak beneran, Alfa bisa langsung melemparkannya ke segitiga Bermuda."Punya pacar?"
"Kakak...nanti Kak Chica bisa pingsan lagi loh kalau diberondong pertanyaan kayak gitu. Pedekate aja deh dulu. Pelan-pelan." Quin menatap Chica khawatir.
"Pacar?" tubuh Chica membatu. Matanya terasa panas, hatinya terasa perih, tersayat-sayat mengingat sesuatu.
Apakah sekarang ia masih berstatus sebagai kekasih Dewa. Bagaimana kondisi Dewa, dimana ia berada, dan apakah masih ada cinta Dewa untuknya, ia tak tau. Ingin rasanya Chica bertanya, masih adakah namanya di hati Dewa. Lelaki itu dengan kejam tak memberi kabar. Apakah lelaki itu kini sudah melupakannya atau justru sudah bersama dengan wanita lain. Air mata Chica mengalir dengan deras, seakan tak mau berhenti.
"Mas, kenapa dia?" Bisik Melodi.
"Duh, Delta ini...." Alfa menggerutu.
"Ca? Kamu kenapa?" Delta mendekat.
Chica menangis dan terus menangis. Matanya sudah seperti keran yang mengeluarkan air begitu deras. Isakan yang keluar dari mulut Chica membuat hati Delta terasa pilu, ikut merasakan kesedihan yang begitu mendalam.
"Ca? Semua akan baik-baik aja." Delta memeluk Chica dengan iba. Chica tenggelam dalam dekapan Delta, menumpahkan segala kesedihan yang ada. Saat ini ia hanya ingin menangis dan terus menangis.
“Ta, sebaiknya kamu antar Chica pulang ke rumah. Mungkin dia lagi banyak masalah dan butuh istirahat,"saran Alfa.
Chica menggeleng kuat."Enggak, kok, Pak. Saya baik-baik aja. Abis ini saya akan bekerja dengan baik."
"Hei, jangan gitu. Kamu memang terlihat enggak baik-baik aja, Ca. Kamu istirahat di rumah." Delta tersenyum.
"Jangan, Pak. Saya masih mau kerja, saya enggak mau ini nanti jadi masalah. Saya baru kerja beberapa hari ... Bahkan masih training. Maafkan saya, Pak. Tapi, saya benar-benar masih mau kerja." Chica terlihat ketakutan. Ia baru beberapa hari kerja di sini tapi sudah mendapat izin untuk pulang di jam kerja.
Alfa mendekat, menatap wajah Delta dan Chica bergantian. Kemudian, ia tersenyum."Chica...ini direktur sendiri yang nyuruh. Jadi, enggak masalah, kan? Kalau ada yang mempermasalahkan kamu bisa hubungin saya. Lagi pula kondisi kamu sedang tidak sehat. Saya akan merasa bersalah jika membiarkan kamu tetap bekerja. Jika kamu memaksakan bekerja, hasilnya juga tidak akan maksimal. Yang ada kamu semakin sakit."
"Tapi, Pak...." Chica terlihat bingung harus berkata apa lagi.
"Ya sudah, kita pulang, ya. Aku anterin,"kata Delta penuh harap.
"Kak Delta aneh banget, sih, Kak. Masa baru kenal...udah sok-sok udah kayak kenal lama," bisik Quin pada Melodi.
Melodi pun ikutan berbisik."Kalau itu adalah anaknya James Morinho, kakak enggak heran. Kalau mereka udah cinta sama satu orang, cara apapun akan mereka lakukan buat dapatin orang itu. Sekalipun hanya cinta pada pandangan pertama. Tapi, sisi baiknya adalah...Morinho bersaudara adalah orang-orang yang penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Jadi, kalau pun Delta memaksakan kehendaknya melamar Chica, ya biarkan saja. Dia pasti akan bertanggung jawab dalam hal apapun. Termasuk membahagiakan Chica."
"Kakak merasakan hal itu sama Kak Alfa?" Tanya Quin.
Melodi mengangguk."Iya. Kamu bisa lihat sendiri, kan bagaimana Kakak kamu memperlakukan isteri dan anak-anaknya. Tidak ada manusia yang sempurna, tapi sebagai pasangan kita bisa saling menyempurnakan.”
Quin mengangguk-angguk."Berarti aku juga harus cari orang yang mirip sama kakak-kakak aku dong."
"Udah ada ngapain dicari," sambung Alfa yang sedari tadi ternyata mendengarkan obrolan mereka berdua. Walaupun berbisik, tetap saja ruangan kecil itu mampu menggemakan suara mereka.
"Siapa?"
"King Leonel Arsyaf," ucap Alfa dan Melodi bersamaan.
Quin langsung memalingkan wajahnya yang merona. Ia tak ingin membahas masalah Leon. Mereka berdua hanyalah teman biasa. Melodi dan Alfa hanya bisa terkekeh melihat kelakuan anak bungsu Morinho ini
"Ya udah, kami pulang dulu, ya," kata Delta dengan pedenya menggandeng Chica.
Alfa mengangguk."Kalian hati-hati, ya. Chica, salam untuk orangtua kamu."
"Iya, Pak. Bu..., mbak...saya permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya. Mohon maaf merepotkan." Chica membungkukkan badannya.
"Iya, Kak Chica. Kalau kakakku nanti ngomong yang aneh-aneh, jangan dipikirin terlalu berat, ya," balas Quin.
Chica membalasnya dengan senyuman, kemudian Delta menariknya pergi keluar. Sementara itu Alfa, Quin, dan Melodi kembali ke acaranya.
"Rumah kamu jauh, Ca?" tanya Delta saat mereka sudah keluar dari kawasan perkantoran itu.
"Enggak terlalu, Pak. Tapi, masuk jalan-jalan sempit. Bapak turunkan saya di depan aja. Di jalan itu," tunjuk Chica.
Delta melihat sebuah jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil saja."Oh, ini ...masih jauh ke dalam?"
Chica mengangguk."Sekitar satu kilometer, Pak."
Delta mengarahkan stirnya memasuki jalan sempit itu. Setidaknya, mobilnya masih bisa masuk."Saya antar sampai rumah."
"Pak, rumah saya jauh," kata Chica tak enak hati.
"Justru karena jauh, Ca, saya anterin kamu. Kamu, kan lagi sakit. Nanti saya dimarahin Pak Alfa kalau enggak nganterin kamu sampai rumah." Delta menatap lurus ke depan.
"Bapak ini...wakil Direktur, ya?" Tanya Chica.
"Ya bisa dibilang begitu, bisa dibilang enggak. Namanya juga perusahaan keluarga. Tapi, tugas saya enggak begitu penting kok di kantor. Hanya menggantikan Pak Alfa kalau dia sedang ada urusan. Selebihnya saya ngurus usaha di luar. Saya enggak punya peran banyak di kantor." Delta terkekeh.
"Yang penting punya kerjaan, Pak. Apapun itu." Senyuman tulus pertama Chica untuk Delta mengembang.