"Enggak tau, kayaknya cuma lupa minum obat," balas Gamma yang kemudian diikuti gelak tawa mereka semua.
Delta menghampiri wanita yang cantik seperti boneka Barbie."Hai, Barbie.”
Chica yang tengah mengigit buah semangka itu hanya bisa mengerjapkan matanya bingung. Diliriknya Anita di sebelah, gadis itu pun terlihat kaget hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."B...Barbie?"
"Eh..., Bapak. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Anita. Ia tau, Chica pasti bingung siapa pria di hadapannya itu.
"Ehm... Bapak?" Hanya itu yang keluar dari mulut Chica.
"Ca, ini adiknya Pak Alfa. Beliau juga sering gantiin Pak Alfa di kantor. Ya...bisa dibilang direktur kedua, sih," jelas Anita.
"Enggak usah dijelasin detail, Anita. Saya ingin dikenal sebagai manusia biasa." Delta kembali menatap Chica. Wanita itu benar-benar cantik seperti boneka."nama kamu siapa?"
"Sa...saya, Pak?" Chica menunjuk dirinya sendiri.
Delta mengangguk."Iya. Kamu, Barbie.”
Wajah Chica langsung merah seperti kepiting rebus."Sa...saya Chica, Pak."
"Kamu cantik!" Katanya tanpa memalingkan pandangannya dari Chica.
"Terima kasih, Pak," jawab Chica malu. Seumur hidup, ia baru dipuji seperti ini. Ia sendiri tidak pernah merasa dirinya cantik.
"Pak, saya permisi ke toilet dulu, ya." Anita langsung kabur dari sana. Ia tak ingin mengganggu momen tersebut.
Delta mengangguk, tapi tatapannya tak lepas dari Chica."Chica, nama yang unik. Saya Deltanio Dastan Morinho. Adiknya Pak Alfa."
"Iya, Pak...saya karyawan baru. Maaf kalau saya belum mengenal Bapak. Maafkan saya, Pak." Chica membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maaf.
"Tidak apa-apa. Nanti kita bisa saling mengenal lebih dekat lagi," balas Delta membuat Chica membatu.
Ia tak ingin ge-er, tapi kenyataannya adalah ucapan dari mulut Delta itu benar-benar manis dan menggoda. Apalagi ini kali pertama mereka bertemu dan bicara. Atau sebagai orang nomor dua di ALTA, mungkinkah memang sudah tabiat Delta suka merayu wanita. Chica menggigit bibirnya, pikirannya terusik. Ia ingin agar Delta segera pergi dari hadapannya.
"Ca...," panggil Delta.
"Iya, Pak?" balas Chica. Mendadak jantungnya berdegup kencang.
"Ayo menikah!"
Mata Chica membulat, ia ingin segera memukul kepalanya sendiri dengan palu besar.
“Bapak ngomong sama saya?" tanya Chica dengan wajah yang kebingungan. Bahkan ia sampai melihat ke sekeliling, takut bahwa ia salah dengar.
"Hei.” Delta meraih wajah Chica yang menoleh ke sana ke mari agar menatapnya."Kamu...Iya, kamu!"
"Sa...saya?" Chica beringsut mundur. Laki-laki yang baru ia kenal beberapa detik melamarnya.
"Iya. Kamu. Kamu mau nikah sama saya? Menemani saya sampai tutup usia? Suka duka membina rumah tangga, membesarkan anak-anak, dan mencintaiku sampai akhir hayat." Ucapan Delta membuat Chica ingin memegang kening pria itu. Mungkin saja sedang tidak waras. Atau bisa jadi, Delta adalah pria yang terobsesi menikah sampai ia sakit jiwa.
Tiba-tiba Chica merasa pusing, pandangannya kabur. Piring yang ia pegang jatuh ke lantai membuat perhatian semua orang terpusat padanya. Chica langsung tergeletak pingsan.
"Loh, Barbie...." Delta cepat-cepat membangunkan Chica. Tapi, wajah pucat Chica mengisyaratkan bahwa wanita itu benar-benar pingsan.
"Ta? Kenapa?" tanya Alfa.
Delta membopong Chica."Tiba-tiba pingsan, Kak."
"Ya udah, dibawa ke ruang kesehatan aja. Quin, kamu temenin sana," kata Alfa tak enak hati. Ini adalah acaranya, tapi salah satu karyawan justru pingsan tanpa tau sebabnya apa.
"Sayang, kenapa?" tanya Melodi yang baru saja menghampiri.
"Ada yang pingsan. Tapi, udah dibawa ke ruang kesehatan kok. Kamu temenin aja dulu karyawan yang lain, ya. Biar itu urusan Delta sama Quin." Alfa memeluk pundak Melodi dan membawanya kembali ke tempat semula.
"Kakak apain nih cewek?" selidik Quin saat mereka tengah di ruang kesehatan. Chica sedang diperiksa oleh petugas kesehatan kantor.
"Dilamar, Quin. Cuma kakak lamar," kata Delta santai.
Quin melotot."Dilamar? Maksudnya kakak lamar dia? Terus dia shock, jadi pingsan?"
"Iya." Delta kembali duduk dengan perasaan khawatir. Ia tak diperbolehkan masuk karena Chica tengah diperiksa.
"Memang kakak enggak waras, ya! Lebih enggak waras dari Kak Jonathan." Quin menggeleng-gelengkan kepalanya."Kakak kenal sama dia?"
"Kenal. Barusan," jawab Delta.
"Kakak belum tau dia udah menikah apa belum, kalau pun belum...dia itu punya pacar apa enggak, kakak belum tau. Kenapa dilamar? Astaga." Quin mencubit perut Delta dengan gemas.
"Cantik, Quin...liat, kan wajahnya kayak boneka." Delta membayangkan wajah Chica yang membuatnya susah tidur beberapa hari.
"Oke. Kuakui dia cantik, Kak. Mirip boneka Barbie. Yang aku sayangkan adalah sikap kakak yang langsung lamar aja. Baru kenal. Bikin orang syok terus pingsan. Tindakan kriminal tau!" Omel Quin panjang lebar.
Lalu, Alfa dan Melodi datang. Delta dan Quin masih saja berdebat, hingga tak menyadari keberadaan mereka.
"Kriminal? Siapa yang ngelakuin tindakan kriminal?" Tanya Alfa khawatir.
"Kak Delta! Dia penyebab utama pingsannya cewek tadi," jawab Quin.
"Namanya Chica." Delta menatap Quin kesal.
"Sekarang Chica mana? Kok kalian di sini?" Tanya Melodi.
"Lagi diperiksa, Kak," jawab Delta dan Quin bersamaan.
"Ta, sebenarnya ada apa? Jelaskan. Kasihan loh, karyawan diperlakukan semena-mena. Apalagi kata Manager Yohan, dia itu karyawan baru." Alfa menatap Delta penuh curiga. Sebenarnya apa yang dilakukan adiknya itu hingga membuat orang lain pingsan.
"Aku ngelamar dia, Kak. Eh dia kaget, terus pingsan," jelas Delta.
Melodi dan Alfa bertukar pandang. Melodi tertawa geli."Ya ampun, kalian bertiga itu, ya...Morinho brothers... Wataknya sama semua. Suka maksain kehendak."
"Kamu ngomongin aku juga, sayang?" Kata Alfa sedikit kesal.
Melodi memeluk lengan Alfa dengan mesra."Menurut kamu?”
Alfa mengecup bibir Melodi cepat."Oke...Oke. Tapi, kenapa si cecunguk ini ngelakuin hal yang lebih ekstrim coba? Melamar orang yang baru ia kenal. Kalau aku, Kan udah kenal lama sama kamu, sayang. Terus Kak Jo, kebetulan orangtua Kak Sharen sahabatan sama Mama Papa. Nah, ini ...baru pertama kali liat, baru kenal, langsung lamar. Kalau dia isteri orang gimana, Ta?"
"Nah, itulah bedanya Aku sama Kakak. Aku ini ekstrim. Aku yakin dia belum menikah dan dia jodohku." Delta membusungkan dadanya dengan begitu yakin dan besar kepala.
"Ya semoga aja bener dan...Kakak tidak sakit hati." Quin menepuk pundak Delta. Bersamaan dengan itu, pintu ruang kesehatan terbuka dan mempersilahkan mereka semua masuk.
"Barbie-ku." Delta mengusap kepala Chica yang terbaring lemah.
Chica yang sudah sadar sedikit menjauh, menatap Delta dengan takut. Quin pun meninggalkan pembicaraan antara Alfa dan dokter dan menghampiri Chica.
"Hai, Kak Chica..., Kak Delta ngejauh dulu. Kak Chica takut tau." Quin mendorong tubuh Delta pelan.
"Oke...Oke." Delta mengalah.
"Ka...Kamu...." Chica menyipitkan matanya.
"Aku Quin, adiknya Kak Alfa dan Kak Delta. Kakak gimana keadaannya?" Kata Quin ramah.