Chica keluar dari ruang HRD dengan cepat, memasuki Lift dengan hati yang begitu bahagia. Begitu pintu lift terbuka di lantai satu, Chica langsung melangkah cepat, hampir saja ia menabrak orang. Tapi, ia tak menyadari hal itu karena orang yang hampir di tabraknya langsung menghindar.
"Wow!!" Delta memiringkan tubuhnya kaget. Menatap wanita itu dengan takjub.
"Delta! Cepat, udah ditunggu!" Kata Gamma yang sudah masuk duluan ke dalam lift.
Delta justru terlihat gamang, dengan heran ia memasuki lift."Kok ada manequin hidup, sih di sini."
Gamma memencet angka 4 pada lift."Maksudnya? Kamu ada-ada aja, sih. Manequin hidup! Mulai halusinasi?”
Delta mendecak."Aku serius,Ma. Tadi ada boneka Barbie. Cantik banget. Tapi, dia bisa jalan. Terus yang pasti dia bernapas.”
Gamma menggeleng-gelengkan kepalanya dengan stress. Pintu lift terbuka di lantai empat."Aku tau ini udah hampir jam makan siang, Ta. Tapi enggak usah aneh-aneh."
"Beneran," kata Delta mensejajarkan langkahnya dengan Gamma.
Gamma tak memedulikan ucapan Delta. Sepanjang jalan tadi, pria itu memang bicara uang aneh dan tidak masuk akal, kadang membuat Gamma bergidik ngeri. Mungkin saja Delta tengah kerasukan setan. Sampai di sebuah pintu kayu bewarna Cokelat tua, Gamma mengetuk pintu kemudian melangkah masuk.
"Astaga...dengerin orang ngomong kenapa, sih," protes Delta membuat orang yang ada di dalam menoleh.
"Kenapa?" tanya Alfa. Kedua adiknya itu tampak sedang ada dalam sebuah masalah.
"Delta. Lagi kerasukan setan." Gamma duduk di sofa dan langsung menatap laptop di hadapan Leon.
Alfa menoleh ke arah Delta."Kerasukan setan? Beneran, Ta?"
"Enak aja kerasukan setan. Aku tadi liat manequin berjalan, Kak. Eh, bukan manequin deh...boneka Barbie. Cantik, imut, pengen aku kawinin," kata Delta sambil membayangkan wajah wanita tadi.
Alfa, Gamma, dan Leon saling bertukar pandang. Kemudian wajah mereka terlihat benar-benar datar.
"Ini, sih bukan kerasukan, Gamma." Alfa terkekeh.
Delta memberikan tatapan mengejek pada Gamma karena mendapat pembelaan dari Alfa."Nah, aku bener, kan, Kak?"
"Kamu emang bukan kerasukan, Ta. Tapi...Kamu udah enggak waras," balas Alfa yang kemudian disambut gelak tawa dari Leon dan Gamma.
"Astaga!" Delta menepuk jidatnya.
"Ya udah biarin aja dia. Nanti juga sembuh sendiri. Kita lanjut kerja." Alfa duduk di sebelah Leon dan mulai membahas masalah pekerjaan.
Delta menggeram dalam hati. Ketiga pria itu tak lagi memedulikannya. Kemudian ia berpikir, siapakah wanita yang parasnya begitu cantik seperti boneka itu.
"Woy!" Gamma melemparnya dengan gumpalan kertas.
Delta melonjak kaget."Sial! Ngagetin aja!"
"Kerja!!" Kata Alfa.
Delta mendekat sambil meringis malu. Bukan malu karena ia tidak melakukan tugasnya, tapi karena ketahuan sedang melamun.
**
Chica memutar lehernya yang kaku. Ini adalah hari ketiga ia masuk kerja. Awalnya ia lumayan kesulitan mengikuti cara kerja di kantor ini. Harus cepat, tepat, dan sistematis. Tapi, biarpun begitu ia senang melakukan semuanya. Rasa sedih akibat peristiwa yang ia alami perlahan terabaikan.
"Ca, gimana udah mulai terbiasa, kan?" tanya Anita, resepsionis yang akan digantikan oleh Chica.
"Iya, Mbak. Makasih ya udah ajarin aku di sini." Chica tersenyum senang.
"Ya itu kewajiban aku, Ca. Ajarin kamu sebelum aku keluar. Tapi, aku senang kamu cepat belajar." Anita mengusap lengan Chica.
Tiba-tiba datanglah, Manager Yohan."Kalian jangan lupa, ya nanti makan siang bersama Pak Alfa dan keluarga di aula."
"Siap, Pak. Mana mungkin lupa kalau gratisan," balas Anita terkekeh.
"Acara apa, Pak?" tanya Chica bingung.
"Nah, Chica kan belum tau. Acara ulang tahun anak Pak Direktur. Beliau merayakannya dengan makan bersama seluruh karyawan ALTA," jelas Manager Yohan.
Chica mengangguk mengerti."Oh begitu. Iya, Pak."
Manager Yohan pamit pergi. Anita tampak merapikan tatanan rambutnya. Sebagai resepsionis mereka dituntut untuk selalu rapi dan fresh.
"Ulang tahun anak Pak Alfa? Yang ke berapa, Kak?" tanya Chica.
"Yang pertama. Ini anak ketiga, keempat, dan kelima. Mereka kembar tiga. Lucu-lucu anaknya." Anita tersenyum. Ia masih bisa mengingat betapa bahagianya sang direktur saat kelahiran anak yang sudah dinanti cukup lama. Semua orang di kantor juga tau bahwa, mereka sempat mengadopsi anak. Tapi, kehadiran anak kandung mereka membuat kebahagiaan itu benar-benar nyata.
"Wah, pasti keluarga bahagia," kata Chica sambil membayangkan seperti apa rasanya jadi mereka.
"Iya. Apalagi, Pak Alfa itu sayang banget sama keluarga. Lelaki idaman banget. Dulu banyak yang naksir, sih sama beliau. Tapi, ya...Enggak ada yang berhasil dapatin," bisik Anita.
Chica tampak begitu antusias mendengar cerita Anita. Sampai akhirnya jam makan siang pun tiba. Kantor ditutup selama jam makan siang. Semua karyawan berkumpul di aula kantor yang sudah diatur sedemikian rupa. Berbagai jenis makanan tersedia. Beberapa orang sudah terlihat meneguk air liur, tak sabar untuk menyantap hidangan lezat dan gratis itu.
Setelah semua karyawan duduk manis di tempat masing-masing, masuklah Alfabian Axel Morinho, menggendong Kenzo, kembar Pertama, beserta isteri Melodian Raska yang menggendong Kenola, kembar kedua. Di belakang mereka ada Delta tengah mendorong kursi roda yang diduduki oleh James. Di susul oleh Gamma yang mendorong kursi roda yang diduduki Riri. Lalu ada Cello menggendong kembar ketiga, keanu.Di belakang mereka ada Quin dan Leon yang menggandeng Karel dan Keisha. Semua memandang dengan begitu takjub. Keluarga itu benar-benar terlihat bahagia.
"Wah, kayaknya seneng banget ya jadi bagian keluarga mereka," ucap Chica spontan.
"Iya, tapi, ya...kayak sesuatu yang susah diraih aja. Kita, ini apa...cuma karyawan biasa," kata Anita.
Chica mengangguk setuju. Apa yang ia ucapkan barusan itu hanyalah sebuah dongeng, pengantar tidur. Sesuatu khayalan indah yang tak akan mungkin jadi nyata. Lagi pula, mengapa ia harus terpikir seperti itu. Ia sudah pernah menjadi keluarga yang berkecukupan, harta melimpah, dan hidup mewah. Chica terlarut dalam lamunannya sendiri. Kata-kata sambutan pun selesai, waktunya makan.
Keluarga Morinho berbaur dengan karyawan yang lain. Tak ada meja khusus untuk mereka. Semua bebas makan dimana saja, meskipun satu meja dengan direktur mereka sendiri. Delta tengah sibuk mengambil makanan. Rasa lapar yang melanda membuatnya begitu kalap. Piringnya terlihat penuh. Quin dan Leon hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kak, lagi kerasukan setan kelaparan?" tanya Quin geli.
"Tahu, ah. Kayak enggak pernah makan aja, Ta. Masa, sih, seorang generasi penerus Morinho kayak gini?" ejek Leon.
Delta hanya melirik keduanya dengan santai. Ia tak peduli, yang terpenting adalah perutnya kenyang. Saat setengah makanannya sudah habis, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang ia liat beberapa hari yang lalu."Barbie?”
Gerakan Leon dan Quin terhenti."Barbie?"
Delta meletakkan sendoknya lalu pergi. Semua bertukar pandang.
"Barbie? Dia belum sembuh, ya, Gamma?" Alfa terkekeh.