Bab 8

1207 Words
Sepeninggal kedua orangtuanya, Chica menatap seisi kamarnya yang berukuran 3x3m itu. Di sana ada satu tempat tidur dan lemari kecil. Chica tersenyum kecut. Meski cukup kaget, ia harus ikhlas dengan semuanya. Ia harus melanjutkan hidup. Pintu kamar terdengar diketuk. Chica membukanya dan seorang wanita yang ia kenal langsung memeluknya. "Chica!!! Ini kamu? Ya ampun, Ca...Aku kangen," isak Fika sambil memeluk dan menciumi Chica. "Fika? Ini kamu?" tanya Chica tak percaya. Sahabatnya itu tengah mengenakan stelan kerja.Wajahnya terlihat cantik dengan polesan make up natural. Meski rambutnya dibiarkan tergerai, tapi terlihat sangat rapi. "Iya ini aku, Fika, sahabat kamu. Ca, aku seneng banget denger kabar dari Mama kamu kalau kamu udah sadar. Kamu jahat banget enggak bangun-bangun." Fika mengusap air mata harunya. "Ka...Aku baru sadar dari tidur panjangku. Kamu udah kerja, ya?" Chica tersenyum kecut. Fika duduk di sisi tempat tidur. Ia membuka tas besarnya dan mengeluarkan sesuatu."Ini ijazah kamu, Ka. Kamu, kan enggak datang pas wisuda. Dan beberapa perlengkapan wisuda kamu juga ini masih utuh.” Chica tertawa lirih."Buat apa lagi, Ka. Aku udah enggak wisuda. Udah lewat." "Ya ini udah hak kamu. Kamu simpan aja," kata Fika. "Ka, kamu kerja dimana? Aku juga pengen kerja. Aku mau bantu Mama sama Papa. Kamu tahu sendiri kan gimana kondisi keluargaku sekarang." Chica terlihat sedih. Fika mengangguk mengerti. Ia juga sudah berusaha menanyakan pekerjaan untuk Chica di kantor tempat ia bekerja sebelum Chica bertanya. Tapi, di kantor sepertinya tidak mencari karyawan."Nanti aku tanya ke Bos aku ya. Semoga aja masiha da lowongan buat kamu.” "Ka, beneran?" "Iya, Ca. Kamu bisa kerja nanti. Kita mulai hidup baru, ya, Ca. Jadi Chica yang baru. Lupakan urusan dulu. Aku udah denger semua dari Mama kamu." Fika begitu sedih saat mendengar cerita sebenarnya dari Vanessa. Ia juga sangat yakin sejak Chica menceritakan tentang Dewa pada dirinya. Dewa itu suka dengan Chica. Tapi, ia tak berani untuk mengatakan apa pandangannya waktu itu. "Aku...rindu Kak Dewa, Ka." Tangis Chica pecah seketika. Fika meraih Chica dalam pelukannya."Iya, Ca...Aku ngerti ini enggak mudah. Tapi, semua sudah terjadi. Masalahnya begitu rumit. Orang-orang seperti kita hanya bisa pasrah, biarkan semua terjadi seperti air mengalir. Kita jalani hidup ke depan aja, ya, Ca. Karena masa lalu tidak pernah bisa diulang." "Tapi, aku enggak tau sekarang dia dimana dan gimana keadaannya, Ka." Mata Chica penuh air mata hingga pandangannya menjadi kabur. "Yang penting Kak Dewa masih hidup, Ca. Mama kamu sudah bilang, kan? Doakan saja semoga dia sehat-sehat saja. Seandainya kalian berjodoh. Sejauh apapun dia pergi...Kalian pasti akan ketemu kembali." Fika memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Halo, Fika," sapa Vanessa yang datang membawa nampan."Kalian makan ya." "Duh Tante...kenapa repot banget, sih. Kan udah Fika bilang ... Fika bawa makanan." Fika merengut dengan manja. Vanessa memang sudah seperti orangtuanya sendiri. "Ini, kan beda, Ka. Ini masakan Tante...kesukaan kamu juga. Kalian makan di sini, ya. Sekalian lepas kangen kan. Nanti kalau sudah siang kamu balik ke kantor." Vanessa terkekeh. "Iya, Tante...Makasih, ya. Jangan lupa makanan tadi buat Om sama Tante. Harus dihabisin," kata Fika dengan riang. Vanessa mengangguk senang. Sekarang, Chica sudah bersama dengan sahabatnya."Tante tinggal dulu, ya. Chica...makan, ya?" "Iya, Ma." "Ca...ntar sore aku kabarin ya, masalah lowongan kerja itu," kata Fika sambil meraih nampan. "Pakai apa kasih taunya, Ka? Aku udah enggak punya handphone," ujar Chica. Fika merogoh kantong celananya."Aku ada handphone. Tapi...kayak gini, cuma bisa buat nelpon dan sms doang. Kamu mau enggak? Cuma buat sementara.” Chica tertawa lirih."Aku bersyukur banget, Ka. Tuhan mengirimkan kamu di sisiku. Kamu sahabat terhebat." "Kamu ini kenapa, sih. Kan sama-sama. Kamu juga sering nolongin aku dulu, kan. Ya udah enggak usah sungkan. Kita ini saudara. Ya udah ini pakai aja hapenya. Udah ada kartu dan pulsa juga. Nanti sore aku hubungin. Sekarang, kita makan." Fika menyodorkan piring Chica. Senyuman Chica mengembang. Semua telah berubah, kehidupannya tak sama seperti dulu. Ia harus melupakan kehidupannya yang mewah mulai sekarang. Ia harus belajar hidup sederhana dan banyak bersyukur sebab Tuhan telah memberinya kesempatan kedua untuk hidup di dunia ini.  Ia harus melanjutkan hidup, memandang ke depan. Seperti yang dikatakan Fika, jika memang Ia dan Dewa berjodoh, sejauh apapun Dewa berada sekarang, mereka pasti akan bertemu kembali. Suara ponsel membangunkan Chica yang sedang termenung di kamar. Chica melirik ponsel pemberian Fika. Kemudian mengangkatnya dengan ragu. Tentu, satu-satunya yang akan menghubunginya adalah fika. "Halo?" Jawab Chica sedikit ragu. "Selamat sore, bisa bicara dengan ibu Azchyara Azri?" Kata suara di seberang sana. Chica langsung terdiam, ia bingung."i...Iya, saya sendiri." "Kami dari PT.ALTA yang merupakan anak perusahaan dari J-Gruop," kata suara di seberang sana lagi dengan nada suara yang begitu indah. "Iya, ada apa, Mbak?" Lagi-lagi Chica dibuat bingung. "Jadi, tadi Ibu Nafika ayana merekomendasikan Ibu untuk bekerja di perusahaan kami. Kebetulan kami memang sedang membutuhkan karyawan baru sesuai dengan kriteria yang ibu miliki. Apakah besok ibu bisa interview di kantor kami?" tanyanya. Chica mengerjapkan matanya tak percaya. Semudah inikah seorang Fika merekomendasikan dirinya di perusahaan sebesar itu. Ia mulai curiga bahwa Fika sebenarnya sudah memiliki posisi yang cukup bagus di kantor."Iya, Mbak. Bisa. Jam berapa, ya?" "Jam sembilan pagi, ya, Bu. Dimohon untuk tidak terlambat." "Iya, terima kasih, Mbak." "Terima kasih, selamat siang." Sambungan telepon terputus. Chica menghambur keluar. "Mama...Papa." "Kenapa, Ca? Papa lagi keluar? Kamu kenapa?" Tanya Vanessa khawatir. Chica memeluk Vanessa sambil memekik ruang."Besok aku interview, Ma. Doain aku, ya." Vanessa mengangguk, mengusap punggung Chica. "Syukurlah kalau gitu. Yang direkomendasikan Fika?" "Iya, Ma." Chica mengangguk senang. "Ya udah, ayo kita cari baju buat interview kamu. Baju-baju kamu yang dulu ada di lemari," kata Vanessa yang kemudian menarik Chica ke dalam kamar. Chica mencoba baju satu-persatu. Ia harus terlihat rapi dan menarik besok. Ini adalah interview pertamanya. Setelah berdiskusi cukup panjang, akhirnya Chica beserta Vanessa memutuskan pilihan mereka. Chica sudah tak sabar untuk bekerja. Ia ingin segera memperbaiki kehidupan mereka. Sebab, ia merasa dirinyalah yang membuat kedua orangtuanya harus memulai kehidupan dari nol lagi. Ia harus mengembalikan semuanya. Begitu tekadnya dalam hati. ** Yudis mengantarkan Chica sampai ke depan gedung Megah itu dengan motor butut yang ia beli dari uang penjualan aset mereka.Yudis hanya bisa tersenyum kecut. Dulu, ia sering keluar masuk perusahaan ini. Bertemu dengan petinggi-petinggi dan menjadi orang yang di hormati. Walaupun ia bukanlah orang yang pernah bekerja di kantor ini, tapi kantor ini cukupeninggalkan banyak kenangan baginya. Ia sering mengadakan kerja sama dengan perusahaan megah ini. Tapi, semua itu hanyalah tinggal kenangan. Ia harus terima nasib. "Pa, doakan Chica, ya?" Chica mencium tangan Yudis. Yudis mengangguk."Iya. Papa tunggu di perempatan sana, ya. Enggak enak sekali motor butut kelamaan di sini." Chica mengangguk."Iya, Pa. Hati-hati." "Semoga sukses, Ca." Yudis melambaikan tangan. Dalam hati ia bangga karena sekarang anaknya sudah besar, mencapai gelar sarjana dan sekarang tengah berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Chica masuk ke dalam, melapor ke resepsionis. Setelah menunggu beberapa menit, ia pun dipanggil untuk melakukan test tertulis dan wawancara. Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama. Pihak kantor langsung dapat memutuskan bahwa Chica diterima bekerja di PT.ALTA. Chica senang bukan main, ingin berteriak tapi malu. Akhirnya ia hanya bisa menyimpan kesenangannya itu di dalam hati sambil menunggu manager HRD menyiapkan berkas-berkas kontrak yang harus ia tanda tangani. Semua sudah selesai, besok Chica bekerja di kantor ini sebagai resepsionis menggantikan resepsionis yang akan resign seminggu lagi. Selama satu minggu ke depan, Chica akan berada dalam masa training.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD