“Sayang, aku ingin kamu tau bahwa...aku begitu mencintaimu." Dewa menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Chica.
Chica tersenyum. Gaun putihnya mengembang seiring hembusan angin."Aku juga, Kak. Chica sayang sama kakak."
Dewa meraih tangan Chica, menggenggamnya dengan erat."Aku ingin selamanya begini. Selalu bersama."
"Kita pasti selalu bersama, Kak. Membina rumah tangga." Chica tersenyum bahagia. Ia sedikit tersentak saat Dewa mengajaknya berbaring di atas rerumputan hijau.
"Kalau kita punya anak nanti, aku ingin secantik kamu,"kata Dewa sambil mengusap perut Chica.
Chica menaikkan kedua alisnya."Anak? Apa kamu berencana punya anak dalam waktu dekat?"
Dewa tertawa."Kamu ini. Tentu saja. Dia sedang berkembang di dalam rahim kamu. Dia sangat cantik.”
Chica terkekeh. Kemudian ia mengusap kepala Dewa, lalu mengecupnya dengan lembut."Kalau anaknya laki-laki, pasti setampan kamu, kan?”
Dewa membelai wajah Chica."Tentu, sayang. Aku sayang kamu, Ca."
"Aku juga sayang kakak." Chica membungkukkan badan dan memeluk kepala Dewa. Mengecup setiap inchi wajah pria yang ia cintai itu.
Dewa bangkit, menarik tangan Chica pelan."Ayo kita jalan ke sana."
Chica menurut saja, tanpa mempertanyakan lagi kemana mereka akan pergi. Ia selalu percaya bahwa Dewa akan membawanya dalam kebahagiaan. Mereka tiba di sebuah air terjun yang begitu indah, lantas ia memeluk Chica dari belakang."Kamu suka air terjun, kan?"
Chica mengangguk senang."Aku suka, sangat indah, Kak."
"Iya, sayang. Aku ingin kita tinggal di sini, sama kamu dan anak-anak kita," ucapnya sambil mengusap perut Chica.
Chica menatap air terjun itu dengan begitu takjub. Tapi, kelamaan kepalanya terasa pusing. Pandangannya mulai kabur, dan matanya pun terpejam. Lambat laun, terdengar suara-suara memanggil namanya. Lalu, indera penciumannya merasakan bau-bauan yang sangat tidak ia suka. Tak ada lagi aroma rumput, tanah, bebatuan, dan air.
"Chica!" Vanessa mengusap pipi Chica pelan.
Tubuh Chica terasa begitu lemah, ia pun melihat sekelilingnya.Di sebelah kanannya, Ada Mama dan Papanya tengah berpelukan. Vanessa terlihat menangis. Di sebelah kiri ada beberapa perawat dan seorang dokter. Kini ia sadar bahwa ia sedang ada di rumah sakit. Tentu saja, tidak salah lagi. Aroma rumah sakit, sangat tidak ia sukai.
"Akhirnya!" Vanessa memeluk Chica dengan histeris. Yudis, Papa Chica pun ikut menangis.
Chica mengernyitkan keningnya."Pa, Ma...jangan sedih, Chica sudah bangun, kan." Chica tersenyum kecut. Kemudian ia mulai berpikir kenapa ia bisa berada di sini, lalu ingatannya kembali pada kecelakaan itu.
"Iya, sayang...Kamu sudah sadar. Mama sudah menunggu cukup lama. Akhirnya Tuhan memberikan mukjizatnya," Isak Vanessa.
"Chica, gimana keadaan kamu? Kita periksa dulu, ya." Dokter memasang stetoskopnya.
Chica hanya mengangguk lemah, sambil teringat dengan Dewa. Bagaimana kabar laki-laki yang ia cintai itu. Usai memeriksa kondisinya, dokter tampak berbincang-bincang dengan Vanessa dan Yudis.
"Ma, Pa...," Panggil Chica saat Dokter dan perawat sudah pergi.
"Sayang, Mama rindu sekali," kata Vanessa kembali berurai air mata.
"Ma, Chica kan cuma pergi sebentar. Terus, sekarang udah bangun. Chica baik-baik aja kok." Chica tersenyum.
"Ca, kami sangat merindukanmu. Tapi, ya sudah...yang penting kamu sudah bangun sekarang. Kami tak khawatir lagi." Yudis mengusap puncak kepala Chica.
"Pa, Ma...kak Dewa gimana keadaannya?" tanya Chica sendu.
Vanessa dan Yudis bertukar pandang."Ca, Mama minta tolong...jangan kamu tanyakan itu lagi,ya."
"Kenapa, Ma? Kak Dewa baik-baik aja, kan?" Air mata Chica mengalir.
Yudis mengangguk."Ya. Dia baik-baik saja. Kecelakaan itu tak membuatnya koma berbulan-bulan seperti kamu.”
Chica terperanjat kaget."Koma berbulan-bulan? Maksudnya, Pa?"
"Sayang, kecelakaan itu terjadi sudah enam bulan yang lalu." Tangis Vanessa pecah seketika. Ia tak lagi bisa membayangkan selama enam bulan belakangan ia memperjuangkan hidup dan matinya Chica. Bolak-balik ke rumah sakit. Setiap detik mengharapkan keajaiban itu datang. Dokter sudah memberi saran agar mereka melepas alat bantu Chica pada bulan kedua. Tapi, Vanessa tetap yakin anaknya akan bangun. Tak peduli sekarang segala harta bendanya dijual untuk biaya perawatan Chica. Chica adalah harta satu-satunya yang paling berharga.
"E...enam bulan? Artinya aku koma selama enam bulan?" Chica mematung tak percaya. Ia merasa baru kemarin berada di dalam kamarnya. Rasanya baru kemarin Dewa datang diam-diam dan membawanya kabur. Tapi, ternyata semua sudah berlalu begitu cepat. Sudah enam bulan."Ma, jadi, Kak Dewa gimana?"
Vanessa mengusap kepala Chica."Kamu yang sabar, ya, sayang. Dewa masih hidup. Dalam keadaan baik. Dewa sempat koma satu minggu karena kecelakaan yang kalian alami lumayan parah. Saat sadar, ia enggak bisa apa-apa. Enggak bisa jalan, enggak bisa bergerak, dan juga enggak bisa bicara. Dia hanya bisa bicara melalui matanya. Jadi, Tante Tania memutuskan untuk membawa Dewa ke luar negeri untuk melakukan perobatan. Mama sendiri tidak tau tepatnya dimana. Karena sejak kejadian di rumah kita waktu itu, Tante Tania seolah menjaga jarak dengan Mama. Sebelum berangkat, Tante Tania sempat membawa Dewa ke hadapan kamu. Kamu masih koma, Dewa hanya bisa menangis dan Tante Tania membantu Dewa mencium kamu. Sejak itu, kita tidak pernah lagi dengar kabar mereka, Ca. Mereka benar-benar sudah memutuskan tali persaudaraan ini."
"Mama...Maafin Chica, ya." Chica terisak. Andai ia tidak dibutakan oleh cinta, semuanya tak akan hancur berantakan seperti ini. Andai ia tidak kabur dari rumah, tidak mungkin ia berada di sini.
"Ca, jangan disesali apa yang sudah terjadi. Kita jalani saja ke depan, ya," kata Yudis yang seolah mengerti segala pikiran Chica.
Chica mengangguk lemah, ia berusaha tegar. Ia tak ingin membuat kedua orangtuanya sedih lagi karena melihatnya sedih. Bukankah selama ini mereka sudah begitu tersiksa melihatnya koma berbulan-bulan. Chica menghapus air matanya, kemudian merentangkan tangannya memeluk Yudis dan Vanessa bersamaan.
Besoknya, Chica sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Vanessa dan Yudis membantu Chica turun dari taksi. Ia terpana saat tiba di rumah. Ini bukanlah tempat yang selama ini ia kenal.
"Ma? Kenapa kita ke sini? Ini rumah siapa?" Tanya Chica bingung. Di hadapannya ada sebuah rumah tipe 36 dengan warna biru muda yang sebagian sudah memudar dan terkelupas. Satu jendela terlihat ditempel plastik tebal untuk menutupi bagian yang berlubang.
"Ini rumah kita sekarang, Nak. Maafkan Papa, ya." Yudis mengusap kepala Chica.
"Memangnya apa yang terjadi, Ma?” Tanya Chica panik.
"Kita masuk dulu,ya." Vanessa membawa Chica ke dalam dengan begitu sabar.
Pemandangan yang membuat hati Chica miris kembali hadir. Lantai rumah ada beberapa yang berlubang. Kursi di ruang tamu juga terlihat begitu apa adanya. Sangat keras dan ada yang ditambal."Ca, rumah dan harta kita yang dulu sudah Papa jual. Papa ingin kamu bertahan hidup, jadi kamu harus terus dirawat di rumah sakit."
"Jadi, semuanya Papa jual untuk biaya perawatan Chica di rumah sakit selama enam bulan?" Hati Chica terasa diremas begitu kuat. Ia paham bahwa biaya rumah sakit tidaklah murah. Apalagi ia harus diberi alat bantu serta obat-obatan yang biayanya tidak murah. Selama enam bulan. Wajar kalau semua yang mereka miliki sudah habis.
"Yang penting kamu ...sekarang sudah hadir di antara kita, sayang. Itu sudah cukup." Yudis memeluk Chica.
Air mata Chica mengalir dengan deras. Betapa ia beruntung menjadi bagian dari keluarga ini. Ia begitu diperlakukan istimewa."Maafin Chica, Ma, Pa. Setelah ini biar Chica yang kerja, ya."
"Eits...Kamu pulihkan kondisi kamu, ya. Jangan mikir yang macem-macem. Mama sama Papa masih bisa kerja. Bisa penuhi kebutuhan kamu. Kamu adalah satu-satunya harta yang kami miliki. Kamu lebih berarti dari segalanya." Vanessa mengusap pipi Chica.
"Sekarang, kamu istirahat, ya. Kan, kata dokter kamu belum boleh banyak beraktivitas. Ayo." Yudis mengantar Chica ke kamar. Kali ini Chica tak ingin merasa kaget dengan kondisi kamarnya. Ia harus menerima apapun yang ada sekarang. Ia harus bersyukur, masih bisa bernapas.Masih bisa bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Kamu tidur, ya. Mama bikinin masakan kesukaan kamu dulu. Ya...?"
"Ma, terima kasih, ya," kata Chica terharu.
"Iya, sayang. Ya sudah Kamu istirahat. Sebentar ya." Vanessa pergi ke dapur. Sementara itu Yudis juga ikut ke belakang.