Hari berganti minggu dan minggupun berganti bulan selama itulah kami menjalani hidup di tenda sampai pada akhirnya turunlah bantuan tentu setelah proses pendataan dari pihak pemerintah desa. masing masing warga medapat bantuan dana sesuai dengan kerusakan rumah masing masing ada yang rusak berat, sedang dan rusak ringan.
Kami mendapat bantuan dana yang rusak berat. aku dan keluarga mulai membangun rumah kami masing masing alhamdulillah tak memakan waktu lama rumah kami selesai di bangun walau tak se bagus dulu tapi alhamdulillah ada tempat berteduh.
Kini kami sudah menempati rumah masing masing, di suatu pagi aku merasa aku merasa badanku begitu lemas aku sulit sekali bangkit dari tempat tidur.
Saat aku berusaha untuk bangkit tiba tiba terdengar dari luar
" susan kamu dimana ?" tanya kak aditya seraya membuka pintu kamar dan kami beradu pandang
" kamu ngapain sih kenapa jam segini belum juga bangun mana sarapan untuk ku"
"astaga kasarnya dirimu kak aditya" aku hanya membatin ini pertama kali dia membentak ku tanpa terasa air mata ku jatuh dengan sendirinya membasahi pipiku.
" Kenapa tidak menjawab mala nangis ayo siapkan sarapan untuk ku" sambung kak aditya lagi tanpa peduli keadaan ku.
Tanpa berkata sepatah katapun aku berjalan menuju dapur aku mulai aktivitas memasak mulanya biasa saja tapi setelah ku memasuk ikan ke wajan untuk menggoreng tiba tiba aku merasakan mual dan " owak oowaak" aku langsung berlari ke kamar mandi aku mengeluarkan semua isi dalam perut rasanya pahit sekali di tenggorokan ku.
Setelah ku rasakan membaik aku teringat ikan yang aku goreng " Allahu Akbar " aku bergegas ke daput tapi setibaku di pintu dapur langkah ku terhenti melihat kak aditya sudah berdiri berkacak pinggang menatapku dan berkata
" kamu ini gapain hah gak becus ngurus suami, goreng ikan kamu tinggal, kamu dari mana saja hah !"
Aku terpaku di tempat mendengar ocehannya dalam hati aku bertanya tanya
" ada apa dengan suami ku ? apa karna dia terlalu capek ? tapi ....." suara bentakannya membuyarkan lamunanku.
" kenapa masih berdiri disitu cepat ambilkan makanan aku lapar tau gak" matanya melotot menatapku.
Kulanjutkan langkahku menuju kompor untuk mengambilkan kak aditya makanan dan lagi lagi aku mual mencium bau ikan " hoowaaak " aku tak bisa mehan rasa mualkh depan kak aditya, aku melepas kembali piring ikan yang ku pegang tadi dan berlari lagi ke kamar mandi tak ku hiraukan tatapan tajam kak aditya.