Sekembali ku dari kamar mandi ku dapati kak aditya masih duduk tak bergeming dari meja makan dengan muka masamnya ternyata dia belum juga sarapan.
Ku paksakan diri mengambilkannya sarapan, aku gak ikut sarapan dengannya aku lansung masuk ke kamar aku memilih rebahan di kamar.
belum sempat mata ku terpejam suara kak aditya sudah seperti gledek keras menggelegar
" susan bangun kuantar kau ke rumah ibu mu biar kau bisa puas puasin tidur disana ayo cepat"
air mata sudah tak dapat ku bendung lagi
" kak maaf aku bukannya malas malasan tapi ........" belum selesai aku berbicara dia sudah memotongnya
" alaaahh gak usah banyak alasan " lalu keluar menuju motornya
" naik sampai kapan kau akan berdiri disitu "
Aku heran dengan perubahan sikapnya aku hanya bisa membathin aku lagi malas menimpali omongannya ku turuti apa maunya. " oh Tuhan suami ku kesambet apa ya ? kenapa sikapnya berubah beberapa hari ini, emang aku salah apa ya ? "
Sesampai di rumah ibu aku berusaha menutupi keadaan dan perasaanku yang lagi kacau saat ini. tapi sepandai pandainya aku sembunyikan suasana hati ku naluri seorang ibu sangatlah peka. ibu menatap ku penuh curiga aku lansung menunduk.
" ibu aku lansung balik ya masih banyak pekerjaan " pamit kak aditya dan mencium punggung tangan ibu.
" titip susan disini dulu ya bu "
ibu mengangguk setuju
" iya nak kamu hati hati di jalan ya " .
sepeninggalan kak aditya ibu menggandeng tangan ku mengajak ku ke kamar
" duduk nak " pinta ibu sambi menepuk tempag tidur meminta ku agar duduk di sebelahnya.
" susan lihat ibu " ku angkatkan kepala ku beranikan diri menatap wajah ibu ku.
" sekarang jawab ibu nak, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan aditya? " tanya ibu penuh selidik.
" tak terjadi apa apa bu aku hanya lagi gak enak badan saja"
"susan kamu itu anak ibu, ibu yang mengandungmu selama sembilan bulan sepuluh hari di perut ibu dan ibu juga yang telah melahirkan mu jadi kamu gak bisa bohong sama ibu nak karna ibu tau putri kecil ibu ini lagi tidak baik baik saja ".