Sejak saat itu, Aruna memilih tidak bertanya lagi. Dia pasrah jika memang tak akan disentuh oleh Mahesa selamanya.
Saat Aruna memainkan ponselnya, dia melihat vidio adegan dewasa. Aruna bukannya keluar dari vidio itu justru menontonnya sampai selesai.
"Bagaimana rasanya?" Itu yang Aruna pikirkan setelah menontonnya.
Hingga lamunan Aruna buyar saat ada notif pesan masuk dari Andri. Pria itu mengirimkan fotonya sehabis olahraga dengan telanjang d**a.
Pikiran Aruna mulai tak karuan melihat tubuh atletis Andri. Ada gejolak yang sejatinya ingin disalurkan. Tapi dia kembali tersadar, dia tak bisa melakukannya dengan pria lain.
Aruna menyusul Mahesa di ruang kerjanya. Dia berupaya menggoda suaminya itu. Namun, hasilnya nihil. Mahesa sama sekali tidak tertarik.
"Ngapain kamu pakai baju itu? Baju kurang bahan kok di pakai."
Mahesa hanya mengatakan itu saat melihat Aruna memakai lingerie ke ruang kerjanya.
"Apa Mahesa tak normal?" pikir Aruna. Tapi, Aruna pernah melihat milik Mahesa bangun.
Di rasa sia-sia, Aruna memilih untuk segera ke kamar kembali. Dia menangis, ada rasa kesal dan juga sedih di dalam hati.
***
Satu Minggu kemudian, Aruna memutuskan untuk menemui Andri. Dia mendadak merindukan Andri.
"Silahkan masuk!" Andri membuka pintu lebar dan mengajak Aruna masuk ke dalam rumahnya.
Andri tinggal di rumah seorang diri. Orang tuanya sudah lama meninggal. Saudaranya sudah menikah semua.
"Kamu tampak sedih, Mbak!"
Aruna bukannya menjawab, dia malah memeluk Andri. Andri merasa iba saat Aruna menumpahkan air matanya dalam pelukan Andri.
"Mari duduk! Kita bicara!"
Andri menuntun Aruna duduk di ruang tamu. Aruna dengan santainya menceritakan bagaimana hubungan dia dengan sang suami selama ini.
"Mungkin ada masalah yang Mbak Aruna tidak tahu soal suami, Mbak."
"Tapi apa? Apa susahnya jujur?"
Andri menggelengkan kepala. "Mana aku tahu? Mungkin dia takut jujur karena takut kehilangan Mbak Aruna."
"Tetap saja tidak dibenarkan. Aku ini istrinya."
Aruna banyak sekali bercerita pada Andri. Sebagai teman yang baik, Andri memberikan saran agar Aruna menyelidiki semua sebelum mengambil keputusan yang salah. Namun, Aruna justru merasakan hal yang berbeda. Dia merasa nyaman saat bersama Andri.
Satu Minggu sekali, mereka selalu mengadakan pertemuan di rumah Andri. Hingga suatu hari, mereka khilaf. Hal yang gak diingikan terjadi.
"Maafkan aku, Mbak!"
"Bukan salah kamu. Tapi bagaimana aku bertanggung atas semuanya? Bagaimana nanti kalau Mas Mahesa menyentuhku sementara aku sudah tidak ... Ah kenapa aku ceroboh sekali." Ada nada penyesalan dalam perkataan Aruna.
Sejak kejadian itu, Aruna berusaha menjauh dari Andri. Andripun memahami hal itu. Namun, Mahesa justru seperti memberikan celak untuk Aruna kembali pada Andri. Mahesa kembali dinas keluar kota.
Aruna yang tak dapat menahan hasratnya kembali menemui Andri. Kesalahan itu terulang untuk kedua kalinya. Kali ini tidak ada penyesalan dalam hati Aruna.
"Kenapa Mbak mau melakukannya lagi?"
"Aku rasa aku mulai mencintaimu."
"Aku juga."
Ternyata selama ini mereka saling mencintai. Dan hubungan terlarang itu semakin berlanjut.
***
"Sayang, maaf aku akan lama dinasnya." Mahesa menelpon hanya memberikan kabar soal itu. Bahkan dia tak mengatakan kapan dia pulang.
Sore itu, Mawar datang ke rumah Aruna. Dia membawa begitu banyak makanan.
"Mahesa kayanya dinas. Aku akan menginap di sini biar kamu tidak kesepian."
Aruna ingin menolak tapi pasti akan menimbulkan rasa curiga. Dia memilih mengiyakan saja apa yang Mawar katakan.
"Kamu tidak takut kalau Mahesa punya wanita lain?"
Aruna menatap Mawar, apa itu jawaban dari pertanyaannya tempo hari?
"Jika Mas Mahesa memang punya wanita lain. Lalu untuk apa aku dinikahi? Di palaipun tidak." Jawaban Aruna sedikit menohok.
"Kamu tenang saja, Mahesa itu setia. Tidak akan ada wanita lain di hatinya selain kamu."
"Semoga saja."
"Lalu bagaimana dengan kamu? Apa dengan keadaan yang sekarang ada niatan untuk selingkuh?"
Aruna langsung melongo, dia berharap wajahnya tidak terlihat mencurigakan.
"Tidak."
Mawar hanya tersenyum, malam itu mereka memutuskan untuk istirahat. Besok Mawar akan mengajak Aruna jalan-jalan.
"Sayang, aku sengaja suruh Kak Mawar menemani kamu. Aku tahu kamu pasti kesepian."
***
Mawar dan Aruna pergi ke mall. Mereka berbelanja. Hingga tanpa sengaja mereka bertemu dengan Leon.
"Kak Mawar, Mbak Aruna!" sapa Hana.
Aruna terkejut karena tak mengenal wanita itu sebelumnya. Apakah wanita itu saudara Mahesa?
"Hai aku Hana, teman baiknya Mahesa?" wanita itu memperkenalkan diri pada Aruna. Aruna menerima perkenalan Hana.
"Senang bisa berkenalan dengan Mbak Hana. apa Mbak Hana teman dekatnya Mas Mahesa?" tanya Aruna penasaran karena Mahesa tidak pernah cerita soal Hana. bahkan saat menikahpun Hana tidak datang.
"Ya begitulah, sayanganya sekarang Mahesa sibuk. Gak pernah bisa ketemu aku lagi."Hana tersenyum. "mungkin dia takut istrinya cemburu kalau ketemu aku. secara aku kan."
"Hana jangan banyak bicara!" Mawar langsung menyela ucapan Hana tadi. "Bagi kami dan Mahesa kamu bukan siapa-siapa."
"Tapi dia perlu tahu, Mbak. Kalau aku ...," belum sempat melanjutkan ucapannya Mawar sudah memberi kode untuk diam.
Tatapan aneh Mawar terlihat jelas. Tampaknya Mawar tidak suka dengan Leon terlihat dari nada bicaranya.
"Aruna, ayo pergi!" Mawar menarik tangan Aruna.
"Duluan, Mbak!" Aruna melambaikan tangan Hana hanya tersenyum melihat kepergian mereka.
"Jangan dekat dengan dia!"
"Kenapa, Mbak? Apa ada masalah dengan Hana?"
"Lebih baik jangan terlalu akrab dengan dia.Dia bukan orang yang baik buat kamu."
Penuh tanda tanya dari sikap dan ucapan Mawar barusan. Namun, Aruna berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Mawar menonton di bioskop.
Mereka terlalu capek, sampai di rumah mereka langsung tertidur pulas. Satu hari tak berkirim kabar dengan Andri membuat Aruna merindukan pria itu.
"Kangen kamu." Pesan Aruna pagi itu.
"Apa iparmu masih disana?"
"Iya, entah sampai kapan."
Mawar melihat Aruna tersenyum saat membalas pesan. Dia mendekati Aruna.
"Apa Mahesa kirim kabar?"
"Oh tidak ini saudaraku."
Mawar hanya terdiam, dia mengambil handuk dan segera mandi. Aruna memilih kembali ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
"Aku merindukan kamu." Aruna tampak manja saat menelpon Andri.
"Aku juga, kenapa tidak kamu suruh pulang saja iparmu itu?"
"Nanti dia curiga, malam ini aku usahakan datang ke tempat kamu setelah dia tidur."
Kedua orang itu tampaknya sedang kasmaran. Mereka saling merindukan satu sama lain.
Malam itu, Aruna diam-diam ke rumah Andri. Namun saat pulang, Mawar justru memergokinya.
"Dari mana kamu? Jam berapa ini kok dari luar?"
"Aruna lapar, beli makan tadi."
"Kenapa gak ajak kakak?"
"Kakak udah tidur tadi."
Mawar hanya tersenyum lalu masuk ke kamarnya lagi. Aruna merasa tenang, dia segera masuk ke kamar dan tidur.
Pagi itu, Mahesa pulang mendadak. Aruna dan Mawar terkejut sekali.
"Pulang kok gak ngabarin, Mas."
"Iya, tugas udah selesai makanya aku pulang."
"Jangan keseringan keluar kota! Kasihan itu istrimu."
"Mbak, bisa kita bicara di ruang kerjaku?" Mahesa menarik tangan Mawar mengajaknya masuk ke ruang kerja Mahesa.
Aruna menaruh curiga ada yang mereka bahas di dalam sana. Dan hal itu pasti sangat penting. Aruna mendekatkan diri ke pintu yang tertutup rapat itu.