Tak terdengar suara apapun dari dalam sana. Aruna makin curiga dengan apa yang mereka bahas. Aruna melihat dari celah lubang kunci tapi tak bisa terlihat.
Terdengar langkah kaki, Aruna segera menjauh dari pintu itu.
"Aruna, Mbak pamit ya!"
"Pulang sekarang, Mbak?"
"Mahesa sudah di rumah, jadi Mbak pulang."
Mawar lalu mengambil tasnya di kamar tamu dan segera pulang. Aruna masih penasaran dengan pembicaraan mereka.
"Bagaimana selama aku keluar kota? Apa saja yang kamu lakukan?"
Tak seperti biasanya Mahesa menanyakan hal itu. Apa mungkin Mahesa menaruh curiga pada Aruna?
"Tidak ada. Hanya sesekali bermain ke rumah teman. Selama ada Kak Mawar aku hanya pergi dengannya."
"Teman? Siapa?"
Aruna lupa kalau setahu Mahesa dia tak punya teman dekat.
"Oh itu aku punya teman baru. Baru kenal beberapa Minggu. Kami punya banyak kecocokan makanya mudah sekali akrab."
Aruna berharap Mahesa tidak menaruh curiga. Mahesa tampak menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Mas, apa Kak Mawar juga kenal dengan Pak Leon? Kemarin kita ketemu beliau di mall."
"Oh iya." Mahesa menyipitkan mata. "Aku lupa kapan mengenalkan mereka."
Mahesa meminta waktu untuk istirahat dengan alasan capek karena beberapa hari ini fokus dengan urusan bisnis. Aruna tidak mempermasalahkan hal itu.
***
Mawar tidak langsung pulang, dia mendatangi rumah kedua orang tuanya.
"Pa, Mahesa masih berhubungan dengan dia!" adu Mawar.
Pria tua itu tampak geram mendengar aduan Mawar. Entah siapa yang mereka maksud.
"Apa kurangnya Aruna? Dia cantik dan baik! Masih saja dia tidak mau menerima Aruna."
Mawar menceritakan kedatangan Aruna waktu itu ke rumahnya. Pria tua yang tak lain orang tua Mahesa itu tampak marah. Dia kecewa dengan perlakuan Mahesa pada Aruna selama ini.
***
Malam itu, Aruna menyiapkan makan malam. Tanpa dia ketahui sang mertua datang berkunjung secara tiba-tiba.
"Papa ... Mari masuk!" Aruna menunjuk Bobi, Papa Mahesa.
"Dimana Mahesa?"
"Papa duduk! Aruna panggilan Mas Mahesa."
Aruna ke belakang memanggilkan Mahesa. Setelah mereka bertemu, keduanya masuk ke ruang kerja Mahesa. Sama seperti yang dilakukan pagi tadi dengan Mawar. Kali ini Aruna memilih menyiapkan makan malam.
Kali ini cukup lama, dan bahkan terdengar barang jatuh dari dalam ruang kerja Mahesa.
"Apa papa marah?" batin Aruna.
Setelah itu mereka keluar dari sana. Mahesa mengajak Bobi malam malam bersama. Terlihat mata Mahesa sembab dan raut wajah Bobi tampak marah.
"Pa, biar Aruna ambilkan nasinya!" Aruna mengambil piring Bobi dan mengambilkan nasi serta lauk.
"Cukup."
Aruna meletakkan kembali piring itu di depan Bobi.
"Papa beruntung punya menantu seperti kamu."
Aruna tersenyum, dia melirik ke arah Mahesa. Tapi tampaknya Mahesa tidak fokus. Mahesa terlihat memikirkan sesuatu.
Aruna yakin, Mahesa baru saja mendapatkan teguran dari sang papa. Saat makan malam, Mahesa sama sekali tak berbicara.
Selesai makan malam, mereka duduk di ruang tengah dan mengobrol. Tapi, Mahesa lagi-lagi terdiam.
"Aku harap hubungan kalian baik-baik saja." Bobi melihat ke arah Aruna lalu Mahesa. "Kalian harus saling mencintai satu sama lain. Jangan pernah saling menyakiti!"
Aruna paham kemana arah pembicaraan Bobi. Tapi, Aruna tidak tahu kalau Bobi sudah tahu soal Mahesa yang tak pernah menyentuhnya.
"Mahesa, jadilah pria suami yang baik untuk Aruna. Jangan pernah kecewakan dia!"
"Selama ini Mahesa selalu meratukan Aruna, Pa. Seperti apa yang Papa perintahkan!"
"Bagaimana dengan nafkah batin? Dan kenapa kalian belum juga punya keturunan?"
Aruna menoleh ke arah Bobi. Aruna sadar kalau Bobi pasti tahu dari Mawar. Sementara, Mahesa terlihat biasa saja.
"Itu bukan urusan Papa! Papa meminta aku menikahi Aruna, sudah aku lakukan! Jangan meminta lebih!"
"Maksud kamu apa, Mas? Kamu menikahi aku karena perintah papa?" Aruna menatap Mahesa.
Mahesa dengan santai menganggukkan kepala. Dia sama sekali tak merasa bersalah. Aruna berpikir itu alasan Mahesa sampai saat ini tak menyentuhnya.
"Jika kamu keberatan, Kenapa tidak menolak, Mas?"
"Sudah ... Jangan di bahas lagi! Papa hanya mau hubungan kalian baik-baik saja. Ingat Mahesa, Aruna istrimu dia berhak mendapatkan semua dari kamu."
"Maaf tidak bisa, Pa!"
Di depan Bobi saja, Mahesa berani menolak Aruna. Selama ini tidak ada yang Mahesa takuti walaupun itu papanya sendiri.
"Jika terjadi sesuatu pada pernikahan kalian, maka kamu yang papa salahkan!" bentak Bobi lalu pamit pada Aruna.
Aruna mengantarkan Bobi sampai teras. Supir pribadi Bobi membukakan pintu mobil. Setelah kepergian Bobi, Aruna segera mendekati Mahesa.
Aruna butuh penjelasan tapi Mahesa justru merasa acuh.
"Apa kamu tidak pernah mencintaiku, Mas?"
"Apa itu penting? Bukannya selama ini aku memenuhi semua kebutuhan kamu? Harusnya kamu bersyukur!"
Baru kali ini Mahesa berbicara dengan nada tinggi pada Aruna. Aruna mengambil kesimpulan sendiri, dia dinikahi atas perintah Bobi, bukan karena cinta.
Saat suasana tengah tegang, ponsel Aruna berdering. Mahesa mendekati ponsel Aruna yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
Aruna segera mengambil ponselnya, dia takut itu panggilan dari Andri.
"Siapa yang menelpon malam begini?"
"Oh ini teman baruku itu. Dia suka iseng nelpon malam-malam. Dia tidak tahu kalau kamu sudah pulang."
Aruna menaruh ponselnya di dalam saku.
"Yakin? Jangan sampai kamu berpaling dariku!"
"Bukankah kamu tidak mencintai aku?"
Mahesa tak menjawab, dia memilih meninggalkan Aruna. Setelah memastikan Mahesa masuk ke dalam kamar, Aruna menghubungi Andri.
"Hampir saja ketahuan! Suamiku di rumah! Aku lupa mengabarimu! Banyak hal yang ingin aku ceritakan! Besok kita bertemu setelah suamiku berangkat kerja!"
Tanpa Aruna sadari, Mahesa keluar dari kamar. Dia melihat Aruna berbicara di telepon dengan serius. Hal itu, tidak pernah Mahesa lihat sebelumnya.
"Siapa yang kamu telpon?"
Aruna berbalik, melihat Mahesa berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Dia langsung mematikan panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Apa kamu punya selingkuhan?"
"Ini Anita, teman baruku itu. Aku ingin sekali bercerita banyak hal dengan dia. Yang pasti bukan masalah rumah tangga kita."
"Jangan sampai ada yang tahu hal ini!" Tampaknya Mahesa tidak ingin ada orang luar yang tahu soal hubungan mereka.