Bab 5

833 Words
Hari itu, Aruna menemui Andri di rumahnya. Dia sangat merindukan Andri. Sudah beberapa hari sejak ada Mawar mereka tak bertemu. "Aku kangen kamu!" Sikap manja Aruna mulai terlihat saat bersama Andri. "Aku juga." Andri memeluk Aruna. Seperti biasa mereka memadu kasih. Namun, Aruna tak menyadari kalau sedari tadi dia dibuntuti oleh Mahesa. "Tok tok tok!" Andri keluar dari kamar, dia melihat dari jendela. Dia terkejut melihat Mahesa ada di depan rumahnya. Namun, dia berusaha tenang. Dia meminta Aruna untuk segera memakai bajunya. "Selamat siang, cari siapa, Mas!" Andri membuka pintu. "Mas Andri, dia itu Mas Mahesa suaminya Aruna. Dia pasti kesini cari Aruna." Seorang wanita keluar dari dapur bersama Aruna. "Mas, ngapain ke sini? Dari mana Mas tahu rumah Anita?" Mahesa tampak bingung harus jawab apa. Dia tidak mungkin jujur tengah membuntuti Aruna. "Maaf aku melihat mobilmu di depan tadi." "Kantor kamu kan jauh dari sini, Mas? Ngapain lewat sini?" Mahesa makin bingung, "Aku habis ketemu klien di dekat sini." Aruna lalu pamit pada Andri dan Anita, dia merasa tak enak karena kedatangan Mahesa. Sampai di rumah, Aruna marah pada Mahesa. "Kamu membuntuti aku ya, Mas!" "Tidak untuk apa." "Kamu yakin? Bagaimana kamu tahu aku ada disana? Padahal aku tak pernah bercerita alamat Anita." "Sudahlah gak penting." "Lain kali jangan berbohong, Mas. Untuk Anita dan adiknya tidak marah." Aruna bersyukur karena Andri satu langkah lebih maju saat melihat Mahesa datang. Padahal Aruna sempat panik saat tahu Mahesa datang ke rumah Andri. *** Sejak saat itu, Mahesa berusaha untuk tidak lagi menaruh curiga pada Aruna. Dia meyakinkan dirinya jika Aruna wanita yang setia. "Sayang, maafkan aku! Aku belum bisa menjadi suami yang sempurna untukmu!" "Tidak perlu menjadi yang sempurna, Mas." Aruna melihat ke arah Mahesa." Cukup jalankan kewajibanmu saja sebagai seorang suami." Mahesa mendekati Aruna, dia tampak serius sekali. Aruna ingin tahu apa yang akan Mahesa katakan. Akankah dia jujur saat ini? "Aku sangat mencintaimu, tapi aku belum bisa memenuhi kewajiban aku sebagai suami." Mahesa menundukkan kepala. "Ada hal yang belum bisa aku katakan padamu. Dan jujur ini sangat berat bagiku! Aku juga tidak mau seperti ini." Dalam hati, Aruna mengomel sendiri. "Terlambat, Mas! Aku sudah mencintai pria lain!" "Kalau belum siap, ya sudah!" Aruna menjauh dari Mahesa. Aruna tidak seperti dulu lagi yang merengek pada Mahesa. Dia berusaha menjadi wanita yang kuat dan tegas. "Jika dalam waktu satu bulan kamu belum bisa menjelaskan dan jujur, lebih baik kita sudahi, Mas!" "Tidak ... Jangan Aruna! Aku butuh kamu!" "Pikirkan baik-baik!" Aruna berdiri meninggalkan Mahesa seorang diri. Mahesa hanya bisa menangis, dia berada dalam situasi yang sulit. Setiap hari, Mahesa memikirkan ucapan Aruna. Belum siapa jujur, tapi rumah tangganya sedang di pertaruhkan. Sementara itu, diam-diam Aruna sudah menyiapkan surat cerai. Keluarga Mahesa belum tahu semua. Mahesa tidak berani memberi tahu mereka. Dia tak ingin disalahkan. "Kamu yakin akan bercerai dari Mahesa." Andri meyakinkan Aruna. "Benar, aku ingin kita bersama. Untuk apa aku bersama pria yang tak bisa menyentuhku." Mahesa senang dia akan bisa memiliki Aruna seutuhnya. Walaupun pada awalnya tidak ini yang dia mau. Namun, dia juga tak sanggup melihat Aruna terus bersedih. Satu bulan berlalu, Aruna menanyakan keputusan Mahesa lagi. "Mau jujur atau berpisah?" "Aku tidak bisa, aku tidak ingin menyakiti kamu, Aruna." "Bukankah selama ini kamu sudah menyakitiku? Terserah kamu saja! Yang pasti akan sudah mantap bercerai." Di luar rumah terdengar suara mobil. Pintu yang terbuka lebar terlihat jelas, Hana datang dengan begitu gagahnya. "Mahesa, jujur atau tidak Aruna pasti akan meninggalkan kamu. Karena selama ini Aruna sudah mencintai orang lain." Aruna terkejut dengan ucapan Hana. Bagaimana Hana tahu? Apa Hana memata-matai Aruna? "Ini masalah rumah tangga kami, Mbak! Jangan ikut campur!" Aruna merasa geram karena ada orang lain yang tiba-tiba memojokkannya. Mahesa menatap ke arah Aruna, "apa benar yang dia katakan? Jawab Aruna!" bertanya setengah membentak. Hana membuka ponselnya, dia menunjukkan foto mesra Aruna dengan Andri. Aruna tidak menyangka Hana membuntutinya. "Dia sudah ketahuan selingkuh! Apa yang kamu pertahankan dari dia? Lebih baik kamu kambali." Mahesa melihat ke arah Aruna, antara percaya atau tidak dengan bukti yang Hana perlihatkan tadi. Sepertinya, Mahesa masih ragu. "Jangan fitnah istriku! Aku tidak mau bercerai dari dia!" Mahesa kembali menyerang Hana, bukannya takut Hana malah tertawa. "Mau aku bongkar semua? Kenapa kamu tak pernah bisa menyentuhnya?" "Jangan! Jangan ikut campur!" Aruna geram melihat perdebatan mereka. Namun, dia merasa lega Mahesa tidak mempercayai Hana. "Aruna, kamu menikah dua tahun dengan Mahesa. Tapi kamu tidak tahu bagaimana dia yang sebenarnya, kan?" "Apa maksudmu?" Aruna ingin mengetahui kebenarannya saat itu juga. Dia yakin Hana tahu semua. Tahu semua rahasia yang Mahesa sembunyikan selama ini. "Ayolah Mahesa! Katakan pada istri kesayangan kamu ini!" tekan Hana. "Atau kamu mau aku yang membongkar?" "Jangan... Biarkan aku saja!" "Katakan!" bentak Hana. "Sebenarnya aku ..." Mahesa terdiam. Leon tampak geram, "Kami punya hubungan." Hana menyahut ucapan Mahesa. Aruna masih belum mengerti maksud Leon. Dia kembali bertanya, "Hubungan apa teman kerja?" "Bukan, hubungan sepasang kekasih." Seketika mata Aruna membulat penuh. Hal yang sungguh tak terduga baru saja dia dengar. Dua tahun dia hidup dalam kebohongan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD