Jujur itu ujian, karena meski kadang sudah jujur pun. Orang kadang menganggap jujur itu omong kosong.
"Kok bisa gara-gara kamu sjh Daf. Jangan ngaco ya. Atau kamu bilang gini cuma buat konten!" Rena menatap tajam pada Daffa.
Daffa tersenyum. "Enggak Rena. Mana aku pegang kamera. Jadi, pas di perpus. Luna marah sama aku. Terus dia pergi gitu aja. Kelupaan kalau sama kamu. Gimana? Kamu nggak percaya. Kalau gitu. Tunggu!"
Daffa bergeser ke bangkunya. Lalu mengambil sesuatu. Menunjuk sebuah benda yang membuat Luna pergi begitu saja. "Ini lho yang bikin Luna pergi."
"Apa! Maksudnya?"
"Iya ini yang bikin aku berantem sama Luna."
"Buku?"
"Gini lho, aku tu mau baca ini. Tapi, Daffa juga mau baca. Jadi aku kasih gitu aja bukunya sama dia. Terus, kan aku kesel, bukunya nggak jadi aku baca. Cabut langsung deh, aku dari perpus. Terus lupa sama kamu." Luna coba menjelaskan dengan cepat sambil menatap Rena dengan penuh iba dan memelas.
Rena memberikan kesan bingung. "Kamu marah sama dia cuma gara-gara buku doang. Luna! Gimana aku bisa percaya, kamu nggak tipe yang kayak begitu?"
"Gimana nggak marah, aku sama Daffa sering banget rebutan buat pinjem buku di perpustakaan." Luna kemudian melihat Daffa yang masih berdiri di sampingnya. "Jelasin! Jangan diam aja dong!"
"I-iya! Emang sering sih kayaknya. Aku rebutan buku sama dia.
"Kok bisa?" Rena semakin tajam melihat Daffa dan penuh rasa ingin menyelidiki. 'Mingkinkah?' tanya Rena dalam hati. Ia lalu mendekati wajah Daffa, membuat pria itu tidak bisa menatap ke sisi yang lain. "Kayaknya kamu perlu menjelaskan sesuatu?"
"Apanya yang perlu dijelasin. Emang bisa?"
"Harus!"
Justru Daffa dan Rena saat ini yang beradu pandang. Seperti mereka berdua merasa ada yang saling ingin tahu.
Daffa menghela nafas panjang. Ia lalu menatap Luna dan Rena secara bergantian. "Okey, ini semua karena, Luna yang kayaknya tu nggak peka. Aku tu, cuma pengen deket sama dia. Jadi teman dia, nemenin waktu sendirinya di perpus pas baca di bangku pojokan. Jadi teman ngobrol tentang buku-buku yang dibaca di perpus. Atau kalau mau, jadi teman ke kantin pun boleh. Tapi, selama ini …!"
Rena tahu maksud alur menyebalkan ini. "Jadi, kamu lagi pedekate kan sama Luna. Ngomong ribet amat. Dasar artis kutub!"
"Apa, ngapain pedekate sama aku? Aku nggak mau!"
"Tuh kan! Dia itu nggak kasih aku ruang Rena. Apa salahku sama dia?" Daffa langsung menghembuskan nafas kasar.
"Salah kamu, kenapa pedekatenya sama aku?" Luna kemudian menarik tangan Rena. "Udah, kita kan nggak berantem lagi. Jadi, kita balik pulang sekarang!"
"Tunggu Luna aku mau ngomong sesuatu?" Daffa kembali angkat bicara. Ia kali ini berani memegang lengan Luna dengan begitu tatapan memohon. "Masak iya sih, aku nggak bisa jadi teman kamu? Please! Aku mohon! Ya! Aku boleh ya buat jadi teman kamu!"
Rena melihat Daffa menjadi tidak tega. Ia pun menarik tangan Luna yang menggenggam tangannya. Memberi kode seakan menyuruh Luna untuk menyelesaikan masalahnya dulu dengan Daffa.
"Apasih?" Luna bingung.
"Ini Daffa, kasihan tau!" Tambah Rena.
Luna memutar bola matanya. "Ngapain juga sih dia pengen temenan sama aku?" Gerutu Luna. "Ya udah, gini aja. Kalau kamu pengen jadi teman aku, secara otomatis. Kamu juga harus jadi temannya Rena juga sama Tobi. Kamu tahu kan Tobi?"
"Tau!" Jawab Daffa singkat.
"Jadi, kalau kamu berteman sama aku, kamu juga berteman sama Tobi juga Rena. Jangan ada yang di pilih-pilih. Semuanya sama, statusnya kita semua berteman."
Daffa menggangguk seperti anak kecil yang sangat menuruti ucapan orang tuanya. "Cuma itu aja?"
"Iya!"
"Jadi, kita berteman. Nggak sekedar teman kelas. Tapi, teman dekat? Iyakan?" Daffa seperti ingin lebih.
"Terserah kamu lah. Aku sama Tobi dan Rena, emang lebih dari sekedar teman. Kita sahabat. Ya, kalau menurut kamu istilahnya sama. Ya udah anggap aja gitu." Luna lalu menarik lagi tangan Rena. Segera mengajaknya pergi dari kelas.
Saat sampai di dalam mobil, lebih tepatnya mobil milik Tobi. Karena Luna sudah berpamitan pada Pak Ferdi, kalau siang ini, ia akan pergi makan siang bersama kedua temannya itu.
"Jadi, mohon-mohon sama Luna buat jadi temannya. Aku yakin ini, nggak lama setelah ini, Daffa pasti memohon-mohon sama Luna buat jadi pacarnya." Tobi tersenyum tidak bisa berhenti. Ia membayangkan hal itu benar-benar akan terjadi.
"Nyetir woy, jangan ngehalu. Dia itu artis kutub mana mungkin bisa begitu sama aku. Semua orang juga tau aku cuma sodara tirinya Mellya, bukan saudara kandungnya."
"Tapi, Luna. Apa yang diomongin Tobi tadi bisa beneran terjadi loh." Kali ini Rena ikut angkat bicara.
"Tuh kan, pakarnya yang bisa memahami perasaan orang aja udah bilang!" tambah Tobi.
Luna hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tidak bisa membayangkan itu terjadi.
Hingga akhirnya perjalanan makan siang itu berakhir. Luna sudah berada di dalam kamarnya yang nyaman. Ia kemudian membuka layar laptop miliknya. Mengaktifkan tampilannya untuk melihat untuk halaman video konten miliknya.
"Wah, nggak nyangka. Udah bisa diambil dollarnya. Apa aku bilang ke ibu ya. Kalau aku balik bikin konten lagi. Tapi." Luna ragu kalau ibunya sampai tahu. Ia takut kalau ibunya akan marah lagi dan bisa-bisa laptopnya akan diambil.
"Nggak ah, nggak jadi."
Kembali Luna mengamati tampilan layar. Ada sesosok akun yang mulai membuat Luna bengong, karena dalam waktu singkat sepertinya akun itu sudah menjelajahi penuh halaman video Luna. Semua yang ia buat, sudah dilike oleh akun tersebut.
"Ini kan akunnya Daffa. Nggak salah? Jadi, selama ini dia …!" Bahkan akun yang Luna tahu milik Daffa itu, juga memberi komentar. Bersyukur itu adalah komentar positif.
"Daffa Anggara, apa dia tahu kalau penari bertopeng itu aku. Makanya dia pengen berteman sama aku. Apa aku ceritain ini sama Rena ya. Tapi, dia mojokin aku sama Daffa terus dari tadi."
Luna mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi. Memang sudah sejak Daffa masuk ke kelasnya. Murid laki-laki itu sering mencuri pandang dengan dirinya. Akan tetapi, Luna belum curiga apa-apa.
Hanya saja kalau Luna mengingat kejadian tadi siang di dalam kelas. Rasanya Luna ingin senyum-senyum sendiri. Iya tidak mengira kalau Daffa senekat dan seberani itu untuk menginginkan dirinya menjadi teman. Padahal ada Rena juga tadi.
"Ah, apa yang harus aku lakukan kalau sampai Daffa, tahu atau curiga kalau penari bertopeng itu aku." Luna jadi sedikit menyesal karena sudah mau berteman dengan Daffa. ia hanya berharap saja kalau setelah ini tidak akan ada masalah.