Dicuekkin Daffa

1048 Words
Kalau sudah suka mau bilang apa. Hanya waktu yang akan membuat dua hati asing bisa bersatu. Tapi, mungkinkah? Menunggu sambil senyum-senyum sendiri. Hari ini adalah hari yang menyenangkan, Daffa tidak jelas maunya apa. Ia sengaja berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Sambil memasukkan satu tangan ke dalam saku celana. Juga mengenakan headset earphone di telinganya. Setiap siswi yang lewat pintu gerbang selalu terkejut sambil memasang mulut menganga. Bagaimana tidak menganga, kalau sepasang mata mereka disuguhi pemandangan indah seorang Daffa. Daffa sambil bersandar di salah satu tiang yang ada di pintu masuk. Ia juga menampakkan wajah datarnya yang selalu menyenangkan untuk disaksikan. Bibirnya merah muda, alisnya tebal dan kulitnya bersih. Ditambah ada sinar matahari hangat bersinar mengenai kulitnya. Seperti lampu panggung yang menyinari artisnya. ‘Itu Daffa ‘kan!’ batin Melly yang baru turun dari mobil daddynya. Ia semangat seketika dan langsung jalan duluan. Masuk ke pelataran sekolah. Berharap akan bisa menyapa Daffa Anggara. “Hay Daf!” sapa Mellya sambil tersenyum. “Hay!” balas Daffa. “Kamu lagi apa? Gimana kalau kita ke …!” Belum sampai Mellya melanjutkan kata-katanya. Ia malah melihat Daffa pergi meninggalkannya. “Lho! Daf! KAmu mau kemana?” Lanjut Mellya yang bingung bertanya, dan malah kaget melihat daffa ternyata menghampiri Luna. Luna memang turun bersama dengan Mellya, tapi ia berjalan santai dan sempat bicara dulu dengan Papanya. Sekedar basa-basi untuk ucapan selamat menikmati hari, dan hati-hati. Baru kemudian ia berjalan menuju gerbang sekolah. Hingga saat akan masuk, sosok daffa yang memang sengaja menunggunya lekas berlari menghampiri dan menyapa. “Luna! Kok baru nyampe sih! Ke kelas bareng yuk! Kamu lagi sama Tobi dan Rena nggak, mana mereka biar aku sapa dan ajak ke kelas sekalian. Katanya kalau aku berteman sama kamu, juga harus berteman sama mereka juga,” ucap Daffa. “Apa …!” Bingung Luna melihat tingkah Daffa ambil melihatnya banyak bicara. Ia hampir lupa kalau ada Mellya yang hanya berjarak dua meter darinya, sedang berdiri melihat ke arahnya saat ini. “Tobi dan Rena udah sampe duluan deh.” “Jadi, cuma kamu doang! Ya udah kita ke kelas bareng!” daffa tersenyum. Jujur melihat senyuman Daffa, hati Luna juga tidak bisa menolak. Ia pun hanya diam sambil mengangguk kecil tanda setuju. “Kalau gitu! Ayo!” ucap Daffa. Daffa dan Luna akhirnya jalan bersama ke dalam kelas. Mereka berdua terlihat akrab sekali. Membuat Mellya yang sejak tadi mengawasi, merasa panas mendidih. “Sial! Padahal kan gue yang nyapa duluan, kok bisa Lunlun sih yang digaet sama Daffa. Hah!” Mellya berteriak kecil. Ia menahan emosi sambil terus menatap kepergian Luna dengan Daffa. Sementara itu Luna masuk ke dalam kelas bersama dengan Daffa. Membuat isi kelas heboh dan langsung memunculkan gosip. Tidak sedikit langsung bersorak dan membuat berisik. Bahkan sebagian teman laki-laki Daffa langsung bertanya. “Heh! Kok lo bareng sama kacungnya si Mellya sih?” “Apa kacung?” “Iya, upik abunya Mellya, Lo nggak tau kalau Luna itu sodara tirinya Mellya?” “Tau sih! Tapi nggak ngerti kalau ada istilah upik abu di antara mereka.” Mellya juga baru masuk dan merasa kesal tak berpenghujung. Kesalnya bagai jalan aspal yang tidak terbatas, menjalar kemana-mana, ke seluruh urat syarafnya hingga membuat buku-buku yang sedang dipegang diletakkan kasar di atas meja. “What! Kalem dong cantik! Nggak kayak biasanya bibirnya manyun. Awas keriput penuaan lho!” Prita menggoda sahabatnya. “Kayaknya ada yang jelolet, eh jelllles!” “Iya, emang kalian nggak lihat Si Lunlun masuk bareng sama Daffa. Ih sok cantik banget sih!” Mellya merasa kesalnya eprlu diungkapkan. “Kerjain aja!” Mellya melirik kedua temannya yang pasang wajah jahat. “Tiap hari udah gue kerjain kali itu anak!” “Ya!!! Yang lebih jahat dong!” ‘“Nanti aja pulang sekolah!” ucap Mellya. *** Luna merasa Daffa keterlaluan seharian ini. Mengapa pria itu menguntit dirinya kemana saja bahkan saat jam istirahat juga. “Kamu kenapa Lun?” tanya Rena saat mereka sudah berdua saja. “Daffa bikin curiga.” “Maksudnya?” Rena penasaran. “Mungkin nggak sih dia tahu kalau aku gadis penari. Soalnya aku aneh aja, tiba-tiba dia pengen temenan sama aku?” “Daffa itu anak yang baik kok. Yakin dan percaya deh sama aku!” “Ya udah deh!” “Terus gimana nih! Kamu nggak mau bikin konten baru lagi?” tanya Rena. “Mau sih! Minggu aja kalau begitu! tapi bikin dimana?” “Di rumahku aja!” Tobi tiba-tiba ikut nimbrung. “Ayolah, nggak apa-apa kok!’ “Ya udah!” jawab Luna tersenyum. Jam pelajaran selanjutnya berlalu begitu cepat. Pulang sekolah sudah tinggal beberapa menit lagi. Mellya akan membuat Luna pulang terlambat siang ini. Setelah guru jam pelajaran akhir mengatakan salam mengakhiri kelas, secara otomatis anak-anak di kelas juga berhamburan keluar. Mellya berjalan mendekat ke arah Luna yang masih di bangkunya. Lalu mengarahkan pandangan ke arah bangkunya yang berserakan. “Eh Lun! Elo beresin buku gue dulu tuh!” Luna melihat ke arah meja Mellya. “Kok berantakan banget gitu sih?” tanya Luna sedikit kesal. “Udah beresin, jangan banyak cuap!” Mellya sedikit mengangkat kedua alisnya mengancam, supaya cepat diselesaikan saja apa yang diminta pada Luna barusan. “Iya udah!” Rena dan Tobi saling memberi sandi. “Eh, Mell, kan masih punya tangan sama kaki. Keteralluan banegts ih nyuruh Luna?” “Ngomong aja, kalau mau, bantuin aja dia! Cuma beresin buku doang, nggak bakal bikin tangannya patah kok!” pungkas Mellya. “Udah kalian balik aja duluan. Aku nggak papa kok!’ “Ya udah, kami berdua balik duluan ya.” “Iya!” jawab Luna, ia pun berusaha kuat membereskan buku-buku Mellya. Daffa juga melihat sekilas pada Luna. Tapi, Luna segera memberi kode pada teman barunya itu supaya keluar saja. Luna tidak mau ada yang kerepotan karena dirinya saat ini. Setelah semua murid keluar dari dalam kelas. Tinggal Mellya dan kedua temannya. Mereka bertiga pun memutuskan untuk ikut keluar. “Lun, gue tunggu di mobil ya!” ucap Mellya. Luna mengangguk saja. “Iya!” Mellya keluar kelas dengan dua temannya tadi. Ia lalu mengunci kelas dari luar. Sebuah sapu dipakai mencegah pintu kelas agar bisa dibuka. “Gimana? Udah nggak bisa dibuka kan kalau begini!” “Kayaknya enggak. Ya udah kita pergi aja sekarang, gawat kalau ada yang lihat!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD