Dikira Hamil

1082 Words
Kondisi yang membuat bingung, Luna merasa memang ada yang salah. “Kalian ini kenapa sampai terjadi begitu sih? Harusnya kalian juga tau akibatnya gimana, apalagi kalian masih SMA! Kamu juga Daffa, kenapa jadi laki-laki tidak bisa melindungi seorang perempuan!” oceh dokter Angga. “Iya kan, aku nggak tau Dok! Kalau akan ada kecelakaan kecil,” ucap Daffa. “Ini bukan kecelakaan kecil Daf! Astaghfirullahaladzim!” Dokter Angga mengelus tepat di titik jantungnya berdetak. “Kamu nggak mikirin akibatnya?” “Iya itu makanya saya bawa kesini Dok! Saya lihat agak sedikit lecet soalnya.” “Ya Allah, sampe lecet!” kaget dokter Angga dengan melotot pada Daffa. “Dokter Angga!” panggil Luna sedikit berteriak. “Yang lecet yang ini Dok! Itupun nggak kelihatan dan Daffa maksa saya buat tetep datang kesini!” Luna mengangkat poni tebalnya sambil menunjukkan kening yang lebar ke arah dokter Angga. “Yang lecet kening kamu?” tanya dokter itu. “Iya Dok! Jadi, tadi itu aku dianterin pulang sama Daffa pakai mobilnya. Terus, sopirnya ngerem mendadak. Alhasil, kepalaku kejedot ke depan. Jadi agak pusing sih. Tapi, cuma bentar doang terus pas Daffa lihat ada lecet dikit di kening, dia langsung ngotot bawa aku buat periksa ke dokter Angga.” Luna coba menjelaskan dengan cepat dan tepat, dan ia bisa melihat dokter Angga bengong sambil mengedipkan mata seakan masih menformat apa yang sempat dipikirkan tadi. “Aku takut Luna kenapa-kenapa! Jadi, gimana dok? Apa emang perlu pemeriksaan lanjutan, kok kayaknya dokter Angga tadi syok parah?” lanjut kali ini Daffa yang bertanya. “Hah!” Dokter Angga merubah ekspresi wajahnya. Ia langsung sedikit berdiri dari kursi duduknya dan memeriksa kening Luna. “Ya, cuma lecet! Lecet yang lucu,” gumam Dokter Angga dengan suara begitu lirih. “Apa dok!” “Nggak! Nggak kenapa-kenapa! Biar saya periksa lagi ya!” Mulai mengecek dua bola mata Luna. Stetoskop juga ikut berperan, dan. “ Luna nggak papa kok! Semuanya masih normal.” “Jadi, nggak perlu scan otak atau apa Dok, aku akan tanggung jawab kok Dok, sampai Luna sembuh,” ucap Daffa yakin. Dokter Angga tersenyum lagi karena mendengar kata-kata anak zaman sekarang sangat dramatis. “Nggak papa. Saya kasih obat penghilang nyeri dan pusing dosis ringan aja ya kalau begitu! Kamu tebus di apotik depan sana!” Luna dan Daffa telah selesai, dan keluar dari ruang periksa. Dokter Angga duduk diam dan tenang di kursinya, ia masih merasa pusing dengan anggapan buruknya tadi. “Kayaknya aku perlu cuti tahunan deh! Untung, mereka belum aku suruh tes kehamilan!” Bersandar begitu saja di kursi. Ah, stres menghadapi dunia kerja yang kadang membuat ia harus negatif thinking. Mengapa juga tidak sempat membaca diagnosa sebelum itu. Hanya karena Daffa yang membawa perempuan muda saja. “Ada-ada aja sih?” Sementara itu, Daffa sudah berada di dalam mobil dengan Luna. Ia sesekali menatap Luna yang datar saja sejak keluar dari ruang periksa. “Jadi, aku nggak kenapa-napa ‘kan! Harusnya tadi kita nggak perlu periksa ke dokter Angga. Kamu lihat tadi gimana dokter itu kasih pertanyaan yang …!” Luna akan lanjut bicara, tapi lebih baik ia pura-pura tidak pintar akan hal tersebut. Iya, kalau Daffa punya pikiran yang sama. “Ya mungkin dokter Angga kaget aku kesana bawa perempuan. Baru kali ini soalnya!” setelah itu Daffa justru tertawa keras. “Hay! Menurut kamu lucu, ih … kayak aku terlalu gampang aja buat dirayu.” Meninggi nada bicara Luna. Ia ingin menggigit lengan Daffa rasanya saking kesal dan gemasnya. “Hey, lucu lah! Lucu banget, wajah dokter Angga udah kayak bapak-bapak kehilangan bininya! Hah …!” “Ketawa aja terus sampe gigi kering!” gerutu Luna. Sampai juga mobil Daffa di depan rumah Luna. Namun, sebelum turun Daffa sempat memanggil Luna dulu. “Ada apa?” tanya Luna ketus. “Lun! Ehm … itu anu!” “Apppa!” “Kalau besok kamu minta naik mobil aku lagi nggak papa!” “Buat apa naik mobil kamu lagi?” tanya Luna. Sopir yang masih saja menguping omongan majikan, langsung menyambar dengan omongannya yang jujur sekali. “Ya buat dianterin kemana aja Mbak! Pulang, makan siang, belanja, pergi ke dokter juga bisa!” “Pak sopir pinter!” sahut Daffa. Luna hanya tersenyum dengan terpaksa. “Makasih!” Luna kemudian turun dan langsung masuk ke pagar rumahnya begitu saja setelah dibukakan oleh satpam. Baru juga beberapa langkah kaki Luna sampai di ruang tamu. Mellya kaget ada Luna di dalam rumah. Ia buru-buru mengecek ke depan pagar, memastikan Luna naik apa. Ternyata sebuah mobil yang Mellya tahu itu milik Daffa. Karena memang saudara tiri Luna itu amat memperhatikan semua yang ada kaitannya dengan Daffa Anggara. “Hah, kurang ajar banget sih Lunlun itu, kesel deh!” Menghentakkan kaki karena marah yang tidak bisa dibendung. Mellya melangkah cepat menuju Luna yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Tangan Mellya memukul daun pintu kamar Luna sangat keras. Terus menerus memukul pintu, padahal Luna masih sibuk di kamar mandinya. “Iya, sebentar!” Luna membuka pintu. Saat itu langsung saja Mellya mendorong pintunya cepat dan keras. Hingga membuat Luna kaget dan berjalan mundur cepat juga hampir jatuh. “Eh! Lunlun nggak tau diri, elo maunya apa sih, minta anterin Daffa tadi. Nggak tau kalau Daffa itu mau gue gebet!” “Apa! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Kebetulan dia yang nolongin buka pintu kelas, tadi aku kekunci.” “Tau! Emang gue yang ngunciin tadi. Berharap lo bisa jadi jamur disana! Tidur sama tikus yang emang lebih cocok kan sama lo!” “Kamu kenapa sih? Aku nggak pernah ya ganggu kamu sama sekali.” “Oh! Udah mulai berani bantah! Lo mau gue jadi anak bandel biar hidup ibu Mira susah.” Luna mulai tidak bisa menahan diri. “Terserah! Aku nggak peduli!” Luna kemudian berjalan mengambil tas milik Mellya kemudian memberikannya dengan kasar. “Nih tas kamu! Kalau masih mau ngomel. Ngomel aja, aku mau lanjut mandi!” “Eh! Awas lo ya!” Mellya menghela nafas, ia tidak menyangka Luna kan menghardik balik dirinya dengan lebih tegas. Luna mulai menyiram sekujur tubuh dengan air dingin lewat shower yang ada di kamar mandinya. Ia merasa sejuk dan dingin. Berharap otaknya juga ikut dingin dan hatinya sedikit tenang. Sekilas ingat lagi bayangan Daffa yang sempat memeriksa keningnya. Hah jantungnya jadi berdegup seperti sedang lari maraton. “Dih Daffa kenapa ganteng banget! Aduh! Kenapa seganteng itu!” Luna Mulai tidak waras, tanpa sadar otaknya malah mengingat cuilan memori tentang wajah Daffa Anggara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD