Mencari bahagia yang memang tidak setiap waktu ada.
Seperti saat ini, tidak disangka dan diduga Luna bisa satu mobil dengan Daffa. Ini bukan mimpi, tapi rasanya seperti mimpi. Artis kutub itu bahkan tidak ragu menerima botol bekas Luna minum air.
'Yang bener aja, dia mau gitu minum air bekasku. Hah, nggak salah! Nggak mungkin doi nggak ada cuan buat beli air minum,' batin Luna.
"Kamu masih haus nggak. Aku abisin boleh?"
"Boleh!" Luna bingung pasang wajah apa.
"Rumah kamu ada dimana?"
"Iya masih lurusss, terus perempatan belok kiri. Lurusss. Terus belokan masuk ke perumahan yang paling pertama."
"Oh, pak sopir tau?" tanya Daffa.
"Tau Mas!"
Sesaat suasana di dalam mobil begitu hening. Daffa memperhatikan Luna yang sibuk melihat keluar jendela. "Luna, aku boleh minta nomer hape kamu?"
"Apa! Bukannya hape kamu rusak."
"Ah itu, hapeku udah bener," jawab Daffa berbohong. Karena yang benar hapenya memang sudah benar dan tidak rusak sama sekali. Ia hanya cari alasan saja supaya tidak memberikan nomornya pada Mellya.
"Jadi gimana? Kita berteman kan. Ya, siapa tau kamu butuh aku, aku butuh kamu. Kalau lagi butuh-membutuh 'kan bisa telepon."
"Tapi, aku nggak butuh kamu!" Jawab Luna jujur.
Kaget sopir Daffa mendengar itu, sampai-sampai tanpa sengaja ia malah menginjak rem. Membuat mobil berhenti mendadak.
Sopir itu seketika menoleh ke belakang. Karena kaget tahu ada perempuan yang menolak untuk butuh sosok majikan mudanya, Daffa. Padahal Daffa begitu diminati kaum hawa. Dari kalangan mana saja, bahkan kalangan bocil sekalipun.
"Maaf Mas, ada kucing kayaknya!"
"Apa! Kalau ada kucing, kenapa nengoknya kesini. Bukannya cek ke depan ban. Nabrak nggak?"
"Oh iya. Jadi salah kan!" Sopir itu turun dari mobil dan memeriksanya. Bertingkah seperti ada kucing betulan.
Daffa melihat Luna yang mengusap kepalanya. "Kamu nggak papa. Tadi kebentur ya?"
"Dikit!" jawab Luna.
"Pak sopir kita ke rumah sakit aja dulu." Pinta Daffa.
"Iya Mas!"
"Kamu mau ke rumah sakit?" tanya Luna. Ia masih mengusap bekas benturan di kepalanya.
"Iya, aku mau periksain kamu. Jangan-jangan ada luka dalam lagi!" Lugu Daffa bilang itu.
"APA!!!!! Nggak perlu. Cuma kebentur biasa. Nggak sampe gegar otak."
"Tapi, kamu sakitnya gara-gara naik mobilku Lun!"
Luna langsung mendekat pada pak sopir. "Pak jangan bawa saya ke rumah sakit ya. Ini saya cuma kebentur dikit. Benjol pun enggak. Apalagi amnesia. Tuh saya ingat kalau ini Daffa. Jadi nggak perlu lah kesana."
"Iya Mbak."
"Jangan pak. Kita harus ke rumah sakit. Atau ke dokter Angga aja. Disana agak mahal sih. Tapi, nggak papa lah, daripada Luna kenapa-napa."
"Baik Mas!"
"Ih nggak perlu Daf! Aku nggak papa. Noh, lihat, keningku masih bening nggak berbekas. Coba aja periksa nggak ada lecetnya sama sekali." Luna sambil menunjuk kening bekas terbentur tadi.
Daffa langsung melihat kening Luna itu. Ia bahkan merabanya memastikan tidak ada luka apa-apa.
Jarak mereka berdua begitu dekat. Luna bisa melihat jelas bola mata Daffa yang bagai bulatan es bubble rasa coklat. Warnanya unik membuat ia candu untuk mencermati penuh penghayatan. Ia tidak sadar Daffa sudah meraba keningnya dan menemukan sesuatu yang sedikit memar merah.
Ada luka tipis, Daffa memastikan itu tidak terlalu sakit. Ia sendiri berinisiatif meniup luka itu, membuat bibir merahnya mengerucut membentuk tiupan syahdu.
Luna masih memperhatikan, detik itu memorinya seperti terisi penuh pahatan wajah Daffa. Apalagi bibir merah yang bagai permen kapas.
'Apa dia pakai lipstik, kok bisa gitu sih itu bibir. Cakep amat warnanya,' batin Luna menilai. Ia perlahan mulai masuk ke jebakan ketampanan Daffa.
"Udah lah, ini jelas ada lukanya, meski sedikit. Kalau kena keringat juga bakal perih. Kita ke dokter Angga aja pak."
Baru setelah itu, Luna mulai sedikit sadar. "Apa! Nggak aku nggak mau. Luka yang mana sih Dafff …! Nggak ada luka. Kamu kan udah liat, keningku masih kinclong kaca meja kepsek baru dilap. Udah kita balik ke rumah. Tinggal belok kiri aja udah sampe!"
Sopir itu bingung, ia kini malah menyesal sudah mengerem mendadak. Tahu begitu, lebih baik dirinya tadi tidak perlu sok-sokan mendengar obrolan majikannya. Jadinya begini, malah sopir itu yang ribet sendiri.
"Jadi, gimana ini Mas. Kita ke dokter Angga, atau anterin ke rumah?" Sopir itu berusaha memastikan.
Secara bersamaan Daffa dan Luna menjawab secara bersamaan.
"Rumah!"
"Dokter Angga!"
"Rumah!" Luna tidak mau kalah.
"Pak, kamu kan sopir saya. Jadi, ke dokter Angga saja!"
"Baik Mas!"
Luna hanya bisa menghela nafas. Bisa dikira lebay akut kalau luka kecil yang bahkan tidak terlihat oleh mata saja harus diperiksakan.
Benar dugaan Luna, sampai juga mereka di tempat dokter Angga. Daffa mengantar Luna ke tempat antrian. Beruntung tidak banyak pasien. Hanya menunggu tiga orang saja.
Namun, ada sesuatu di luar dugaan. Bahkan dokter Angga pun mengira begitu. Ia sampai tercengang dan tidak percaya. Padahal satu kata saja belum ada yang keluar dari mulutnya untuk bertanya.
Daffa melepaskan maskernya. Ia pakai itu untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang mengenali sosoknya sebagai artis kutub. Ya, meski tidak setenar Farrel Bramasta. Tapi, dirinya tidak mau repot karena ada fans yang tidak disangka kadang membuat ia sendiri ketakutan.
"Jadi, kapan terakhir kali kamu mentruasi? Apa sebelumnya selalu teratur?" tanya dokter Angga sambil menatap serius pada Luna.
"Apa! Kok gitu?" Luna bingung mau menjawabnya karena ada Daffa. Lagipula mengapa ada soal seperti itu. Bukannya ia hanya ingin periksa kening. Tapi, sekarang ini, dirinya sedang ada di dokter. Hal seperti itu tentu sudah lazim untuk ditanyakan.
Luna pun berusaha menjawab saja. Lagian itu dokter yang bertanya. "Selalu teratur kok dok. Setiap tanggal satu sampai sepuluh. Selalu sekitar tanggal itu!"
"Kalau kejadiannya?" Kali ini pandangan dokter Angga tertuju pada Daffa.
"Kejadiannya baru tadi siang, abis pulang sekolah!" Jawab Daffa dengan mudahnya.
"Hah … berapa kali?" Tanya Dokter Angga semakin resah. Ia heran anak muda zaman sekarang. Pulang sekolah bukannya pulang malah kelayapan.
"Cuma satu kali dok. Itu aja aku kasihan dan cemas banget, takut Luna kenapa-kenapa. Soalnya dia ngotot bilang nggak sakit!"
"Oh ya Allah ya Rabb …. Ampuni dua anak ini Ya Allah!"
Daffa heran melihat ekspresi dokter Angga. Ini mengapa dan bagaimana bisa dokter Angga malah terlihat stres. Daffa sampai bingung. Ia pun menatap Luna untuk menularkan kebingungannya.
Luna sendiri masih mencerna. Hanya saja sejak ditanya pertanyaan tadi, perasannya memang sudah merasa tidak enak.
"Dok! Memangnya menurut Dokter, kita ngapain Dok?" tanya Luna memberanikan diri. Dalam sekejap dokter Angga langsung menatap tajam padanya.