Luna kembali menyibukkan lagi dengan buku konsepnya untuk Daffa. Ia tidak akan membiarkan waktunya terbuang sia-sia karena harus menghadapi berbagai halusinasi tentang Daffa, dan segala konsepnya yang membuat pikiran jadi semakin tidak waras.
Luna merasa semakin cepat selesai konsep tersebut. Semakin cepat juga tugasnya berakhir, dan buku miliknya juga akan segera kembali. Dengan begitu pikiran dan hatinya bisa kembali tenang, seperti dulu.
“Nggak papa lah, aku lembur malam ini. Toh, nanti juga aku akan dikasih upah sama Daffa. Awas aja kalau upahku nggak sesuai harapan. AKu bikin konsep ini udah hampir setengah nggak waras. Dan harus tegang punggung dan encok, pokoknya berat banget, banyak ujiannya juga. Dikira gampang apa bikin konsep bermutu kece begini.”
Saat fokus itu sudah mencapai level tertinggi. Luna benar-benar menganggap dirinya sedang melihat konser langsung seorang Daffa. Membayangkan pria itu menari dengan penuh power, lalu tatapan matanya tajam ke arah penonton. Hingga style yang perlu dipakai. Lagu yang cocok sekali untuk Daffa juga harus segera di temukan.
Luna mulai memindah tatapan matanya, dari buku menuju layar laptop. Ia harus mencari lagu yang sedang hits saat ini. Berselancar di mesin pencari sebentar, lalu membuka sosial media. Namun, belum juga ketemu.
Luna mengambil ponselnya. Ia gunakan untuk mencari tahu di aplikasi serba ada. beberapa detik hingga jadi menit. Sudah ada referensi, akan tetapi belum cocok di hati Luna. Tiba-tiba saat membayangkan cara dance Daffa dan menghayati lagu yang sedang didengar malam itu. Mungkin saja cocok untuk Daffa.
Yang terjadi, bukannya ketemu dan srek dengan lagu yang sedang didengar. Luna malah melihat ada notifikasi di ponselnya. Kalau ada pesan dari Daffa sudah masuk.
“Ini beneran ada pesan atau cuma halu ya! Ya ampun sampai aku nggak bisa bedain. Ngapain ya dia chat malam-malam begini!” Luna pun memutuskan untuk melotot ke arah hapenya dan memang benar kalau ada sebuah pesan masuk dari Daffa. Luna pun terpaksa untuk membukanya.
Sementara itu, bu Mira yang memutuskan untuk menemani dulu suaminya hingga tidur. Kini ia bisa melihat kalau suaminya memang sudah tertidur pulas tepat di samping dirinya. Bahkan ada suara dengkuran halusnya juga sudah terdengar.
“Kamu emang ganteng dan baik banget Sayang. Makasih banyak ya, udah terima aku sama Luna. Aku merasa beruntung banget punya kamu di dunia ini,” ucap bu Mira. Ia kemudian perlahan bergerak bangun dari tempat tidur. Pelan-pelan sekali, karena takut suaminya akan terganggu dan jadi bangun.
Akhirnya bu Mira berhasil membuka pintu, pelan dan pasti. Pintu pun tertutup, dan bu Mira siap berjalan menuju kamar Luna.
Hingga akhirnya, terdengar suara ketuk pintu yang tidak terlalu keras. Luna pun melihat ke arah pintu kamar. Mencoba mendengar dengan baik. Biasanya kalau ketukannya terdengar santai begini, pasti sang ibu yang ingin mengunjungi dirinya di dalam kamar. Tapi, mengapa selarut ini. Luna melihat jam di atas rak belajar, bahkan sudah pukul sepuluh lewat.
"Masuk aja, pintunya nggak dikunci kok!" ucap Luna sambil tetap duduk di kursi belajarnya. Ia segera membereskan buku yang digunakan untuk menyiapkan konsep dance untuk Daffa. Ditutupi buku itu dengan buku pelajaran, lalu membuka buku tugas untuk dikerjakan. Tidak lupa layar laptop untuk diganti tampilannya.
Ternyata benar, yang sedang mengetuk pintu kamarnya adalah Bu Mira. Bu Mira melihat sang putri sedang sibuk di meja belajar. Ia langsung berjalan mendekat dan mengusap pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu masih sibuk?" tanya Bu Mira.
"Nggak kok Bu! Cuma belajar aja. Tugas udah selesai aku kerjakan semua!" jawab Luna sambil menatap ibunya sekilas lalu menatap lagi pada buku.
"Kamu anak yang pinter ya. Ibu seneng kamu masih sama kayak dulu, masih berusaha dengan keras, sama seperti saat kita masih hidup terbatas dulu. Ibu rasa nggak ada yang berubah dari kamu Lun."
Luna melihat ibunya mulai duduk di tepi tempat tidur. Ia merasa ibunya seperti ingin berbicara dengan dekat. Diletakkan saja dulu pulpennya di atas meja. Ia bangun dan berjalan menghampiri sang ibu. Duduk tepat di sampingnya dan mulai merangkul lengan yang selama ini telah bekerja keras. Luna lalu menyandarkan kepalanya dengan penuh manja.
"Ada apa Bu? Apa ada masalah?" tanya Luna.
Bu Mira lalu melihat ke arah putrinya. "Harusnya ibu yang tanya begitu sama kamu?"
"Kok gitu? Aku baik aja kok Bu!"
"Tapi, ibu melihatnya nggak begitu. Ada yang kamu sembunyikan dari ibu."
Luna menegakkan tubuh untuk bisa berpikir cepat. Ia merasa ingin menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Rasanya sedikit sesak, karena menurutnya setelah ini. Pasti dirinya harus mengatakan sesuatu dengan tidak jujur.
"Kok diam aja sih Sayang!"
"Nggak ada yang aku sembunyikan dari ibu. Aku masih sama kok Bu, hidup dengan benar, makan dengan teratur, rajin belajar dan sayang sama ibu juga sama papa sama Mellya juga pastinya," ucap Luna.
Bu Mira hanya tersenyum. Ia melihat usaha Luna untuk membuat dirinya bahagia. Gadis kecil itu masih sama seperti dulu. Menunjukkan kalau dirinya akan bisa selalu ceria dan bahagia. “Kamu yakin, kamu sedang baik-baik saja?” tanya lagi dengan tatapan semakin instens pada Luna.
“Beneran Bu! Luna baik-baik aja! Ada apa emangnya? Ibu lihat Luna sedang ada masalah ya? Kan kalau aku ada masalah selalu cerita sama ibu!”
“Ibu rasa akhir-akhir ini kita jarang ngobrol! Ibu terlalu sibuk sama urusan ibu sama Papa. Ibu jadi nggak terlalu perhatian sama kamu! Kamu bahagia kan Lun?”
“Luna bahagia Bu, ibu kan tau kalau sekarang aku sekolah di Pelita, sekolah impianku dari SMP. Terus disana juga ada Tobi sama Rena. Kebahagiaanku lengkap Bu!”
Bu Mira tidak ingin percaya begitu saja. Bagaimana juga ada hal lain yang masih terlihat disembunyikan oleh Luna.
“Ehm …! Ya kalau kamu merasa bahagia, kenapa pas di dapur tadi. Ibu lihat kamu bicara sendiri. Katanya kamu bisa stres berkepanjangan! Maksudnya apa ya? kok kamu bisa stres sih, ibu kan jadi cemas, ibu takut kamu kenapa-napa sayang!”
Luna melotot kaget. Ia mulai memutar memorinya beberapa waktu yang lalu.
Sambil menatap bingung pada bu Mira dan masih belum ingin mengakui. Luna coba mencari alasan. Pura-pura saja lupa dulu sambil berusaha mengingat. “Apa! Siapa yang bilang begitu? Emang Luna ngomong begitu ya. Kapan Bu, Luna kok nggak ingat sih!” Luna coba mengingat dengan baik dan baru sadar. Kalau memang dirinya sempat ngedumel sendiri di dapur tadi saat mengambil air minum. Bagaimana bisa dirinya malah tidak sadar saat itu, kalau ada ibunya. Malah pikirannya sibuk dihantui oleh Daffa. Kali ini, ia bingung harus beralasan apa.
Sedangkan bu Mira terus menerus menatap ke arah Luna. Terlihat tampaknya, akan ada banyak pertanyaan setelah ini. Luna hanya bisa menelan saliva sendiri agar tidak tercekik karena melihat ekspresi wajah bu Mira.