Diambang Batas waras

1188 Words
Penjelasan yang berulang kali harus didengar oleh Luna. Ia merasa kalau Daffa hanya ingin bermain-main saja. Akan tetapi, perkataan di sekolah siang tadi. Sangat mengganggu, membuat Luna terbayang kebersamaan dirinya dengan Daffa selama ini. 'Aku mana bisa bicara nggak bener sama kamu. Kecuali sama Mellya, asal kamu tau, perasaanku ini masih sama. Aku mau berteman sama Mellya, itu semua karena kamu yang minta.' "Daffa, Daffa!" Luna menyebut nama itu dengan gemas dan kesal, tapi rindu. Semakin kesini, dirinya semakin bingung dengan perasaan sendiri. Mengapa makin berusaha melupakan, justru malah terngiang-ngiang berbagai kalimat yang pernah dikatakan Daffa, juga tentang apa saja yang sudah pernah terjadi. Apalagi siang tadi. Luna masih ingat bagaimana dirinya harus berkata dengan tegas pada Daffa. Ia memejamkan mata merasa tidak kuat mengingat itu. “Aku akan bantu membuatkan satu konsep dance spesial untuk kamu Daffa, tapi aku mohon setelah itu. Tolong kembalikan bukuku! dan selama buku itu ada sama kamu. Tolong juga jaga dengan baik. Jangan sampai ada yang tahu semua itu. ” “Cuma itu?” tanya Daffa sekaan permintaan Luna barusan begitu mudah untuk dipenuhi. “Nggak, masih ada satu lagi.” “Kalau begitu kasih tau aku!” Menatap lurus hanya pada Luna. Daffa sendiri senang melihat wajah yang tidak pernah bosan untuk dipandang setiap waktu. Luna imut dan lucu. “Aku tegaskan sama kamu Daffa Anggara! Aku juga mohon, untuk jangan ikut campur lagi urusanku. Kalau suatu saat nanti kamu lihat aku dalam kesulitan gara-gara Mellya, nggak usah peduli. Selama ini udah ada Tobi sama Rena yang selalu ada dan bantuin aku kapanpun, dan dimanapun!” Daffa merasa itu tidak mungkin, sehingga ia pun tidak mengatakan apa-apa. Saat Luna berbalik untuk pulang, Daffa merasa ingin mencegahnya Luna merasakan itu, ia sempat menengok ke belakang melihat Daffa yang mematung dengan wajah bingung. Hingga akhirnya Luna menata hatinya agar secepatnya bisa pergi dari sana. Kembali ke dalam kamar yang memang begitu nyaman yang saat ini sedang ditempati Luna.Gadis itu kemudian menarik nafas panjang. Yang pasti saat ini, ia tidak boleh kepikiran lagi dengan Daffa. Ia harus yakin kalau apa yang dilakukan tadi sudah benar dan tepat. Menjauh dan menjaga jarak. Lagipula fokus untuk saat ini juga bukan tentang Daffa. Melainkan sekolah dan kontennya. Karena sudah berjanji membuatkan satu konsep dance untuk Daffa. Luna pun memutuskan untuk mulai saja mengerjakan itu. Diambil buku kosong di rak belajarnya yang paling atas. Luna membuka buku itu, dan untuk membuat konsep yang cocok dengan Daffa. Ia pun terpaksa untuk membayangkan Daffa sedang menari. “Ah …! Gimana bisa aku lupain dia, kalau aku sekarang malah harus buatkan konsep kontennya. Hah … bisa gila aku, ya Allahhhh …!” Luna memijat keningnya dengan kedua tangan, sedangkan kedua sikunya menempel di atas meja. Butuh beberapa menit, sampai akhirnya hati dan pikiran saling sinkron untuk membuat konsep yang akan diberikan pada Daffa. Daffa Anggara yang begitu tampan, juga imut. Ada sisi yang menggemaskan sebenarnya saat Daffa berpenampilan layaknya bocah. namun, dalam bayangan Luna, mungkin akan beda auranya kalau Daffa mengenakan warna hitam. “Dia bakal kelihatan dewasa atau masih tetep kayak bocah ya! apa kau liat aja dulu akunnya!” Luna meraih laptop, menyingkirkan dulu buku-bukunya agar bisa muat di meja. Langsung menuju ke sosial media. Luna mengecek akun Daffa yang mana saja, melihat aatu per satu fotonya dengan baik. Sangat baik, sampai-sampai Luna hampir berhalusinasi lagi. ‘Kenapa foto-fotonya sangat tampan, ya Allah … setampan ini, kenapa dia mau berteman sama aku yang dicap upik abu sama Mellya. Kayaknya satu sekolah Pelita juga udah tau hal itu!’ batin Luna, ia mulai sesak melihat berbagai foto Daffa dengan pose dari mulai yang biasa-biasa saja, sehari-hari, liburan sampai pose panas dan badas. “Astaghfirullahaladzim!” Luna memegang hatinya yang berdebar-debar. Ia menelan saliva karena terlalu mencekik pose Daffa yang sedang dilihat saat ini. Luna kembali berusaha fokus, wajah Daffa yang sebelumnya begitu ingin dihilangkan. Akhirnya dengan terpaksa malah harus terus diingat. Kantuk mulai muncul. Tidak terasa sudah hampir pukul sembilan. Beruntung tugas sekolah yang harus dikerjakan di rumah sudah selesai. Karena kebetulan tidak banyak, hanya satu pelajaran saja. Sudah begitu lama memang Luna untuk duduk di kursi belajarnya. Ia juga mulai merasa pegal di punggung, tampaknya harus bangun sebentar untuk meregangkan otot yang sudah begitu kaku. “Hahhh capek, tapi belum selesai! Kayaknya aku mau ambil minuman dulu di dapur!” ucap Luna. Gadis itu kemudian mulai berjalan menuju pintu kamar dibuka dan sekeliling memang sudah terlihat sepi. Beginilah suasana rumahnya jika sudah pukul sembilan. Luna pun berjalan ke dapur, tanpa berprasangka apa-apa. Ia sudah hampir sampai di dapur yang kebetulan kalau malam begini, penerangannya jadi sedikit gelap. Terlihat tidak terlalu terang. Berjalan hampir ke kulkas, Luna seperti melihat ada bayangan. Sebuah bayangan yang menunjukkan sesosok sedang berdiri menghadap ke arah diri Luna sambil tersenyum. “Apa, mataku nggak salah, ada Daffa di dapur rumah ini!” Luna mulai mengerjapkan mata berulang kali untuk memastikan. Ia sampai menguceknya barangkali dirinya sedang halusinasi. Ternyata benar, kalau itu cuma halusinasi. Luna langsung menghela nafas lega. Tampaknya pengerjaan konsep ini, benar-benar membuat Luna diambang batas kurang waras. Segera saja, Luna menuju kulkas, dan membuka pintunya. Mengambil minum dan meneguk air tersebut dengan buru-buri. Ia merasa Daffa ada di sekelilingnya. Bahkan saat menutup pintu kulkas. Luna melihat bayangan Daffa lagi, sedang berdiri tegak lalu mulai menari dan beberapa detik kemudian. Tarian Daffa berakhir dengan pose badas seperti yang Luna lihat di bagian akhir di salah satu akun milik Daffa. “Astaghfirullahaladzim!!!” Luna memukul kepalanya yang mulai tidak bisa membedakan mana nyata mana tidak. Luna kembali cepat saja ke dalam kamar. Ia menaiki anak tangga ke kamar sambil bicara sendiri. “Jangan sampai ada bayangannya lagi, bisa stres berkepanjangan kalau ceritanya jadi begini.” Ternyata saat Luna bicara sendiri tadi. Bu Mira melihat dan memperhatikannya. “Kok luna ngomong sendiri begitu. Apa dia lagi ada masalah? Kenapa dia bilang stres berkepanjangan!” Bu Mira masih melanjutkan perjalanan menuju kamarnya dengan Pak Ferdi. Ia membuka pintu dan melempar senyum pada sang suami yang memang sedang menunggu. “Kok lama?” tanya Pak Ferdi. Dia kemudian bangun dan menerima segelas air hangat yang dibawakan bu Mira untuknya. “Iya, tadi lihat Luna di dapur bicara sendiri. Aneh deh!” sahut bu Mira. Usai meneguk air hangatnya, pak Ferdi meletakkan lagi gelas yang isinya tinggal separuh, diletakkan di atas nakas. Lalu menatap bu Mira. “Apa jangan-jangan Luna lagi ada masalah?” Bu Mira hanya mengangkat kedua bahunya tanda kalau dirinya juga tidak tahu. “Gimana kalau kamu datang ke kamarnya aja dulu. Kamu ajak dia cerita-cerita. Mungkin ada masalah yang sengaja dipendam, dan nggak ceritakan sama kamu!” ucap pak Ferdi. Bu Mira terlihat berpikir, ia lalu menatap serius ke arah suami. Pak ferdi lantas tersenyum. “Aku nggak akan kenapa-kenapa. Kalau kamu mau tidur sama Luna malam ini juga nggak papa,” ucap pak Ferdi yang terus saja menunjukkan perhatian. Bu Mira langsung memeluk sang suami. “Kalau begitu aku kesana dulu ya!” mulai melepaskan pelukan pada pak Ferdi dan menatapnya penuh dengan penuh kesyahduan. “Iya Sayang!” ucap Pak Ferdi pada bu Mira, terlihat sekali kalau pria tersebut teramat sayang juga pada istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD