Luna merasa sial sekali. Ia ingin bercerita soal buku pada Rena dan Tobi tapi rasanya sudah tidak berdaya. Ia pun menghabiskannya waktu istirahat begitu saja dengan mereka berdua seperti biasa. Luna harap, mungkin nanti saat pulang sekolah. Ia bisa meminta bukunya pada Daffa. Ia akan meminta dengan memohon sekali. Berharap dengan begitu, perkara buku tersebut bisa selesai, dan bisa kembali padanya. Tanpa ada hal menakutkan yang harus terjadi.
Daffa merasa Luna memang begitu lesu, tidak semangat seperti biasanya. Ia jadi mengira kalau buku itu penting. Tapi, bolehkah ia membuat kesimpulan, kalau buku itu milik Luna. Mungkinkah penari bertopeng itu juga Luna. Pasti ia akan tanyakan itu nanti.
Tiba saatnya, Daffa bisa berbicara pada Luna. Lewat pesan online, Luna memberitahu Daffa untuk mengajak ketemu sepulang sekolah di kantin belakang. Ada halaman kecil berbentuk persegi panjang di samping kantin paling ujung. Ia mau berbicara dengan Daffa.
Mellya seperti biasanya, ia pulang lebih dulu. Setelah tahu bagaimana pembagian tugas yang dilakukan Daffa pada tim untuk tugas kesenian. Ia hanya berkata, tidak masalah. Asal Luna tidak sampai keluar berdua saja dengan Daffa, ia masih anggap semua akan lancar. Ia juga tahu kalau Luna akan pergi belanja kebutuhan bahan sendiri.
Setelah bel pulang berbunyi, Luna berjalan lebih dulu. "Nggak papa, aku bisa sendiri. Cuma beli bahan aja. Kan ada abang ojek yang bantuin bawa."
"Kalau begitu, sampai besok ya!"
"Iya!"
Rena dan Tobi berlalu lebih dulu. Luna sengaja berjalan lambat seperti siput. Setelah kondisi memungkinkan, ia akan bergegas ke taman kecil di belakang kantin.
"Ternyata kamu duluan yang sampai sini?" tanya Luna, ia melihat Daffa sudah ada disana.
Daffa hanya tersenyum kecil. "Ya iyalah, aku kan baik orangnya."
"Kalau begitu, kembalikan buku itu!"
"Buku yang mana?" Daffa masih ingin bermain-main. Ia bahkan rela waktu pulang sekolah ini habis hanya untuk bermain asal dengan Luna. Namun, kali ini Daffa memang memiliki tujuan, untuk mengetahui identitas gadis penari yang menggunakan topeng.
"Daf, jangan main-main! Aku udah capek banget hari ini!"
"Kalau begitu, jawab pertanyaan aku dengan jujur. Kalau kamu emang pengen banget buku itu."
Tiba-tiba perasaan Luna tidak enak. Tapi, ia harus bilang saja 'iya' agar urusan ini cepat selesai. "Baik! Jawab apa?"
"Apa kamu gadis yang menari pakai topeng, yang ada di internet?"
'Iya!' batin Luna menjawab. Akan tetapi, tidak mungkin kata itu yang keluar dari bibirnya. "Enggak!" Jawab Luna sebaliknya.
"Terus, kenapa kamu sampai punya buku ini?"
"Iya, soalnya …!" Luna bingung mau jawab apa. "Udahlah, aku cuma mau bukuku balik!"
"Nggak, aku yakin kamu penari bertopeng itu."
"Ama musik aja nggak suka, apalagi nari. Jangan mengatakan sesuatu yang mustahil. Lebih baik sekarang, kamu kembalikan buku itu. Please Daf!"
"Nggak! Sebelum kamu jelasin, gimana ceritanya kamu bisa sampai punya buku ini. Asal kamu tau, aku selaman udah mencocokkan apa yang kamu tulis di buku ini dengan penampilan penari bertopeng di internet, dan hasilnya pas banget. Dari mulai judul, warna baju, warna topeng, latar nari."
Luna merasa harus memutar otak, ia harus meminta buku tersebut. Jangan sampai ada yang mengetahui lagi isi bukunya. Cukup Daffa saja, dan untuk itu, kali ini. Luna akan terpaksa berbohong.
"Aku cuma asisten dia," ucap Luna. Hatinya berdebar, khawatir kalau Daffa tidak percaya.
"Apa? Asisten?" Sahut Daffa.
"Iya, kamu juga seorang content creator 'kan. Tentu tau, kalau bikin konten itu nggak asal bikin dan langsung jadi. Perlu step by step yang harus diatur. Juga kerjasama dari tim. Nggak mungkin kalau penari bertopeng kerja sendiri buat videonya."
"Jadi, bukan kamu penari bertopeng itu?"
Luna menggelengkan kepala. Ia melihat sorot mata Daffa sepertinya mulai percaya.
"Kamu bisa kasih tau aku, siapa sebenarnya penari bertopeng itu?" tanya Daffa lagi.
Rasanya Luna sudah ingin meledak. Ia lelah membuat jawaban palsu. Padahal cukup bukunya bisa kembali. Maka segala keresahan hatinya akan berakhir.
"Ya, nggak bisa lah. Dia nggak mau ada yang tau dirinya aslinya siapa? Makanya dia menari pakai topeng."
Daffa sedikit ragu, bagaimanapun juga ia pernah bertatap mata dengan penari tersebut, dan rasanya. Tatapan mata itu seperti cara pandang Luna. Ia putuskan untuk tidak akan melepas Luna begitu saja. Sebelum dirinya tahu dengan yakin, kalau penari bertopeng bukan Luna, atau orang lain. Ia akan tetap mencari tahu identitas sebenarnya.
"Gimana Daf, kamu bisa 'kan. Kembalikan buku itu? Please!"
"Bentar, masih ada lagi. Satu aja, please jawab dengan jelas. Aku nggak akan kasih tau siapapun. Apa penari bertopeng itu, anak Pelita. Ada desas-desus begitu soalnya?"
Luna menghela nafas, ia berat sekali dengan percakapan ini. Ia putuskan untuk jawab saja dengan jujur. "Iya! Dia emang anak Pelita."
"Jadi, betul ya kalau itu."
"Iya, itu emang bener. Kalau begitu, bukunya mana? Aku harus cepet pulang!"
Daffa tersenyum lagi. Luna yang melihatnya kembali merasakan hawa tidak enak.
"Buku itu, aku simpan dulu ya. Akan aku kembalikan. Tapi, aku minta kamu buatkan satu konsep aja buat konten video aku."
"Apa, nggak bisa gitu dong Daffa. Perjanjiannya nggak gitu tadi. Ah!"
"Sabar dong Lun. Aku tau kalau kamu pasti dapat gaji 'kan dari bikin konsep ini. Aku juga pasti akan kasih kamu upah. Tapi, bikinin ya. Konsep yang ada di buku kamu itu, semuanya menarik. Aku nggak nyangka cewek kayak kamu pinter banget." Daffa mendekatkan wajahnya pada Luna.
"Apa!" Luna kaget dan mundur begitu saja hingga hampir jatuh. Tapi, tangan Daffa sudah berhasil menangkapnya.
Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sedang berdansa. Luna dengan posisi yang hampir jatuh ke belakang. Namun, ada yang Daffa yang menahan punggungnya
Daffa sendiri membungkukkan tubuh. Menahan Luna agar tidak jatuh dengan kedua tangan yang melingkar di punggung gadis itu.
Kedua pasang mata mereka berdua saling bertatapan. Bertemu satu sama lain dan saling memperhatikan.
'Mata ini?' batin Daffa melihat bola mata Luna. Benar-benar mirip saat dirinya menyaksikan penampilan langsung penari bertopeng. Akan tetapi, Luna bilang kalau bukan dirinya penari bertopeng itu. Rasanya Daffa sedikit tidak percaya. Tapi, setelah ini, dirinya akan berusaha mencari tahu. Apa benar apa yang dikatakan Luna.
Luna juga merasa hatinya cemas seketika. Kedua netranya benar-benar tahu, bagian wajah mana yang paling indah dari Daffa. Begitu cepat saja mata Luna memindai semuanya. Kedua alis yang tebal dan kuat, sepasang mata dengan bulu mata lentik dan tebal, pipi yang bersih, bibir yang merah muda ditambah hidung mancung bagai pensil yang baru dilancipkan. Lalu jakun itu, rasanya Luna ingin menyentuh.
"Daffa, kamu nggak capek pegangin aku kayak begini?" tanya Luna. Ia sadar posisi ini sudah terlalu lama.
"Kayaknya enggak, aku mau tangkap kamu kalau sewaktu-waktu kamu mau jatuh lagi," ucap Daffa.
Tangan Luna langsung menjewer telinga Daffa begitu keras. Langsung saja Daffa melepas tubuh Luna dengan segera, tapi tidak dijatuhkan begitu saja. Melainkan membantunya berdiri dulu. Baru Daffa menggosok daun telinga yang nyeri.
"Sakit Luna!"
"Makanya, kalau bicara yang benar."
"Aku mana bisa bicara nggak bener sama kamu. Kecuali sama Mellya, asal kamu tau, perasaanku ini masih sama. Aku mau berteman sama Mellya, itu semua karena kamu yang minta," jelas Daffa.