Capeknya Kesal Pada Daffa

1173 Words
Luna menyesal bilang tidak akan bicara pada Daffa, saat dirinya coba menanyakan soal buku tersebut. Daffa justru menghindar dan semakin terlihat seenaknya saja. "Kan kamu yang bilang udah nggak mau bicara lagi sama aku. Kecuali soal kerja kelompok." Daffa memutar lagi omongan Luna. Luna mati kutu. "Tapi, Daf, buku yang kamu bawa itu!" "Kenapa sama buku ini!" Daffa malah menunjukkannya pada Luna. "Tadinya aku mau tanyakan, buku ini milik kamu atau bukan, tapi katanya kamu nggak mau bicara lagi sama aku. Ya udah!" Daffa dengan tega tidak mau memberikan buku tadi pada Luna. Ia bahkan berjalan begitu cepat menuju ke dalam kelas. Luna tidak ingin menambah rentetan masalah dengan Mellya. Ia pun menghentikan langkah menjaga jarak dengan Daffa. Membiarkan Daffa masuk lebih dulu. Minimal saat ini, dirinya tahu kalau buku itu ada di tangan Daffa. Namun, sebelum masuk ke kelas. Luna baru menyadari, buku di tangan Daffa adalah buku yang isinya coretan tentang konsep kontennya. "Kalau buku itu dari kemarin ada sama Daffa, berarti Daffa udah tau isinya dong. Jangan-jangan dia juga tau lagi kalau isi semua buku itu ada hubungannya sama konten channelku. Ya Allah, gimana ini? Bisa ketahuan kalau aku penari bertopeng." Luna bicara sendiri. Ia jadi ragu untuk masuk ke dalam kelas. Sampai bel berbunyi Luna masih saja jadi patung di depan pintu kelasnya. "Luna, Lunnn …! Luna Kania Putrii!" Panggil seorang guru yang sudah akan masuk ke kelas. Tapi, terpaksa berhenti karena melihat salah satu murid dari kelasnya mematung. Bahkan mungkin pikirannya sedang berada di tempat jauh, karena dipanggil berulang tidak juga menyahut. "Iya Pak! Ada apa?" sahut Luna. Ia merasa tidak bersalah dengan hal barusan yang terjadi. "Kamu tanya ada apa? Nggak salah? Kamu dari tadi melamun lho!” seru guru tersebut sambil menatap kesal yang jelas terpancar dari sorot bola matanya. “Apa!” Luna sedikit bingung lalu, menatap jam di pergelangan tangannya, baru ia tahu apa penyebab wajah sang guru masam. “Ah! maafkan saya Pak! Saya akan segera masuk kelas kalau begitu!” baru Luna sadar kalau jam sudah pukul tujuh lewat. Luna pun masuk ke dalam kelas, langsung saja ia bisa melihat tatapan dua manusia yang harusnya diteror pakai surat kaleng. Dua manusia yang tampaknya akan terus mengusik hidupnya. Daffa terlihat santai. Ia malah memanas-manasi Luna. Buku milik Luna yang dicari-cari sejak semalam. Dengan begitu sengaja dibuat kipas-kipas ke arah lehernya. “Bro! Kelas ini pake AC kali, lo nggak salah kipas-kipas begitu?” tanya teman yang duduk di samping Daffa pada Daffa. “Nggak kok! Yang salah itu orang yang sok nggak mau bicara sama orang lain. Mungkin dikira dia hidup di zaman purba, semua orang juga tau kalau kita ini makhluk sosial.” Daffa terpancing membuat hati Luna semakin kesal padanya. “Ini lagi pelajaran matematika, bukan sosial Daf! Kenapa malah bahas itu!” “Nggak papa, cuma sebagai pengingat aja. Biar kita sebagai manusia sosial, nggak songong!!” ucap Daffa lagi sambil melirik pada Luna. Melirik sekilas, karena suaranya cukup bisa didengar oleh Luna, yang bangkunya hanya selisih satu baris. Kenyataannya memang seperti itu. Saat itu Luna memang merasa begitu kesal, sampai harus menabrakkan kedua sisi giginya atas dan bawah. Ingin marah, tapi sayang waktunya sangat tidak tepat. ‘Siapa juga sih yang songong, lagian aku juga tau kalau ini bukan zaman purba,’ batin Luna. ‘Lihat aja nanti, gimana kalau manusia purba ini akan marah sama kamu Daffa Anggara.’ Menggebu hati Luna, bagai kompor yang siap untuk meledak. Pelajaran matematika dimulai. Beruntung tidak ada tugas yang diberikan oleh Guru. Karena rasanya Luna sama sekali tidak semangat. Ia betul-betul kepikiran buku kelinci yang sejak tadi ada di laci meja Daffa. “Ayo! Siapa yang bisa kerjakan soal yang saya tulis di papan ini?” tanya Guru matematika sambil menatap seluruh isi kelas. Para murid melihat ada soal persamaan kuadrat di papan tulis. Sedikit panjang formula persamaan itu. Tampaknya itu adalah soal lanjutan penjabaran lebih jauh dari sistem dasar dalam persamaan kuadrat. Entah mengapa Daffa tiba-tiba tertantang untuk mengerjakannya. Ia pun memutuskan untuk mengangkat tangan. “Iya, Daffa, kamu mau coba untuk mengerjakan?” “Iya Pak!” jawab daffa. Ia pun lekas bangun dari kursi dan berjalan menuju depan kelas. Mellya yang melihat Daffa berani maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal dari pak Guru, merasa hatinya terkagum-kagum setengah meninggal pada Daffa. ‘Pria idaman!’ ‘Pria impian!’ ‘Pria pekerja keras!’ ‘Pria penuh kelebihan!’ Hati Mellya bersenandung menyanjung Daffa. Ia bahkan tidak berkedip saat melihat Daffa di depan kelas. Matanya penuh dengan bayangan laki-laki yang belum dewasa itu. Sementara Luna, mengutuk keberadaan Daffa yang berani muncul di depan kelas. Ia berharap sekali kalau Daffa melakukan kesalahan. Akan tetapi, sampai bagian tengah rumusannya itu dikerjakan, semua jawabannya masih sempurna. Belum ditemukan satu saja hal yang membuat hitungannya meleset. Hingga saat kurang beberapa bagian saja. Daffa justru lupa untuk menyederhanakan. Daffa menyerahkan spidol hitam pada pak Guru, spidol hitam yang dipakainya menulis tadi di papan putih. Pak Guru melihat hasil jawaban dari Daffa. Ia memperhatikan dengan begitu teliti. “Ah! Kayaknya bukan seperti ini jawaban yang saya inginkan.” “Apa!” kaget Daffa yang sedang berjalan ke bangkunya. Ia lalu duduk dengan sedikit bingung. Ia melihat lagi jawaban yang ditulisnya tadi di papan. Ia merasa jawaban tersebut sudah sempurna. Pak Guru menatap sekali lagi isi kelas. "apa ada yang bisa lebih membenarkan bagaimana jawaban ini seharusnya? Padahal kurang sedikit lagi, sudah hampir benar." Luna yang merasa senang karena jawaban Daffa salah, akhirnya mengangkat tangan untuk membetulkan. "Oh iya, Luna Kania Putri, yang tadi sempet ngelamun di depan pintu kelas. Silahkan kalau kamu bisa." Mendengar pernyataan pak Guru, sontak saja seluruh isi kelas bergemuruh. Luna malah semakin kesal. Tapi, apa mau dikata. Ia tetap harus maju dan membetulkan jawaban dari Daffa. 'Semua ini gara-gara Daffa, coba aja kalau bukuki langsung dikembalikan,' batin Luna. Ia pun mulai mencoret-coret di papan, untuk membentuk sebuah jawaban. "Sudah pak!" jawab Luna. Ia kemudian meletakkan spidol hitam di atas meja guru. Pak Guru membenarkan kacamata, ia membaca tulisan Luna. Senyum terbentuk di wajahnya setelah itu. "Nah, ini jawaban paling tepat! Kalau begitu nilainya saya bagi dua ya. Daffa 50, Luna 50." "Lho, nggak bisa begitu Pak. Kan jawaban saya yang bener!" Ucap Luna dari bangkunya. "Iya, tapi kamu 'kan tinggal lanjutin aja. Udah nggak papa, nilai seratus dibagi dua sama Daffa, berbagi nilai dengan cowok ganteng itu bukan hal buruk kok!" Bela Pak Guru. Lina hanya bisa menatap kesal dengan wajahnya yang penuh rasa kecewa. "Siapa juga yang mau berbagi nilai sama dia," gerutu Luna. Ia terpaksa kembali harus pasrah. *** Istirahat, jam yang paling ditunggu. Luna akan mengambil bukunya saat Daffa sudah keluar kelas. Tapi, sepertinya Daffa sudah tahu. Ia bahkan memegang lagi, buku tersebut sambil melihat Luna. Wajahnya biasa-biasa saja seolah tidak terjadi hal penting. Ia sengaja memancing Luna agar menghampiri dirinya. 'Bocah kening lebar kenapa kamu menjengkelkan sekali sih?' Luna bertanya pada hatinya. 'Nih di kelas juga lagi banyak murid lagi. Kayaknya aku nggak bisa minta buku itu sekarang. Ah ….!' hati Luna terus mengoceh. Ia lelah campur pusing sekali untuk hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD