Luna memandang lemah tak berdaya setiap buku yang bertumpuk di atas meja. Buku-buku itu menjadi saksi kelinglungan Luna siang ini.
‘Aduh, tadi pagi mobil itu muncul lagi. Emang mobil siapa sih?’ batin Luna yang sedang menunggu jam pulang tapi buku-bukunya belum dibereskan.
Akhirnya bel oulang berdering, ia langung saja bangun meski malas memenuhi setiap persendian dari tubuhnya.
Malas.
Kesal.
Butuh duit.
Lapar.
Pengen ngamuk.
Suasana hati Luna memang sedang tidak baik. Apalagi tadi waktu istirahat ia harus melihat tasnya dirusak Nawang, menyebalkan. Entah kapan ia bisa membalasnya.
Sampai juga kaki Luna berjalan keluar sekolah. Ternyata kedua temannya sedang menunggu.
Tobi dan Rena melempar semyum tapi hanya dibalas wajah belum disetrika oleh Luna.
“Kenapa? Ada apa? Kok lesu sih! Kita kan udah ada disini!” ucap Rena dan berlari memeluk bahu temannya dari belakang dengan satu tangan.
“Biasa lah!”
“Udah yuk! Kita ngobrol di tempat yang enak.” Tobi tersenyum, dan ada Nawang yang kebetulan melihat sedang lewat di sekitar situ.
Nawang merasa cemburu sosial. Ia iri melihat kekraban Luna dengan anak sekolah lain yang tampaknya kaya raya.
‘Kenapa dia bisa seberyntung itu sih punya temen kece badai tropis itu.” Nawang memandang tidak suka tapi ia harus cepat pulang. ‘Awas aja besok nggak cuma tas aja yang aku rusak.’ Dendam muncul dan menapak kuat membekas di pikiran.
Sementara itu, Luna sadar seperti sedang diperhatikan. Tapi, cuek saja dan tidak peduli. Lebih baik ia segera masuk ke mobil Tobi dan pergi ke sebuah tempat untuk mencari hiburan.
Setelah mobil Tobi berselancar di jalanan aspal, dan mengantar mereka bertiga ke sebuah tempat makan. Luna kahirnya bercerita apa yang sedang jadi rencananya dengan kedua temannya.
“Jadi, kamu mau bikin konten?” tanya Rena semangat 45 seperti pejuang kemerdekaan. Ia berbinar-binar seperti menang undian.
“Akhirya Luna kita kembali ke jalan yang benar ya.” Tobi berkata dengan nada meledek.
“Emangnya selama ini aku ada di jalan tersesat?” Luna melirik kesal tajam mengenai sasaran, siapa lagi kalau bukan pada Tobi.
“Iya, abis kamu kaya nggak pengen hidup sejak jadi murid SMA.”
“Ya mana mungkin bisa hidup kalau setiap berada di sekolah selalu aja bikin kesel.”
“Ya udah kalau gitu, besok kita bantuin buat videonya, aku nyiapain tempat. Tobi nyiapian kamera. Anggap aja kita lagi kerja satu tim. Setuju?” tanya Rena.
“Setuju!” Tobi mengangguk.
Luna memandang kedua temannya, beruntungnya ia memeiliki teman the best seperti mereka yang masih ada menemani. Meski Luna dalam keadaan sulit.
“Aku juga setuju! Tapi!”
“Tapi apa?” tanya Rena dan Tobi bersamaan.
“Aku belum bisa bayar kalian.”
“Bayar aja pakai senyuman kamu,” ucap Tobi menggoda.
“Woyiiii, Tobiii kamu masih giti iji!” Rena dengan gelagat gaul berlebihan mulai berkata-kata bahasa alien yang sudah terbiasa ia tunjukkan sejak SMP.
“Yiiiii, iming kinipi?” Tobi menambah dengan senyum mekar tak bisa ditahan.
“Ahhh! Ayolah, aku nggak mau jadi alien juga kayak kalian, aku kan maish mau tinggal di bumi!” celetuk Luna.
“Nggak bisa gitu dong, kalau kita pindah ke saturnus sekalipun, kamu kudu ikut Lun!”
“Hahhhh! Kalian, daripada ngomongin nggak jelas, bikinin aku konsep napa. Ntar aku coba di rumah.”
“Oke! Oke, keluarkan buku Tobi, kita kerjain apa yang dikatakan Luna barusan.”
Namanya juga reamja SMA, saat berkumpul dengan etamn sebaya sudah pasti heboh sejagat. Bahkan menarik perhatian seluruh pengunjung kafe tempat luna siang.
Tapi, Luna tidak peduli. Toh masa muda cuma sekali. Belum lagi ia juga stres berkepanjangan di sekolah. Ia juga butuh bersenang-senenag meski harus jadi orang gila sekalipun, dan.
Siangnya bersama Tobi dan Rena harus berakhir. Lalu Luna pulang, dan mobil yang terlihat mahal terparkir lagi di depan halaman rumahnya.
Seribu satu tanya muncul, Luna melihat tanpa berkedip. ‘Ini mobil siapa sih?’ batin Luna dan masuk saja langsung ke dalam rumah agar tahu siapa pemilik mobilnya.
Di ruang tamu yang bersih tapi tetap terloihat jelek karena beberapa bagian perabitannya sudah rusak. Luna melihat pria dewasa, sangat dewasa seumuran ibunya.
Pria dewasa itu tersenyum tipis. Luna diam tanpa enagtakan appaun, dan langsung berlalu masuk ke dalam.
Ibunya ada di dapur, sepertinya sedang menyiapkan minuman. Luna mendkat dan langsung menagjukan pertanyaan.
“Itu siapa?” tanya Luna.
Sang ibu menoleh dan menatap Luna yang sudah datang. Baru pulang nak! Kok nggak salam sih!”
Luna lebih memilih tidak menjawab itu. “Siapa Bu? Porang itu siapa? Kok ibu bawa tamu cowok sih!” Luna seketika dingin.
“Dia …!” Ragu ibunya untuk menjawab.
“Jangan bilang itu pacar ibuk ya?”
“Apa salahnya kalau ibu punya pacar. Ibu juga nggak bisa menghidupi kamu sendiri nak! Biarkan ibu berusaha dengan cara lain. Ibu kepikiran gimana nanti kalau kamu udah lulus SMA!”
“Dengan cara menikah sama cowok kaya? Luna nggak mau ibu nikah lagi. Kataya ibu bakal setia sama Bapak. Gimana sih?”
“Menurut kamu!? Apa dengan begitu kita bisa hidup lebih baik. Luna sadar Luna, kita ini sebatang kara!”
“Sadar banget Bu! Tapi, nggak dnegan menikah lagi. Nggak! Aku nggak mau punya ayah tiri.”
“Tapi, dia calon ayah yang baik buat kamu Luna, kaya, pinter, punya banyak uang buat kamu bisa sekolah yang tinggi!”
“Cukup Bu! Sekali Luna nggak suka! Luna tetap selamanya akan selalu nggak suka.”
Luna bergegas pergi, ia masuk ke dalam kamar dan membanting pintu sangat keras.
“Ya Allah Luna, ibu cuma pengen kasih yang etyrbai buat kamu. Ibu tahu kamu nggak betah sekolah di SMA yang sekarang ini! Makanya …! Ah ya udahlah!”
Bu Mira, alias ibu dari Luna mengambil minuman yang sudha disiapkan untuk tamu di ruang depan. Ia pun membawanya saja meski dengan tangan gemetar.
Pria yang jadi tamunya melihat kegelisahan Bu Mira. Lagipula sempat terdengar juga cekcok yang baru saja terjadi.
“Ada apa? “ tanya pria itu sambil membantu menerima gelas minuman dari Bu Mira.
“Luna, dia!” ucap Bu Mira yang tidak bisa dengan mudah melanjutkan kata-kata.
“Sabar! Kita lakukan pendekatan pelan-pelan.”
“Tapi Mas, dia itu kaku, kalau sudah nggak mau, akan terus nggak mau!”
“Udah jangan sedih. Nanti kapan-kapan Mas bakal coba pdkt sama dia.”
“Emang bisa, aku nggak yakin!”
“Yakin dong! Sambil didoain!”
Bu Mira tersenyum, ia yakin pria di sampingnya ini pria baik dan berbudi pekerti. Akan sayang sama Luna dan memperlakukan layaknya anak kandung tanpa membeda-bedakan.