Luna melamun sepanjang malam ini. Ia kalut, hatinya gigih menolak kehadiran ayah baru di dalam kehidupannya.
“Mending aku fokus sama mimpiku, kali aja emang bisa jadi video creator terkenal, kayak Ashiap!!!!” oceh Luna di dalam kamar. Ia lalu berjalan ke arah depan cermin, melihat pantulan dirinya. Tiba-tiba saja bayangan pria asing yang hadir di dalam rumahnya tadi kembali muncul.
“Ogah! Amit-amit jabang bayi yang cakep sekalipun, aku nggak mau punya ayah tiri. Siapa tahu ayah tiri lebih bengis dari ibu tiri.”
Beberapa hari berlalu semenjak insiden kedatangan calon ayah tiri itu, Luna sudah hampir melupakannya. ia juga mengira pati sang ibu sudah tidak menginginkan lagi.
“Sarapan yang kenyang ya Lun! Ibu mau ke pasar jualan pecel!”
“Iya Bu!”
Hari berjalan sebagaimana mestinya. Di saat matahari tersebut mulai terbit, disaat itulah Luna sudah siap dengan segala macam kegiatan. Membantu sang ibu, menyiapkan sekolah, juga menyempatkan diri melakukan pekerjaan sebagai content creator termasuk mempromosikannya.
Hingga bulan kenaikan kelas tiba, Luna menerima laporan nilai terbaik lagi dalam tahun itu. Sayangnya, kedengkian Nawang membuat semua itu ingin ia lenyapkan saja.
“Tengil ya, sok pinter, pake cara apa kamu sampe kamu bisa dapat nilai bagus begini. Anak miskin, pasti kamu nyogok guru pake alat reproduksimu ya!” Nawang menyerang Luna saat dirinya sendirian di dalam perpustakaan. Kebetulan luna mendapat tugas meletakkan kembali buku-buku di rak, sedangkan petugas perpustakaan dipanggil untuk membantu di ruang tata usaha.
“Aku nggak pernah ya nyogok guru. Aku belajar!”
“Belajar pakai apa, kitab aja, kamu nggak punya!”
“Aku kan selalu mencatat apa yang disampaikan sama guru, iya kalau kamu bisanya pakai bedak, sampai-sampai itu muka kayak toko kosmetik!”
“Apa!”
Luna mengumpulkan keberanian untuk membalas omongan Nawang yang menyakitkan. Saat itu lah Nawang yang memang sudah berencana memberi pelajaran untuk Luna mengeluarkan gunting kecil dari saku seragamnya.
“Wang! Kamu mau apa sama gunting itu?” tanya Luna takut. Apa lagi yang direncanakan teman kelasnya itu, jahat sekali. Mengapa dalam hidup lUna ada murid seperti ini.
Luna mendorong tubuh Nawang. Tapi, Nawang bukannya jatuh malah semakin menjadi.
“Mau kemana Luna?” Segera ditangkap lUna, dan ditarik roknya.
Saat itulah Luna baru tahu apa guna gunting itu. telinganya mendengar ada suara kain tergunting.
“Rokku! Nawang aku nggak punya seragam dong!”
“Terus! Masalah buat eike!” Nawang mengakhiri guntingan tersebut. Lalu berjalan meninggalkan Luna.
Luna mulai terisak, ia harap ini mimpi. Oh seragam sekolah yang selama ini dijaga. Haruskah terkoyak?
Ia mulai meraba bagian belakan rok tersebut, dan benar sudah robek. Robek hampir menyentuh bagian paling yang seharusnya tidak kelihatan.
“Ya Allah, kenapa orang jahat selalu menang sih?” Luna berjalan malas ke arah bangu perpus, dan menjatuhkan kepala di atas meja.
Dengan susah payah akhirnya Luna berhasil pulang dan sampai rumah. Di dalam kamar, ia melihat roknya yang robek itu.
“Ini kalau dijahit apa nggak kelihatan ya jahitanya. Kalau dibawa ke tukang jahit ish bisa bagus, tapi!”
Saat itu onel berbunyi, ternyata panggilan dari Rena.
“Iya hallo, ada apa?”
Luna sejenak diam dan mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Rena.
“Yaudah aku kesitu!”
Luna segera bersiap dan berpamitan pada ibunya untuk bertemu dengan Rena dan Tobi.
“Jadi, kamu masih berhubungan sama dua anak itu?”
“Masih Bu!”
“Mereka berdua kan kastanya beda sama kita Nak!”
“Tapi, mereka baik kok Bu!”
“Emang kamu nggak iri kalau lihat mereka, terus mereka cerita tentang sekolah unggulan itu? Ibu nggak mau kamu sakit hati!”
Luna menghela nafas, ada trauma kalau Luna harus ingat tentang sekolah. “Nggak Bu! Justru aku merasa senang bisa punya teman dari sekolah itu. Bisa nambah pergaulan dan wawasan yang nggak Luna dapatkan di sekolah Luna! Kalau begitu, Luna pergi dulu ya Bu, assalamualaikum!”
“Waalaikum salam.”
***
“Udah Luna, nggak usah sedih. Kan kerja itu pasti ada gagalnya, apalagi ini baru pertama kali kan buat kamu.” Tobi menguatkan hati sahabatnya, Luna yang sedihnya seperti tidak bisa tertolong. Hatinya mungkin sudah kritis masuk ICU. Sejak datang sampai makanan terhidang, wajahnya hanya merengut dan berselera.
“Iya Lun! Sabar napa, jangan nyalahin hidup. Kita ini masih pinjing bingit jilin hidipnyi!”
“Iya tau masih panjang, tapi kalau sepanjang jalan hidup yang panjang itu isinya nyebelin semua. Siapa yang betah?” tanya Luna kesal.
“Udahlah Lun! kita have fun dong! Kan ini hari kenaikan kela kita.”
“Padahal aku harap, waktu kenaikan kelas, harusnya aku udah berhasil bisa dapat uang dari video itu. Terus bisa pindah ke sekolah kalian. kayaknya mimpiku emang ketinggian deh! Duh gusti!!! Jatuhnya itulho sakit banget!”
Tobi dan Rena hanya duduk sambil memperhatikan satu sama lain, mereka berdua juga bingung harus menghibur Luna dengan cara apa.
“Ayolah luna! Semangat!”
Sementara itu, Bu Mira, ibu dari Luan sedang berbelanja kebutuhan kedai pecelnya. Masih kurang sekilo kacang dan juga gula. Menunggu sambil mendengar tetangga bercerita.
“Lho Luna sekarang jadi artis ya Bu Mira?” tanya tetangga yang kebetulan belanja bersama bu Mira.
Bu Mira menggeleng dengan tatapan mata bingung.
“Tapi nggak papa Bu, Luna cantik kok! Siapa tahu abis ini, Luna bisa bantu keuangan keluarga Ibu kalau sudah terkenal.”
“Duh! Ibu-ibu ini bicara apa sih?” tanya bu Mira makin bingung.
“Coba lihat ini!” Menunjukkan layar ponsel yang menyala.
“Astaghfirullah hal adzim ...!” Bu Mira merasa sesak hingga harus menyentuh dadanya yang berdebar.
Bu Mira tidak percaya kalau Luna melakukan itu. ia meletakkan belanjaannya dengan kasar di atas meja ruang tamu. Duduk di sofa berlubang dan menunggu kedatangan Luna pulang.
“Assalamualaikum!’” teriak Luna setibanya di rumah. ia kaget melihat ibunya sudah berada di ruang tamu. Tidak biasanya ini terjadi.
”Waalaikumsalam!” sahut bu Mira, dengan tatapan mata kosong.
“Tumben Bu? Apa tadi ada tamu?”
Bu Mira menggeleng. Ia lalu menatap tajam pada Luna. “Maksud kamu apa? Kenapa kamu joget lagi sih nak? Kamu mau bikin malu ibu hah! Kamu bikin ibu kecewa.”
“Ibu kok ngomong begitu?”
“Kamu joget begitu ada di hape tetangga.”
“Tapi, Bu! itu cara cari uang zaman sekarang.”
“Ibu itu nggak mengizinkan kamu buat cari uang dengan cara begitu. Ibu nggak suka. Padahal ibu udah percaya sama kamu, tapi kamu seenaknya sendiri melakukannya lagi. Terus kenapa ibu malah kamu larang buat punya suami Nak. Ibu juga capek hidup begini terus …!” Bu Mira untuk pertama kalinya berteriak ada Luna.
Luna menangis saat itu juga, air matanya tidak bisa dibendung bersamaan dengan teriakan ibunya. “Maafin Luna Bu, Luna nggak bermaksud bikin ibu kecewa.”
Luna langsung meraih kedua tangan Bu Mira untuk bersimpuh. “Bu! Jangan marahin Luna Bu, Luna nggak akan melakukan itu lagi!”
“Sayangnya Ibu nggak percaya Lun! Ibu merasa dikhianati! Kepercayaan itu mahal Nak! Kamu tau itu ‘kan!”