Hadapi Kenyataan Luna

1236 Words
Hubungan yang sulit memang sudah terjalin antara Bu Mira dengan Luna. Keluarga tersebut kehilangan kepala keluarga mereka dan saat itu terjadi kemerosotan dalam segala hal. Itu jadi beban berat bagi Bu Mira. Hal yang terpikirkan hanyalah mencari ayah pengganti untuk Luna, yang baik dan mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua. Sayangnya Luna menolak, hanya dengan alasan tidak mau memiliki ayah tiri. Akan tetapi, kekuatan bu Mira sebagai kepala rumah tangga juga sebagai ibu dari rumah, sudah mencapai batas. Ia merasa terlalu berat untuk memikul sendiri. Sehingga diam-diam memutuskan untuk menjalin hubungan dengan pria lain yang berstatus duda. Pria bernama Ferdi Anggara. Seorang kaya pasti, dan memang bersedia menjadi ayah sambung Luna. Ia mencintai Bu Mira dengan segenap jiwa raganya. Tanpa diketahui lagi oleh Luna, hubungan Bu Mira dan Pak Ferdi sudah berlangsung selama setahun. Semenjak kedatangan pak Ferdi ke rumah dan saat itu, dipergoki Luna. Sebenarnya yang terjadi, Bu Mira dan Pak Ferdi masih berhubungan sampai sekarang. Padahal Luna menganggap hubungan itu mungkin sudah kandas. “Jadi, ibu masih berhubungan sama pria itu,” ucap Luna di dalam kamarnya. Ia memang sedang bicara empat mata dengan Bu Mira yang memang memiliki maksud memperkenalkan Ferdi lebih jauh. “Iya, semenjak kamu nggak setuju Ibu tetap menjalin hubungan sama dia.” “Luna pikir, ibu peduli dengan perasaan Luna.” “Kalau begitu, apa kamu juga bisa peduli sama perasaan ibu sebagai janda!” Seketika hati Luna seperti ditusuk belati. Sakit kata-kata dari bu Mira. Bukan dirinya ingin egois. Tapi, sulit baginya seorang remaja untuk menerima orang baru. Apalagi sebagai pengganti ayahnya. “Kamu nggak bisa bicara ‘kan!” ucap bu Mira sambil menahan gemuruh emosi di dalam hati. Ia tidak ingin marah, tapi cukuplah putri kesayangannya itu tahu bagaimana beban psikisnya. Bukan hanya harus kerja keras sendiri. Tapi, seorang bu Mira juga harus bertahan menunjukkan sisi yang betul-betul baik sebagai janda. Bahkan jika di pasar, ada pria yang membeli nasi pecelnya saja. Dirinya kadang sudah merasa was-was. Takut ada orang yang berburuk sangka. Tidak ada kata-kata lagi yang muncul dari bibir Luna. Gadis itu ternyata membeku, lidahnya keluh. Mungkin hatinya sudah bersemayam di palung terdalam. Mencari ketenangan, menyepi dan menyendiri memikirkan kata-kata ibunya barusan. Terngiang-ngiang sulit dilupakan. *** Haruskah Luna takut menghadapi kenyataan hidup. Pahit dan sakit. Bagai berada di jalan buntu yang hanya ada satu jalan yang bisa dilewati. Selama liburan tidak ada hal yang bisa dilakukan Luna. Empat belas hari berlalu begitu saja. Ia tahu ia salah memang, karena liburan itu harusnya digunakan untuk hal positif. Tapi, selama liburan dan kesempatannya di rumah semakin luang. Justru saat itu malah sering terjadi pertengkaran. Antara dirinya dengan Bu Mira. “Akhirnya masuk sekolah!” gumam Luna saat memilih duduk di bangku paling depan. “Kampungan masih berani sekolah ya! Pasti kemarin udah caper ke guru, biar tunggakan sekolah tahun lalu dibebasin! Iyakan …? Iyalah! Masak aku yang boong! Nggak mungkin ‘kan!” Luna seketika menarik rambut Nawang dan mendorongnya memakai satu tangan lain dengan begitu gigih. Ia melotot. “Eh, kampungan berani benget!” “Baju sekolahan, tapi mulut pakai bahasa hutan. Kenapa nggak masuk kebun binatang aja. Kan disana banyak temannya.” “Eh ini anak udah berani ya. Lu kali yang liburan ke hutan! Sok cakep banget sih! Eh disini tu nggak akan ada yang ngebelahin lu, jangan sok berani deh!” “Resek lu ya!” Luna memilih pergi saja, daripada hatinya makin panas dan tangannya semakin liar membuat masalah. Bersembunyi di kantin belakang, sambil menikmati bakso hangat yang pentolnya hanya sebiji. Maklum karena Luna hanya mampu membeli yang seperti itu. “Kan udah masuk, entar dicari guru lho!” ucap penjual di kantin. Orang yang paling mengerti dengan kondisi Luna di sekolah. “Biarin!” Luna mengaduk baksonya yang kuahnya seperti banjir bandang di dalam mangkok, banyak sekali sampai mau tumpah. Tapi, segar bagi Luna yang jarang makan enak. Kembali pikiran Luna melayang. Ingatannya terbayang lagi dengan perkataan ibunya. ‘Kalau begitu, apa kamu juga bisa peduli sama perasaan ibu sebagai janda!’ “Hahhh …! Pak sambalnya lagi Pak, kurang pedes.” Luna bangun dan mengambil mangkok sambal. “Lun! Itu udah banyak sambalnya! Bisa bolak balik kamar mandi kalau ditambah lagi!” “Enggak! ini kurang pedes. Masih lebih pedes omongan orang-orang tau!” “Eh bocil! tau apa lho omongan orang pedes. Terserah kalau gitu! Sakit perut jangan minta pertanggung jawaban sama kantin ya!’ “Iya!!!” Benar saja sakit perut itu melanda saat jam pulang. “Ah! Aku ini nggak guna banget sih! Udah tau pedes, masih aja ditambah sambal.” Luna berjalan keluar dari pagar sekolahnya. Tak lama, Tobi memanggil dengan begitu lantang. Luna mendekat dengan wajah menahan sakit. Ia bahkan sesekali memegangi perutnya. “Kenapa?” tanya Rena. “Sakit perut!” “Kok bisa?” Luna menghembuskan nafas panjang. Ia pun menceritakan kronologi detail apa yang sudah dialaminya hari ini. Sudah berada di dalam mobil, dan Luna masih bercerita sampai bagian akhir. “Ampun Lun! Itu sambal nggak salah, hati kamu yang salah!” Tobi tertawa nyaring. “Eh, kasihan lagi Tobi! Udah ah, kamu punya minyak buat sakit perut nggak?” Rena mengetuk kepala Tobi. “Sakit Ren ...! Iya ini! Ada! Minyak ini kan juga buat jaga-jaga si Rena kalau lagi kram perut waktu bulan datang.” Mengambil minyak tersebut dan memberikannya pada Luna. “Udah sini! Ini minyak nggak cuma pas bulan datang aja dibutuhkan, buat Tobi yang masih ketawain ceritaku juga ampuh biar nggak ketawa terus!” “Caranya?” tanya Tobi. “Kamu minum, sekalian sama botolnya!” “Weh sadis!” Siang itu tidak ada acara makan siang, ataupun nongkrong seperti biasa. Untuk saling curhat-mencurhat atau bercerita. Kedua temannya tidak tega melihat penderitaan Luna. “Kamu tiduran aja Lun, disitu! Biar kami anter pulang ke rumah!” ucap Rena. Ia menyuruh Luna tidur di kursi belakang yang kebetulan hanya dirinya yang berada di sana. Tanpa berkata apa-apa, Luna pun merebahkan tubuh disitu. Saat itulah Luna seperti meniduri sesuatu di kepalanya. Sebuah kertas seperti brosur. “Ini brosur apa?” tanya Luna sambil mengangkat tangannya yang memegang kertas brosur tadi. “Oh! Brosur kompetisi dance!” jawab Rena. Luna lalu membaca brosur tersebut. Dalam hati, ia berandai jika dirinya sekolah di sekolah tersebut. Pasti dia mau ikut lomba yang ada di dalam brosur itu. ‘Tapi, aku kan anak yang nggak guna! Nawang aja masih berani ngejek aku di depan anak-anak. Aku bahkan selama ini nggak pernah berani balas semua perlakuan buruknya,’ batin Luna. Sampai di rumah dan turun dari mobil milik Tobi. Hati Luna kembali terkejut dengan sebuah mobil yang ia tahu itu mobil siapa. Tobi mendongakkan sedikit kepalanya keluar dari jendela kaca mobil. “Lun! Mobil siapa?” Menatap Tobi. “Mungkin mobil pacarnya ibuku! Ya udah kalian berdua hati-hati ya! Aku mau masuk dulu!” “Iya, jangan lupa minum obat yang udah kita beliin!” “Iya! Makasih!” “Sama-sama!” ucap Tobi. Ia kemudian melihat Luna menghilang masuk ke dalam rumahnya. Tobi tidak langsung mengemudikan mobilnya. Ia menatap Rena. “Ada apa?” tanya Rena sadar mata Tobi melirik. “Itu, mobil itu, mobil yang ada di depan rumah Luna. Kok kayak nggak asing!” “Mana?” tanya Rena sambil menggerakkan tubuhnya untuk mencari tahu. Sepasang matanya kemudian menangkap sebuah bentukan mobil yang memang pernah dilihat, bahkan sering dilihat. “Itukan mobil …!” ucap Rena yang mulai ingat pemilik mobil mahal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD