Sebuah meja yang dipenuhi banyak piring, perlahan mulai menampakkan kekosongan.
Piring kotor telah tertumpuk. Sebuah gelas orange juice juga sudah kosong. Makanan yang ada ternyata cukup lezat. Luna pun memutuskan malah menikmati makanan itu, dan peduli amat dengan pemikiran Daffa yang mungkin mengatakan dirinya rakus.
"Aku makan ini semua karena kamu ya. Kalau nggak gini, kita nggak akan bisa pergi secepatnya dari sini," ucap Luna yang berhasil menghabiskan hidangan di meja kafenya.
Daffa coba menahan senyum. Ia tidak mungkin tertawa senang karena berhasil membuat Luna akhirnya mau makan. "Aku kira kamu kayaknya kelaparan, semua makanan muat masuk perut kamu!"
"Ya kan, aku nggak mau lama-lama disini!" Luna masih berupaya membela diri.
"Iyaya, aku tau. Makasih udah bantu abisin makanannya. Nggak sia-sia aku pesan banyak makanan!" ucap Daffa sambil memperhatikan Luna.
Ternyata ada sesuatu yang menempel di ujung bibir Luna. Seperti sisa makanan yang belum sempat dilahap.
Daffa mengulurkan tangan, berniat hendak menyentuh ujung bibir Luna. Akan tetapi, Luna malah menghindar dan Daffa seperti tidak suka hingga membuat sepasang matanya memicing.
"Mau ngapain?" tanya Luna.
Daffa tanpa banyak bicara memberikan tissu pada Luna. "Ada sisa makanan di bibir kamu."
"Hah, yang bener?" Luna coba membersihkan, tapi masih ada saja sisa makanan.
"Yang bisa bersihin bibir kamu ya cuma aku Lun. Sini, ngeyel banget sih kamu. Cuma bersihkan bibir aja. Nggak akan bikin kamu sariawan, apalagi sampe gusi bengkak." Daffa menyeret kursinya agar bisa lebih dekat menatap Luna. Lalu memegang kursi Luna agar Luna tidak kemana-mana.
Luna membekukan diri. Ia sekali lagi, bisa melihat wajah Daffa begitu dekat. Ditambah ada bagian bibirnya yang tersentuh kuku Daffa.
Hanya ujung kuku, tapi jantung Luna mulai kewalahan karena harus terpacu cepat. Nafas berusaha tidak tegang, tapi hati berdebar-debar tanpa bisa dihentikan.
‘Oksigen masih ada kan di dunia ini. Tapi, kenapa rasanya sesak sekali. Ya Allah, wajah Daffa ini racun, jangan biarkan mata ini kecanduan buat lihat dia terus menerus. Aku mulai sesak nih!’ Luna langsung saja memejamkan mata.
“Kamu kenapa merem?” tanya Daffa bingung.
“Mataku kelilipan kayaknya, ada debu masuk mungkin! Padahal kita lagi di dalam kafe.”
Daffa lalu mencermati sekeliling. “Mungkin kena angin dari luar. Kalau begitu sini biar kau tiup!’ PInta Daffa sambil mendekatkan lagi dirinya pada Luna. Mendekatkan dengan lebih dekat dari yang tadi.
“Stop Daf! Kamu mau apa?”
“Mau aku tiupin biar debunya keluar dari mata kamu!”
“Nggak!” Tolak Luna sambil mengangkat kedua tangannya membentuk pembatas yang tidak boleh dilewati. “Aku udah nggak papa!” Luna coba menunjukkan kelopak matanya yang bisa membuka dan menutup dengan cepat.
“Ah, katanya kelilipan, kalau itu sakit lho kalau nggak dikeluarin debunya!”
“Nggak usah, mending kamu bayar aja ni makanan, dan kita cepet pergi cari bahan prakarya. Itu tujuan kita siang ini ’kan!”
Daffa mengangguk saja. Ia pun segera mengeluarkan dompet untuk membayar pesanan makanan siang ini.
Kembali ke dalam mobil, Luna kembali diam dan fokus saja agar pikirannya tidak membayangkan adegan dalam drama. Mau tidak mau, waras atau tidak, Luna masih saja teringat dengan apa yang dilakukan Daffa pada dirinya tadi.
‘Beneran bikin aku grogi. Dia sadar nggak sih, kalau wajahnya itu merepotkan orang! Beneran nggak banget sih dia.’ Hati Luna berbicara sambil menatap sekilas pada Daffa yang sedang melepas seragam. Tepat berada di sampingnya.
Luna berusaha tidak terkejut dengan apa yang sedang dilakukan Daffa. Ia yakin dirinya pasti akan bisa santai seperti sedang di tepi pantai. Padahal Daffa sedang melepas seragam dan terlihat kaos putih yang mungkin bahannya terlalu tipis dan ketat hingga membuat Luna berhasil menangkap pemandangan kotak-kotak di perut Daffa.
‘Dih!!!! Pamer banget! Dia pasti rajin olahraga, lagian dia kan dancer, mana mungkin perutnya berlipat-lipat kayak kain meteran,’ batin Luna sangat kacau. Ia putuskan saja melihat ke arah luar jendela. Berharap lehernya menjadi kaku, supaya tidak bisa menoleh kemana-mana. Apalagi menoleh ke arah Daffa.
Daffa sudah berhasil menggunakan jaket hitamnya. Ia lalu memainkan putuskan memainkan ponsel, dan berusaha santai. Karena masih lima belas menit tanpa macet untuk sampai di tempat mencari dan membeli bahan prakarya kesenian.
Saat itu, Luna kaget dan terpaksa melupakan kalau lehernya harusnya mengalami kekakuan otot. Ia malah menoleh pada Daffa lagi. Dilihat teman laki-lakinya itu sedang memainkan ponsel.
“Kamu juga lihat videonya dancer bertopeng.” Kali ini Luna yang angkat bicara. Hatinya terketuk untuk mengajak Daffa ngobrol.
“Iya, aku ngefans banget sama dia,” balas Daffa singkat dan penuh kejujuran.
Dalam sepersekian detik berikutnya, Daffa memilih untuk diam. Ia tidak membuat topik pembicaraan lagi. tapi, sepasang matanya fokus melihat video yang sering muncul di layar gawainya.
‘Segitunya dia lihat videoku, Apa aku ngaku aja kalau itu aku!’ Batin luna berbicara sendiri. “Ehm ngomong apa aku barusan. Jangan sampai aku punya pikiran kayak gitu lagi. Meskipun ada sepuluh Daffa Anggara yang ngefans sama aku di dunia ini. Tetap aja aku nggak boleh bocorin identitas. Nggak boleh!’ Luna seakan memarahi hatinya. Ia berharap tidak akan punya pikiran seperti itu lagi. Tidak akan.
Luna akhirnya melakukan hal yang sama dengan Daffa. Ia mengambil gawai yang tersimpan di dalam tas bagian paling dalam, sangat paling dalam dan tersembunyi. Sampai-sampai ia harus mengeluarkan beberapa buku untuk mengambilnya karena mungkin hapenya nyempil di sela buku.
‘Ini dia!” Gumam Luna, saat itu justru bukunya yang bersampul kelinci terjatuh ke bawah kursi mobil milik Daffa dan Luna tidak sadar kalau itu terjadi.
Sesampainya di tempat menjual papan kayu untuk karya seni relief yang merupakan tugas prakarya kesenian. Luna bergegas turun, disusul Daffa.
Melihat sekali tempat jualan itu sungguh membuat Luna syok. Ia lalu menghentikan langkah kaki Daffa.
"Ada apa?" Tanya Daffa.
"Apa kemarin pas nyiapin bahannya, kamu sama Mellya datang juga ke sini?" tanya Luna.
"Iya, kami berdua datang kesini. Kenapa? Kamu pasti menyesal ya kenapa nggak ikut serta. Cukup lama sih kita berduaan baja disini." Daffa lanjut bercerita.
Luna tersenyum nyengir, tak disangka tempat paling tidak mungkin didatangi Mellya, bisa didatangi juga oleh gadis manja itu. Padahal tempat tersebut berantakan, kacau dan berdebu. Belum lagi ventilasi yang tidak teratur, ada yang begitu lebar sampai-sampai rasanya begitu panas.
"Aku yakin, kalau bukan sama kamu. Mellya juga nggak akan mau datang ke tempat begini. Duh, udah fallingin love beneran tuh anak sama kamu," ucap Luna.
"Apa, enteng banget kamu bicara begitu. Emang kamu nggak ada beban kalau dia jatuh cinta sama aku?"
Luna baru sadar kalau kata-katanya, mungkin harus dipikirkan dulu sebelum dikatakan. Mungkin saja Dafa menyukai gadis lain, atau tersindir dengan omongannya tadi.
"Ehm … kenapa aku harus ngerasa ada beban. Aku bukan siapa-siapanya kamu 'kan. Ehm … maaf kalau omonganku agak nggak bisa direm. Ya, mungkin kamu udah suka sama cewek yang lain. Harusnya aku nggak bilang begitu tadi."
"Hah! Udahlah, kita pulang aja. Nggak usah cari bahan buat tugas." Daffa lalu berbalik dan masih berjalan lagi ke arah mobilnya yang sedang terparkir.
"Apa, hey, nggak bisa gitu dong Daff. Ayolah Daff! Masak kamu ngambek sih sama aku? Daffa!!! Ih!"